...means you have less time to pursue the rest of your dreams
...means you have more regrets, tears and disappointment in life
...means you start to worry about wrinkles, gaining weight and cellulite
...means you face more problems, including domestic problems, kids problems, relationship problems, etc
...means you miss your childhood days more and more...
But being 31...
...also means that you add more experience, golden moments, and valuable lessons into life
...and it also means that God has granted one more year into your life, a fine reason to celebrate!
And being 31 doesn't mean...
...that you have less energy to reach out for your dreams
...or that you won't be given any second chance in life
...or that it's too late to do anything interesting.
All in all, I'm so grateful being 31. And being who I am today =)
Thank you God for everything.
Friday, November 25, 2011
Friday, November 18, 2011
Reality Bites
Salah satu hal paling sulit dalam pekerjaan gue sekarang adalah mengakui kalau ada beberapa hal yang memang belum bisa diubah dari negara kita ini. Dan hal-hal itu, meski memang bisa terjadi di belahan dunia manapun, sayangnya justru terjadi di Indonesia...dan menimpa orang asing, yang kebetulan menjadi tanggung jawab gue selama mereka tinggal di Indonesia.
I'm talking about sexual harassment.
Miris banget waktu mendengar kalau salah seorang volunteer yang mengajar di Kupang, rumahnya dimasuki oleh seorang laki-laki (tetangga!!!)saat dia sedang mandi, untung saja refleks si cewek ini cukup cepat, dan dia sempat membanting pintu tepat di muka si laki-laki sinting (yang saat itu sudah buka celana!!!)
Belum hilang kekagetan, ada kasus lain lagi di Palembang. Kali ini, masih menimpa volunteer perempuan, yang diikuti oleh seorang laki-laki pengendara motor saat sedang berjalan menuju rumahnya, dan disentuh dengan tidak senonoh oleh makhluk menyedihkan itu.
Yang bikin tambah gemes adalah, ternyata tidak hanya sebagai "korban", tapi bule-bule ini juga merupakan sasaran empuk untuk dituduh menjadi "pelaku pelecehan seksual". Gilanya, peristiwa ini malah menimpa volunteer perempuan yang tiba-tiba dituduh oleh sekelompok anak pesantren di lingkungan rumahnya, kalau dia telah menggoda dan memprovokasi mereka dengan mengenakan bikini di depan anak-anak itu! Sinting banget. Apalagi setelah ditelusuri dan dilakukan sejumlah meeting dengan orang-orang yang terkait, ternyata anak-anak itu terbukti berbohong, entah karena iseng, atau sakit hati pernah ditolak? Who knows.
Kenapa ya, masih harus ada jenis orang seperti ini, yang mencoreng nama Indonesia di dunia luar? Bagaimana bangsa ini mau cerdas sih, kalau orang-orang yang ingin membantu mencerdaskan anak-anak kita malah diperlakukan seperti ini?
Well, it's true that this could happen anywhere in the world. Gue pernah diikuti oleh seorang laki-laki kulit hitam di Washington DC yang keukeuh ngajak gue pergi sama dia dan jadi pacarnya. Gue juga pernah dikerjain sekelompok anak laki-laki keturunan Maroko waktu gue tinggal di Belanda. Di negara semaju apapun, penduduk yang primitif itu memang masih ada.
Tapi alangkah gondoknya saat gue harus mengakui kalau Indonesia, yang penuh dengan orang-orang ramah, baik hati, berpikiran terbuka dan gemar menolong, ternyata masih harus dinodai oleh banyaknya orang sinting, kurang kerjaan dan nggak punya otak, yang menganggap perempuan (apalagi bule!) adalah sasaran empuk hawa nafsu mereka.
Oh well, maafkan posting penuh kemarahan ini ya. I still love this country. It's the crazy people that I can't stand.
I'm talking about sexual harassment.
Miris banget waktu mendengar kalau salah seorang volunteer yang mengajar di Kupang, rumahnya dimasuki oleh seorang laki-laki (tetangga!!!)saat dia sedang mandi, untung saja refleks si cewek ini cukup cepat, dan dia sempat membanting pintu tepat di muka si laki-laki sinting (yang saat itu sudah buka celana!!!)
Belum hilang kekagetan, ada kasus lain lagi di Palembang. Kali ini, masih menimpa volunteer perempuan, yang diikuti oleh seorang laki-laki pengendara motor saat sedang berjalan menuju rumahnya, dan disentuh dengan tidak senonoh oleh makhluk menyedihkan itu.
Yang bikin tambah gemes adalah, ternyata tidak hanya sebagai "korban", tapi bule-bule ini juga merupakan sasaran empuk untuk dituduh menjadi "pelaku pelecehan seksual". Gilanya, peristiwa ini malah menimpa volunteer perempuan yang tiba-tiba dituduh oleh sekelompok anak pesantren di lingkungan rumahnya, kalau dia telah menggoda dan memprovokasi mereka dengan mengenakan bikini di depan anak-anak itu! Sinting banget. Apalagi setelah ditelusuri dan dilakukan sejumlah meeting dengan orang-orang yang terkait, ternyata anak-anak itu terbukti berbohong, entah karena iseng, atau sakit hati pernah ditolak? Who knows.
Kenapa ya, masih harus ada jenis orang seperti ini, yang mencoreng nama Indonesia di dunia luar? Bagaimana bangsa ini mau cerdas sih, kalau orang-orang yang ingin membantu mencerdaskan anak-anak kita malah diperlakukan seperti ini?
Well, it's true that this could happen anywhere in the world. Gue pernah diikuti oleh seorang laki-laki kulit hitam di Washington DC yang keukeuh ngajak gue pergi sama dia dan jadi pacarnya. Gue juga pernah dikerjain sekelompok anak laki-laki keturunan Maroko waktu gue tinggal di Belanda. Di negara semaju apapun, penduduk yang primitif itu memang masih ada.
Tapi alangkah gondoknya saat gue harus mengakui kalau Indonesia, yang penuh dengan orang-orang ramah, baik hati, berpikiran terbuka dan gemar menolong, ternyata masih harus dinodai oleh banyaknya orang sinting, kurang kerjaan dan nggak punya otak, yang menganggap perempuan (apalagi bule!) adalah sasaran empuk hawa nafsu mereka.
Oh well, maafkan posting penuh kemarahan ini ya. I still love this country. It's the crazy people that I can't stand.
Thursday, October 13, 2011
Expect the Unexpected
Sooo..if there's someone asking me what do I learn since I became a mom, probably I would answer: I learn to expect the unexpected. Of course every parent will have high expectations on their children. Healthy, happy, smart and successful. That's totally normal. But sometimes, we just have to accept things as what they are.
I wanted to breastfeed Yofel until he's 2 years old, but unfortunately, I couldn't do it. So many things happened, so many choices had to be made, and eventually we gave him formula. Was it the end of the world? Maybe for some time, it felt like it was. But when I look back at that time now, I can smile and think ,"Well, we have survived, he's healthy and happy and I love him more everyday!"
