Showing posts with label jakarta. Show all posts
Showing posts with label jakarta. Show all posts

Friday, October 18, 2013

One Fine Day

Minggu lalu, tanggal 9 Oktober, Yofel ulang tahun ke-4. Bener-bener ya. time really flies! Kebetulan pas ulang tahun itu Yofel lagi libur mid term. Jadi, instead of ngerayain di sekolah, akhirnya gue memutuskan untuk cuti dan bawa Yofel ke... Dufan! :)

Masuk di dunia fantasi, dunia ajaib yang mempesona *nyanyi*

Sejujurnya, yang semangat ke Dufan bukan hanya Yofel, tapi gue juga! Hahaha...kayaknya udah lebih dari 10 tahun gue nggak menyambangi theme park ini... Padahal kemarin-kemarin ini udah sempet ke Universal Studios Singapore, Trans Studio Bandung, malahan ke Six Flags juga pas dulu di Belanda. Tapi Dufan? Malah ditelantarkan ;p

Jadi, hari Rabu itu, gue bertiga Yofel dan Ncus (Rayo nggak bisa ikut karena cutinya udah abis, hiks) menyambangi Dufan. Meski di websitenya ditulis Dufan buka jam 11 siang di weekdays, ternyata pas kita nyampe sana jam 10.30, gerbangnya udah dibuka kok. Tiket per orang (termasuk anak di atas 100 cm) IDR 150k. Not bad lah!

Kesan pertama pas masuk? Sepiiiii :D Inilah enaknya dateng di hari biasa. Nggak perlu ngantri sana-sini, tiketnya pun lebih murah 100 ribu dibanding weekend/hari libur. Memang sih ada beberapa rombongan (antara lain anak-anak SMA dari Bandung, terus ada juga rombongan karyawan Alfamart), tapi overall masih termasuk sepi dan bebas antri.

Saking sepinya, pas naik beberapa wahana, dan Yofel pingin ngulang sekali lagi, kita nggak perlu turun karena nggak ada antrian orang sama sekali :D Terus asiknya lagi, kita bisa minta petugasnya untuk nambah putaran.. Waktu naik Alap-alap (roller coaster mini) sama Yofel, petugasnya nambah putaran sampai 6 kali...Trus waktu gue naik Halilintar, yang biasanya cuman 1 putaran, dikasih 2 putaran dalam sekali naik. Seru bangettt!!!

Dufan sekarang tentu udah beda sama Dufan jaman baheula yang terakhir kali gue datengin. Banyak permainan baru seperti Tornado, Hysteria atau pertunjukan spesial efek Treasure Land yang lumayan keren ternyata. Tapi kangen juga sama beberapa wahana, kayak Balada Kera, yang udah nggak ada dan diganti sama pertunjukan yang lebih canggih. Perbedaan lainnya, sekarang hampir di semua wahana besar, disediakan studio foto tempat kita bisa mencetak foto-foto candid yang diambil otomatis pas kita lagi naik wahana. Tipsnya, jangan terlalu cepat puas dan langsung impulsif kepingin beli fotonya, apalagi kalau dateng di hari biasa yang sepi, karena kita bisa naik 1 wahana berulang-ulang dan memilih foto yang paling keren :) Lumayan soalnya harganya, IDR 35k per foto.

Jadiii, selama di sana, mainan apa yang sudah bisa dinaikin oleh Yofel?

1. Turangga-rangga, komidi putar yang klasik banget, khas Dufan karena merupakan wahana pertama yang kita lihat setelah masuk gerbang Dufan. Sebenernya wahana ini standar banget, dan kalo antriannya panjang gue juga mikir-mikir mau naik ini..Tapi karena sepi, hayuklah kita pemanasan naik kuda. Yang perlu diperhatiin, putarannya ternyata lumayan kencang kalo dibandingin dengan komidi putar di mall-mall, dan kudanya lumayan tinggi, tanpa pengaman. Jadi harus hati-hati kalau bawa anak kecil.

Pemanasan dulu!

2. Bianglala, ferris wheel raksasa yang seru karena bisa dipakai sebagai ajang lihat-lihat wahana lain dari atas, sambil merencanakan mau naik apa saja setelah ini. Kekurangan Dufan adalah signage yang masih kurang, peta yang sebenernya ada tapi nggak dibagikan kecuali dia minta, sehingga agak susah mengira-ngira rute dan arah menuju wahana yang mau kita naiki. Bianglala lumayan bisa menjangkau pemandangan Dufan yang luas.

3. Alap-alap, roller coaster mini untuk anak-anak dengan tinggi di atas 100 cm. Nggak nyangka, ternyata ini menjadi wahana favorit Yofel! Kita naik Alap-alap sampai 3 kali, dan yang terakhir sampai 6 putaran, dan Yofel masih mau lagi. Heuheuheuuuu he really has my genes!

Yofel's favorite ride :)


4. Gajah Bledug, satu lagi yang cocok buat anak-anak. Sebenernya mainan model begini udah banyak banget di playground mall, tapi main di tempat terbuka kayak gini masih tetep seru. Yofel naik sampe 2 kali :)

5. Poci-poci, semacam naik cangkir yang diputer-puter. Seru juga meski agak memusingkan. Kita naik 2 kali karena sepi banget nggak ada yang ngantri ;p Yang perlu diperhatiin, nggak ada pintu di wahana ini, bentuknya kayak cangkir tapi ada sisi yang terbuka, jadi anak-anak harus dipegang erat-erat, apalagi ternyata puterannya lumayan kenceng!

6. Burung tempur, sejenis Gajah Bledug tapi dengan wahana berbentuk burung tempur, bisa disetir ke kiri/kanan jadi kesannya lebih seru. Lagi-lagi kita naik 2 kali :)

7. Ubanga-banga, bom-bom car untuk anak-anak. Lagi-lagi, kalau antrian panjang, mendingan nggak usah naik ini karena sudah banyak di mall. Tapi karena waktu itu sepi, akhirnya Yofel naik juga sekali.

