Showing posts with label politics. Show all posts
Showing posts with label politics. Show all posts

Friday, June 13, 2014

Opinion Piece

My office registered the staff to join a writing workshop by the Jakarta Post. The trainers are from various background and the workshop's sessions range from writing opinion pieces to using power writing tools. This workshop made me itchy to dig my writing passion. I looked at this blog shamefully since it's been neglected for quite some time.

I promised myself to revisit my writing habit, try to write something every other day or week. Writing has always been my passion, my escapade from daily mundane problems, and I truly miss my writing days.

After each session, the trainer assigned us to write something related to the topic. For the first assignment, we had to write an opinion piece. This is a good exercise, especially because we have a whole session specially to discuss and do some peer editing. Very inspiring.

Here's my first opinion piece. Open for comments and suggestions :)
Hopefully I'll have some time later to share more about what I gain from this workshop.
Enjoy!



The Road to Purple Pinky

Many years has passed since the last time I walked to my TPS (Tempat Pemungutan Suara – Indonesian term for election booth) to vote and get my pinky purpled by the famous ink. With the way democracy and election implemented in Indonesia, not voting became the easiest decision for me.  I couldn’t care less with Indonesian politics for the last decade since I had been too upset with the moral crisis this country facing, namely government false promises, fake images of elite politicians, and the big corruption everywhere.

I had a first-hand experience on how the false promises were made (and later be broken). In 2005, when I was still a journalist working for one of the largest online media in Indonesia, my editor assigned me to cover Jusuf Kalla’s pre election campaign. Kalla then was the candidate for vice president of the already popular SBY. I followed him closely in many of his trips across the archipelago, from island to island and big cities to remote villages, listening to his speeches and promises. They were always the same, really sweet and sugar coated talks that told in front of many hopeful faces, and in the end made me quite bored and sceptical. After SBY and Kalla had been elected that year and all the promises to Indonesia were forgotten – replaced by the compromise and heavy coalitions in the government- I vowed that I would never vote again.

Apparently I was not the only one who felt that way. According to the Election Commission (KPU), the number of Golput (Golongan Putih– the term used for non voters in Indonesia) has been increasing during the last three elections, from 10,40% in 1999, to 23% in 2004, and around 29% in 2009. This data was quite surprising, considering the stage of democracy in Indonesia that is still young and dynamic, and people should not start to lose their faith in the government and democracy process in this country yet.

However, after a dose of careful reflection, I’ve changed my mind recently. I realized that losing faith – and hope – does not really change anything. One consideration is because, in the absence of my vote,  the government will still do whatever they used to do, and I don’t have the right to complain or judge them, since I choose to be indiferent to politics and did not use my right to vote in the elections. It’s like when you have a movie night with your friends and you don’t want to choose which movie you want to watch, but then you have the loudest complaint because the movie doesn’t fit your taste.

There are many reasons why people choose to become Golput. Beside feeling disappointed with the government performance, some people do not vote because they can’t decide which candidate is better, even marginally. Others become Golput incidentally, because they are not registered or even do not have adequate information about the voting system in Indonesia.

One of the reasons why most of my friends do not want to vote is because they think politics has nothing to do with them. They couldn’t care less who will become the President of Indonesia as long as they can still keep their jobs and feed their families. Flash news: politics is real. Politics is a part of our lives. Are you tired of the bad traffic everytime you’re going home from the office? Annoyed when you try to open your favorite website but it’s being blocked by the Ministry of Information? Frustrated with the ever more absurd system of National Exam that your children must pass? Welcome to the hard reality, where politics has real impacts in our daily activities.

We probably do not have the best candidates in the world for the upcoming presidential election, and nobody can guarantee that their promises will be fulfilled after they’re being elected. One has a doubtful past and the other still has much to prove. Moreover, some faces still come from the New Order era.

But this time, I’ve made up my mind. Indonesia is at an important moral junction and this election may cast some light to our country. For me, it’s still better to put hopes up and be disappointed afterwards (and then exercise my right to complain!) than to throw away hopes and live a stagnant life. For me, it is better to walk to the TPS and get my pinky purpled, than stay at home and hate my country with all my might without doing anything about it. Because like Dante Alighieri said, “The darkest places in hell are reserved for those who maintain their neutrality in times of moral crisis.”


