Monday, October 22, 2012

Free Malling

Hidup di Jakarta sebenarnya sekarang sudah cukup menyenangkan untuk membawa anak-anak berjalan-jalan. Banyak variasi tempat selain mall yang patut dikunjungi, seperti museum, taman, area outdoor, sampai tempat-tempat bersejarah. Tapi sejujurnya, ada hari-hari dimana gue hanya pingin ke mall, ngadem di ruangan ber-AC (apalagi Jakarta sudah lama banget nggak disambangi hujan) sambil nyantai-nyantai aja.

Tapi, kelemahan mall adalah uang melayang tanpa terasa. Apalagi kalau pergi ke tempat permainan seperti Fun World atau Timezone, huhuuu seratus ribu bisa habis dalam sekejap. Belum lagi kalau disambi ngopi-ngopi, atau makan di restoran...Mana mungkin bisa berhemat, apalagi kalau lagi tanggal tua, menderita banget.

Sayangnya, di mall-mall Jakarta memang belum banyak playground atau tempat bermain yang gratisan. Jadi kita harus pintar-pintar mencari ide yang bisa cukup menghibur hati anak-anak tanpa terlalu mencekik dompet orang tua. Kalau untuk tanggal tua sih, lumayanlah beberapa altenatif di bawah ini =)

1. Free Playground 
Tentu nggak secanggih Giggles di FX dengan semprot-semprotan airnya, atau semeriah Fun World Grand Indonesia yang super heboh. Tapi ada beberapa playground mini yang cukup menyenangkan untuk menghabiskan waktu. di Burger King Senayan City, misalnya, ada ruangan khusus playground anak. Kita bisa membeli soft drink dan duduk menunggu, bahkan kayaknya nggak beli apa-apa pun nggak ada yang peduli juga (meski terlalu pelit sih kalau untuk sekadar soft drink pun nggak mau beli, hihi). Ace Hardware di Living World Mall juga memiliki playground gratisan yang lumayan lengkap dan besar. Sementara itu, di PIM juga tersedia beberapa mini playground (sebenarnya cuman berupa perosotan dan mainan modelnya Little Tikes). Kelemahan playground gratisan, tentu ramenya yang suka nggak kira-kira. Sangat disarankan datang di hari biasa, atau di jam-jam aneh seperti pagi hari pas mall baru buka, atau setelah lewat jam makan siang untuk playground di restoran.

Mainan di Playground gratisan Ace Hardware - kok burem yah...


2. Toy Store
Ini agak tricky sih, soalnya main ke toy store berarti harus siap menghadapi drama dan godaan membelikan mainan. Tapi beberapa toy store memiliki fasilitas bermain gratis yang diharapkan bisa meredam hasrat belanja si kecil. Sogo dan Metro misalnya, sering menyediakan meja khusus untuk bermain lego sepuasnya (selama nggak ada anak lain yang ngantri sih, hehe). Juga suka ada mainan track mobil atau kereta api Thomas yang dinyalakan non stop, lumayanlah menghibur juga untuk tontonan. Di toko mainan lain seperti ELC, Toys Kingdom atau Kidz Station, sebenarnya juga banyak mainan yang boleh dicoba gratis, atau sekadar dipandang-pandang. Asal cukup tebel muka untuk keluar dari toko tanpa membeli apa-apa, dan siap menghadapi drama si kecil, main-main ke toy store bukanlah ide yang buruk.

Nyobain keyboard di ELC, sampe mbak-mbaknya hapal sama yofel =p


3. Art & Craft
Sebenarnya, kalau mau mengeluarkan sedikit modal (30 ribuan rupiah), ada fasilitas mewarnai gambar dengan pewarna cair yang nantinya disetrika dan dikeringkan (nggak tau namanya apa). Selain marak di playground, fasilitas semacam ini juga banyak terdapat di tempat lain di mall, seperti di department store semacam Matahari, di toko buku bahkan di foodcourt. Tapi, kalau memang tidak mau mengeluarkan uang sama sekali, di Paperclip (toko stationery) juga ada fasilitas mewarnai gratis untuk anak-anak. Biasanya mereka menyiapkan area khusus di sudut toko, lengkap dengan meja-kursi, kertas yang sudah ada gambar yang siap diwarnai, dan pensil warna atau crayon. Lumayan juga untuk menghabiskan waktu, dan biasanya tempat ini tidak terlalu ramai.

4. Bookstore!
Tentu saja ini sama tricky nya dengan toko mainan, tapi merupakan alternatif yang sangat menyenangkan. Toko buku yang children friendly adalah Kinokuniya (di Plaza Senayan maupun Grand Indonesia), di mana area buku anak dibuat cukup lega, bisa sambil lesehan, sambil membuka buku-buku yang seringkali tidak dibungkus plastik. Gramedia di Grand Indonesia juga cukup menyenangkan. Selain membaca buku, Gramedia memiliki fasilitas permainan komputer untuk anak (sebenarnya sih ini area promosi untuk menjual DVD atau games edukatif, tapi bisa dipakai untuk main-main kok). TGA di Senayan City juga memiliki koleksi buku anak yang lumayan seru, di samping interiornya yang tak kalah menarik. 