8. Rajawali Condor, mainan yang intinya kita naik ke wahana pesawat berbentuk rajawali dan diputer-puter sampai atas. Gue agak ngeri Yofel pusing tapi ternyata dia enjoy. Satu pesawat sebenarnya untuk 1 orang, tapi kalau untuk anak kecil lebih baik berdua dengan orang dewasa, takutnya pas lagi di atas dia berdiri karena memang nggak ada seatbeltnya.

9. Pontang-pontang, entah kenapa dulu gue taunya Pontang-panting :) Mainan seperti kursi yang dilempar ke sana-sini dengan kecepatan tinggi. Satu kursi bisa buat berdua, tapi hati-hati karena pengamannya nggak menutup rapat, jadi kalau anak kecil bisa merosot ke bawahnya.

Agak tegang di Pontang Pontang


10. Treasure Land, pertunjukan special effect yang masih termasuk baru. Di hari biasa, ada dua kali pertunjukan, jam 1500 dan 1700. Ceritanya seru, dengan spesial effect api, air dan cahaya yang keren juga. Pas buat anak-anak. Setelah selesai pertunjukan, bisa foto bareng dengan pemainnya :) Lama pertunjukan sekitar 45 menit.

11. Rumah Jahil: alias rumah kaca, Yofel seneng banget di sini karena baru pertama kalinya dia masuk ke wahana model begini. Waktu masuk kedua kalinya, Yofel coba cari jalan sendiri dan berhasil :)

Nyasar di Rumah Jahil


12. Rumah miring, ini wahana super old school karena dulu favorit gue pas masih kecil! Ajaibnya, interior rumah miring ini belum berubah. Yofel seneng banget disini dan emang buat anak kecil wahana ini termasuk seru :)

13. Bumper boat, semacam boat yang bisa ditabrak-tabrakin ala bom-bom car. Mainan ini kayaknya juga agak baru karena jaman dulu seinget gue nggak ada. Untuk naik ini, kita perlu bayar tambahan IDR 25k untuk satu boat.

Driving Bumper Boat


14. Perang Bintang, ini satu-satunya wahana yang pas masuk ke dalamnya Yofel sempet takut, karena lorong tempat ngantrinya gelap dan misterius. Apalagi pas kita di sana nggak ada orang! Tapi setelah naik ke keretanya, Yofel seneng kok. Mainannya kayak tembak-tembakan laser interaktif gitu, jadi kita dikasih target sambil jalan keretanya, terus berusaha nembak target-target itu. Tiap orang dapet satu tembakan.

15. Istana Boneka, of course ini wajib hukumnya. Meski sebenernya basi banget, keretanya pelan, dan boneka-bonekanya itu-itu aja dari jaman dulu, tapi wahana ini lumayan banget buat ngadem karena ber AC. Plus, Yofel bisa dikenalin sama berbagai tempat di dunia.

He's having fun :) at Istana Boneka


Selain itu, gue sendiri sempet naik Halilintar, Kora-Kora, dan Tornado (first experience nih), yang semuanya seru!!

Tapi ada juga kerugian dateng di hari biasa. Saking sepinya, kita nggak bisa naik wahana Piring Ombang Ambing (Yofel penasaran berat), karena minimal harus dinaiki oleh 8 orang untuk alasan keseimbangan. Dan setelah nunggu-nunggu hampir setengah jam, baru kekumpul 4 orang. Gagal deh :(

Menunggu Ombang-Ambing


Kerugian lain, kadang Dufan melakukan maintenance permainan dan wahananya yang paling populer di hari biasa, untuk mencegah kerusakan di saat hari libur. Waktu kita ke sana, wahana Hysteria lagi diperbaiki dan ditutup sepanjang hari. Sayang banget padahal gue penasaran pingin naik :)

Anyway, we had lots and lots of fun that day, and we hope we could be back again soon!

Happy birthday Yofel :)

Coming Soon - Ice Age :)



Friday, July 19, 2013

Properti

Sama sekali bukan tulisan tentang investasi, karena gue sendiri pun bukan ahli investasi. Utang kartu kredit dan KTA belum lunas, reksadana juga baru mulai belum lama ini, dan tabungan juga ngos-ngosan terus tiap bulan...Jadi, mungkin tulisan ini hanya sekadar opini nggak penting dari gue yang sebenernya nggak ada hubungannya juga dengan tips-tips berinvestasi.

Melihat maraknya investasi properti akhir-akhir ini, sedikit menggelitik gue untuk nyinyir tentang fenomena tersebut. Terutama, karena gue sendiri pun belum mendapat kesempatan untuk mempunyai rumah sendiri, dan kebetulan, gue tinggal di apartemen, yang menjadi salah satu target investasi paling hits sekarang ini, terutama di kota besar seperti Jakarta.

Banyak unit di apartemen gue yang kosong (atau setidaknya disewakan harian instead of tahunan) karena tingginya harga sewa yang ditetapkan oleh si pemilik (atau dalam hal ini, melalui agen real estate yang sudah ditunjuk). Rata-rata tarif sewa tahunan ini memang tidak masuk akal, padahal kadang tidak diimbangi dengan fasilitas yang memuaskan (misalnya furnitur yang kondisinya sudah tidak layak, pipa air kamar mandi yang sudah bocor atau AC yang umurnya sudah uzur). Yang membuat kesal, tentu saja kenyataan bahwa semua orang butuh tempat tinggal, dan betapa sulitnya mencari tempat tinggal di Jakarta, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari mana-mana.