I wanted Yofel to stay on his car seat everytime we went with car. But for several reasons, we had to give up our car when Yofel was less than 1 year old, and we started to travel by taxi, or by joining someone's car. So we had to say goodbye to the car seat, and well..accept the fact that it doesn't mean the end of the world either =D
I was also dreaming that Yofel will be very easy with eating his food. He will eat everything, from Indonesian food to Middle East one if necessary. He will be very adaptive even if we have to travel to Alaska. But the fact is totally different than my dream! Yofel is a very very very picky eater, not only he doesn't want to eat Mediteranian food (oh well, I can live with this, hehe), he can't even chew his food properly! He's choking and vomiting every time we gave him real solid food. Fried rice? Baked potato? Some fancy quiche? Out of questions.
Sometimes I just want to give up. Sometimes everything seems so difficult. Sometimes I don't have enough patience to deal with all of this. And I could only look at the kids on the next table in the restaurant with full envy. They eat everything!!! Sometimes even in the high chair!! Oh my goodness. God I want that happens on my table so much!!!
But then again, I think I've learned the lessons. I remember when I waited anxiously for Yofel's teeth to show up. And not until he's over 9 months old that miracle happened =D And what about when he kept on crawling until he's one year old? And how happy I was when suddenly, out of the blue,he looked at me with his smiling face, stood up on his two feet, and walked. Just like that!
So I think God does make everything beautiful in His time. I learn to expect the unexpected, and accept the unacceptable. And yet I am very grateful for the lessons Yofel gave me throughout these years.
Happy birthday, my curly boy. These past two years were the most wonderful time in my life =) I love you.
I wanted to breastfeed Yofel until he's 2 years old, but unfortunately, I couldn't do it. So many things happened, so many choices had to be made, and eventually we gave him formula. Was it the end of the world? Maybe for some time, it felt like it was. But when I look back at that time now, I can smile and think ,"Well, we have survived, he's healthy and happy and I love him more everyday!"
I wanted Yofel to stay on his car seat everytime we went with car. But for several reasons, we had to give up our car when Yofel was less than 1 year old, and we started to travel by taxi, or by joining someone's car. So we had to say goodbye to the car seat, and well..accept the fact that it doesn't mean the end of the world either =D
I was also dreaming that Yofel will be very easy with eating his food. He will eat everything, from Indonesian food to Middle East one if necessary. He will be very adaptive even if we have to travel to Alaska. But the fact is totally different than my dream! Yofel is a very very very picky eater, not only he doesn't want to eat Mediteranian food (oh well, I can live with this, hehe), he can't even chew his food properly! He's choking and vomiting every time we gave him real solid food. Fried rice? Baked potato? Some fancy quiche? Out of questions.
Sometimes I just want to give up. Sometimes everything seems so difficult. Sometimes I don't have enough patience to deal with all of this. And I could only look at the kids on the next table in the restaurant with full envy. They eat everything!!! Sometimes even in the high chair!! Oh my goodness. God I want that happens on my table so much!!!
But then again, I think I've learned the lessons. I remember when I waited anxiously for Yofel's teeth to show up. And not until he's over 9 months old that miracle happened =D And what about when he kept on crawling until he's one year old? And how happy I was when suddenly, out of the blue,he looked at me with his smiling face, stood up on his two feet, and walked. Just like that!
So I think God does make everything beautiful in His time. I learn to expect the unexpected, and accept the unacceptable. And yet I am very grateful for the lessons Yofel gave me throughout these years.
Happy birthday, my curly boy. These past two years were the most wonderful time in my life =) I love you.
Thursday, September 29, 2011
Culturally Insensitive
This month, I've spent three weeks with 40 young American volunteers, who just came to Indonesia and will teach in various high schools, madrasahs and pesantrens across the archipelago. One of our sessions in the three weeks orientation was about culture, especially the differences between Indonesian and American culture.
After the session, some of the youngsters asked me about why Indonesians do this and do that. And suddenly I became very aware of our Indonesian culture. Some of the culture is actually a bit rude, impolite and inappropriate. Here are the most questionable culture according to those Americans (and actually, according to me too!):
- When an Indonesian meets a friend, they won't make small talks about weather or politics or current news. Instead, they will make comments about the friend's appearance: "Gemukan ya sekarang?" or "Tambah item aja!" Imagine if you translate that into English: "You're so fat now!" or "Your skin is darker!" I don't think you've ever heard someone made those comments in English. It's not nice, it even could be considered rude.
- In Indonesia, everybody wants to know everybody else businesses. When you meet someone you know on the street, what will you ask? "Mau ke mana?" "Sama siapa" or "Dari mana?" And it's not considered impolite if you ask somebody's marital status or even salary. That's the bright side of being a part of social-culture-community =D
- Indonesian do not like to receive compliments. If somebody said to you that you look great or your dress is so nice, you can't just simply say thank you. You have to find an excuse to lower yourself. "Well, I bought this dress in Mangga Dua, only 50k rupiah!" Sounds familiar? We are not only rendah hati, but sometimes we are almost rendah diri.
-Someone said to me that in Indonesia, you can't take things as they are. You have to master the art of reading between the lines. So, if someone said "nanti", it means "never"; "mungkin lain kali" means "not interested at all", and "kurang tahu" means "no freaking idea!"
One thing I remember from the session is, when Ibu Irid Agoes, the speaker, said that no matter what Indonesians said to you, please don't get offended. It's culture, not personal. So everytime you want to strangle someone because of his/her hurtful comments, just tell yourself: It's culture, not personal!
Lately, that worked for me too! When I wanted to punch an old friend who just met me after years and his first comment was "Gendut banget ya loe sekarang!"; I kept saying to myself, that's culture, not personal! (but added: freaking idiot! anyway).
What I promised myself since that day was, I will teach my kid to differentiate between the great Indonesian cultural heritage, and the so-called idiotic and insensitive comments. My kid is Indonesian, but I'm sure he'll become an Indonesian gentleman, and not an Indonesian jerk! =)
After the session, some of the youngsters asked me about why Indonesians do this and do that. And suddenly I became very aware of our Indonesian culture. Some of the culture is actually a bit rude, impolite and inappropriate. Here are the most questionable culture according to those Americans (and actually, according to me too!):
- When an Indonesian meets a friend, they won't make small talks about weather or politics or current news. Instead, they will make comments about the friend's appearance: "Gemukan ya sekarang?" or "Tambah item aja!" Imagine if you translate that into English: "You're so fat now!" or "Your skin is darker!" I don't think you've ever heard someone made those comments in English. It's not nice, it even could be considered rude.
- In Indonesia, everybody wants to know everybody else businesses. When you meet someone you know on the street, what will you ask? "Mau ke mana?" "Sama siapa" or "Dari mana?" And it's not considered impolite if you ask somebody's marital status or even salary. That's the bright side of being a part of social-culture-community =D
- Indonesian do not like to receive compliments. If somebody said to you that you look great or your dress is so nice, you can't just simply say thank you. You have to find an excuse to lower yourself. "Well, I bought this dress in Mangga Dua, only 50k rupiah!" Sounds familiar? We are not only rendah hati, but sometimes we are almost rendah diri.