5. Free shows
Setiap mall memiliki daya tarik dan ciri khasnya masing-masing, tapi pasti ada minimal satu show atau pertunjukan atau kegiatan gratisan yang ditawarkan, baik reguler maupun yang khusus. Contoh show gratisan yang reguler: air mancur menari di Grand Indonesia, pertunjukan jam di Plaza Senayan (yang kayaknya nggak pernah berubah tapi tetep ditungguin para pengunjung), atau air mancur menari di taman Central Park Mall (beda jenis dengan Grand Indonesia, yang ini lebih seperti air mancur loncat-loncat). Selain show reguler, tiap mall sering menawarkan show-show khusus terutama di musim liburan sekolah (Juni-Juli atau Desember). So far, gue pernah mengajak Yofel melihat show Spongebob dan Thomas di Central Park, Spiderman di Senayan City, juga Sea World (lengkap dengan touch pool dan aquariumnya) di Citraland Mall. Kelemahannya? Rameeee...jadi harus siap-siap berdesakan atau antri dengan pengunjung lain, terutama di hari libur.

After the show- bisa elus-elus si Thomas =)


6. Every little thing...
Selain kegiatan-kegiatan di atas, masih banyak yang bisa dimanfaatkan dari fasilitas mall, bahkan yang kecil-kecil dan nggak penting. Misalnya, taman di Central Park Mall, seru banget buat lari-larian, atau sekadar ngeliatin ikan koi di kolamnya. Atau di Mal Taman Anggrek, ngeliatin orang main ice skating (terutama kalau lagi ada event perlombaan atau pertandingan hoki) juga nggak kalah seru. Yang juga culun tapi menyenangkan adalah keliling-keliling supermarket pake kereta, terutama kalau ada kereta khusus anak seperti di Carefour yang berbentuk mobil mainan. 

Apapun kegiatannya, yang penting kebersamaannya kan. Jadi, ngemall nggak apa-apa juga kok, asal sesekali tetap main ke luar, cari variasi tempat yang ada udara non-AC nya =)  Oiya, untuk kegiatan ngemall gratisan ini, lebih baik kalau kartu kredit ditinggal dulu di rumah, biar nggak tergoda rayuan anak beli ini-itu.



Friday, October 12, 2012

How Far Will You Go?

Masih ingat kegundahan gue soal Blackberry beberapa tahun lalu? Well, well... Saat gue pikir gue sudah nggak usah diribetin oleh BB dan segala macam dilemanya (dan saat ini memegang satu BB dari kantor dan satu BB dari nyokap).. Who knows? It's apparently only the tip of the iceberg.

Beberapa minggu lalu, gue ketemuan sama temen-temen kuliah, dan satu fenomena yang gue lihat adalah betapa gadget sudah menjadi bagian penting dari hidup mereka. Nggak hanya Blackberry, sekarang hampir semua teman gue itu sudah memegang iPhone atau Android. Tapi kenapa sebagian besar dari mereka nggak melepas BB? Karena teman-teman mereka yang lain masih menggunakan BB dan berkomunikasi via BBM atau BB Group.

Lalu kenapa harus iPhone atau Android? Because they are the "it" phones now! Dan bukan hanya bentuknya yang keren atau feature nya yang canggih lho, tapi juga komunitas pemakainya (banyak yang bilang pemakai BB kurang smart karena sering menyebarkan broadcast message nggak penting). Ditambah lagi, berbagai aplikasi dan sosial media yang eksklusif bisa diakses oleh gadget-gadget tersebut.

Mengutip salah satu teman gue yang meminta gue untuk segera membuat akun Path "Soalnya Twitter udah nggak seru sekarang, ribet!" (Dan gue masih terbayang-bayang hari-hari awal gue berusaha keras memahami kegunaan Twitter. Masa harus diulang lagi sekarang?) Belum lagi Instagram yang membuat setiap pemakainya serasa menjadi jago fotografi dalam sekejap. Lalu bagaimana dengan BBM? Lho, kan ada Whatsapp yang bisa digunakan untuk berbagai smartphone tanpa harus keluar uang!

Anyway, bahkan para pencinta olah raga seperti lari dan sepeda pun sekarang sangat eksis dengan gadgetnya masing-masing, berlomba-lomba untuk menunjukkan kemajuannya melalui aplikasi seperti Endomondo atau Nikeplus.

Semakin terkejut juga saat gue bertemu teman-teman lama dari kantor majalah. iPhone ternyata sudah menjadi bagian hidup mereka juga, termasuk follow-follow-an di Path dan Instagram.

Dan gue jadi bertanya-tanya, sampai kapan ya perjuangan ini akan berakhir? How far will you go until one fine day, you'll decide to say "enough"?

Wednesday, September 19, 2012

Anyhting You Want to Be

How does it feel having a chance to become anything that you wanted?

Gue menghabiskan banyak waktu gue dengan anak-anak Amerika usia 20-an yang mengajar sebagai volunteer di SMA-SMA di berbagai daerah Indonesia. Yang menarik adalah perbedaan cara mereka memandang hidup dan merancang masa depan, dibandingkan dengan anak-anak muda Indonesia di usia yang sama.