Friday, July 17, 2009

The Place of Living Dangerously

Waktu Bom Bali kedua meledak tahun 2005 yang lalu, gue lagi sekolah di Belanda, dan seorang teman di sana bertanya sama gue, gimana rasanya tinggal di sebuah negara yang rawan peristiwa terorisme dan bencana?

Saat itu gue nggak bisa jawab, yang gue tahu hanyalah, itu udah jadi bagian dari kehidupan gue. Gue sendiri bukan tipe yang paranoid dan memilih untuk nggak pergi-pergi karena takut terjadi apa-apa. Soalnya kalau ketakutan kita diikutin, bisa-bisa satu hari penuh kita hanya ngendon di rumah dan malah nggak bisa beraktivitas.

Di tahun 2004, waktu bom di Kedutaan Australia di Kuningan meledak, gue masih bekerja sebagai reporter di salah satu media online, dan menyambangi lokasi adalah bagian dari pekerjaan gue. Gue sangat inget beberapa saat sebelum bom meledak, gue lagi liputan rapat kerja Komisi 1 DPR dengan Kapolri menjelang Pemilu, dan saat itu Kapolri menjamin Pemilu akan aman. Beberapa saat kemudian, bum, terjadi ledakan. Bayangin aja, kalau jaminan dari Kapolri udah nggak bisa dipegang, siapa lagi yang bisa kita percaya?

Dan hari ini, kejadian itu terulang lagi. Indonesia baru berbangga hati setelah menyelesaikan serangkaian proses pesta demokrasi yang berlangsung cukup aman dan lancar. Lalu tiba-tiba, pagi ini, terjadi lagi ledakan di Ritz Carlton dan JW Marriott,hotel yang mestinya jadi tempat menginap timnas sepakbola Indonesia dan Manchester United yang akan melangsungkan pertandingan minggu ini.

Kaget, iya. Shock, iya juga. Mau marah-marah, bangeeet (apalagi waktu tersiar kabar kalau ini merupakan satu lagi kejadian bom bunuh diri. Sakit jiwa ya!!!). Tapi juga ada perasaan lain di dalam hati. Kebal, mungkin. Bahwa ini lagi-lagi menimpa Indonesia. Dan menurut gue, gawat banget kalau kita akhirnya sudah "terbiasa" dengan berita-berita semacam ini. Berita yang kalau dibaca atau ditonton oleh orang-orang diluar negeri, mereka akan berkomentar, "Oh...Indonesia." Sama seperti akhirnya kita udah biasa dengan berbagai berita rusuh di India dan Pakistan, atau di Timur Tengah. Gue nggak mau, bener-bener nggak mau, Indonesia jadi seperti itu di mata dunia. Dan gue jadi gedek sendiri kalo mikirin semua pemeriksaan sok ketat di setiap hotel dan pusat perbelanjaan di Jakarta. Apa gunanya dong?

Deep condolences for all victims. Semoga ini menjadi yang terakhir.

Friday, April 24, 2009

Dilema

Pemilu legislatif kemaren adalah sebuah dilema buat gue. Udah sekitar 5 tahun terakhir ini gue selalu Golput setiap kali ada pemilu, mulai dari pemilu legislatif, pilpres, sampai pilkada-pilkada yang membingungkan itu.

Menurut gue, golput adalah pilihan yang simpel. Seperti kalau kita memutuskan untuk menjalankan hubungan tanpa status dengan seseorang, atau melakukan pekerjaan freelance. Tidak ada ikatan, tidak ada kekecewaan, dan apapun hasilnya, kita tidak merasa terlalu bertanggung jawab.

Tapi tahun ini, sesuatu mengusik hati gue. Tell me that I want to get involve more as a good citizen of this country, or that I simply just care. Tapi yang jelas, akhirnya gue memutuskan untuk memilih. Atau mencontreng, istilahnya sekarang.

Jadi, tanggal 9 April, gue pulang ke Bandung, karena nama gue masih terdaftar di sana, menghadapi gulungan kertas berisi nama-nama orang yang bahkan gue nggak tahu siapa,dan sempat membuat gue merasa menyesal dengan keputusan gue untuk nggak golput. Who are these people? What makes them think they could represent us and become our voice in the parliament? Dan percaya atau tidak, akhirnya gue malah dibisik-bisikin oleh nyokap gue, yang berada di bilik sebelah yang emang dirancang gampang buat contek-contekan.