-Someone said to me that in Indonesia, you can't take things as they are. You have to master the art of reading between the lines. So, if someone said "nanti", it means "never"; "mungkin lain kali" means "not interested at all", and "kurang tahu" means "no freaking idea!"
One thing I remember from the session is, when Ibu Irid Agoes, the speaker, said that no matter what Indonesians said to you, please don't get offended. It's culture, not personal. So everytime you want to strangle someone because of his/her hurtful comments, just tell yourself: It's culture, not personal!
Lately, that worked for me too! When I wanted to punch an old friend who just met me after years and his first comment was "Gendut banget ya loe sekarang!"; I kept saying to myself, that's culture, not personal! (but added: freaking idiot! anyway).
What I promised myself since that day was, I will teach my kid to differentiate between the great Indonesian cultural heritage, and the so-called idiotic and insensitive comments. My kid is Indonesian, but I'm sure he'll become an Indonesian gentleman, and not an Indonesian jerk! =)
Friday, August 19, 2011
Indonesiaku
Setelah menyinggung mimpi-mimpi tentang Amerika di posting sebelumnya, rasanya nggak fair kalau nggak membahas impian tentang Indonesia. Apalagi kemarin negeri tercinta baru berulang tahun ke-66. Way to go, Indonesia!
Sejak bekerja di organisasi yang sekarang, gue banyak berhubungan dengan orang-orang dari Amerika yang ingin meneliti atau mengajar di Indonesia. Sebagian dari mereka membuat gue sangat amazed, terutama karena pengetahuan dan kecintaan mereka yang luar biasa terhadap negara kita ini. Kadang gue pikir, mereka malah lebih Indonesia daripada gue!
Seorang cewek yang kuliah di Berkeley dan sedang melakukan penelitian tentang semut (yep, semut!) di Indonesia, pernah bilang ke gue kalau Indonesia adalah negara yang akan dia pilih sebagai tempat menetap. "I love everything about this country!". Gitu katanya. Padahal dia menghabiskan hari-harinya di Pulau Komodo dan daerah Sumbawa lho! Bukan di mall kota besar atau di ruangan ber-AC. Impressive.
Ada juga salah satu pasangan profesor favorit gue, berasal dari Washington, DC. Sang suami sudah sangat fasih berbahasa Indonesia, dan mendengarnya presentasi tentang penelitiannya selalu menyenangkan buat gue. Pengetahuannya tentang agama Islam jauh melebihi gue yang seumur hidup tinggal di Indonesia. Sementara istrinya sangat care dengan perkembangan kurikulum universitas di Indonesia dan selalu siap membantu universitas kecil yang membutuhkan bimbingan.
Masih ada lagi mahasiswa sejarah dari Yale, yang selain ramah dan baik hati, juga sangat mencintai Indonesia. Dia bahkan sudah dianggap anak oleh keluarga angkatnya, dan diberikan marga kehormatan =D Kalau ngobrol dengan cowok ini, gue selalu ketawa-ketawa, karena dia jago banget bikin joke2 bule pake bahasa Indonesia. Hilarious!
Banyak juga dari mereka yang akhirnya menikah dengan orang Indonesia, dan menetap di Indonesia. Gue selalu suka denger cerita mereka, betapa mereka menganggap Indonesia sebagai tanah air kedua, bahkan kadang lebih mencintai Indonesia dibanding tanah kelahiran mereka sendiri. Seorang peneliti laki-laki dari Colorado yang menikahi perempuan Indonesia bahkan mengaku pada gue, kalau sekarang bahasa Indonesianya malah lebih bagus daripada bahasa Inggrisnya. Dan memang logat Indonesianya sudah seperti orang lokal, yang imbasnya, bahasa Inggrisnya pun jadi meng-Indonesia, hehehe!
Mengobrol dengan orang-orang ini kadang membuat gue bertanya-tanya, apa sih yang membuat Indonesia begitu menarik di mata mereka? Apa mereka tidak peduli dengan polusinya, korupsinya, macetnya, joroknya...dan sejuta hal lain yang menyebalkan? Anehnya, mereka tahu kok semua kekacauan Indonesia. Tapi justru itulah yang membuat mereka jatuh cinta.
Gue jadi ingat saat gue tinggal di Belanda, betapa nasionalisme gue rasanya begitu nyata. Rasa kangen dan cinta tanah air membuat gue begitu yakin atas keputusan gue saat itu: pulang ke Indonesia dan membangun bangsa! Tapi begitu tiba di sini, perasaan itu perlahan memudar. Kopaja bukan lagi suatu kenangan sentimental, tapi gangguan di jalan raya yang menjengkelkan. Macetnya Jakarta tak tertahankan, dan berita di koran semuanya begitu mengkhawatirkan. Ke mana perasaan cinta itu ya?
I want to see Indonesia from a different perspective. I want to fall in love all over again. Because this is my country. And nothing could ever change that.
Happy independence day!
Sejak bekerja di organisasi yang sekarang, gue banyak berhubungan dengan orang-orang dari Amerika yang ingin meneliti atau mengajar di Indonesia. Sebagian dari mereka membuat gue sangat amazed, terutama karena pengetahuan dan kecintaan mereka yang luar biasa terhadap negara kita ini. Kadang gue pikir, mereka malah lebih Indonesia daripada gue!
Seorang cewek yang kuliah di Berkeley dan sedang melakukan penelitian tentang semut (yep, semut!) di Indonesia, pernah bilang ke gue kalau Indonesia adalah negara yang akan dia pilih sebagai tempat menetap. "I love everything about this country!". Gitu katanya. Padahal dia menghabiskan hari-harinya di Pulau Komodo dan daerah Sumbawa lho! Bukan di mall kota besar atau di ruangan ber-AC. Impressive.
Ada juga salah satu pasangan profesor favorit gue, berasal dari Washington, DC. Sang suami sudah sangat fasih berbahasa Indonesia, dan mendengarnya presentasi tentang penelitiannya selalu menyenangkan buat gue. Pengetahuannya tentang agama Islam jauh melebihi gue yang seumur hidup tinggal di Indonesia. Sementara istrinya sangat care dengan perkembangan kurikulum universitas di Indonesia dan selalu siap membantu universitas kecil yang membutuhkan bimbingan.
Masih ada lagi mahasiswa sejarah dari Yale, yang selain ramah dan baik hati, juga sangat mencintai Indonesia. Dia bahkan sudah dianggap anak oleh keluarga angkatnya, dan diberikan marga kehormatan =D Kalau ngobrol dengan cowok ini, gue selalu ketawa-ketawa, karena dia jago banget bikin joke2 bule pake bahasa Indonesia. Hilarious!
Banyak juga dari mereka yang akhirnya menikah dengan orang Indonesia, dan menetap di Indonesia. Gue selalu suka denger cerita mereka, betapa mereka menganggap Indonesia sebagai tanah air kedua, bahkan kadang lebih mencintai Indonesia dibanding tanah kelahiran mereka sendiri. Seorang peneliti laki-laki dari Colorado yang menikahi perempuan Indonesia bahkan mengaku pada gue, kalau sekarang bahasa Indonesianya malah lebih bagus daripada bahasa Inggrisnya. Dan memang logat Indonesianya sudah seperti orang lokal, yang imbasnya, bahasa Inggrisnya pun jadi meng-Indonesia, hehehe!
