Hampir 4 tahun tinggal di apartemen, gue masih maleesss banget untuk pindah ke rumahan. Kayaknya emang udah kecanduan tinggal di apartemen dengan segala kemudahannya: bisa ditinggal pergi berhari-hari, cari makanan malem-malem, belanja dadakan tinggal turun ke bawah, dan ngesot sedikit langsung ketemu mall. Oiya, satu lagi alesan egois kenapa gue males pindah rumah: apartemen itu gampang beberesnya, huahaha...sangat pemalas yah.
Anyway, bukan berarti tinggal di apartemen selalu tenang damai bahagia lhooo...Justru banyak kejadian aneh dan terkadang tragis yang sebenernya bikin mikir untuk pindah. Gempa bumi misalnya, pernah beberapa kali gue rasain. Dari yang paling gede saat lagi hamil 7 bulan dan terpaksa ngos-ngosan turun tangga 12 lantai, sampai yang cukup kecil dan hanya bikin loncat sedikit, dan biasanya gue cuekin aja.
Tinggal di apartemen juga berarti ketemu banyak orang. Senengnya, jadi kenal berbagai jenis orang, mulai dari tetangga yang kalo berantem sampe kedengeran ke mana-mana, terus anak-anak kecil yang jadi temen mainnya Yofel, juga ibu-ibu ngeselin yang kalo naik lift maunya nyerobot aja. Nggak enaknya, tentu space yang kecil bikin ruang gerak dan privasi kita menyempit juga. Kadang pengen marah-marah karena anak tetangga ribut lari-larian di lorong depan sementara kita pengen tidur siang. Tapi, kondisi sebaliknya juga pernah terjadi, tetangga depan ngetok-ngetok pintu gara-gara Yofel nggak bisa berenti nangis pas jaman suka kolik dulu.
Di apartemen gue juga suka banyak orang yang kurang jelas asal-usulnya. Well, gue sih sebenernya nggak mau mikirin dan ngurusin, selama mereka juga nggak pernah ngerecokin dan bermaksud jahat sama kita. Tapi kadang ngeri juga kalo udah denger berita-berita serem seputar "pembunuhan" atau "penggerebekan narkoba". Pernah nih, satu sore gue pulang kantor mendapati gerombolan polisi dan petugas dengan seragam imigrasi berkerumun di depan apartemen gue. Kaget donk, kirain ada apaan. Ternyata, tetangga depan gue, sekumpulan cowok bertampang Timur Tengah, lagi kena gerebek karena nggak punya ijin tinggal dan dokumen jelas. Zzzzz...
Tragedi terakhir yang juga menyedihkan adalah jatuhnya seorang anak kecil dari lantai 28. Kebetulan satu tower dengan gue, dan kebetulan suka main di lobby sama Yofel sesekali. Selain tragis karena korbannya adalah anak kecil dan banyak saksi yang melihat dari kolam renang, kejadian ini juga menimbulkan kontroversi karena banyaknya kabar burung di balik kecelakaan tersebut. Ada yang bilang bukan murni kecelakaan, ada yang bilang melibatkan keluarga, dll dsb. Apapun itu, gue berdoa supaya anak laki-laki itu bisa beristirahat dengan tenang.
Tapi ternyata nggak berakhir disana, sekarang banyak pula yang membuat cerita jadi horror dengan kesaksian mereka melihat arwah si anak jalan-jalan, mulai di kolam renang sampai nongkrong di lobby tower. Sampai-sampai, waktu lagi cari apartemen untuk pindahan bulan depan, kita nggak jadi ambil satu unit yang ngadep ke kolam renang, persis ke tempat si anak jatoh...akibat terlalu banyak dengerin kisah-kisah seram. Huhuhu!
Anyway, berbagai drama di atas belum menyurutkan niat gue untuk tetap melanjutkan tinggal di apartemen. Tapi drama masih berlanjut, karena sampai sekarang kita belum menemukan apartemen yang pas...padahal sisa kontrakan yang sekarang tinggal 3 minggu lagi! wakwawwww...
Tuesday, November 20, 2012
Friday, November 02, 2012
Berlibur ke Rumah Nenek....(not!)
Dan gue pun bercita-cita supaya Yofel setidaknya punya pengalaman liaht sawah, lihat bebek meleter dan kambing mengembik. Masalahnya, para oma-opa sekarang tinggal di kota-kota besar, di kompleks perumahan yang lebih dekat dengan mall ketimbang dengan sawah. Jadi gimana donk?
Untunglah, Ncus Yofel yang sudah bekerja mengurus Yofel selama 3 tahun ini berasal dari daerah yang masih cukup asri tapi nggak jauh-jauh banget dari Jakarta, yaitu Subang. Dan weekend Idul Adha kemarin kita memutuskan untuk jalan ke Subang, sekalian makan sate kambing dan merayakan 3 tahunnya Yofel (sekaligus 3 tahunnya Ncus bersama kita).
Dulu, jaman belum ada Cipularang, Subang adalah salah satu jalur favorit yang ditempuh untuk bisa sampai ke Jakarta. Biasanya, kalo pergi sama bokap, kita akan berhenti di salah satu resto dan makan siang di sana, atau mampir dulu ke Ciater sekadar kongkow-kongkow. Kangen juga suasana santai kayak gitu, karena kalo sekarang kan, Bandung-Jakarta bisa ditempuh dalam 2 jam (tanpa macet), businesslike banget deh feelnya, nggak ada santai-santainya sama sekali (Bahkan rest area nya pun terkesan penuh, serba buru-buru dan hectic).
Bagaimana dengan Subang saat ini? Meski sudah mengalami banyak perkembangan (ada Yogya department store yang cukup besar, lengkap dengan supermarketnya), namun suasana "kampung" nya juga masih berasa, apalagi kebanyakan orang masih bicara dalam bahasa Sunda. Senangnya =)
Kita menginap di Hotel Lotus, yang menurut anaknya Ncus, adalah hotel paling baru dan bagus di kota tersebut. Surprisingly, hotelnya bersih dan masih baru bangunannya, ada TV kabel dan wifi segala. Lokasinya juga persis di tengah kota, sehingga gampang kalau mau cari makan. Yang bikin terharu adalah waktu salah satu ponakan Ncus main ke kamar kita dan berseru dengan takjubnya, "Wah...ngeunaheun pisan euy ieu mah!" (Wah, enak banget ini sih!). Sementara si Ncus (yang punya pengalaman tinggal hotel-hotel bagus di berbagai negara) malahan sibuk menjelek-jelekkan hotel yang menurut dia "nggak ada apa-apanya dibanding Sheraton". Hahaha...kacau banget.