Seringkali, kalau sudah mendekati akhir masa volunteer mereka di Indonesia, gue bertanya-tanya tentang rencana mereka ke depan. Dan jawaban mereka membuat gue miris, betapa "mudah" mewujudkan mimpi bagi mereka.

Banyak yang setelah menyelesaikan volunteer di Indonesia, kembali ke Indonesia untuk bekerja (dengan gaji ekspat, tentu!). Bukan di perusahaan minyak atau konsultan multinasional kok, kebanyakan malah mengajar di sekolah internasional atau bekerja di NGO asing. Tapi yang membuat iri adalah, gaji mereka yang setara dengan level manajer lokal, meski posisi mereka masih karyawan biasa. Renting apartemen atau rumah di daerah Sudirman atau Menteng pun bukan menjadi masalah besar.

Sebagian lagi, belum puas dengan petualangan mereka, kembali mencari fellowship atau volunteering program ke negara-negara lain. Dan betapa banyaknya kesempatan bagi mereka. Berkelana ke pelosok Asia, Afrika atau Eropa. Belajar bahasa di Amerika Selatan. Mengajar bahasa Inggris di Korea. Volunteer di program Peace Corps di Namibia. Atau bekerja di NGO asing di Nepal. Seolah tanpa beban, tanpa batasan apapun.

Betapa mudahnya mewujudkan mimpi bagi mereka! Lagi-lagi, komentar bernada iri hati itu tercetus dalam hati gue. Banyak juga yang balik ke Amerika, langsung lanjut ke grad school, dan rata-rata, alumni program Fulbright biasanya diterima di sekolah-sekolah bergengsi seperti Yale, Columbia atau Harvard. Masa depan tampak cerah bagi mereka.

Apa yang mereka miliki tapi tidak dimiliki oleh kita? Kadang gue lihat, kemampuan mereka sama-sama aja kok. Banyak teman-teman gue yang malah lebih pintar dan memiliki kemampuan lebih. Tapi satu yang kita nggak punya: privilege. Lahir dan hidup sebagai warga negara adikuasa. Memang ada sih, beberapa teman gue sesama orang Indonesia yang akhirnya berhasil menggapai mimpi-mimpi internasional mereka: sekolah di Ivy Leagues, kerja di berbagai belahan dunia, jalan-jalan ke mana-mana... Tapi effort mereka pun lebih besar, jauh lebih besar. Mereka kerja lebih keras, dan berusaha sekuat tenaga untuk menyamai posisi mereka dengan anak-anak yang sudah mendapat privilege lahir dan dibesarkan di Amerika.

Tapi memang betul, hal ini tidak bisa dijadikan alasan untuk menyerah begitu saja. Kesempatan kita mungkin memang lebih sedikit, kita mungkin akan selalu dianggap warga kelas dua di Amerika (dan negara-negara maju lainnya) meski sudah punya pendidikan dan kedudukan yang oke, dan sampai kapanpun, kita tetap orang Indonesia, dengan segala keterbatasan kita. Tapi kita juga lebih tangguh, lebih mudah beradaptasi, lebih humble, dan lebih tidak dijagokan.

Sometimes being an underdog is good. And who knows? Underdogs could be anything they wanted too!

Wednesday, September 12, 2012

Perfect Life

"I won't ever, ever do that to my son", that's what I thought when I saw a mother yelling at her crying son in the middle of a parking lot.

"I will be spending my time teaching my kid to love books, to play outside..to be the coolest mom ever!!", that's what I told myself when I held my son in the hospital after he was born.

Perfect mom, perfect model, perfect life.

How did I know that there will be days when I don't feel like doing anything - except sleeping or reading my book?

How did I know that there will be times when I just don't have the patience to deal with my son's tantrum - and yelling at him is the only thing I can think of?

How did I know that there will never be the coolest mom - because even though you're cool for now, still there are days that your son simply doesn't want to talk to you, and you become his worst enemy =)

How did I know that there is no such thing as a perfect mom, let alone a perfect life?

But now I know.
Thank goodness, now I know =)


Monday, July 30, 2012

Go Public

Time flies so fast!!! Yofel is almost 3 years old, and we decided it's time for him to go to school!! =)

eating biscuit, a very big achievement!

I didn't do too much research about which is the best school for Yofel. There is one good preschool in our apartment, only 12 floors down and a couple of steps away, so it's easiest for Yofel to be enrolled in that school. The lessons are in English, but there's Mandarin and Bahasa Indonesia lessons as well, so we're pretty content about it.

First day of school, I was really nervous, I guess more nervous than Yofel himself. It's that bittersweet feeling, when you know there's a new era to face, but you don't want to lose the old one yet. Watching him wearing his brand new uniform and playing with other kids...there are things that are indeed still priceless in this pricey material world.

But at the same time, I also realized one important thing. Enrolling your kid into a school means your parenting stuff and kids problems becoming public. It suddenly becomes everybody's business, from the teachers at school to the other parents and kids in the class.