Mengobrol dengan orang-orang ini kadang membuat gue bertanya-tanya, apa sih yang membuat Indonesia begitu menarik di mata mereka? Apa mereka tidak peduli dengan polusinya, korupsinya, macetnya, joroknya...dan sejuta hal lain yang menyebalkan? Anehnya, mereka tahu kok semua kekacauan Indonesia. Tapi justru itulah yang membuat mereka jatuh cinta.
Gue jadi ingat saat gue tinggal di Belanda, betapa nasionalisme gue rasanya begitu nyata. Rasa kangen dan cinta tanah air membuat gue begitu yakin atas keputusan gue saat itu: pulang ke Indonesia dan membangun bangsa! Tapi begitu tiba di sini, perasaan itu perlahan memudar. Kopaja bukan lagi suatu kenangan sentimental, tapi gangguan di jalan raya yang menjengkelkan. Macetnya Jakarta tak tertahankan, dan berita di koran semuanya begitu mengkhawatirkan. Ke mana perasaan cinta itu ya?
I want to see Indonesia from a different perspective. I want to fall in love all over again. Because this is my country. And nothing could ever change that.
Happy independence day!
Wednesday, July 27, 2011
American Dreams
Perjalanan gue dikirim kantor kemarin ke Amerika untuk suatu tugas membosankan malah menyempatkan gue bertemu dengan orang-orang Indonesia yang sudah tinggal di sana, dan memberi cerita-cerita menarik.
Kota pertama yang gue singgahi adalah Los Angeles, dan disini gue menyempatkan diri untuk bertemu dengan om gue, adik nyokap, yang sudah menetap di LA selama 5 tahun terakhir ini bersama istri dan kedua anaknya. Latar belakangnya adalah Green Card Lottery. Dari mereka juga dulu gue akhirnya yakin kalau lotere untuk mendapatkan ijin tinggal di Amerika itu bukan hanya isapan jempol, karena gue akhirnya benar-benar mengenal orang yang dapet lotere itu.
Perjalanan keluarga om gue selama 5 tahun ini nggak bisa dibilang selalu mulus. Berawal dari kerjaan serabutan seperti shift malam di supermarket 24 jam, petugas administrasi di sebuah klinik cuci darah, sampai akhirnya menjadi karyawan di salah satu chain pharmacy terbesar di Amerika. Bayangkan, padahal tadinya om gue ini menjabat sebagai manajer senior di sebuah bank swasta di Jakarta. Kebayang betapa ego dan harga dirinya harus dikesampingkan untuk sementara, selagi dia menyesuaikan situasinya dari yang punya anak buah segambreng, tiba-tiba menempati posisi bawah yang bahkan shift kerjanya nggak jelas.
Untungnya 5 tahun kemudian situasi mulai membaik. Posisi store manager sudah berhasil dicapai, kedua anak bersekolah di sekolah bagus, dan mereka kini menempati rumah yang nyaman di daerah suburb LA dengan sebuah mobil Honda Odysey yang masih baru.
Tapi gue sempat tersentak juga waktu om gue bercerita tentang pekerjaannya. "At the end of the day, what really matters is we can pay the bills. Nggak pentinglah kerjaannya disukai atau enggak". Wow..sebesar itu pengorbanannya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik di Amerika. Gue jadi berpikir, apakah rela terjebak dalam sebuah pekerjaan membosankan atau tidak menyenangkan, demi kehidupan gue atau anak gue yang lebih baik (well, at least dari segi finansial dan akses pendidikan) di negeri utopia ini?
Pernyataan yang mirip-mirip juga dikeluarkan oleh sepasang suami istri yang gue temui di Washington, D.C. Mereka sudah menetap di DC sejak tahun 1998 atau saat terjadi kerusuhan di Indonesia. Sebagai informasi, periode kerusuhan ini memang termasuk salah satu periode yang paling banyak digunakan orang Indonesia (baik pribumi maupun keturunan Tionghoa) untuk mengungsi ke luar negeri, termasuk Amerika.
Pasangan suami istri yang asli Padang ini mengaku segera mengambil momentum kerusuhan untuk memboyong anak semata wayang mereka ke negeri Paman Sam. Tak lama kemudian, anak kedua mereka lahir di Amerika, membuatnya langsung menjadi citizen di sana. Mereka mengaku tidak pernah pulang semenjak pindah ke Amerika, dan meski sering merasa kangen, mereka berusaha mengatasinya dengan mengajarkan ke-Indonesia-an pada anak-anak mereka.Selalu berbicara bahasa Indonesia, bahkan mengajari tarian dan musik daerah pada anak-anak mereka.
Yang juga mengagumkan adalah pengorbanan mereka untuk tidak pernah membeli makanan berupa daging (ayam ataupun sapi) di tempat-tempat yang non-halal. Waw, ini berarti mereka praktis harus menjadi vegetarian kecuali makan masakan rumah sendiri, karena bahkan KFC pun tidak berlabel halal di Amerika! Semuanya demi tinggal di negeri adikuasa yang dianggap mampu memberikan masa depan yang lebih baik bagi keluarga mereka, terutama untuk anak-anak.
Cerita lain gue peroleh saat bertemu dengan seorang teman lama yang dulu pernah menjadi sesama jurnalis. Sudah beberapa tahun terakhir dia menetap di DC untuk bekerja di salah satu media besar di sana. Gue pikir, hidupnya sempurna. Tinggal di negara maju, dan tidak seperti kebanyakan orang lain yang menggapai mimpi di Amerika, teman gue ini tidak perlu berganti profesi, tetap bisa menjalankan pekerjaan yang dia sukai.
Ternyata, dia baru cerita, motivasinya tinggal di Amerika bukanlah untuk mengejar pekerjaan, atau uang atau masa depan lebih baik. Ceritanya simpel, namun mengena. Orientasi seksual yang berbedalah yang membuatnya akhirnya memutuskan menjauh dari Indonesia. Di tanah air tercinta,dia tidak bisa terbuka. Orang tuanya pasti tak bisa menerima. Sebelumnya, teman gue ini sudah pernah mencoba untuk menyangkal kondisinya, berpacaran dengan seorang perempuan baik hati. Namun apa daya, kenyataan berkata lain. Akhirnya dengan segala daya upaya ia berjuang untuk mencari jalan keluar. Amerika lah pilihannya.
Dan ia bercerita, betapa di sini ia sangat diterima. Bisa bersikap terbuka, dan bergaul dengan orang-orang yang memiliki kesamaan dengannya. Bahkan saat ini ia sudah menemukan seseorang yang menjadi pasangan hidupnya.
Gue, dari mulai kaget saat mendengar ceritanya, akhirnya malah ikut bahagia melihat wajahnya yang berseri-seri. "It's good that you can be who you really are," itu komentar gue untuknya. Meski sempat merasa miris, mengingat dulu sekali, gue pernah sedikit menyimpan harapan saat cukup dekat dengannya. Ah, naif banget sih gue =D
Gue pikir, cerita teman gue inilah yang membuka mata gue tentang arti American dreams. Bukan hanya mengorbankan hidup untuk memberikan masa depan yang lebih baik bagi keluarga dan anak-anak...Tapi justru menemukan tempat yang tepat untuk membuat diri kita diterima apa adanya. Dan memang, untuk kasus teman gue, Amerika lah jawabannya.