Sementara para pemilik properti ini sepertinya tidak peduli dengan kesulitan yang dialami para calon penyewa, karena yang penting uang mengalir masuk dan investasi jalan terus. Belum lagi para investor yang sengaja membeli lebih dari satu unit apartemen untuk disewa-sewakan. Pemiliknya sendiri sudah punya tempat tinggal lain entah dimana, dan tentunya nggak begitu peduli dengan kebutuhan calon penyewa- selama apartemen/rumah mereka laku disewakan. Yang bikin bete adalah kalau unit-unit tersebut tetap kosong, harga yang ditawarkan tidak mau diturunkan, dan baik pemilik maupun penyewa sama-sama gigit jari. Dan semuanya hanya karena satu alasan: greed!

Menurut gue, properti adalah bentuk investasi yang paling egois. Bukan saja karena menyangkut kebutuhan dasar orang banyak, tapi karena niatnya biasanya sudah salah dari awal: mencari keuntungan dari kesulitan orang lain. Rumusnya sederhana: cari rumah/tempat tinggal susah, tawarin aja apartemen/rumah untuk disewakan, pasang harga setinggi mungkin karena toh semua orang pasti butuh tempat tinggal, jadi akan ada yang menyewa pada akhirnya.


Oh ya, satu lagi alasan kenapa gue nggak mendukung investasi properti: terkadang, pemilik rela saja rumah/apartemennya kosong, karena sedang mencari satu waktu di mana harga properti semakin menanjak dan kebutuhan semakin meningkat, sehingga di saat yang tepat, boom, ia tinggal menjual propertinya dan mendapat keuntungan berlipat ganda. Tapi....selama rumah/apartemen itu kosong, sebenarnya tanpa sadar ia sudah menyia-nyiakan space yang semakin sempit di kota besar seperti Jakarta ini. Bayangkan ada berapa ribu rumah/apartemen yang tersia-siakan selama dikosongkan seperti itu, yang mungkin jadi salah satu penyebab semakin banyaknya orang yang terpaksa commute- mencari rumah sejauh mungkin dari pusat kota, menambah kemacetan Jakarta, dan lain sebagainya yang dampaknya tak berujung.

Ini belum beranjak ke investor yang lebih canggih semacam gedung perkantoran, hotel dan mall ya. Malas rasanya membahas tentang mereka.

Mungkin, masih ada orang-orang yang berinvestasi di bidang properti dengan penuh etika dan niat baik. Harga reasonable, menyediakan tempat tinggal affordable buat mahasiswa misalnya dengan kos-kosan, and that's great! Yang pasti, jangan sampai kata-kata "investasi" membutakan kita dan membuat kita lupa akan keberadaan yang lebih penting di sekitar kita.

Ps: dan gue harap, seandainya gue sudah punya rumah/tempat tinggal milik sendiri pun, gue masih akan berpikiran sama seperti ini. We'll see :)

Monday, April 08, 2013

What's Wrong, Jakarta?

Masih tetap mengambil topik yang nggak bakal bosen untuk dibahas: Jakarta. Ibu kota yang katanya lebih kejam daripada ibu tiri ini, memang can't live with, can't live without deeeh...Dan gue jadi kepikiran lagi sebenernya apa sih yang salah dari kota ini, setelah gue kemarin ini sempet dikirim konferensi ke Bangkok.

Kalau membandingkan Jakarta dengan Bangkok, rasanya nggak salah donk ya? Jumlah penduduknya kurang lebih sama, banyak pendatang dari daerah juga, tingkat pendidikannya rata-rata sederajat (malah orang Thailand di Bangkok lebih nggak bisa bahasa Inggris dibanding dengan orang Jakarta lho), kultur dan kondisi sosial-ekonominya pun mirip-mirip. Jadi, gue rasa cocok lah Jakarta disandingkan dengan Bangkok, bukan dengan Singapura, misalnya, yang budayanya saja sudah beda, atau sama Manila, yang sepertinya masih sedikit tertinggal di belakang kita.

Dan memang, menginjakkan kaki di Bangkok tidak terlalu terasa beda dengan Jakarta, meskipun bandaranya sudah jauh lebih canggih daripada Soekarno Hatta. Ayo donk Jakarta, kapan punya bandara yang bisa dibanggakan nih? Anyway, sempat ada perasaan sedikit bangga saat pertama kali tiba di Bangkok dan mendapati kalau supir taksinya nggak bisa berbahasa Inggris. Jangankan bahasa Inggris, membaca tulisan dengan huruf Latin pun nggak ngerti! Jadi, kita harus minta bantuan orang dari tourism Thailand untuk membantu menerjemahkan nama hotel atau alamat tujuan kita ke dalam huruf-huruf Thai. Nah...berarti Jakarta udah menang satu poin donk ya? Secara supir taksi bandara kita mah bisa ngerti lah...nama-nama hotel dan alamat doang sih :)

Beranjak dari bandara, kembali mengamati sekeliling. Jalan tolnya sama, gedung-gedungnya yang tinggi juga sama...daaannn macetnya juga sama banget!! Even di jalan tol pun macet berat, dan perjalanan dari bandara ke hotel yang harusnya bisa ditempuh dalam waktu 40 menit, jadi molor sampai 2,5 jam :D Sounds familiar hmm??

Hanya saja, ada juga perbedaan yang terasa cukup mencolok. Selama kemacetan tersebut, nggak ada yang namanya mobil salip sana salip sini, klakson sana klakson sini, dan meski di jalan non-tol banyak sepeda motor, tetap saja mereka berkendara dengan tertib! Nggak ada pengemis, pengamen maupun pedagang asongan di lampu merah maupun di tengah kemacetan. Bikin heran sekaligus kagum!