Anyway, we had a really-really great time there. Main ke rumah kakaknya Ncus yang masih tetanggaan sama sawah. Kesampaian juga Yofel ketemu kambing (yang selamat dari pemotongan massal hari itu), main sama ayam dan ngeliat bebek, mancing ikan dari baskom, dan lari-lari di pematang sawah. Yang lebih seru adalah karena salah satu cucu si Ncus, Ivan (yang dipanggil Aa Ipan sama Yofel) juga datang hari itu dan menemani Yofel main-main (sebelumnya mereka udah pernah ketemu pas di Bandung).
Semoga Yofel akan punya pengalaman seperti ini terus untuk ditulis di pelajaran mengarang nya suatu hari nanti, sehingga nggak perlu mengarang bebas sambil sirik-sirikan kayak gue dulu =)
Next time ke sini, mampir ke Ciater ah !
![]() |
| Ketemu kambing di tengah sawah =) |
![]() | ||||
| Nasibmu oh ayammm... (tenang, abis ini dilepas lagi kok) |
![]() | |||
| Sepanjang pematang... |
![]() | ||
| yang ini agak gersang ya sawahnya? |
Thursday, November 01, 2012
Letting Go
To love is knowing when to let go, that's what people said. But it's easier said than done.
Last week, I heard a sad news from a very dear friend of mine, who had lost her father after one week in ICCU. It's quite a shock since her father seemed healthy and never had serious complaint about his health. Turned out, he had a serious heart attack and several other complications, causing a multi organ failure. After several days in comma, the doctor asked the family whether they wanted to continue the procedures (which involved ventilator and hemodialysis), or to stop them altogether.
Looking at the father's condition, the family decided to stop the treatment and let go. Let the best thing happen, even though that means they have to lose their father. Anything, but making their father suffered more than he should.
And at the very evening, their father passed away. My friend said that to let go her father was the hardest thing she'd ever done, but the most liberating at the same time.
The older we become, the scarier it feels to lose the people we love. But some things are unavoidable, and the most important thing is to remember that loving someone doesn't always mean having them around us all the time. Losing someone doesn't mean that we lost them forever. Because the memories, the love, the time we spent together, will always be captured in our heart.
Last week, I heard a sad news from a very dear friend of mine, who had lost her father after one week in ICCU. It's quite a shock since her father seemed healthy and never had serious complaint about his health. Turned out, he had a serious heart attack and several other complications, causing a multi organ failure. After several days in comma, the doctor asked the family whether they wanted to continue the procedures (which involved ventilator and hemodialysis), or to stop them altogether.
Looking at the father's condition, the family decided to stop the treatment and let go. Let the best thing happen, even though that means they have to lose their father. Anything, but making their father suffered more than he should.
And at the very evening, their father passed away. My friend said that to let go her father was the hardest thing she'd ever done, but the most liberating at the same time.
The older we become, the scarier it feels to lose the people we love. But some things are unavoidable, and the most important thing is to remember that loving someone doesn't always mean having them around us all the time. Losing someone doesn't mean that we lost them forever. Because the memories, the love, the time we spent together, will always be captured in our heart.
Monday, October 22, 2012
Free Malling
Hidup di Jakarta sebenarnya sekarang sudah cukup menyenangkan untuk membawa anak-anak berjalan-jalan. Banyak variasi tempat selain mall yang patut dikunjungi, seperti museum, taman, area outdoor, sampai tempat-tempat bersejarah. Tapi sejujurnya, ada hari-hari dimana gue hanya pingin ke mall, ngadem di ruangan ber-AC (apalagi Jakarta sudah lama banget nggak disambangi hujan) sambil nyantai-nyantai aja.
Tapi, kelemahan mall adalah uang melayang tanpa terasa. Apalagi kalau pergi ke tempat permainan seperti Fun World atau Timezone, huhuuu seratus ribu bisa habis dalam sekejap. Belum lagi kalau disambi ngopi-ngopi, atau makan di restoran...Mana mungkin bisa berhemat, apalagi kalau lagi tanggal tua, menderita banget.
Sayangnya, di mall-mall Jakarta memang belum banyak playground atau tempat bermain yang gratisan. Jadi kita harus pintar-pintar mencari ide yang bisa cukup menghibur hati anak-anak tanpa terlalu mencekik dompet orang tua. Kalau untuk tanggal tua sih, lumayanlah beberapa altenatif di bawah ini =)
1. Free Playground
Tentu nggak secanggih Giggles di FX dengan semprot-semprotan airnya, atau semeriah Fun World Grand Indonesia yang super heboh. Tapi ada beberapa playground mini yang cukup menyenangkan untuk menghabiskan waktu. di Burger King Senayan City, misalnya, ada ruangan khusus playground anak. Kita bisa membeli soft drink dan duduk menunggu, bahkan kayaknya nggak beli apa-apa pun nggak ada yang peduli juga (meski terlalu pelit sih kalau untuk sekadar soft drink pun nggak mau beli, hihi). Ace Hardware di Living World Mall juga memiliki playground gratisan yang lumayan lengkap dan besar. Sementara itu, di PIM juga tersedia beberapa mini playground (sebenarnya cuman berupa perosotan dan mainan modelnya Little Tikes). Kelemahan playground gratisan, tentu ramenya yang suka nggak kira-kira. Sangat disarankan datang di hari biasa, atau di jam-jam aneh seperti pagi hari pas mall baru buka, atau setelah lewat jam makan siang untuk playground di restoran.
2. Toy Store
Ini agak tricky sih, soalnya main ke toy store berarti harus siap menghadapi drama dan godaan membelikan mainan. Tapi beberapa toy store memiliki fasilitas bermain gratis yang diharapkan bisa meredam hasrat belanja si kecil. Sogo dan Metro misalnya, sering menyediakan meja khusus untuk bermain lego sepuasnya (selama nggak ada anak lain yang ngantri sih, hehe). Juga suka ada mainan track mobil atau kereta api Thomas yang dinyalakan non stop, lumayanlah menghibur juga untuk tontonan. Di toko mainan lain seperti ELC, Toys Kingdom atau Kidz Station, sebenarnya juga banyak mainan yang boleh dicoba gratis, atau sekadar dipandang-pandang. Asal cukup tebel muka untuk keluar dari toko tanpa membeli apa-apa, dan siap menghadapi drama si kecil, main-main ke toy store bukanlah ide yang buruk.