Jadi...masih bermimpi untuk tinggal di Amerika? =)
Kota pertama yang gue singgahi adalah Los Angeles, dan disini gue menyempatkan diri untuk bertemu dengan om gue, adik nyokap, yang sudah menetap di LA selama 5 tahun terakhir ini bersama istri dan kedua anaknya. Latar belakangnya adalah Green Card Lottery. Dari mereka juga dulu gue akhirnya yakin kalau lotere untuk mendapatkan ijin tinggal di Amerika itu bukan hanya isapan jempol, karena gue akhirnya benar-benar mengenal orang yang dapet lotere itu.
Perjalanan keluarga om gue selama 5 tahun ini nggak bisa dibilang selalu mulus. Berawal dari kerjaan serabutan seperti shift malam di supermarket 24 jam, petugas administrasi di sebuah klinik cuci darah, sampai akhirnya menjadi karyawan di salah satu chain pharmacy terbesar di Amerika. Bayangkan, padahal tadinya om gue ini menjabat sebagai manajer senior di sebuah bank swasta di Jakarta. Kebayang betapa ego dan harga dirinya harus dikesampingkan untuk sementara, selagi dia menyesuaikan situasinya dari yang punya anak buah segambreng, tiba-tiba menempati posisi bawah yang bahkan shift kerjanya nggak jelas.
Untungnya 5 tahun kemudian situasi mulai membaik. Posisi store manager sudah berhasil dicapai, kedua anak bersekolah di sekolah bagus, dan mereka kini menempati rumah yang nyaman di daerah suburb LA dengan sebuah mobil Honda Odysey yang masih baru.
Tapi gue sempat tersentak juga waktu om gue bercerita tentang pekerjaannya. "At the end of the day, what really matters is we can pay the bills. Nggak pentinglah kerjaannya disukai atau enggak". Wow..sebesar itu pengorbanannya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik di Amerika. Gue jadi berpikir, apakah rela terjebak dalam sebuah pekerjaan membosankan atau tidak menyenangkan, demi kehidupan gue atau anak gue yang lebih baik (well, at least dari segi finansial dan akses pendidikan) di negeri utopia ini?
Pernyataan yang mirip-mirip juga dikeluarkan oleh sepasang suami istri yang gue temui di Washington, D.C. Mereka sudah menetap di DC sejak tahun 1998 atau saat terjadi kerusuhan di Indonesia. Sebagai informasi, periode kerusuhan ini memang termasuk salah satu periode yang paling banyak digunakan orang Indonesia (baik pribumi maupun keturunan Tionghoa) untuk mengungsi ke luar negeri, termasuk Amerika.
Pasangan suami istri yang asli Padang ini mengaku segera mengambil momentum kerusuhan untuk memboyong anak semata wayang mereka ke negeri Paman Sam. Tak lama kemudian, anak kedua mereka lahir di Amerika, membuatnya langsung menjadi citizen di sana. Mereka mengaku tidak pernah pulang semenjak pindah ke Amerika, dan meski sering merasa kangen, mereka berusaha mengatasinya dengan mengajarkan ke-Indonesia-an pada anak-anak mereka.Selalu berbicara bahasa Indonesia, bahkan mengajari tarian dan musik daerah pada anak-anak mereka.
Yang juga mengagumkan adalah pengorbanan mereka untuk tidak pernah membeli makanan berupa daging (ayam ataupun sapi) di tempat-tempat yang non-halal. Waw, ini berarti mereka praktis harus menjadi vegetarian kecuali makan masakan rumah sendiri, karena bahkan KFC pun tidak berlabel halal di Amerika! Semuanya demi tinggal di negeri adikuasa yang dianggap mampu memberikan masa depan yang lebih baik bagi keluarga mereka, terutama untuk anak-anak.
Cerita lain gue peroleh saat bertemu dengan seorang teman lama yang dulu pernah menjadi sesama jurnalis. Sudah beberapa tahun terakhir dia menetap di DC untuk bekerja di salah satu media besar di sana. Gue pikir, hidupnya sempurna. Tinggal di negara maju, dan tidak seperti kebanyakan orang lain yang menggapai mimpi di Amerika, teman gue ini tidak perlu berganti profesi, tetap bisa menjalankan pekerjaan yang dia sukai.
Ternyata, dia baru cerita, motivasinya tinggal di Amerika bukanlah untuk mengejar pekerjaan, atau uang atau masa depan lebih baik. Ceritanya simpel, namun mengena. Orientasi seksual yang berbedalah yang membuatnya akhirnya memutuskan menjauh dari Indonesia. Di tanah air tercinta,dia tidak bisa terbuka. Orang tuanya pasti tak bisa menerima. Sebelumnya, teman gue ini sudah pernah mencoba untuk menyangkal kondisinya, berpacaran dengan seorang perempuan baik hati. Namun apa daya, kenyataan berkata lain. Akhirnya dengan segala daya upaya ia berjuang untuk mencari jalan keluar. Amerika lah pilihannya.
Dan ia bercerita, betapa di sini ia sangat diterima. Bisa bersikap terbuka, dan bergaul dengan orang-orang yang memiliki kesamaan dengannya. Bahkan saat ini ia sudah menemukan seseorang yang menjadi pasangan hidupnya.
Gue, dari mulai kaget saat mendengar ceritanya, akhirnya malah ikut bahagia melihat wajahnya yang berseri-seri. "It's good that you can be who you really are," itu komentar gue untuknya. Meski sempat merasa miris, mengingat dulu sekali, gue pernah sedikit menyimpan harapan saat cukup dekat dengannya. Ah, naif banget sih gue =D
Gue pikir, cerita teman gue inilah yang membuka mata gue tentang arti American dreams. Bukan hanya mengorbankan hidup untuk memberikan masa depan yang lebih baik bagi keluarga dan anak-anak...Tapi justru menemukan tempat yang tepat untuk membuat diri kita diterima apa adanya. Dan memang, untuk kasus teman gue, Amerika lah jawabannya.
Jadi...masih bermimpi untuk tinggal di Amerika? =)
Tuesday, June 28, 2011
Lost and Found
Last month, one of my very best friends in the office had resigned. She was my only compatriot, the one who understood so much about craziness in the office, our emotionally unstable bosses, and gossips about coworkers. We backed up each other if there's bad situation, and we even sent emails back and forth if we needed to talk behind our boss's back, right in front of her nose =D
So I was quite devastated when my friend decided to leave. Not only I have to do the work all by myself now (even though there were some new people coming around), but I don't have someone to really talk to!
In the middle of my friendless crisis moment, I bumped into a bunch of people in the internet. Started with book-blogwalking, tweeting and facebooking, I suddenly met some great people, bookworms just like me, who love books more than anything (well, almost anything!), and they accepted me into their circle, just like that!