Dan semuanya mulai terasa seperti dagelan konyol. Mencontreng orang yang bahkan gue nggak tahu siapa, mencelupkan jari gue kebanyakan ke dalam tinta (kuku gue masih berbercak ungu setelah 2 minggu!!), dan merasa sepertinya golput adalah pilihan yang lebih tepat.

Ternyata, kekecewaan terus berlanjut. Semakin mirip dagelan, membaca berita-berita setelah pemilu usai. Pemilih yang kehilangan hak suara di mana-mana, hasil rekap yang nggak selesai-selesai, artis-artis yang meraja di daerah-daerah, dan puncaknya, Roy Suryo sebagai anggota DPR!!! Gosh...

Menilik kekisruhan pencalonan capres-cawapres yang diwarnai terlalu banyak politik dagang sapi, rasanya kembali ke golput menjadi pilihan tepat di pilpres mendatang. Sigh.

Tuesday, October 04, 2005

Berita,Bom,BBM

Jauh dari Indonesia, entah kenapa berita yang gue baca tentang tanah kelahiran gue itu malah semakin buruk dan buruk setiap harinya... Belom ilang shock tentang kenaikan harga BBM, demo" dan semua reaksi keras ataupun pasrah dari masyarakat, tiba" ada lagi berita tentang bom.

Seorang temen gue bilang, BBM=Bom Bali Meledak (lagi), jadi lead berita yang bagus banget. Hantaman keras untuk kesekian kalinya buat pemerintahan pak SBY-JK (Gue jadi inget lagi SMS yang sempet beredar tentang SBY-JK : Susah Bensin Ya Jalan Kaki...ada" aja...)

Anyway...lepas dari betapa terkutuknya peristiwa pengeboman itu, apa yang ada di otak para suicidal bombers, dan kenapa harus bikin negara kita seperti sudah jatuh tertimpa tangga pula....Gue jadi ngebayangin peran media sama semua peristiwa ini.

Bad news is good news..Salah satu hal yang gue pelajarin selama sempet kecebur di dunia jurnalistik kemaren ini. Ironis siy, karna kejadian mengerikan kaya pengeboman Bali atau naiknya BBM di tengah krisis masyarakat, justru jadi makanan empuk buat dunia media. Yang lebih ironis, media bisa pegang peranan penting banget buat ngebentuk opini masyarakat...

Isu apa yang ada di balik pengeboman Bali misalnya, apa dikaitin sama agama, atau it's just a bunch of crazy people, doing crazy things...Bisa dibentuk dengan gampangnya sama media...Serem banget, karna kita sekarang hidup di dunia komunikasi yang udah global abis...Media bisa jadi pemicu...atau jadi penengah..

Jangan nelen bulet" semua berita yang ada...karna maybe it can lead to another worse thing...

Thursday, April 07, 2005

Kerja vs Jalan-jalan

Baru pulang dari Bali...liputan kongres pdip..
Huhuhu...sedihnya pergi ke Bali tapi gak bisa jalan"...
Padahal di depan gue banyak turis seliweran..
Toko" dengan barangnya yang menggiurkan...
Pantai biru lengkap sama debur ombaknya yang bikin pengen langsung nyebur aja...
Bahkan kamar hotel gue pun letaknya tepat di depan kolam renang...

Dan gue hanya bisa ngiler aja ngeliat semua itu..
Dengan tabahnya berusaha nahan diri buat nggak cabut dari arena kongres yang nyebelin..
Ditambah sandiwara" politik yang menurut gue sih, udah basi banget...
Hmph...

Pengen deh ke Bali lagi...tidur"an di pinggir pantai sambil baca buku bagus..
Jalan sepanjang legian sampe gempor..
Berburu barang di Sukawati..
Flirting sama surfer" ganteng di kuta..
Makan seafood di jimbaran...

Hmm...Bali...tungguin gue yagh...I'll be back soon..
and this time...not for a single work pokoknya...=)

Tuesday, March 22, 2005

Ricuh

minggu lalu, gue sempet ngerasa takjub banget sama sekumpulan orang yang menamakan diri mereka anggota dpr..
dengan segala atribut jas dan pin yang disemat rapi...
ternyata sama sekali nggak bisa jamin kalo kelakuan mereka bakal sesuai sama apa yang diharap masyarakat.

kaget juga, waktu di depan mata gue ada seorang anggota dpr (yang sehari"nya keliatan 'penting' banget), dengan gilanya naek ke atas meja..
Disusul sama seorang bapak laennya yang dengan cueknya (bahkan terkesan menikmati, menurut gue) teriak-teriak di depan pimpinan sidang sambil ngacung"in tangannya..
Sebenernya gue setengah ngarepin bapak itu sekalian ngelempar gelas yang ada di depannya ke muka pimpinan, tapi ternyata dia keburu ditahan sama seorang anggota dewan lainnya..