Kekaguman juga berlanjut pada isu transportasi publik. Bis umum di Bangkok semuanya dalam kondisi bagus, nggak ada yang modelnya seperti Kopaja atau Metromini dengan asap knalpot mengerikan dan kondisi yang sudah menyedihkan. Meski beberapa tampak tua, dalamnya masih tetap bersih dan nyaman. Yang paling mengagumkan tentu Skytrain dan Subway yang dijadikan mass public transportation di kota Bangkok. Wujudnya sama persis dengan MRT di Singapura, dan dalamnya pun sungguh bersih sekali. Yang naik juga ngerti aturan, tertib dan sopan. Kok bisa yaaa? Stasiunnya juga dirawat, bersih dan rapi. Sekali lagi, nggak ada pedagang liar, pengemis atau gelandangan yang tidur-tiduran di emperan.

Dan meski banyak pengendara motor di Bangkok, termasuk ojek yang siap mangkal di pinggir jalan, mereka lebih teratur dan tertib dalam berkendara. Bahkan, ojeknya pun diberi seragam khusus berupa rompi warna-warni sesuai dengan area masing-masing.

Satu hal lagi yang gue baru tahu adalah Bangkok ternyata telah mengganti kebijakannya mengenai bahan bakar kendaraan bermotor, sehingga sekarang semua kendaraan bermotor di kota tersebut telah menggunakan bahan bakar beremisi rendah. Pantesan kota ini, meski panasnya sama dengan Jakarta, tidak terasa kotor dan lengket! Tingkat polusinya sudah jauh berkurang dibandingkan bertahun-tahun yang lalu, padahal sebelumnya lebih buruk dari Jakarta! Oh, man...

Fakta aneh lainnya yang gue temukan adalah betapa murahnya biaya hidup di Bangkok bila dibandingkan di Jakarta. Padahal keduanya sama-sama ibukota negara berkembang yang sedang menuju ke arah kota megapolitan. Dari mulai makanan, transportasi publik termasuk taksi, sampai baju-baju yang di jual di pinggir jalan (dan biasanya dihargai dua kali lipat di online shop di Indonesia), harganya muraaaah...Daaan....(ini yang bikin iri to the max) harga buku berbahasa Inggris di sana bisa bisa separo harga buku bahasa Inggris di sini! Padahal sama-sama dijual di Kinokuniya, tapi kok harganya beda banget? Dan yang bikin lebih bete, sebenarnya level bahasa Inggris orang-orang di Bangkok masih lebih rendah dibandingkan di Jakarta. Yang artinya, peminat buku berbahasa Inggris pasti lebih sedikit dong?

Banyak yang gue nggak mengerti, faktor apa saja yang dimiliki oleh Bangkok, yang tidak ada pada Jakarta. Kalau bicara tentang pemerintahan yang korupsi, well...siapa sih yang nggak tahu tentang kasus Thaksin dan keluarganya? Nggak beda kok dengan di Indonesia. Lalu apa? Tingkat disiplin yang lebih tinggi? Pendidikan yang lebih memadai? Atau simply karena mereka tidak pernah dijajah bangsa asing dan sudah terbiasa hidup mandiri?

Oh well.. Not all things have explanations. But just this once, I hope one day we do have the answers.

Wednesday, January 23, 2013

Survivors

A very dear friend of mine who is now living in the U.S. said to me once, "Hidup di Jakarta itu kualitasnya rendah banget ya. Macet, banjir, polusi... Kalaupun aku pulang ke Indonesia, aku nggak mau hidup di Jakarta".

And Jakartans, do you agree with that statement?

Sejujurnya, sedih bangeeet karena di awal 2013 ini berita yang menghampiri Jakarta memang nggak ada bagus-bagusnya. Terutama tentang banjir yang melanda ibukota dan bahkan menenggelamkan daerah-daerah utama seperti jalan Sudirman dan Thamrin. Tak terhitung banyaknya rumah yang terendam, harta benda yang hanyut, dan terutama, korban baik luka maupun meninggal. My very deep condolences for each and every victim.

Tapi, apa benar hidup di Jakarta juga segitu menderitanya? Segitu "berkualitas rendah-nya" sampai-sampai tidak layak untuk membesarkan anak?

Well, probably it is. Kalau denger cerita temen-temen gue yang harus nganter anak sekolah pagi-pagi, belum lagi terjebak macet berjam-jam bahkan sebelum keluar dari kompleks perumahan, kayaknya kok emang kasian sama anak-anak ini. Belum lagi soal polusi, tingkat kriminalitas tinggi, plus kalo ada bencana semacam banjir kemarin ini...Awww...am I sure that I'll raise my kid in this city?

Tapi...bagaimanapun, Jakarta juga menawarkan hal-hal lain. Buat gue yang mencintai kota besar, Jakarta memberikan berbagai pilihan dan kemudahan, mulai dari cafe 24 jam, mal besar yang menyediakan segala kebutuhan, bahkan tempat bermain anak indoor, yang meski belum bisa menggantikan outdoor playground, keberadaannya cukup mengobati hati.

Yang paling gue suka dari Jakarta adalah, this city teaches me how to become a survivor. Banjir dan nggak ada public transport? Ojek siap mengantar ke manapun. Macet nggak ada dua? Siapkan mental untuk menyusuri jalan tikus! Kekurangan tempat hang out yang memadai? Use your creativity, this city offers many hidden gems among its polluted areas.

Dan yang pasti, kota ini juga memaparkan realita hidup yang nggak selamanya seperti dongeng Disney yang happily ever after. Banyaknya penduduk yang masih hidup di bawah garis kemiskinan, yang membutuhkan bantuan sekecil apapun di tengah hutan beton ibukota yang menjulang dengan angkuhnya. Dan meski banyak orang yang bilang kalau Jakarta penuh dengan orang-orang yang nggak peduli, gosh, I'm glad what happened during the flood last week showed the opposites. People were helping each other, for heaven's sake.