I have befriended some people from the internet before, mostly new moms who I met in the forums or twitterland. But sometimes in the parenting world, it was a bit difficult to find a true friend, who doesn't want to brag all the time about her kids, or her parenting style. I was a bit tired of this so-called competitive parenting world, and backing off a little was kinda relieving for me.
And meeting a whole different kind of crowd was truly a blessing. No one's bragging about anything. Everybody has his/her own opinion and we appreciate all nonetheless. Sometimes we have a hot discussion about a certain book, but we enjoy it so much. No hard feelings. And talking about competitive, we actually have our own competition too, especially if it related with a book quiz or book review competition. Everybody wants to win! But if we lose, that's okay too, as long as one of us wins! =)
Friends always come and go. And no matter how difficult it is to try to cope after your friend leaves you, there will always somebody else around, even if that means you have to find them in the most unusual places or circumstances.
For #BBI, thanks for letting me in! And I hope this friendship will last, and I will meet you all in person someday =)
So I was quite devastated when my friend decided to leave. Not only I have to do the work all by myself now (even though there were some new people coming around), but I don't have someone to really talk to!
In the middle of my friendless crisis moment, I bumped into a bunch of people in the internet. Started with book-blogwalking, tweeting and facebooking, I suddenly met some great people, bookworms just like me, who love books more than anything (well, almost anything!), and they accepted me into their circle, just like that!
I have befriended some people from the internet before, mostly new moms who I met in the forums or twitterland. But sometimes in the parenting world, it was a bit difficult to find a true friend, who doesn't want to brag all the time about her kids, or her parenting style. I was a bit tired of this so-called competitive parenting world, and backing off a little was kinda relieving for me.
And meeting a whole different kind of crowd was truly a blessing. No one's bragging about anything. Everybody has his/her own opinion and we appreciate all nonetheless. Sometimes we have a hot discussion about a certain book, but we enjoy it so much. No hard feelings. And talking about competitive, we actually have our own competition too, especially if it related with a book quiz or book review competition. Everybody wants to win! But if we lose, that's okay too, as long as one of us wins! =)
Friends always come and go. And no matter how difficult it is to try to cope after your friend leaves you, there will always somebody else around, even if that means you have to find them in the most unusual places or circumstances.
For #BBI, thanks for letting me in! And I hope this friendship will last, and I will meet you all in person someday =)
Wednesday, May 25, 2011
So Called Soc-Med
Masih agak nyambung dengan posting tentang virtual celebrity kemarin ini, baru-baru ini gue agak bersinggungan dengan seorang celebtwit, alias selebriti di dunia Twitter, dan merasa sangat kecewa.
Okelah, kita memang hidup di era social media, atau soc-med, di mana segala sesuatu bersifat sangat terbuka. Semua orang berhak mengeluarkan opini. Dan semua opini itu langsung menjadi konsumsi publik. Terlebih di dunia twitter, di mana ribuan orang berkicau setiap detiknya.
Ada orang yang begitu seriusnya beredar di twitter, sampai muncul istilah kultwit, atau kuliah di twitter. Kadang menarik juga menyimak berbagai topik hangat yang menjadi bahan "kuliah" dalam 140 karakter itu.
Tapi sayangnya, ada sajaaa oknum-oknum yang nge-twit dengan modal sok tau. Belaga ngerti dan yakin banget sama topik yang diangkat, tapi sayangnya tidak didukung oleh fakta yang tepat. Bahkan kadang, tidak didukung fakta apapun juga, dan hanya bermodalkan pemikiran yang nggak jelas asal-usulnya. Gawatnya lagi, banyak orang-orang seperti ini yang memiliki follower sampai ribuan, bahkan puluhan ribu. Kebayang dong info menyesatkan seperti apa yang bisa beredar dalam hitungan detik ke banyak orang? Apalagi kalau para pengikutnya adalah orang-orang yang asal manut, tidak kritis dan main Retweet setiap kicauan si celebtwit.
Sebenarnya sih gue nggak terlalu peduli dengan status celebtwit (karena gue juga jarang follow orang-orang seperti ini), kalau saja twitnya tidak menyinggung dunia gue. Sayangnya, itulah yang terjadi kemarin. Salah satu so-called-celebtwit yang followernya lebih dari 12 ribu orang tiba-tiba seenaknya nge-twit kalau program beasiswa Fulbright akan dihapus, karena budget cutting di Amerika, dan bahkan program Fulbright untuk orang Amerika untuk studi ke luar Amerika sudah dihapus.
Seorang teman yang tahu gue bekerja di organisasi yang mengurus program ini di Indonesia, mempertanyakan twit ini pada gue. Tentu gue sangkal. Lah, harusnya gue taulah kalau sumber mata pencaharian gue terancam tutup. Masa iya gue dan teman-teman sekantor nggak tau apa-apa? Kita malah lagi sibuk mempersiapkan gelombang berikut, termasuk orang-orang Amerika yang akan datang ke Indonesia.
Yang membuat kesal, si celebtwit ini menyangkal dia pernah ngetwit seperti itu (setelah sebelumnya malah mengacuhkan reply dari gue), dan bersikeras kalau itu hanya opininya, salah sendiri kalau para pengikutnya menganggap itu sebagai fakta. Ya ampun, gue nggak ngerti gimana ceritanya orang kayak gini bisa punya follower demikian banyaknya. Waktu gue mengintip timelinenya pun, ternyata banyak yang menanyakan kabar tersebut. "Program yang dihapus apa aja?" "Rencananya kapan dihapus Prof?" Dan jawabannya berupa kalimat-kalimat gantung seperti "Belum tau sih", "Tinggal tunggu waktu"
Menyebalkan sekali rasanya berhadapan dengan orang yang sok pintar, sok tau, dan herannya, dianggap benar-benar tau oleh banyak orang. Gosh, please think before you tweet! And for followers, please cross check before you take a tweet as a fact.
We do live in social-media era, but we still have our individual brain for sure =)
Okelah, kita memang hidup di era social media, atau soc-med, di mana segala sesuatu bersifat sangat terbuka. Semua orang berhak mengeluarkan opini. Dan semua opini itu langsung menjadi konsumsi publik. Terlebih di dunia twitter, di mana ribuan orang berkicau setiap detiknya.
Ada orang yang begitu seriusnya beredar di twitter, sampai muncul istilah kultwit, atau kuliah di twitter. Kadang menarik juga menyimak berbagai topik hangat yang menjadi bahan "kuliah" dalam 140 karakter itu.
Tapi sayangnya, ada sajaaa oknum-oknum yang nge-twit dengan modal sok tau. Belaga ngerti dan yakin banget sama topik yang diangkat, tapi sayangnya tidak didukung oleh fakta yang tepat. Bahkan kadang, tidak didukung fakta apapun juga, dan hanya bermodalkan pemikiran yang nggak jelas asal-usulnya. Gawatnya lagi, banyak orang-orang seperti ini yang memiliki follower sampai ribuan, bahkan puluhan ribu. Kebayang dong info menyesatkan seperti apa yang bisa beredar dalam hitungan detik ke banyak orang? Apalagi kalau para pengikutnya adalah orang-orang yang asal manut, tidak kritis dan main Retweet setiap kicauan si celebtwit.