I remember the horrifying feeling when Yofel, who is still a picky eater and hates eating more than anything else, refused to sit down around the table with the other kids to have snack time. Instead of munching the biscuit and sitting with other children, Yofel kept screaming, kicking around and finally throwing the plate (luckily, a plastic plate) toward his teacher!

Embarrassment, fear and tears welled up in my heart (and eyes!), but I tried to hide it all. The teacher calmed me down and said that every kid needs time to adjust in new environment, so I don't need to be worried. Same thing happened when Yofel running around the class when the other kids singing and dancing. The alarming thing was that some of the kids were following him running around, and I tried to keep my face as innocent as possible when their parents looking at me.

But truth is, all the worrying and feeling afraid for Yofel seemed worth it when I heard from his nanny that Yofel is now starting to eat with his friends, or participating in singing and dancing in class, even he was willing to come forward as a volunteer to do the rote count.

Proud.

A feeling that is indeed, more priceless than anything.

Like his teacher once said to him, "Good job, Yofel!"


Monday, July 02, 2012

Rooting

Gli Azzurri - 2012
What makes you rooting for a sports team? Especially, a football team. Sometimes it happened because of personal reasons, for example you spent part of your life living in that particular country, or you married a guy from certain country, or maybe, your ancestor had come from that country. Those are the things that naturally made you connect with a country, and eventually, with its football team. (Although in my case, that didn't happen, since I have spent a year in Netherlands, and even had a grandma who practically a Hollander, but still, rooting for the Oranje team was not appealing for me).

But mostly, the story about why you root for a team is more personal than the above reasons. It's not in your blood, not in your family history, not related to any part of your life, but you just happened to fall for this particular team. It's like falling in love with a person, without knowing exactly why it happened.

And I guess it's more interesting with Indonesian people, maybe since we never had a chance to root for our national football team in international event, so each of us choose a team, and root for them fanatically, maybe even more fanatic than the original fans from that country.

My story had begun about 15 years ago, when I started to like watching football. My brother's favorite team at that time, Juventus, was playing in TV, and I had nothing better to do so I watched the game with him. One of the players caught my eyes (and my heart), and I learned that his name was Filippo Inzaghi. That was the beginning of my love for football, and I placed him (and his team) as the top reason for watching the games.

Pippo moved to another team, but my love for him was never changed until he was retired from football. I was rooting for him wherever he went, although Juventus has always been my first love =) But because of Pippo, I also rooted for Italy team, Gli Azzurri. And my love for them just keeps growing no matter what, even when all my favorite players had retired from the team. I don't know why I loved the team so much. Maybe because there were never boring moments every time they played, from all the dramas to the controversial goals, everything was beyond crazy =)

I remember vividly when I was cheering with the Italians in Berlin, the night of World Cup Final in 2006. How crazy it was, especially because Italy had always been an underdog so nobody expected them to be in the final, and won the game for that matter!

the glorious moment =)
I also remember how sad it felt when I watched my Azzurri stumbled and fell in the next World Cup (2010), not even getting through the first group elimination. Most of the players were too old to play anyway, and Italy needed regeneration and came up with new formation desperately. But still, I rooted for them in spite of their degradation. I could recall one of my fellow tifosi who was so dedicated to Azzurri in 2006 but suddenly didn't want to have anything to do with them in 2010. Why rooting for a team if you can't stick with them through thick and thin?

So I had mixed feelings when we entered EURO 2012 last month. I wished for the best for my Azzurri, despite the mocking and sneering from the haters, especially because Italy just had the scandal about scoring in their national leagues. But still, I've rooted for them for years, and it's not gonna change, no matter what they've been through.

And I was quite surprised because Azzurri played pretty well... Fighting back Spain in their first game, winning the penalty round against England, and even beating Germany, one of the most favorite teams this year. I love seeing the regeneration finally kicking in the team, we still have great experienced players like Pirlo and Cassano, but the new players like Balotelli spiced things up.

It's too bad Azzurri couldn't beat Spain in the final and collect the trophy they've been waiting for 44 years... But I still cherished the moments I watched them played (Pirlo's brilliant penalty? Balotelli's yellow card for taking off his shirt after making a goal?). This is just a beginning, I'm sure. And I am so freaking proud of them. So I just sent them my love and I'll be patient for Brazil =)

ps: and I can't understand why there are so may haters out there. Even the fans of Espana kept mocking Azzurri after they won the game, instead of just shutting their mouth and enjoying the moment. I felt sorry for them, because what good is that, when your team is winning but all you wanted to do was talking bad about the other team?

Tuesday, June 19, 2012

Blast from the Past

Courtesy of KapanLagi.com

Indonesia lagi kebanjiran konser musisi internasional. Entah harus disyukuri atau disayangkan karena dompet dan ATM berteriak-teriak prihatin. Yang jelas, hampir setiap bulan ada sajaaa konser yang termasuk sayang untuk dilewatkan, suatu kemewahan tersendiri untuk negara yang sempat dicap "travel warning" dan di black-list dari daftar tur grup band atau penyanyi asing.