Lebih seru lagi, adegan dorong"an di dalam ruang paripurna yang luas dan penuh peralatan canggih itu nggak kalah sama adegan dorong"an di luar gedung antara mahasiswa dan aparat polisi...
Sama" gila dan kurang beradab menurut gue..

Yang juga nggak kalah konyol, ulah sebagian anggota yang sengaja nyalain mikrofon di depannya supaya mikrofon" lainnya mati dan nggak bisa digunain...
Duh...anak kecil banget yah??

Pengen deh rasanya masukin mereka semua ke sekolah kepribadian...atau bahkan yang lebih parah...playgroup...

Sunday, October 10, 2004

Trust

Menumbuhkan kepercayaan emang bukan hal yang gampang..
Terlebih lagi kalo kepercayaan kita pernah disalahgunain sama seseorang.
Rasanya males banget buat ngasi kesempatan kedua..

Padahal, yang namanya rasa percaya adalah satu hal yang penting banget.
Salah satunya, mungkin buat mempertahankan suatu hubungan.
Gimana hubungan bisa berjalan baik kalo nggak didasarin sama rasa percaya?
Masa mau tiap saat kita cek handphonenya, sms yang masuk, belom lagi received calls sama dialled numbersnya..Bener" bikin capek pikiran..
Terlebih lagi yang namanya long distant relationship.
Nggak ada yang bisa kita perbuat kecuali percaya aja sama pasangan kita. Kalo ternyata dia boong..ya...itu resiko..

Lebih jauh lagi, rasa percaya bahkan bisa nyelametin nyawa..
Mencegah terjadinya perang, misalnya.
karna perang atau konflik yang terjadi antar kelompok atau negara, kebanyakan berawal dari rasa nggak percaya..
Amerika (yang ngerasa nggak secure dan takut banget irak punya senjata pemusnah massal) nggak karu"an nyerang irak (padahal nggak jelas senjatanya ada apa nggak).

Yang lebih nyata lagi, Ferry Santoro (kameramen RCTI yang sempet disandera GAM hampir satu taun lamanya), pernah cerita ke gue, waktu misi pembebasan dia, sebenernya dia ada dalem satu mobil sama tentara GAM. Dan si tentara GAM udah ngancem, kalo sampe ada TNI yang muncul...tamat deh semua, karna dia bawa granat yang udah siap diledakin dalem mobil itu.
Untung aja baik GAM maupun TNI nggak ada yang muncul selama aksi pembebasan itu...Dan kata Ferry, kuncinya emang cuma satu : saling percaya..

Sekali lagi...numbuhin kepercayaan emang sulit..
Tapi it's worth it...jadi nggak ada salahnya dicoba..
Minimal, biarpun nggak dengan tujuan nyelametin nyawa orang, tapi bisa untuk nyelametin hubungan kita...

Monday, August 23, 2004

Indo-Idol

mau ikut ngeramein fenomena indonesian idol ahh...
yang emang jadi bahan omongan dimana"...

sebenernya tren memilih idola lewat sms di indonesia diawalin sama program franchise yg dibeli indosiar bernama AFI..
sejak itu..peran "juri" kayanya jadi nggak begitu penting lagi di satu event perlombaan..
sekedar buat pemanis dan pemanas aja...
bahkan jusuf kalla himself pernah komentar, demokrasi di indonesia sekarang udah gila"an,gak hanya milih presiden yang langsung diserahin ke rakyat, milih idola pun sekarang udah terserah kita...

selain AFI, ada yang lebih menghebohkan lagi akhir"ini..
program franchise---lagi"--- yang kali ini dibeli sama rcti.
diiming"in kalimat "PASTI BEDA", acara ini langsung melejit ngalahin AFI yang udah masuk musim ketiga, dan mungkin mulai bikin pemirsa bosen karna kualitasnya yg gitu" aja...