Sebenarnya sih gue nggak terlalu peduli dengan status celebtwit (karena gue juga jarang follow orang-orang seperti ini), kalau saja twitnya tidak menyinggung dunia gue. Sayangnya, itulah yang terjadi kemarin. Salah satu so-called-celebtwit yang followernya lebih dari 12 ribu orang tiba-tiba seenaknya nge-twit kalau program beasiswa Fulbright akan dihapus, karena budget cutting di Amerika, dan bahkan program Fulbright untuk orang Amerika untuk studi ke luar Amerika sudah dihapus.
Seorang teman yang tahu gue bekerja di organisasi yang mengurus program ini di Indonesia, mempertanyakan twit ini pada gue. Tentu gue sangkal. Lah, harusnya gue taulah kalau sumber mata pencaharian gue terancam tutup. Masa iya gue dan teman-teman sekantor nggak tau apa-apa? Kita malah lagi sibuk mempersiapkan gelombang berikut, termasuk orang-orang Amerika yang akan datang ke Indonesia.
Yang membuat kesal, si celebtwit ini menyangkal dia pernah ngetwit seperti itu (setelah sebelumnya malah mengacuhkan reply dari gue), dan bersikeras kalau itu hanya opininya, salah sendiri kalau para pengikutnya menganggap itu sebagai fakta. Ya ampun, gue nggak ngerti gimana ceritanya orang kayak gini bisa punya follower demikian banyaknya. Waktu gue mengintip timelinenya pun, ternyata banyak yang menanyakan kabar tersebut. "Program yang dihapus apa aja?" "Rencananya kapan dihapus Prof?" Dan jawabannya berupa kalimat-kalimat gantung seperti "Belum tau sih", "Tinggal tunggu waktu"
Menyebalkan sekali rasanya berhadapan dengan orang yang sok pintar, sok tau, dan herannya, dianggap benar-benar tau oleh banyak orang. Gosh, please think before you tweet! And for followers, please cross check before you take a tweet as a fact.
We do live in social-media era, but we still have our individual brain for sure =)
Monday, April 25, 2011
Losing Your Identity?
Seorang teman pernah berkomentar, "Kenapa ya orang yang udah punya anak itu kayaknya kehilangan identitas? Kalau ngetwit atau ngeblog pasti soal anak, foto di profil Facebook atau BB juga pasti foto anaknya..Aneh deh."
Oke, mendengar itu, gue langsung refleks melihat foto-foto profil gue di social media. Foto profil Facebook: Gue dan Yofel.
Foto profil BBM: Gue dan Yofel.
Avatar twitter: Yofel.
Glek. Apakah gue juga sudah mulai kehilangan identitas?
Hmm..oke, sebagai pembelaan, blog gue nggak sepenuhnya bercerita tentang Yofel atau keseharian gue sebagai ibu. Gue nggak pernah mendokumentasikan perkembangan Yofel ini-itu, gue baru belanja barang ina-ini untuk Yofel, atau kita baru jalan-jalan ke tempat ABCD.
Tapi tetep ajaaa...gue rasa, nggak mungkin juga menghindari topik tentang anak, khususnya anak gue sendiri, dalam blog. Atau twit. Karena biar bagaimanapun, Yofel sudah menjadi bagian dari hidup gue sekarang. Yaaa samalah, kayak gue ngebahas kerjaan, kantor, mimpi-mimpi gue, tempat-tempat yang gue kunjungi, dan semua pemikiran gue.
Menurut gue, bukan kehilangan identitas, tapi justru menambahkan satu keping identitas baru di tengah puluhan identitas kita yang lain (karyawan?anak buah?saudara perempuan?kutubuku? you name it). Identitas sebagai seorang ibu. Dan selama itu tidak berlebihan,dan hidup kita masih seimbang, kenapa nggak boleh memajang foto anak kita di Facebook atau blog?
Satu hal yang selalu gue inget adalah kutipan "Anak itu titipan Tuhan", dan gue biasa melanjutkannya dengan "Bukan hak milik kita". Well, as long as you don't live your life through your children's, then it's fine. But when you start to replace your life with your children's life, then you are welcome to worry =D
Oke, mendengar itu, gue langsung refleks melihat foto-foto profil gue di social media. Foto profil Facebook: Gue dan Yofel.
Foto profil BBM: Gue dan Yofel.
Avatar twitter: Yofel.
Glek. Apakah gue juga sudah mulai kehilangan identitas?
Hmm..oke, sebagai pembelaan, blog gue nggak sepenuhnya bercerita tentang Yofel atau keseharian gue sebagai ibu. Gue nggak pernah mendokumentasikan perkembangan Yofel ini-itu, gue baru belanja barang ina-ini untuk Yofel, atau kita baru jalan-jalan ke tempat ABCD.
Tapi tetep ajaaa...gue rasa, nggak mungkin juga menghindari topik tentang anak, khususnya anak gue sendiri, dalam blog. Atau twit. Karena biar bagaimanapun, Yofel sudah menjadi bagian dari hidup gue sekarang. Yaaa samalah, kayak gue ngebahas kerjaan, kantor, mimpi-mimpi gue, tempat-tempat yang gue kunjungi, dan semua pemikiran gue.
Menurut gue, bukan kehilangan identitas, tapi justru menambahkan satu keping identitas baru di tengah puluhan identitas kita yang lain (karyawan?anak buah?saudara perempuan?kutubuku? you name it). Identitas sebagai seorang ibu. Dan selama itu tidak berlebihan,dan hidup kita masih seimbang, kenapa nggak boleh memajang foto anak kita di Facebook atau blog?
Satu hal yang selalu gue inget adalah kutipan "Anak itu titipan Tuhan", dan gue biasa melanjutkannya dengan "Bukan hak milik kita". Well, as long as you don't live your life through your children's, then it's fine. But when you start to replace your life with your children's life, then you are welcome to worry =D
Thursday, March 17, 2011
Berkaca Dari Jepang?
Seluruh dunia terguncang dan berduka ketika gempa besar dan tsunami menyerang Jepang beberapa saat yang lalu. 9 SR bukanlah angka yang main-main. Dahsyatnya gempa yang berpusat di daerah utara Jepang, efeknya sampai benar-benar terasa di kota Tokyo.
Untuk gue, kepanikan lebih terasa karena beberapa adik nyokap sedang berkunjung ke Jepang saat bencana itu terjadi, untuk menengok salah satu sepupu yang kuliah di sana. Apalagi komunikasi sempat terputus, telepon tidak bisa tersambung. Untungnya, ada satu orang dari rombongan yang membuka akses roaming internasional Blackberry nya, sehingga akhirnya komunikasi bisa terjalin lewat BBM.
Hebatnya, meski diguncang gempa yang sedemikian dahsyat, penduduk Jepang tidak panik. Dari berbagai siaran berita di TV maupun artikel di koran, terlihat betapa siapnya masyarakat Jepang dalam menghadapi gempa maupun situasi genting seperti ancaman tsunami kemarin ini. Semua orang baris dengan teratur, bahkan kembali bekerja setelah gempa usai, meski masih banyak gempa susulan setelahnya.