Buat gue, prioritas justru diberikan pada para musisi yang sudah digilai sejak jaman dulu, dan dinanti-nanti konsernya hampir seumur hidup (lebay!). Beruntung sekali bulan Mei yang lalu, L'arc en Ciel untuk pertama kalinya memasukkan Jakarta ke salah satu kota tujuan World Tour nya tahun ini. Yippie!!! Band rock kojo asal Jepang ini menemani hari-hari gue begadang saat kuliah dulu...Dan entah kapan akan ada kesempatan yang sama, jadi tanpa ragu-ragu, sekalian reuni dengan teman-teman kuliah, kita pun memutuskan untuk membeli tiket (IDR 600k untuk Reguler B).

Konsernya diadakan di Lapangan D Senayan, dan ini pertama kalinya gue nonton konser di sana. Meski outdoor dan tempat seadanya, tapi setting panggungnya keren karena menampilkan grafis unik khas Jepang di big screen, dan dibuat super pas dengan lagu-lagu yang dibawakan. Konser dimulai tepat waktu (yeay!), panitia lumayan profesional mengatur barisan penonton waktu masuk ke lapangan, memisah-misahkan antara Reguler A dan B dengan cukup tertib.

And it was one of the best concerts I've ever watched!!! Nggak nyangka banget band yang sudah termasuk senior ini ternyata staminanya masih luar biasa mumpuni, jingkrak sana-sini, dengan intermission yang terbilang sedikit dan singkat. Memang banyak lagu-lagu baru yang gue nggak terlalu tahu karena sudah nggak terlalu ngikutin album mereka yang terakhir, tapi yang bikin seneng adalah mereka bawain juga lagu-lagu lama dari album jadul..Serasa balik ke jaman kuliah, bikin tugas praktikum sampe jam 3 pagi diiringi hentakan suara Hyde yang khas banget.

Yang juga bikin bahagia adalah betapa cowok-cowok L'arc en Ciel ini mempersiapkan konsernya dengan sepenuh hati. Terbukti dari niatnya mereka menghafal kata-kata Bahasa Indonesia yang diucapkan terpatah-patah. Bahkan Ken si gitaris nyentrik itu sempet-sempetnya bercanda "Halo, gua SUJU dari Korea!" Hahaha kocak banget, mengingat SUJU yang lagi digilai ABG memang baru konser di Jakarta beberapa hari sebelumnya. Belum lagi saat Hyde yang selalu tampil keren dengan gaya androgini nya, sempat iseng bermain wayang dan suling di atas panggung. Charming!!!

Rasanya nggak sia-sia penonton membludak malam itu, bahkan menurut situs world tour L'arc en Ciel, Jakarta adalah satu-satunya kota di mana tiket konser mereka sold out. Awwww =) Semoga sambutan kemarin itu membuat Laruku nggak kapok main-main ke Indonesia.

Belum hilang demam Laruku, bulan Juni-nya datang lagi satu grup dari masa lalu, New Kids on The Block!!! Yeay, it's like a dream comes true karena pertama kalinya gue nonton konser mereka itu adalah tahun 1992, atau 20 tahun yang lalu aja gituuuuu =D Konser pertama dalam hidup gue dan masih tetap berkesan sampai sekarang.

Siapapun yang mempunyai ide mengembalikan kejayaan boy band jaman dulu ini dan menggabungkannya dengan salah satu boy band lain, Backstreet Boys yang sedikit berbeda generasi, adalah seorang jenius. Sayangnya tiket konser NKOTBSB ini super mahaaaal....IDR 950k untuk festival, dan meski ada pre-sale nya, jangan harap dapet deh, karena langsung ludes dalam beberapa menit.

Jadi harapan gue nonton NKOTB pun pupus kandas, sampai menjelang hari H, ternyata situs penjualan tiket online rajakarcis.com membuat program cicilan. Yeay!! Langsung tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, gue bersama seorang teman kantor yang juga datang dari generasi 80-an akhirnya memutuskan untuk membeli tiket.

Dan hari-H benar-benar heboh, karena kita harus berangkat dari kantor menuju MEIS-Ancol, gedung baru yang terletak di daerah Pantai Carnaval. Jam 4 berangkat dari kantor, nyampe Ancol jam 5 kurang, langsung bingung karena nggak ada petunjuk jelas dari panitia, ternyata harus menukar tiket dengan gelang dulu. Yang juga bikin kaget adalah pengamanan yang ala kadarnya. Tas kita tidak diperiksa pas mau masuk ke gate, berisan pun tidak diatur dengan tertib. Panitia seakan tidak siap menghadapi sekitar 10 ribu penonton (yang kebanyakan cewek padahal).

Lebih parah lagi, gedung konser MEIS ini ternyata sama sekali belum layak untuk digunakan. Concert Hall yang terletak di lantai 3 gedung mal yang baru dibangun ini belum sepenuhnya rampung, jalan menuju hall pun masih berupa tanah, belum berupa lantai, dengan beton-beton melintang di atas kepala dan debu di mana-mana, oh my... Belum lagi untuk menuju ke atas, hanya ada dua eskalator yang tidak berjalan, ngeri banget kalau sampai ada yang keinjek-injek (!)