Temen kantor gue, orang Amerika yang tinggal di rumah daerah Blora bersama beberapa expat lainnya, harus mengalami kebanjiran parah akibat jebolnya tanggul Latuharhary. And what a nice surprise when they found out the whole neighborhood helping them to move all the stuff. Begitu juga dengan seorang anak Amerika lain, yang harus berangkat ke airport mengejar pesawat di saat banjir parah minggu lalu. Di tengah rasa putus asa akibat susahnya mendapat taksi, adaaa saja supir taksi baik hati yang bersedia mengantarnya ke bandara, terlepas dari situasi jalanan yang sulit waktu itu.

There are angels everywhere in every corner of the Earth, and Jakarta is not an exception. I'm a survivor here, and I'll teach my kid to be the same. Maybe we won't live here forever, maybe I don't want to grow old in this city, but for now, I'm glad I can experience things that can make me feel alive, to see life from a different perspective, and the most important thing: to show my kid that you need to be strong to face the world, to be a survivor =)

Monday, October 22, 2012

Free Malling

Hidup di Jakarta sebenarnya sekarang sudah cukup menyenangkan untuk membawa anak-anak berjalan-jalan. Banyak variasi tempat selain mall yang patut dikunjungi, seperti museum, taman, area outdoor, sampai tempat-tempat bersejarah. Tapi sejujurnya, ada hari-hari dimana gue hanya pingin ke mall, ngadem di ruangan ber-AC (apalagi Jakarta sudah lama banget nggak disambangi hujan) sambil nyantai-nyantai aja.

Tapi, kelemahan mall adalah uang melayang tanpa terasa. Apalagi kalau pergi ke tempat permainan seperti Fun World atau Timezone, huhuuu seratus ribu bisa habis dalam sekejap. Belum lagi kalau disambi ngopi-ngopi, atau makan di restoran...Mana mungkin bisa berhemat, apalagi kalau lagi tanggal tua, menderita banget.

Sayangnya, di mall-mall Jakarta memang belum banyak playground atau tempat bermain yang gratisan. Jadi kita harus pintar-pintar mencari ide yang bisa cukup menghibur hati anak-anak tanpa terlalu mencekik dompet orang tua. Kalau untuk tanggal tua sih, lumayanlah beberapa altenatif di bawah ini =)

1. Free Playground 
Tentu nggak secanggih Giggles di FX dengan semprot-semprotan airnya, atau semeriah Fun World Grand Indonesia yang super heboh. Tapi ada beberapa playground mini yang cukup menyenangkan untuk menghabiskan waktu. di Burger King Senayan City, misalnya, ada ruangan khusus playground anak. Kita bisa membeli soft drink dan duduk menunggu, bahkan kayaknya nggak beli apa-apa pun nggak ada yang peduli juga (meski terlalu pelit sih kalau untuk sekadar soft drink pun nggak mau beli, hihi). Ace Hardware di Living World Mall juga memiliki playground gratisan yang lumayan lengkap dan besar. Sementara itu, di PIM juga tersedia beberapa mini playground (sebenarnya cuman berupa perosotan dan mainan modelnya Little Tikes). Kelemahan playground gratisan, tentu ramenya yang suka nggak kira-kira. Sangat disarankan datang di hari biasa, atau di jam-jam aneh seperti pagi hari pas mall baru buka, atau setelah lewat jam makan siang untuk playground di restoran.

Mainan di Playground gratisan Ace Hardware - kok burem yah...


2. Toy Store
Ini agak tricky sih, soalnya main ke toy store berarti harus siap menghadapi drama dan godaan membelikan mainan. Tapi beberapa toy store memiliki fasilitas bermain gratis yang diharapkan bisa meredam hasrat belanja si kecil. Sogo dan Metro misalnya, sering menyediakan meja khusus untuk bermain lego sepuasnya (selama nggak ada anak lain yang ngantri sih, hehe). Juga suka ada mainan track mobil atau kereta api Thomas yang dinyalakan non stop, lumayanlah menghibur juga untuk tontonan. Di toko mainan lain seperti ELC, Toys Kingdom atau Kidz Station, sebenarnya juga banyak mainan yang boleh dicoba gratis, atau sekadar dipandang-pandang. Asal cukup tebel muka untuk keluar dari toko tanpa membeli apa-apa, dan siap menghadapi drama si kecil, main-main ke toy store bukanlah ide yang buruk.

Nyobain keyboard di ELC, sampe mbak-mbaknya hapal sama yofel =p


3. Art & Craft
Sebenarnya, kalau mau mengeluarkan sedikit modal (30 ribuan rupiah), ada fasilitas mewarnai gambar dengan pewarna cair yang nantinya disetrika dan dikeringkan (nggak tau namanya apa). Selain marak di playground, fasilitas semacam ini juga banyak terdapat di tempat lain di mall, seperti di department store semacam Matahari, di toko buku bahkan di foodcourt. Tapi, kalau memang tidak mau mengeluarkan uang sama sekali, di Paperclip (toko stationery) juga ada fasilitas mewarnai gratis untuk anak-anak. Biasanya mereka menyiapkan area khusus di sudut toko, lengkap dengan meja-kursi, kertas yang sudah ada gambar yang siap diwarnai, dan pensil warna atau crayon. Lumayan juga untuk menghabiskan waktu, dan biasanya tempat ini tidak terlalu ramai.

4. Bookstore!
Tentu saja ini sama tricky nya dengan toko mainan, tapi merupakan alternatif yang sangat menyenangkan. Toko buku yang children friendly adalah Kinokuniya (di Plaza Senayan maupun Grand Indonesia), di mana area buku anak dibuat cukup lega, bisa sambil lesehan, sambil membuka buku-buku yang seringkali tidak dibungkus plastik. Gramedia di Grand Indonesia juga cukup menyenangkan. Selain membaca buku, Gramedia memiliki fasilitas permainan komputer untuk anak (sebenarnya sih ini area promosi untuk menjual DVD atau games edukatif, tapi bisa dipakai untuk main-main kok). TGA di Senayan City juga memiliki koleksi buku anak yang lumayan seru, di samping interiornya yang tak kalah menarik. 