3. Art & Craft
Sebenarnya, kalau mau mengeluarkan sedikit modal (30 ribuan rupiah), ada fasilitas mewarnai gambar dengan pewarna cair yang nantinya disetrika dan dikeringkan (nggak tau namanya apa). Selain marak di playground, fasilitas semacam ini juga banyak terdapat di tempat lain di mall, seperti di department store semacam Matahari, di toko buku bahkan di foodcourt. Tapi, kalau memang tidak mau mengeluarkan uang sama sekali, di Paperclip (toko stationery) juga ada fasilitas mewarnai gratis untuk anak-anak. Biasanya mereka menyiapkan area khusus di sudut toko, lengkap dengan meja-kursi, kertas yang sudah ada gambar yang siap diwarnai, dan pensil warna atau crayon. Lumayan juga untuk menghabiskan waktu, dan biasanya tempat ini tidak terlalu ramai.
4. Bookstore!
Tentu saja ini sama tricky nya dengan toko mainan, tapi merupakan alternatif yang sangat menyenangkan. Toko buku yang children friendly adalah Kinokuniya (di Plaza Senayan maupun Grand Indonesia), di mana area buku anak dibuat cukup lega, bisa sambil lesehan, sambil membuka buku-buku yang seringkali tidak dibungkus plastik. Gramedia di Grand Indonesia juga cukup menyenangkan. Selain membaca buku, Gramedia memiliki fasilitas permainan komputer untuk anak (sebenarnya sih ini area promosi untuk menjual DVD atau games edukatif, tapi bisa dipakai untuk main-main kok). TGA di Senayan City juga memiliki koleksi buku anak yang lumayan seru, di samping interiornya yang tak kalah menarik.
5. Free shows
Setiap mall memiliki daya tarik dan ciri khasnya masing-masing, tapi pasti ada minimal satu show atau pertunjukan atau kegiatan gratisan yang ditawarkan, baik reguler maupun yang khusus. Contoh show gratisan yang reguler: air mancur menari di Grand Indonesia, pertunjukan jam di Plaza Senayan (yang kayaknya nggak pernah berubah tapi tetep ditungguin para pengunjung), atau air mancur menari di taman Central Park Mall (beda jenis dengan Grand Indonesia, yang ini lebih seperti air mancur loncat-loncat). Selain show reguler, tiap mall sering menawarkan show-show khusus terutama di musim liburan sekolah (Juni-Juli atau Desember). So far, gue pernah mengajak Yofel melihat show Spongebob dan Thomas di Central Park, Spiderman di Senayan City, juga Sea World (lengkap dengan touch pool dan aquariumnya) di Citraland Mall. Kelemahannya? Rameeee...jadi harus siap-siap berdesakan atau antri dengan pengunjung lain, terutama di hari libur.
6. Every little thing...
Selain kegiatan-kegiatan di atas, masih banyak yang bisa dimanfaatkan dari fasilitas mall, bahkan yang kecil-kecil dan nggak penting. Misalnya, taman di Central Park Mall, seru banget buat lari-larian, atau sekadar ngeliatin ikan koi di kolamnya. Atau di Mal Taman Anggrek, ngeliatin orang main ice skating (terutama kalau lagi ada event perlombaan atau pertandingan hoki) juga nggak kalah seru. Yang juga culun tapi menyenangkan adalah keliling-keliling supermarket pake kereta, terutama kalau ada kereta khusus anak seperti di Carefour yang berbentuk mobil mainan.
Apapun kegiatannya, yang penting kebersamaannya kan. Jadi, ngemall nggak apa-apa juga kok, asal sesekali tetap main ke luar, cari variasi tempat yang ada udara non-AC nya =) Oiya, untuk kegiatan ngemall gratisan ini, lebih baik kalau kartu kredit ditinggal dulu di rumah, biar nggak tergoda rayuan anak beli ini-itu.
Tapi, kelemahan mall adalah uang melayang tanpa terasa. Apalagi kalau pergi ke tempat permainan seperti Fun World atau Timezone, huhuuu seratus ribu bisa habis dalam sekejap. Belum lagi kalau disambi ngopi-ngopi, atau makan di restoran...Mana mungkin bisa berhemat, apalagi kalau lagi tanggal tua, menderita banget.
Sayangnya, di mall-mall Jakarta memang belum banyak playground atau tempat bermain yang gratisan. Jadi kita harus pintar-pintar mencari ide yang bisa cukup menghibur hati anak-anak tanpa terlalu mencekik dompet orang tua. Kalau untuk tanggal tua sih, lumayanlah beberapa altenatif di bawah ini =)
1. Free Playground
Tentu nggak secanggih Giggles di FX dengan semprot-semprotan airnya, atau semeriah Fun World Grand Indonesia yang super heboh. Tapi ada beberapa playground mini yang cukup menyenangkan untuk menghabiskan waktu. di Burger King Senayan City, misalnya, ada ruangan khusus playground anak. Kita bisa membeli soft drink dan duduk menunggu, bahkan kayaknya nggak beli apa-apa pun nggak ada yang peduli juga (meski terlalu pelit sih kalau untuk sekadar soft drink pun nggak mau beli, hihi). Ace Hardware di Living World Mall juga memiliki playground gratisan yang lumayan lengkap dan besar. Sementara itu, di PIM juga tersedia beberapa mini playground (sebenarnya cuman berupa perosotan dan mainan modelnya Little Tikes). Kelemahan playground gratisan, tentu ramenya yang suka nggak kira-kira. Sangat disarankan datang di hari biasa, atau di jam-jam aneh seperti pagi hari pas mall baru buka, atau setelah lewat jam makan siang untuk playground di restoran.