Untungnya, konser dimulai cukup tepat waktu, dan karena panggung bermodel catwalk, hampir semua penonton festival kebagian melihat dengan jelas idolanya masing-masing. Buat gue, highlight nya tentu NKOTB donk, terutama Mas Jordan idola saat remaja =D Hampir semua lagu hits dari album jaman dulu dinyanyikan, termasuk favorit I'll be Loving You, Please Don't Go Girl dan Valentine Girl. Hmmm...mengenang masa-masa keemasan =)

The everlasting idol, Mr. Jordan Knight
Meski stamina masih kalah dengan Hyde dkk, NOKTBSB cukup menghibur dengan koreografer yang masih enak dilihat. Dan meski suara mereka sudah tidak semantap dulu (banyak yang turun dan sedikit out of tune), tapi bisa terobati melalui interaksi dengan penonton. Arghhh...jadi pengen lagiii!!! Yang lebih menyenangkan adalah saat membaca tweet Jordan Knight yang bilang kalau dia belum pernah denger I'll be Loving You dinyanyikan sekeras di Jakarta, dari awal sampai akhir, sampai-sampai menitikkan air mata segala. Merasa nggak percaya, gue cari di YouTube, membandingkan penampilan lagu itu di Jakarta dan kota-kota lainnya. Dan bener banget loh!!! Nggak ada yang seheboh di Jakarta, dan Jordan hanya nangis pas di Jakarta aja =)

Dan begitulah, mengenang masa muda tuh menyenangkan banget ya? Biarpun kadang nggak seindah jaman dulu, tapi momennya itu yang memang dapet banget.And I'm proud of Indonesians...Penonton yang (mungkin karena jarang disamperin sama idolanya) bener-bener antusias dan bikin sang performer merasa ditanggapi sepenuh hati =)

Sekarang, tiba-tiba ketar-ketir lagi waktu denger The Cardigans bakal manggung bulan Agustus nanti. Mengenang masa-masa nge-band jaman SMA!!!

I will never know, cause you will never show
C'mon and love me now, c'mon and love me now..

Should I walking down the memory lanes one more time? =)

Tuesday, May 29, 2012

Just a Tiny Little Bit

Selama sebulan terakhir ini, gue banyak melakukan field visit ke pelosok Indonesia. Yang paling menyenangkan dari perjalanan semacam ini tentu kesempatan untuk melihat tempat baru, bertemu dengan orang baru, dan mengalami petualangan baru. Tapi menyebalkannya, karena ini adalah perjalanan kantor, tentu jadwal yang super padat, stress menunggu pesawat, dan harus terbiasa dengan kesendirian, menjadi bagian dari pengalaman =D

Dari perjalanan tersebut, ditambah beberapa perjalanan lain sebelumnya, ini adalah sekelumit (benar-benar sekelumit banget) highlight yang ingin gue share. Compare to the vastness of this beloved archipelago, of course perjalanan gue belum ada apa-apanya..Tapi at least gue bersyukur banget, sudah dikasih kesempatan untuk mencicipi kelezatan sebagian kecil negara tercinta ini. Hopefully there will be more chance in the future!

Banda Aceh 
Masuk ke Aceh sekarang ternyata sudah lebih santai. Gue nggak perlu deg-degan karena nggak pake kerudung, dan malam-malam bisa boncengan motor sama si buley tanpa takut disetop polisi. Meskipun hotel tempat gue menginap bener-bener bikin trauma karena tiba-tiba plafon kamar mandinya bocor di tengah malam buta, dan bikin banjir ke mana-mana (gue baru sadar setelah pulang, ternyata di Banda Aceh sudah ada Swisbel!), tapi at least petualangan kuliner gue terpuaskan disini. Highlight of the day nya adalah makan mie kepiting aceh di pinggir jalan (super enak bangeeet), dan melintas di depan Masjid Baiturrahman di malam hari. Priceless. Oh ya, yang sedikit awkward adalah ketika mau berpisah dengan si buley di depan hotel, yang biasanya selalu "big hug", sekarang hanya "high five" =D

Belitung
beautiful view from the lighthouse
Pulau kebanggaan Laskar Pelangi ini benar-benar masih virgin, belum terkena dampak turisme yang membabi-buta (meski arahnya sih sudah keliatan ke sana). Sempat terkagum-kagum dengan Pantai Tanjung Tinggi yang khas dengan batu-batu besarnya dan sudah nampang di film Laskar Pelangi, tapi menurut gue highlight dari perjalanan ke Belitung adalah Pulau Lengkuas dengan mercusuarnya. Bayangin aja, mercusuar jaman Belanda! Jarang-jarang bisa lihat di Indonesia. Gue naik sampai ke lantai 16 lewat tangga yang melingkar-lingkar, dan ternyata rasa capeknya worth it dengan pemandangan luar biasa indah yang bisa dilihat dari atas. Gradasi laut biru jernih kehijauan benar-benar memanjakan mata banget. Gue serasa lagi ada di salah satu buku petualangannya Lima Sekawan =)
Selain Pulau Lengkuas, gue sempat island hopping dengan menyewa boat ke beberapa pulau lain: Pulau Pasir yang lenyap ditelan laut ketika sedang pasang naik, Pulau Batu Berlayar yang juga dipenuhi batu-batu besar dengan bentuk-bentuk aneh, dan berhenti sejenak untuk memberi makan ikan-ikan.
I will definitely go back to this wonderful island!