5. Free shows
Setiap mall memiliki daya tarik dan ciri khasnya masing-masing, tapi pasti ada minimal satu show atau pertunjukan atau kegiatan gratisan yang ditawarkan, baik reguler maupun yang khusus. Contoh show gratisan yang reguler: air mancur menari di Grand Indonesia, pertunjukan jam di Plaza Senayan (yang kayaknya nggak pernah berubah tapi tetep ditungguin para pengunjung), atau air mancur menari di taman Central Park Mall (beda jenis dengan Grand Indonesia, yang ini lebih seperti air mancur loncat-loncat). Selain show reguler, tiap mall sering menawarkan show-show khusus terutama di musim liburan sekolah (Juni-Juli atau Desember). So far, gue pernah mengajak Yofel melihat show Spongebob dan Thomas di Central Park, Spiderman di Senayan City, juga Sea World (lengkap dengan touch pool dan aquariumnya) di Citraland Mall. Kelemahannya? Rameeee...jadi harus siap-siap berdesakan atau antri dengan pengunjung lain, terutama di hari libur.

After the show- bisa elus-elus si Thomas =)


6. Every little thing...
Selain kegiatan-kegiatan di atas, masih banyak yang bisa dimanfaatkan dari fasilitas mall, bahkan yang kecil-kecil dan nggak penting. Misalnya, taman di Central Park Mall, seru banget buat lari-larian, atau sekadar ngeliatin ikan koi di kolamnya. Atau di Mal Taman Anggrek, ngeliatin orang main ice skating (terutama kalau lagi ada event perlombaan atau pertandingan hoki) juga nggak kalah seru. Yang juga culun tapi menyenangkan adalah keliling-keliling supermarket pake kereta, terutama kalau ada kereta khusus anak seperti di Carefour yang berbentuk mobil mainan. 

Apapun kegiatannya, yang penting kebersamaannya kan. Jadi, ngemall nggak apa-apa juga kok, asal sesekali tetap main ke luar, cari variasi tempat yang ada udara non-AC nya =)  Oiya, untuk kegiatan ngemall gratisan ini, lebih baik kalau kartu kredit ditinggal dulu di rumah, biar nggak tergoda rayuan anak beli ini-itu.



Tuesday, November 20, 2007

Siapa Suruh Datang Jakarta?

Gue pernah ngomong sama seorang teman, "kalo lo bisa survive hidup di Jakarta, hampir pasti lo bisa survive juga di kota manapun di dunia.."
Kedengerannya berlebihan sih, tapi emang Jakarta itu keras. Terutama buat kita yang hidup dengan fasilitas seadanya, alias nggak punya mobil dan supir pribadi.

Pilihannya hanyalah naik kopaja yang udah nggak layak jalan, atau naik busway yang penuhnya nggak kira-kira, atau nekat berojek ria di tengah debu dan panasnya Jakarta. Hmm...what a choice..

Dan siapa bilang selain kemacetan yang menggila, kamu nggak akan menemukan hal-hal aneh di dalam bis? Pernah gue hampir setengah sinting karena udah berada dalam kopaja selama 2 jam, dari Plaza Semanggi menuju rumah tante gue tempat gue menumpang di daerah Cipete. Belum cukup penderitaan itu, muncul seorang laki-laki berpenampilan mengerikan, mabok berat dengan bau alkohol nggak sedap, memohon" sama para penumpang untuk ngasih dia uang karena anaknya nggak bisa sekolah.Yang ada semua penumpang langsung pura-pura tidur nyenyak, sebisa mungkin nggak perlu kontak mata sama dia.

Hidup di Jakarta juga sepertinya harus berjuang untuk diri sendiri. Pernah di dalam busway, gue kesel berat sama seorang bapak yang dengan enaknya duduk sementara ibu-ibu tua di sebelah gue berjuang untuk berdiri di tengah guncangan busway yang super ngebut.Akhirnya, nggak tahan, gue jutekin tuh bapak, minta dia ngasih tempatnya buat si ibu. Dan begitu si ibu berhasil duduk, bukannya senyum makasih sama gue, dia malah ikutan ngejutekin gue!

Pernah juga gue lagi berdiri di dalem busway, taunya tempat duduk di depan gue kosong karena orangnya turun di halte berikut. Refleks, gue siap-siap ngejatuhin pantat gue di kursi itu. Ternyata, kaget banget gue, udah ada seorang cowok yang dengan cepatnya ngeduluin gue duduk di sana. Sebel berat, gue udah siap buat marah-marah. Tapi sebelum gue sempet ngomel sedetikpun, ibu-ibu yang duduk di sekitar situ udah marah-marahin tu cowok, sampe akhirnya dia nggak enak hati dan langsung berdiri, haha!

Pengalaman nggak menyenangkan juga pernah gue alamin di halte busway. udah lama ngantri, akhirnya gue berdiri paling depan. Begitu bus berhenti di halte itu, gue ngasih jalan dulu buat orang-orang yang mau turun. Taunya, orang-orang di belakang gue malah udah desek-desekan masuk duluan. Dan waktu gue siap-siap masuk ke dalam bus, penjaga pintunya malah nyetop gue, dan dengan santai teriak ke supirnya, "Lanjut!" Gila, rasanya pengen ngelempar batu bata ke jendela bus itu saking sebelnya.

Nggak adil, egois, nggak peduli, mungkin itu ciri-ciri orang yang hidup di kota besar seperti Jakarta. Gue udah pernah kecopetan dalam bis, digodain preman pinggir jalan, sampe diserempet motor yang menggila di depan kantor. Apapun bisa terjadi di kota yang chaotic ini. Tapi kalau kebanyakan mengeluh, pertanyaannya bisa dibalik, siapa suruh dateng ke jakarta?