![]() |
| Mainan di Playground gratisan Ace Hardware - kok burem yah... |
2. Toy Store
Ini agak tricky sih, soalnya main ke toy store berarti harus siap menghadapi drama dan godaan membelikan mainan. Tapi beberapa toy store memiliki fasilitas bermain gratis yang diharapkan bisa meredam hasrat belanja si kecil. Sogo dan Metro misalnya, sering menyediakan meja khusus untuk bermain lego sepuasnya (selama nggak ada anak lain yang ngantri sih, hehe). Juga suka ada mainan track mobil atau kereta api Thomas yang dinyalakan non stop, lumayanlah menghibur juga untuk tontonan. Di toko mainan lain seperti ELC, Toys Kingdom atau Kidz Station, sebenarnya juga banyak mainan yang boleh dicoba gratis, atau sekadar dipandang-pandang. Asal cukup tebel muka untuk keluar dari toko tanpa membeli apa-apa, dan siap menghadapi drama si kecil, main-main ke toy store bukanlah ide yang buruk.
![]() |
| Nyobain keyboard di ELC, sampe mbak-mbaknya hapal sama yofel =p |
3. Art & Craft
Sebenarnya, kalau mau mengeluarkan sedikit modal (30 ribuan rupiah), ada fasilitas mewarnai gambar dengan pewarna cair yang nantinya disetrika dan dikeringkan (nggak tau namanya apa). Selain marak di playground, fasilitas semacam ini juga banyak terdapat di tempat lain di mall, seperti di department store semacam Matahari, di toko buku bahkan di foodcourt. Tapi, kalau memang tidak mau mengeluarkan uang sama sekali, di Paperclip (toko stationery) juga ada fasilitas mewarnai gratis untuk anak-anak. Biasanya mereka menyiapkan area khusus di sudut toko, lengkap dengan meja-kursi, kertas yang sudah ada gambar yang siap diwarnai, dan pensil warna atau crayon. Lumayan juga untuk menghabiskan waktu, dan biasanya tempat ini tidak terlalu ramai.
4. Bookstore!
Tentu saja ini sama tricky nya dengan toko mainan, tapi merupakan alternatif yang sangat menyenangkan. Toko buku yang children friendly adalah Kinokuniya (di Plaza Senayan maupun Grand Indonesia), di mana area buku anak dibuat cukup lega, bisa sambil lesehan, sambil membuka buku-buku yang seringkali tidak dibungkus plastik. Gramedia di Grand Indonesia juga cukup menyenangkan. Selain membaca buku, Gramedia memiliki fasilitas permainan komputer untuk anak (sebenarnya sih ini area promosi untuk menjual DVD atau games edukatif, tapi bisa dipakai untuk main-main kok). TGA di Senayan City juga memiliki koleksi buku anak yang lumayan seru, di samping interiornya yang tak kalah menarik.
5. Free shows
Setiap mall memiliki daya tarik dan ciri khasnya masing-masing, tapi pasti ada minimal satu show atau pertunjukan atau kegiatan gratisan yang ditawarkan, baik reguler maupun yang khusus. Contoh show gratisan yang reguler: air mancur menari di Grand Indonesia, pertunjukan jam di Plaza Senayan (yang kayaknya nggak pernah berubah tapi tetep ditungguin para pengunjung), atau air mancur menari di taman Central Park Mall (beda jenis dengan Grand Indonesia, yang ini lebih seperti air mancur loncat-loncat). Selain show reguler, tiap mall sering menawarkan show-show khusus terutama di musim liburan sekolah (Juni-Juli atau Desember). So far, gue pernah mengajak Yofel melihat show Spongebob dan Thomas di Central Park, Spiderman di Senayan City, juga Sea World (lengkap dengan touch pool dan aquariumnya) di Citraland Mall. Kelemahannya? Rameeee...jadi harus siap-siap berdesakan atau antri dengan pengunjung lain, terutama di hari libur.
![]() |
| After the show- bisa elus-elus si Thomas =) |
6. Every little thing...
Selain kegiatan-kegiatan di atas, masih banyak yang bisa dimanfaatkan dari fasilitas mall, bahkan yang kecil-kecil dan nggak penting. Misalnya, taman di Central Park Mall, seru banget buat lari-larian, atau sekadar ngeliatin ikan koi di kolamnya. Atau di Mal Taman Anggrek, ngeliatin orang main ice skating (terutama kalau lagi ada event perlombaan atau pertandingan hoki) juga nggak kalah seru. Yang juga culun tapi menyenangkan adalah keliling-keliling supermarket pake kereta, terutama kalau ada kereta khusus anak seperti di Carefour yang berbentuk mobil mainan.
Apapun kegiatannya, yang penting kebersamaannya kan. Jadi, ngemall nggak apa-apa juga kok, asal sesekali tetap main ke luar, cari variasi tempat yang ada udara non-AC nya =) Oiya, untuk kegiatan ngemall gratisan ini, lebih baik kalau kartu kredit ditinggal dulu di rumah, biar nggak tergoda rayuan anak beli ini-itu.
Friday, October 12, 2012
How Far Will You Go?
Masih ingat kegundahan gue soal Blackberry beberapa tahun lalu? Well, well... Saat gue pikir gue sudah nggak usah diribetin oleh BB dan segala macam dilemanya (dan saat ini memegang satu BB dari kantor dan satu BB dari nyokap).. Who knows? It's apparently only the tip of the iceberg.
Beberapa minggu lalu, gue ketemuan sama temen-temen kuliah, dan satu fenomena yang gue lihat adalah betapa gadget sudah menjadi bagian penting dari hidup mereka. Nggak hanya Blackberry, sekarang hampir semua teman gue itu sudah memegang iPhone atau Android. Tapi kenapa sebagian besar dari mereka nggak melepas BB? Karena teman-teman mereka yang lain masih menggunakan BB dan berkomunikasi via BBM atau BB Group.
Lalu kenapa harus iPhone atau Android? Because they are the "it" phones now! Dan bukan hanya bentuknya yang keren atau feature nya yang canggih lho, tapi juga komunitas pemakainya (banyak yang bilang pemakai BB kurang smart karena sering menyebarkan broadcast message nggak penting). Ditambah lagi, berbagai aplikasi dan sosial media yang eksklusif bisa diakses oleh gadget-gadget tersebut.