Palembang
Ahhhh...ini sudah untuk kesekian kalinya gue menginjakkan kaki di kota Pempek. Dan kesan gue tetep sama: antara suka dan nggak =D Udara yang panas dan lengket, kelakuan penduduknya yang suka ajaib, dan bau amis pempek adalah sebagaian alasan gue nggak terlalu berminat berkunjung ke sini. Tapi tentu ada juga highlight yang lumayan menghibur hati: duduk-duduk di Riverside, cafe di pinggir Sungai Musi, saat senja menjelang malam hari, sambil memandang lampu di Jembatan Ampera mulai dinyalakan, belanja pempek yang sekarang sistemnya sudah dipaketkan dan dikasih sagu supaya awet (yang sudah gue coba dan terbukti enak: Pempek Candy, Vico, Sudimampir, dan Pempek Ek Dempo), dan tentu saja...nginep di Novotel. Hotel favorit gue di Palembang, karena lokasinya yang strategis (di seberang beberapa kedai pempek, haha), desainnya yang unik, suasananya yang enak banget, dan pool nya yang super keren.

Lombok
Yang penting banget diketahui dari Lombok adalah airportnya yang baru, Lombok International Airport, terletak cukup jauh dari daerah Mataram/Senggigi, sekitar 1,5 - 2 jam perjalanan mobil di siang hari. Konferensi berarti hanya sedikit waktu untuk jalan-jalan, tapi untunglah kita menginap di Sheraton, yang terletak persis di sebelah Art Market. Dan highlight nya tentu saja belanja dress-dress lucu dengan harga lumayan miring! Jangan pernah segan untuk berkeliling dulu membandingkan harga, supaya punya bekal cukup saat terjadi tawar-menawar. Yang pasti, mutiaranya dijual lebih murah dibandingkan di toko perhiasan yang juga ada di sepanjang Senggigi, meski harus teliti dulu sebelum membeli pastinya.

Tarakan
walking around mangrove forrest
Pulau kecil di sebelah utara Balikpapan ini bisa dicapai dalam 1 jam perjalanan udara dari Balikpapan. Dulunya, Tarakan dikenal sebagai pulau penghasil minyak bumi. Tapi sekarang, suasananya sudah lebih asri. Highlight kunjungan gue justru tidak gue rencanakan sebelumnya. Karena ada sedikit waktu luang, gue langsung googling "things to do in tarakan", dan voila! Ternyata nomor satunya adalah Mangrove Forrest yang terletak hanya 300 meter dari pusat kota. Bahkan gue akhirnya berjalan kaki dari hotel, hanya 10 menit saja. Dan bener-bener nggak rugi! Hutan bakau yang sekaligus merupakan pusat konservasi bekantan ini dirawat dengan cukup baik. Kita bisa berjalan di atas boardwalk yang dipasang mengelilingi hutan. Asal hati-hati saja kalau bertemu dengan lutung yang dikenal cukup iseng. Bekantan nya sih baik-baik, karena mereka hanya mau mengamati manusia dari jauh, bermain-main sambil gelantungan di atas pohon. Very cute! Kalau punya waktu lebih, jangan lupa lanjut ke Berau dan Derawan, surga baru bagi para penyelam. Definitely in my bucket list!

Polewali
polewali the fishing port
Small fishing port in west Sulawesi, Polewali might be a bit dull, but still has its charm. Hanya ada satu hotel yang lumayan bagus dan segelintir restoran yang cukup enak. Tapi highlight gue di Polewali adalah nongkrong di warung tenda pinggir laut sambil makan ikan bakar. Biarpun berantem sama lalat, tapi suasananya masih menyenangkan, apalagi sambil ngobrol dengan penduduk yang ramah-ramah. Pagi-pagi, gue menyempatkan diri untuk berjalan sepanjang pesisir yang penuh dengan perahu nelayan yang baru kembali melaut. A nice little life in a nice little vilage =)


Dari pulau yang masih sepi sampai hutan di tengah kota; mie kepiting lezat sampai pempek dengan cuko yang nikmat, gue sangat-sangat bersyukur lahir dan hidup di Indonesia. Meski hasrat untuk melanglang buana masih sangat kuat, tapi gue tetap berpendapat kalau mengenal negeri sendiri itu nggak kalah penting. Masa buley-buley yang gue asuh lebih tahu Indonesia dibanding gue?

So I decided to add more points in my bucket list, to visit lots and lots beautiful places in Indonesia, to taste the delicious and wonderful food, and to share its greatness - all over the world =)



Monday, April 23, 2012

Around the World with Piece of Papers

Semenjak kenal dengan Postcrossing, situs untuk para pencinta postcard di seluruh dunia, rasanya gue selalu semangat untuk mengecek mail box di apartemen. Sudah sangat lama mail box gue nggak berisi sesuatu yang menyenangkan, karena biasanya hanya kedatangan tagihan kartu kredit, tagihan listrik dan air, atau paling banter brosur promosi.