Tuesday, February 20, 2007

Tak Terpecahkan

Ada masalah-masalah yang pemecahannya sangat sulit, sampai akhirnya kita capek sendiri mikirin solusinya. Banjir di Jakarta adalah salah satunya..Mungkin sebenernya pemecahannya simpel, bersihin Jakarta dari sampah. Tapi apa sih yang bisa bikin orang punya kesadaran untuk buang sampah pada tempatnya dan melakukan recycle dengan teratur, setelah punya kebiasaan jorok dan biasa aja ngeliat gunungan sampah, seumur hidupnya?

Kemacetan di Jakarta juga salah satu masalah yang entah kapan bisa terpecahkan. Ada 3 in 1, tetep aja macet, wong polisinya cuek aja ngeliat joki yang berkeliaran di mana-mana. Malah 3 in 1 jadi ajang polisi buat dapet tambahan rejeki di pagi dan sore hari. Sementara busway juga nggak jadi solusi, yang ada malah tambah bikin macet karena mempersempit jalan, sementara jumlah bis nya pun belum cukup untuk menampung warga Jakarta, terutama di jam-jam pergi dan pulang kantor.

Mau ngelarang orang Jakarta beli mobil? Kayanya nggak mungkin banget yah, sementara setau gue, yang punya lebih dari 3 mobil di rumahnya juga kebanyakan para pejabat negara dan pembuat kebijakan.

Pusing banget kan, kalo dipikirin. Dan itu baru segelintir aja masalah yang ada di negeri ini. Negeri yang sebenernya kaya raya, luar biasa indah, dan bisa punya rakyat yang makmur. Miris..

Friday, May 05, 2006

Places I Love The Most

Kalo ada satu tempat yang bisa bikin gue ngerasa seperti di rumah sendiri, itu adalah toko buku. Dari dulu gue selalu suka nongkrong di toko buku, sekedar liat", browsing buku baru, cari buku lama, atau menikmati suasana...Wangi yang khas dari lembaran" kertas, rak" tinggi menjulang, dan orang" yang tenggelam dalam dunianya masing"...

Kalo di Bandung, gue paling seneng nongkrong di Gramedia lantai paling atas, tempat buku anak" dan novel" fiksi dijual. Gue seneng ngeliat orang tua yang lagi ngedampingin anaknya milih" buku, sementara gue sendiri sibuk browsing novel" Agatha Christie, salah seorang pengarang terbaik sepanjang masa menurut gue..

Omunium juga salah satu tempat nongkrong favorit gue. Orang" nya ramah", dan punya pengetahuan yang luas soal buku, jadi nggak segan" memberi komentar atau saran tentang suatu buku kalo kita minta. Biasanya gue nyulik si Tha ke toko kecil yang terletak di depan mantan sekolah gue itu. Cari" buku mulai dari Trio Detektif (yang bikin gue terkenang" sama masa kecil dulu), Kahlil Gibran dan Paulo Coelho, buku" sastra yang lumayan berat kayak Pramoedya (alm) atau Remy Silado, sampe sastra Indonesia kontemporer karya" angkatan Ayu Utami dan kawan"nya. Dan yang paling menyenangkan dari Omunium adalah harga buku" nya yang di bawah kisaran toko" besar pada umumnya...

Di Jakarta, gue paling suka nongkrong di Kinokuniya Plaza Senayan. Tinggal pilih salah satu bangku di pojokan, ambil satu novel berbahasa inggris yang kadang nggak sanggup gue beli dengan gaji reporter gue yang nge pas (hahaha, it's true!), trus mulai deh...memanfaatkan toko buku seperti perpustakaan... Sampe pernah, gue disamperin satpamnya karena udah terlalu lama nongkrong disana. Tapi gue nggak kapok, dan terus datang lagi....Sayangnya, nggak semua buku disana available untuk dibaca", karena sebagian besar masih dibungkus plastik...

Aksara Kemang juga tempat yang menyenangkan. Banyak buku" aneh terutama tentang musik, film dan fotografi yang dijual di sana. Suasananya juga menyenangkan, karena sering ada acara" menarik seperti diskusi dan eksibisi di sana. Dan kadang, kalo lagi musim korting, Aksara sering nggak tanggung" dalam menurunkan harga.

Hmm..kalo di luar Indonesia, gue paling seneng sama toko buku Borders di Singapura. Tempatnya bener" nyaman buat nongkrong berjam".. Buku"nya nggak ada yg diplastikin, dan kita boleh pilih posisi seenaknya untuk baca" buku yg ada di sana, dari mulai ngejogrok di sofa sampai lesehan di karpet. Nggak heran toko ini rame terus, apalagi kalo weekend dia masih buka sampai midnight..

Selama gue di Belanda, toko buku jadi satu hal yang cukup mewah buat gue. Bukannya apa", tapi disini jarang banget toko yang jual buku dalam Bahasa Inggris dengan harga miring. Yang ada, kalo nggak harganya mahal, ya jualnya buku" berbahasa Belanda. Nasib tinggal di negara yang nggak memakai bahasa Inggris sebagai bahasa utama...

American Book Center (ABC) di Den Haag adalah satu dari sedikit toko yang menjual buku bahasa Inggris. Sayang, tempatnya kecil, dan terlalu crowded. Tapi di lantai dua yang menyerupai loteng kecil, banyak buku" lama dan secondhand yang dijual dengan harga murah.

Waterstone's di Amsterdam juga jual buku" bahasa Inggris, secara dia adalah cabang dari salah satu toko buku terbesar di Inggris. Tapi tempatnya nggak terlalu nyaman, bukan tempat yang tepat kalo kita pengen berlama" menikmati suasana.