Mengutip salah satu teman gue yang meminta gue untuk segera membuat akun Path "Soalnya Twitter udah nggak seru sekarang, ribet!" (Dan gue masih terbayang-bayang hari-hari awal gue berusaha keras memahami kegunaan Twitter. Masa harus diulang lagi sekarang?) Belum lagi Instagram yang membuat setiap pemakainya serasa menjadi jago fotografi dalam sekejap. Lalu bagaimana dengan BBM? Lho, kan ada Whatsapp yang bisa digunakan untuk berbagai smartphone tanpa harus keluar uang!
Anyway, bahkan para pencinta olah raga seperti lari dan sepeda pun sekarang sangat eksis dengan gadgetnya masing-masing, berlomba-lomba untuk menunjukkan kemajuannya melalui aplikasi seperti Endomondo atau Nikeplus.
Semakin terkejut juga saat gue bertemu teman-teman lama dari kantor majalah. iPhone ternyata sudah menjadi bagian hidup mereka juga, termasuk follow-follow-an di Path dan Instagram.
Dan gue jadi bertanya-tanya, sampai kapan ya perjuangan ini akan berakhir? How far will you go until one fine day, you'll decide to say "enough"?
Beberapa minggu lalu, gue ketemuan sama temen-temen kuliah, dan satu fenomena yang gue lihat adalah betapa gadget sudah menjadi bagian penting dari hidup mereka. Nggak hanya Blackberry, sekarang hampir semua teman gue itu sudah memegang iPhone atau Android. Tapi kenapa sebagian besar dari mereka nggak melepas BB? Karena teman-teman mereka yang lain masih menggunakan BB dan berkomunikasi via BBM atau BB Group.
Lalu kenapa harus iPhone atau Android? Because they are the "it" phones now! Dan bukan hanya bentuknya yang keren atau feature nya yang canggih lho, tapi juga komunitas pemakainya (banyak yang bilang pemakai BB kurang smart karena sering menyebarkan broadcast message nggak penting). Ditambah lagi, berbagai aplikasi dan sosial media yang eksklusif bisa diakses oleh gadget-gadget tersebut.
Mengutip salah satu teman gue yang meminta gue untuk segera membuat akun Path "Soalnya Twitter udah nggak seru sekarang, ribet!" (Dan gue masih terbayang-bayang hari-hari awal gue berusaha keras memahami kegunaan Twitter. Masa harus diulang lagi sekarang?) Belum lagi Instagram yang membuat setiap pemakainya serasa menjadi jago fotografi dalam sekejap. Lalu bagaimana dengan BBM? Lho, kan ada Whatsapp yang bisa digunakan untuk berbagai smartphone tanpa harus keluar uang!
Anyway, bahkan para pencinta olah raga seperti lari dan sepeda pun sekarang sangat eksis dengan gadgetnya masing-masing, berlomba-lomba untuk menunjukkan kemajuannya melalui aplikasi seperti Endomondo atau Nikeplus.
Semakin terkejut juga saat gue bertemu teman-teman lama dari kantor majalah. iPhone ternyata sudah menjadi bagian hidup mereka juga, termasuk follow-follow-an di Path dan Instagram.
Dan gue jadi bertanya-tanya, sampai kapan ya perjuangan ini akan berakhir? How far will you go until one fine day, you'll decide to say "enough"?
Wednesday, September 19, 2012
Anyhting You Want to Be
How does it feel having a chance to become anything that you wanted?
Gue menghabiskan banyak waktu gue dengan anak-anak Amerika usia 20-an yang mengajar sebagai volunteer di SMA-SMA di berbagai daerah Indonesia. Yang menarik adalah perbedaan cara mereka memandang hidup dan merancang masa depan, dibandingkan dengan anak-anak muda Indonesia di usia yang sama.
Seringkali, kalau sudah mendekati akhir masa volunteer mereka di Indonesia, gue bertanya-tanya tentang rencana mereka ke depan. Dan jawaban mereka membuat gue miris, betapa "mudah" mewujudkan mimpi bagi mereka.
Banyak yang setelah menyelesaikan volunteer di Indonesia, kembali ke Indonesia untuk bekerja (dengan gaji ekspat, tentu!). Bukan di perusahaan minyak atau konsultan multinasional kok, kebanyakan malah mengajar di sekolah internasional atau bekerja di NGO asing. Tapi yang membuat iri adalah, gaji mereka yang setara dengan level manajer lokal, meski posisi mereka masih karyawan biasa. Renting apartemen atau rumah di daerah Sudirman atau Menteng pun bukan menjadi masalah besar.
Sebagian lagi, belum puas dengan petualangan mereka, kembali mencari fellowship atau volunteering program ke negara-negara lain. Dan betapa banyaknya kesempatan bagi mereka. Berkelana ke pelosok Asia, Afrika atau Eropa. Belajar bahasa di Amerika Selatan. Mengajar bahasa Inggris di Korea. Volunteer di program Peace Corps di Namibia. Atau bekerja di NGO asing di Nepal. Seolah tanpa beban, tanpa batasan apapun.
Betapa mudahnya mewujudkan mimpi bagi mereka! Lagi-lagi, komentar bernada iri hati itu tercetus dalam hati gue. Banyak juga yang balik ke Amerika, langsung lanjut ke grad school, dan rata-rata, alumni program Fulbright biasanya diterima di sekolah-sekolah bergengsi seperti Yale, Columbia atau Harvard. Masa depan tampak cerah bagi mereka.
Apa yang mereka miliki tapi tidak dimiliki oleh kita? Kadang gue lihat, kemampuan mereka sama-sama aja kok. Banyak teman-teman gue yang malah lebih pintar dan memiliki kemampuan lebih. Tapi satu yang kita nggak punya: privilege. Lahir dan hidup sebagai warga negara adikuasa. Memang ada sih, beberapa teman gue sesama orang Indonesia yang akhirnya berhasil menggapai mimpi-mimpi internasional mereka: sekolah di Ivy Leagues, kerja di berbagai belahan dunia, jalan-jalan ke mana-mana... Tapi effort mereka pun lebih besar, jauh lebih besar. Mereka kerja lebih keras, dan berusaha sekuat tenaga untuk menyamai posisi mereka dengan anak-anak yang sudah mendapat privilege lahir dan dibesarkan di Amerika.