gak semua orang seneng sama sistem pemilihan kaya gini..
kadang banyak orang, termasuk juri, yang bingung sama keputusan pemirsa yang kadang memilih tampang daripada kualitas suara. tapi banyak juga pemirsa yang suka sebel sama juri yang seakan" nggak bisa terima kalo jagoan mereka emang nggak lolos gara" nggak berkenan sama pemirsa --->baca tulisan hellen di www.birubanget.blogspot.com

seperti teori para pengamat politik yang bilang kalo tingginya suara SBY adalah karena kepopuleran dia dan rasa simpati masyarakat, gitu juga dengan fenomena masuknya delon ke final indonesian idol atau ferry afi yang sukses ngegondol gelar juara padahal kualitas suaranya bisa dibilang teramat standar untuk seorang penyanyi yang bakal diorbitin secara profesional..

apapun pro kontra mengenai program semacam ini... penyanyi muda yang karbitan, ajang nyanyi yang berubah jadi ajang adu popularitas dan banyak"an fans..semuanya nggak terlepas dari pihak teve dan penyelenggara.
ibarat mesin uang, stasiun teve dan pihak penyelenggaralah yang sebenernya diuntungin sama sistem sms kaya gini, uang mengalir nggak brenti" dari sms yang masuk..
sementara dimana" orang ribut sama "delon atau joy????"---> bahkan ada yang ngirim sms sampe berpuluh" kali demi supaya idolanya menang..padahal they don't even know their "idols" personally...
stasiun teve dan penyelenggara tersenyum senang...lembar demi lembar terus masuk ke kantong mereka..

kalo udah gini...
apa betul ini win win situation?? =p

Monday, August 02, 2004

Golput

sejujurnya gue males banget ngomongin politik...
mungkin karna tiap hari udah kenyang menjurus eneg sama yang namanya politik itu..
tapi...entah kenapa tau" gue pengen ngebahas masalah golput..

dua kali pemilu kemaren ini, gue golput terus.
banyak orang yang ngomong, golput itu pengecut..
karna enggak berani milih...karna enggak mau ikut peduli...karna enggak punya rasa tanggung jawab..
anyway..mungkin semua itu bener.
tapi alangkah nggak adilnya kalo yang diliat tu cuma lapisan luarnya doang.
menurut gue, golput juga suatu pilihan, selama kita emang punya alesan yang jelas untuk itu..
kalo emang dari sekian banyak pilihan nggak ada yang sesuai sama kata hati kita gimana?
kalo emang kita udah sangat peduli...tapi ternyata dengan memilih salah satu nggak bakalan bikin negara ini jadi lebih baik gimana?

golput...mungkin punya kemiripan dengan HTI
fenomena di mana pasangan nggak pengen berkomitmen...
hubungan tanpa ikatan, hubungan tanpa status atau apalah namanya..
banyak yang ngomong kalo orang yang HTI itu pengecut..
nggak jauh beda sama golput
mereka takut komitmen, mereka nggak mau salah pilih..mereka nggak mau terjerumus.
tapi..tetep aja..semua ada alesan..
semua punya hak buat nentuin sikap..
dan tetep aja...golput, atau hti...adalah sebuah pilihan..

(warning : tulisan ini bukan dalam rangka pembelaan, tapi murni opini gue doang...=p )

Sunday, March 21, 2004

Politics!

politik, politik, politik lagi...
bete gue akhir" ini karna topik yang lagi rame banget dibicarain ya emang itu..
mungkin karna lagi menjelang pemilu dan kampanye" mulai seliweran di mana"..

dari yang gontok"an sesama partai,
bakar"an bendera,
bagi" duit ama sembako,
sampe yang pasang iklan sembarangan...

gila...
parah banget yang namanya politik..
yang lebih parah, politik nggak berenti sampe di peristiwa" itu..
ada politik sesama temen, politik di kampus, politik di tempat kerja..
sampe politik buat ngedapetin pacar (hey...get real!!)

menurut gue, politik itu hanya alat..
yang penting kan gimana biar nasib bangsa ini jadi lebih baek..
kalo emang politiknya sehat, politikusnya juga nggak busuk..
ya politik adalah sesuatu yang sah" aja buat dilakuin..

tapi karna sjauh ini yang terjadi adalah kebalikannya..
gimana bisa percaya sama "yang ada di atas" itu....
hmph...