Anyway...Kayanya kalo mau nulis tentang ini, bisa nggak berenti"...Yang jelas, toko buku jadi satu tempat yang wajib banget buat didatangin seandainya gue singgah ke suatu kota...Terutama kalo gue lagi merasa lost banget, dan pengen feels at home...

Friday, January 14, 2005

Losing You

Selasa sore, depan Gedung DPR...
Cuaca Jakarta cerah, lumayan pas sama suasana hati gue.
Beberapa jam yang lalu, HRD kantor telfon, ngabarin gue udah diangkat jadi karyawan tetap..
Seneng juga...gue mulai bikin rencana mau traktir ignatius di izzi pizza malemnya..

Bis Mayasari P6 lewat, dan gue langsung masuk begitu ngeliat penumpangnya nggak terlalu penuh.
Gue berdiri di deket pintu belakang, sambil sekilas ngecek HP gue masih aman nggak di kantong depan celana jeans gue.

Nggak sampe 5 menit, bis udah nyampe slipi. Berarti tempat turun gue.
Gue rada sebel waktu orang di belakang gue mulai dorong-dorong.
"Sabar kek.." gue sempet noleh dengan kesel.
Tu orang masih ngedesek gue, sementara gue ngerasa ada yang megang kantong gue..
Nggak sampe sedetik, HP gue udah ditarik dari kantong gue.
Refleks gue langsung narik baju cowok di belakang gue.
"Mana HP gue? balikin!!"

Tu cowok, pasang tampang nggak berdosa : HP apa? Jangan nuduh donk mbak..
Gue, masih kalap dan histeris, terus narik baju cowok itu sambil teriak : Balikin!!Gue liat lo yg ambil..siapa lagi, coba...!!
Cowok itu, masih belaga polos: saya nggak tau, demi allah..
(najis, bawa" nama tuhan)
Gue, yang udah sampe titik klimaks : Mana, gue geledah!!
Tu cowok, dengan sikap pasrah : sok aja..
dan gue, langsung nyamber ranselnya, gue buka, gue ubek" kantong celana kargonya..
NIHIL. nggak ada apa"...

Seorang penumpang yang kayanya kasian ngeliat gue panik, ngomong : Tadi ada yg lari, mbak keluar...Mungkin dia bawa HP mbak..

Gue, masih bete berat, akhirnya sempet ngejer keluar bis...NIHIL juga.
Nggak ada tanda" org yg mencurigakan...
Gue balik lagi ke bis, dengan brutal ngegeledah orang" yang gue anggep cukup mencurigakan..
Tapi gue tau, HP gue udah ilang...

Akhirnya gue pasrah...Turun di pinggir jalan..
Yang bikin pengen nonjok, tu cowok malah ngikutin gue!!
Masih ngerasa nggak rela udah gue tuduh..

Gue nggak bisa apa", akhirnya cuma ngomong : MAMPUS aja lah yang ngambil!! ANJING banget emang!!
Dan gue tinggalin cowok itu, masih dengan perasaan yakin kalo dia berdosa, tanpa pernah bisa gue buktiin bener atau enggak...

Jakarta tiba" nggak ramah lagi buat gue..
Gue kebayang HP gue yang umurnya baru 2 bulan, puluhan foto dan sms dengan kenangan"nya... ratusan nomer kontak orang", mulai dari orang yang paling gue sayang sampe nara sumber gue di DPR yang paling belagu...

Gue nyadar, gue udah jadi korban kejamnya ibu kota..
Dan gue akhirnya hanya bisa nangis...

(dedicated to 6670ku...huhuhu...losing u is not the end of the world, but it's true that it definitely hurts...)

Saturday, July 17, 2004

Bis-Bis Ibukota

Pernah naek bis kota di Jakarta?
Boleh yang jenisnya kopaja, metromini, ppd bahkan patas ac (tapi bukan busway!!!)
Kalo pernah, pasti tau deh, betapa banyaknya orang yang nyari duit di bis kota dengan berbagai cara" aneh...
dari mulai yang normal dan bisa dimaklumin, sampe yang abnormal dan bikin kita hanya bisa geleng" kepala..

pernah gue lagi ada di satu bis, tiba" masuk seorang bapak,dan dengan pedenya nyanyi" lagu kasidahan sambil baca" ayat quran...
belom ilang lagu itu terngiang" dari kuping gue, udah masuk lagi bapak yang laen..dan percaya nggak? dia bawain renungan dari alkitab, plus nyanyiin lagu" rohani yang bawa" nama Yesus..
Wah....sumpah gue cukup kaget juga ngeliat betapa pluralnya kota jakarta, dan betapa sempitnya lapangan kerja di sana.
tapi yang bikin cukup mengagetkan lagi, banyak juga orang" yang masih ngasi uang ke dua bapak ini...

pernah juga, di salah satu bis patas ac, ada seorang cowok masuk bawa suling...
tiba" dia maenin satu lagu yang sediiiihhh banget...
trus di tengah" lagu, dia bacain satu cerita yang (suer!!) pernah gue baca di chicken soup..
hehehe...what a creative way to do...

cara laen yang kadang ganggu, banyak juga penjual" yang beredar di bis kota.
dari mulai jualan ordinary stuff kayak tempat cd,bolpen atau majalah, sampe barang" aneh yang gue aja baru pernah liat, misalnya kuaci rasa cokelat, buku bahasa arab, permen berlabel jepang dan masih banyak lagi...

anyway...saat" gue lagi ngerasa bete banget sama kerjaan, down banget karna baru dimarahin atasan, dan stres karna bis yang super padet banget...
pas gue liat orang" itu..dengan semanget 98 (bukan 45 lagi soalnya...) berusaha cari sedikit uang..
gue bisa mikir, heyyy...i will survive...=)