Tapi memang betul, hal ini tidak bisa dijadikan alasan untuk menyerah begitu saja. Kesempatan kita mungkin memang lebih sedikit, kita mungkin akan selalu dianggap warga kelas dua di Amerika (dan negara-negara maju lainnya) meski sudah punya pendidikan dan kedudukan yang oke, dan sampai kapanpun, kita tetap orang Indonesia, dengan segala keterbatasan kita. Tapi kita juga lebih tangguh, lebih mudah beradaptasi, lebih humble, dan lebih tidak dijagokan.
Sometimes being an underdog is good. And who knows? Underdogs could be anything they wanted too!
Gue menghabiskan banyak waktu gue dengan anak-anak Amerika usia 20-an yang mengajar sebagai volunteer di SMA-SMA di berbagai daerah Indonesia. Yang menarik adalah perbedaan cara mereka memandang hidup dan merancang masa depan, dibandingkan dengan anak-anak muda Indonesia di usia yang sama.
Seringkali, kalau sudah mendekati akhir masa volunteer mereka di Indonesia, gue bertanya-tanya tentang rencana mereka ke depan. Dan jawaban mereka membuat gue miris, betapa "mudah" mewujudkan mimpi bagi mereka.
Banyak yang setelah menyelesaikan volunteer di Indonesia, kembali ke Indonesia untuk bekerja (dengan gaji ekspat, tentu!). Bukan di perusahaan minyak atau konsultan multinasional kok, kebanyakan malah mengajar di sekolah internasional atau bekerja di NGO asing. Tapi yang membuat iri adalah, gaji mereka yang setara dengan level manajer lokal, meski posisi mereka masih karyawan biasa. Renting apartemen atau rumah di daerah Sudirman atau Menteng pun bukan menjadi masalah besar.
Sebagian lagi, belum puas dengan petualangan mereka, kembali mencari fellowship atau volunteering program ke negara-negara lain. Dan betapa banyaknya kesempatan bagi mereka. Berkelana ke pelosok Asia, Afrika atau Eropa. Belajar bahasa di Amerika Selatan. Mengajar bahasa Inggris di Korea. Volunteer di program Peace Corps di Namibia. Atau bekerja di NGO asing di Nepal. Seolah tanpa beban, tanpa batasan apapun.
Betapa mudahnya mewujudkan mimpi bagi mereka! Lagi-lagi, komentar bernada iri hati itu tercetus dalam hati gue. Banyak juga yang balik ke Amerika, langsung lanjut ke grad school, dan rata-rata, alumni program Fulbright biasanya diterima di sekolah-sekolah bergengsi seperti Yale, Columbia atau Harvard. Masa depan tampak cerah bagi mereka.
Apa yang mereka miliki tapi tidak dimiliki oleh kita? Kadang gue lihat, kemampuan mereka sama-sama aja kok. Banyak teman-teman gue yang malah lebih pintar dan memiliki kemampuan lebih. Tapi satu yang kita nggak punya: privilege. Lahir dan hidup sebagai warga negara adikuasa. Memang ada sih, beberapa teman gue sesama orang Indonesia yang akhirnya berhasil menggapai mimpi-mimpi internasional mereka: sekolah di Ivy Leagues, kerja di berbagai belahan dunia, jalan-jalan ke mana-mana... Tapi effort mereka pun lebih besar, jauh lebih besar. Mereka kerja lebih keras, dan berusaha sekuat tenaga untuk menyamai posisi mereka dengan anak-anak yang sudah mendapat privilege lahir dan dibesarkan di Amerika.
Tapi memang betul, hal ini tidak bisa dijadikan alasan untuk menyerah begitu saja. Kesempatan kita mungkin memang lebih sedikit, kita mungkin akan selalu dianggap warga kelas dua di Amerika (dan negara-negara maju lainnya) meski sudah punya pendidikan dan kedudukan yang oke, dan sampai kapanpun, kita tetap orang Indonesia, dengan segala keterbatasan kita. Tapi kita juga lebih tangguh, lebih mudah beradaptasi, lebih humble, dan lebih tidak dijagokan.
Sometimes being an underdog is good. And who knows? Underdogs could be anything they wanted too!
Wednesday, September 12, 2012
Perfect Life
"I won't ever, ever do that to my son", that's what I thought when I saw a mother yelling at her crying son in the middle of a parking lot.
"I will be spending my time teaching my kid to love books, to play outside..to be the coolest mom ever!!", that's what I told myself when I held my son in the hospital after he was born.
Perfect mom, perfect model, perfect life.
How did I know that there will be days when I don't feel like doing anything - except sleeping or reading my book?
How did I know that there will be times when I just don't have the patience to deal with my son's tantrum - and yelling at him is the only thing I can think of?
How did I know that there will never be the coolest mom - because even though you're cool for now, still there are days that your son simply doesn't want to talk to you, and you become his worst enemy =)
How did I know that there is no such thing as a perfect mom, let alone a perfect life?
But now I know.
Thank goodness, now I know =)
"I will be spending my time teaching my kid to love books, to play outside..to be the coolest mom ever!!", that's what I told myself when I held my son in the hospital after he was born.
Perfect mom, perfect model, perfect life.
How did I know that there will be days when I don't feel like doing anything - except sleeping or reading my book?
How did I know that there will be times when I just don't have the patience to deal with my son's tantrum - and yelling at him is the only thing I can think of?
How did I know that there will never be the coolest mom - because even though you're cool for now, still there are days that your son simply doesn't want to talk to you, and you become his worst enemy =)
How did I know that there is no such thing as a perfect mom, let alone a perfect life?
But now I know.
Thank goodness, now I know =)
Monday, July 30, 2012
Go Public
Time flies so fast!!! Yofel is almost 3 years old, and we decided it's time for him to go to school!! =)
I didn't do too much research about which is the best school for Yofel. There is one good preschool in our apartment, only 12 floors down and a couple of steps away, so it's easiest for Yofel to be enrolled in that school. The lessons are in English, but there's Mandarin and Bahasa Indonesia lessons as well, so we're pretty content about it.
First day of school, I was really nervous, I guess more nervous than Yofel himself. It's that bittersweet feeling, when you know there's a new era to face, but you don't want to lose the old one yet. Watching him wearing his brand new uniform and playing with other kids...there are things that are indeed still priceless in this pricey material world.
But at the same time, I also realized one important thing. Enrolling your kid into a school means your parenting stuff and kids problems becoming public. It suddenly becomes everybody's business, from the teachers at school to the other parents and kids in the class.