Gedung-gedung di Tokyo pun tetap tegak berdiri meski menurut laporan para tante, sempat bergoyang kiri-kanan dengan hebohnya. Bayangkan bila gempa sebesar itu terjadi di Jakarta (ketok kayu tiga kali!!!), apa jadinya gedung-gedung di sekitar Jalan Sudirman? Waktu gempa beberapa tahun lalu saja, yang skalanya tidak sebesar gempa Jepang, banyak gedung yang retak-retak dan bahkan rusak parah. Gawat banget kan?
Tetapi di samping segala persiapan matang dari pemerintah dan masyarakat Jepang yang patut dicontoh dan menjadi panutan, ada beberapa sifat orang Jepang yang juga menurut gue sih, kurang baik pengaruhnya. Salah satu yang paling terasa adalah ketertutupan pemerintah dalam menanggapi efek bencana ini terhadap dunia luar. Pro-kontra bocornya reaktor nuklir yang berimbas pada bahaya radiasi adalah salah satu contoh nyatanya.
Sementara dunia luar melalui pemberitaan pers panik terhadap kejadian ini, pemerintah jepang (melalui media NHK nya yang "jepang banget") terkesan menutupi dan berusaha menyangkal pemberitaan tersebut. "Everything is under control", adalah pesan yang disampaikan mereka. Mereka mengimbau orang-orang untuk berpatokan pada media Jepang (terutama NHK) saja, ketimbang panik nggak jelas akibat berita simpang siur media asing.
Oke, mungkin di satu sisi maksudnya baik, tidak ingin membuat dunia panik melebihi kondisi yang sesungguhnya terjadi saat ini. Tapi di sisi lain, apakah benar, dampak radiasi bisa "disepelekan" begitu saja? Siapapun tahu, biarpun pada awalnya radius aman adalah 30 km dari reaktor nuklir, sewaktu-waktu bisa berubah dengan cepat. Tidak heran bila banyak negara yang sudah mengevakuasi penduduknya dari Jepang, dan memberlakukan travel warning ke sana.
Dan gue sama sekali nggak suka saat banyak orang berkata, media Indonesia (plus media asing lain di luar Jepang) terkesan lebay. Karena tidak ada bukti nyata juga kalau kejadian bocornya reaktor nuklir itu tidak membahayakan! Gue nggak menyalahkan tante gue yang ingin anaknya pulang sejenak hingga kekacauan berakhir. Ataupun saudara-saudara gue yang lain, yang selalu meminta update perkembangan situasi pada tante-tante gue yang hingga saat ini masih berada di Jepang.
Bersikap cool itu memang penting, tapi jangan sampai alasannya adalah karena "gengsi tidak ingin dianggap gagal atau tidak mampu mengatasi masalah". Kalau masalah bencana, seluruh dunia ingin ikut membantu, bukan justru menjelek-jelekkan. Sampai kapanpun kita juga akan tetap kagum dengan cara Jepang mengatasi masalah bencana alam seperti ini, dan sedikit bersikap terbuka tidak akan menodai respek kita pada negara Matahari Terbit ini!
Untuk gue, kepanikan lebih terasa karena beberapa adik nyokap sedang berkunjung ke Jepang saat bencana itu terjadi, untuk menengok salah satu sepupu yang kuliah di sana. Apalagi komunikasi sempat terputus, telepon tidak bisa tersambung. Untungnya, ada satu orang dari rombongan yang membuka akses roaming internasional Blackberry nya, sehingga akhirnya komunikasi bisa terjalin lewat BBM.
Hebatnya, meski diguncang gempa yang sedemikian dahsyat, penduduk Jepang tidak panik. Dari berbagai siaran berita di TV maupun artikel di koran, terlihat betapa siapnya masyarakat Jepang dalam menghadapi gempa maupun situasi genting seperti ancaman tsunami kemarin ini. Semua orang baris dengan teratur, bahkan kembali bekerja setelah gempa usai, meski masih banyak gempa susulan setelahnya.
Gedung-gedung di Tokyo pun tetap tegak berdiri meski menurut laporan para tante, sempat bergoyang kiri-kanan dengan hebohnya. Bayangkan bila gempa sebesar itu terjadi di Jakarta (ketok kayu tiga kali!!!), apa jadinya gedung-gedung di sekitar Jalan Sudirman? Waktu gempa beberapa tahun lalu saja, yang skalanya tidak sebesar gempa Jepang, banyak gedung yang retak-retak dan bahkan rusak parah. Gawat banget kan?
Tetapi di samping segala persiapan matang dari pemerintah dan masyarakat Jepang yang patut dicontoh dan menjadi panutan, ada beberapa sifat orang Jepang yang juga menurut gue sih, kurang baik pengaruhnya. Salah satu yang paling terasa adalah ketertutupan pemerintah dalam menanggapi efek bencana ini terhadap dunia luar. Pro-kontra bocornya reaktor nuklir yang berimbas pada bahaya radiasi adalah salah satu contoh nyatanya.
Sementara dunia luar melalui pemberitaan pers panik terhadap kejadian ini, pemerintah jepang (melalui media NHK nya yang "jepang banget") terkesan menutupi dan berusaha menyangkal pemberitaan tersebut. "Everything is under control", adalah pesan yang disampaikan mereka. Mereka mengimbau orang-orang untuk berpatokan pada media Jepang (terutama NHK) saja, ketimbang panik nggak jelas akibat berita simpang siur media asing.
Oke, mungkin di satu sisi maksudnya baik, tidak ingin membuat dunia panik melebihi kondisi yang sesungguhnya terjadi saat ini. Tapi di sisi lain, apakah benar, dampak radiasi bisa "disepelekan" begitu saja? Siapapun tahu, biarpun pada awalnya radius aman adalah 30 km dari reaktor nuklir, sewaktu-waktu bisa berubah dengan cepat. Tidak heran bila banyak negara yang sudah mengevakuasi penduduknya dari Jepang, dan memberlakukan travel warning ke sana.
Dan gue sama sekali nggak suka saat banyak orang berkata, media Indonesia (plus media asing lain di luar Jepang) terkesan lebay. Karena tidak ada bukti nyata juga kalau kejadian bocornya reaktor nuklir itu tidak membahayakan! Gue nggak menyalahkan tante gue yang ingin anaknya pulang sejenak hingga kekacauan berakhir. Ataupun saudara-saudara gue yang lain, yang selalu meminta update perkembangan situasi pada tante-tante gue yang hingga saat ini masih berada di Jepang.
Bersikap cool itu memang penting, tapi jangan sampai alasannya adalah karena "gengsi tidak ingin dianggap gagal atau tidak mampu mengatasi masalah". Kalau masalah bencana, seluruh dunia ingin ikut membantu, bukan justru menjelek-jelekkan. Sampai kapanpun kita juga akan tetap kagum dengan cara Jepang mengatasi masalah bencana alam seperti ini, dan sedikit bersikap terbuka tidak akan menodai respek kita pada negara Matahari Terbit ini!
Subscribe to:
Posts (Atom)