I remember the horrifying feeling when Yofel, who is still a picky eater and hates eating more than anything else, refused to sit down around the table with the other kids to have snack time. Instead of munching the biscuit and sitting with other children, Yofel kept screaming, kicking around and finally throwing the plate (luckily, a plastic plate) toward his teacher!
Embarrassment, fear and tears welled up in my heart (and eyes!), but I tried to hide it all. The teacher calmed me down and said that every kid needs time to adjust in new environment, so I don't need to be worried. Same thing happened when Yofel running around the class when the other kids singing and dancing. The alarming thing was that some of the kids were following him running around, and I tried to keep my face as innocent as possible when their parents looking at me.
But truth is, all the worrying and feeling afraid for Yofel seemed worth it when I heard from his nanny that Yofel is now starting to eat with his friends, or participating in singing and dancing in class, even he was willing to come forward as a volunteer to do the rote count.
Proud.
A feeling that is indeed, more priceless than anything.
Like his teacher once said to him, "Good job, Yofel!"
![]() |
| eating biscuit, a very big achievement! |
I didn't do too much research about which is the best school for Yofel. There is one good preschool in our apartment, only 12 floors down and a couple of steps away, so it's easiest for Yofel to be enrolled in that school. The lessons are in English, but there's Mandarin and Bahasa Indonesia lessons as well, so we're pretty content about it.
First day of school, I was really nervous, I guess more nervous than Yofel himself. It's that bittersweet feeling, when you know there's a new era to face, but you don't want to lose the old one yet. Watching him wearing his brand new uniform and playing with other kids...there are things that are indeed still priceless in this pricey material world.
But at the same time, I also realized one important thing. Enrolling your kid into a school means your parenting stuff and kids problems becoming public. It suddenly becomes everybody's business, from the teachers at school to the other parents and kids in the class.
I remember the horrifying feeling when Yofel, who is still a picky eater and hates eating more than anything else, refused to sit down around the table with the other kids to have snack time. Instead of munching the biscuit and sitting with other children, Yofel kept screaming, kicking around and finally throwing the plate (luckily, a plastic plate) toward his teacher!
Embarrassment, fear and tears welled up in my heart (and eyes!), but I tried to hide it all. The teacher calmed me down and said that every kid needs time to adjust in new environment, so I don't need to be worried. Same thing happened when Yofel running around the class when the other kids singing and dancing. The alarming thing was that some of the kids were following him running around, and I tried to keep my face as innocent as possible when their parents looking at me.
But truth is, all the worrying and feeling afraid for Yofel seemed worth it when I heard from his nanny that Yofel is now starting to eat with his friends, or participating in singing and dancing in class, even he was willing to come forward as a volunteer to do the rote count.
Proud.
A feeling that is indeed, more priceless than anything.
Like his teacher once said to him, "Good job, Yofel!"
Monday, July 02, 2012
Rooting
![]() |
| Gli Azzurri - 2012 |
But mostly, the story about why you root for a team is more personal than the above reasons. It's not in your blood, not in your family history, not related to any part of your life, but you just happened to fall for this particular team. It's like falling in love with a person, without knowing exactly why it happened.
And I guess it's more interesting with Indonesian people, maybe since we never had a chance to root for our national football team in international event, so each of us choose a team, and root for them fanatically, maybe even more fanatic than the original fans from that country.
My story had begun about 15 years ago, when I started to like watching football. My brother's favorite team at that time, Juventus, was playing in TV, and I had nothing better to do so I watched the game with him. One of the players caught my eyes (and my heart), and I learned that his name was Filippo Inzaghi. That was the beginning of my love for football, and I placed him (and his team) as the top reason for watching the games.
Pippo moved to another team, but my love for him was never changed until he was retired from football. I was rooting for him wherever he went, although Juventus has always been my first love =) But because of Pippo, I also rooted for Italy team, Gli Azzurri. And my love for them just keeps growing no matter what, even when all my favorite players had retired from the team. I don't know why I loved the team so much. Maybe because there were never boring moments every time they played, from all the dramas to the controversial goals, everything was beyond crazy =)
I remember vividly when I was cheering with the Italians in Berlin, the night of World Cup Final in 2006. How crazy it was, especially because Italy had always been an underdog so nobody expected them to be in the final, and won the game for that matter!
![]() |
| the glorious moment =) |
So I had mixed feelings when we entered EURO 2012 last month. I wished for the best for my Azzurri, despite the mocking and sneering from the haters, especially because Italy just had the scandal about scoring in their national leagues. But still, I've rooted for them for years, and it's not gonna change, no matter what they've been through.
And I was quite surprised because Azzurri played pretty well... Fighting back Spain in their first game, winning the penalty round against England, and even beating Germany, one of the most favorite teams this year. I love seeing the regeneration finally kicking in the team, we still have great experienced players like Pirlo and Cassano, but the new players like Balotelli spiced things up.
It's too bad Azzurri couldn't beat Spain in the final and collect the trophy they've been waiting for 44 years... But I still cherished the moments I watched them played (Pirlo's brilliant penalty? Balotelli's yellow card for taking off his shirt after making a goal?). This is just a beginning, I'm sure. And I am so freaking proud of them. So I just sent them my love and I'll be patient for Brazil =)
ps: and I can't understand why there are so may haters out there. Even the fans of Espana kept mocking Azzurri after they won the game, instead of just shutting their mouth and enjoying the moment. I felt sorry for them, because what good is that, when your team is winning but all you wanted to do was talking bad about the other team?
Tuesday, June 19, 2012
Blast from the Past
![]() |
| Courtesy of KapanLagi.com |
Indonesia lagi kebanjiran konser musisi internasional. Entah harus disyukuri atau disayangkan karena dompet dan ATM berteriak-teriak prihatin. Yang jelas, hampir setiap bulan ada sajaaa konser yang termasuk sayang untuk dilewatkan, suatu kemewahan tersendiri untuk negara yang sempat dicap "travel warning" dan di black-list dari daftar tur grup band atau penyanyi asing.
Buat gue, prioritas justru diberikan pada para musisi yang sudah digilai sejak jaman dulu, dan dinanti-nanti konsernya hampir seumur hidup (lebay!). Beruntung sekali bulan Mei yang lalu, L'arc en Ciel untuk pertama kalinya memasukkan Jakarta ke salah satu kota tujuan World Tour nya tahun ini. Yippie!!! Band rock kojo asal Jepang ini menemani hari-hari gue begadang saat kuliah dulu...Dan entah kapan akan ada kesempatan yang sama, jadi tanpa ragu-ragu, sekalian reuni dengan teman-teman kuliah, kita pun memutuskan untuk membeli tiket (IDR 600k untuk Reguler B).
Konsernya diadakan di Lapangan D Senayan, dan ini pertama kalinya gue nonton konser di sana. Meski outdoor dan tempat seadanya, tapi setting panggungnya keren karena menampilkan grafis unik khas Jepang di big screen, dan dibuat super pas dengan lagu-lagu yang dibawakan. Konser dimulai tepat waktu (yeay!), panitia lumayan profesional mengatur barisan penonton waktu masuk ke lapangan, memisah-misahkan antara Reguler A dan B dengan cukup tertib.
And it was one of the best concerts I've ever watched!!! Nggak nyangka banget band yang sudah termasuk senior ini ternyata staminanya masih luar biasa mumpuni, jingkrak sana-sini, dengan intermission yang terbilang sedikit dan singkat. Memang banyak lagu-lagu baru yang gue nggak terlalu tahu karena sudah nggak terlalu ngikutin album mereka yang terakhir, tapi yang bikin seneng adalah mereka bawain juga lagu-lagu lama dari album jadul..Serasa balik ke jaman kuliah, bikin tugas praktikum sampe jam 3 pagi diiringi hentakan suara Hyde yang khas banget.
Yang juga bikin bahagia adalah betapa cowok-cowok L'arc en Ciel ini mempersiapkan konsernya dengan sepenuh hati. Terbukti dari niatnya mereka menghafal kata-kata Bahasa Indonesia yang diucapkan terpatah-patah. Bahkan Ken si gitaris nyentrik itu sempet-sempetnya bercanda "Halo, gua SUJU dari Korea!" Hahaha kocak banget, mengingat SUJU yang lagi digilai ABG memang baru konser di Jakarta beberapa hari sebelumnya. Belum lagi saat Hyde yang selalu tampil keren dengan gaya androgini nya, sempat iseng bermain wayang dan suling di atas panggung. Charming!!!
Rasanya nggak sia-sia penonton membludak malam itu, bahkan menurut situs world tour L'arc en Ciel, Jakarta adalah satu-satunya kota di mana tiket konser mereka sold out. Awwww =) Semoga sambutan kemarin itu membuat Laruku nggak kapok main-main ke Indonesia.
Belum hilang demam Laruku, bulan Juni-nya datang lagi satu grup dari masa lalu, New Kids on The Block!!! Yeay, it's like a dream comes true karena pertama kalinya gue nonton konser mereka itu adalah tahun 1992, atau 20 tahun yang lalu aja gituuuuu =D Konser pertama dalam hidup gue dan masih tetap berkesan sampai sekarang.
Siapapun yang mempunyai ide mengembalikan kejayaan boy band jaman dulu ini dan menggabungkannya dengan salah satu boy band lain, Backstreet Boys yang sedikit berbeda generasi, adalah seorang jenius. Sayangnya tiket konser NKOTBSB ini super mahaaaal....IDR 950k untuk festival, dan meski ada pre-sale nya, jangan harap dapet deh, karena langsung ludes dalam beberapa menit.
Jadi harapan gue nonton NKOTB pun pupus kandas, sampai menjelang hari H, ternyata situs penjualan tiket online rajakarcis.com membuat program cicilan. Yeay!! Langsung tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, gue bersama seorang teman kantor yang juga datang dari generasi 80-an akhirnya memutuskan untuk membeli tiket.
Dan hari-H benar-benar heboh, karena kita harus berangkat dari kantor menuju MEIS-Ancol, gedung baru yang terletak di daerah Pantai Carnaval. Jam 4 berangkat dari kantor, nyampe Ancol jam 5 kurang, langsung bingung karena nggak ada petunjuk jelas dari panitia, ternyata harus menukar tiket dengan gelang dulu. Yang juga bikin kaget adalah pengamanan yang ala kadarnya. Tas kita tidak diperiksa pas mau masuk ke gate, berisan pun tidak diatur dengan tertib. Panitia seakan tidak siap menghadapi sekitar 10 ribu penonton (yang kebanyakan cewek padahal).
Lebih parah lagi, gedung konser MEIS ini ternyata sama sekali belum layak untuk digunakan. Concert Hall yang terletak di lantai 3 gedung mal yang baru dibangun ini belum sepenuhnya rampung, jalan menuju hall pun masih berupa tanah, belum berupa lantai, dengan beton-beton melintang di atas kepala dan debu di mana-mana, oh my... Belum lagi untuk menuju ke atas, hanya ada dua eskalator yang tidak berjalan, ngeri banget kalau sampai ada yang keinjek-injek (!)
Untungnya, konser dimulai cukup tepat waktu, dan karena panggung bermodel catwalk, hampir semua penonton festival kebagian melihat dengan jelas idolanya masing-masing. Buat gue, highlight nya tentu NKOTB donk, terutama Mas Jordan idola saat remaja =D Hampir semua lagu hits dari album jaman dulu dinyanyikan, termasuk favorit I'll be Loving You, Please Don't Go Girl dan Valentine Girl. Hmmm...mengenang masa-masa keemasan =)
![]() |
| The everlasting idol, Mr. Jordan Knight |
Dan begitulah, mengenang masa muda tuh menyenangkan banget ya? Biarpun kadang nggak seindah jaman dulu, tapi momennya itu yang memang dapet banget.And I'm proud of Indonesians...Penonton yang (mungkin karena jarang disamperin sama idolanya) bener-bener antusias dan bikin sang performer merasa ditanggapi sepenuh hati =)
Sekarang, tiba-tiba ketar-ketir lagi waktu denger The Cardigans bakal manggung bulan Agustus nanti. Mengenang masa-masa nge-band jaman SMA!!!
I will never know, cause you will never show
C'mon and love me now, c'mon and love me now..
Should I walking down the memory lanes one more time? =)
Subscribe to:
Posts (Atom)