Sistem Postcrossing adalah, kita mengirim kartu pos untuk seseorang yang alamatnya dikirim random oleh sistem pada kita. Sebaliknya, nanti akan ada orang lain (yang juga dipilih acak oleh sistem) yang akan mengirimkan kartu pos pada kita. Dan ternyata, mendapatkan kartu pos yang dikirim dari negara antah berantah oleh seseorang yang bahkan nggak kita kenal, rasanya nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata! Memegang kartu bergambar pemandangan dengan warna-warni cerah, membaca tulisan tangan yang kadang rapi kadang butek, melihat prangko yang lucu-lucu, ya ampuuun...hidup gue berasa berwarna lagi.

Gue sempat berpikir, betapa banyaknya kehilangan yang kita alami di jaman digital seperti sekarang ini. Ketika sms dan twit sudah bisa mewakili ucapan selamat atau bertukar kabar, sarana seperti surat dan kartu pos pun menjadi kadaluarsa. Ngapain capek-capek kirim kartu selamat ulang tahun atau lebaran kalau sekarang kita bisa dengan mudah menggunakan BBM atau whatsapp (yang gratis pula!). Namun memang semua yang kuno itu justru memiliki nilai lebih. Gue mendapatkan satu orang penpal dari Estonia yang malah jadi langganan tuker-tukeran kartu. Pernah juga gue lagi mengalami hari yang sangat buruk, dan tiba-tiba mendapat paket dari seorang anak laki-laki di Jerman, yang berisi kartu pos, permen dan permen karet! He really made my day. Ada juga seorang cewek dari Malaysia yang mengirimkan kartu pos bergambar dinosaurus, karena gue menulis di profile page gue di Postcrossing kalau saat ini Yofel sedang tergila-gila dengan dinosaurus, dan kita menerima segala jenis postcard dengan unsur dino =D
Nggak ada yang mengalahkan perasaan happy saat menerima pesan kalau kartu pos kita sudah sampai dan disukai oleh si penerima. Mungkin rasanya mirip dengan saat kita menerima selembar kartu pos berisi sekelumit cerita tentang sebuah negara yang entah kapan akan bisa kita kunjungi. Gue jadi tahu kalau Hello dalam bahasa Finlandia itu sama dengan bahasa Indonesia (Hai), kalau Lithuania memiliki katedral yang sangat indah, dan kartu pos paling lucu biasanya datang dari Belanda!

Yang juga gue sadar, ternyata susah banget cari kartu pos lucu-lucu di Indonesia. Kebanyakan adalah kartu pos standar, yang bergambar pemandangan atau salah satu daerah di Indonesia. Tapi, meski menurut kita agak basi, ternyata kartu-kartu paling sederhana pun menjadi luar biasa berkesan bagi si penerima di negeri yang jauh! Gue jadi lebih rajin melihat peta sekarang, menandai titik-titik tempat para postcrosser berada, dan berharap suatu saat gue bisa melihat tempat-tempat di kartu pos itu dengan mata kepala gue sendiri =)

Wednesday, March 21, 2012

Mourn



I called her Mami, just like my other cousins did, even though she's actually my mom's older sister. But since the beginning of time, I guess she became the motherly figure for all of us.

My mom had seven sisters and two brothers, and that makes our family really big..If you have watched My Big Fat Greek Wedding, well it's kinda similar with my family. We are really close with each other, nieces and aunts, cousins and even second cousins, grandma and grandkids, and so on..

Mami was one of the most popular aunts, because she could cook really well! Her famous soto sulung and puding karamel were always loved by everybody, especially when there was a family gathering. Unlike her other siblings, Mami never pursued high education or prestigious career. She didn't have PhD like my mom, or married a successful man like my other aunt, or worked in a fancy office. But she loved cooking so much and she could make beautiful dresses. My mom told me once that Mami even made twin dresses for both of them in only one day!

We always thought that even though her life was quite different than the rest of us, Mami always seemed content. She had four kids and five grandchildren, more than anybody else in the family.

So we were very happy when one of her daughters, the one who lives in the US, gave birth to a beautiful baby girl, and Mami was all ready to visit them with my uncle. We bid her goodbye, with lots of good wishes and promises to send pictures and stories. And off she went to the States.

But a week later, after receiving many pictures of them, we heard the news that Mami had to have a surgery because of a wound infection. But we thought it was a small surgery, and she's in good hands of the US medical facilities, so we just sent our prayers and not really worried about it.

That's why nobody ready for the news the following morning: Mami was gone. She never really recovered from the surgery. Just like that. She's taken away from us. We can't understand. Why? She didn't seem sick when she went to the US. She never gave any clue that she would never come back. It's a shocking news for all of us. And the beginning of our very emotional and long days.

Due to all permits and other stuff, Mami's remains arrived after two weeks of agony. It's a painful moment, when we opened her casket and saw her beautiful face, just as if she was sleeping and waiting to be awaken.

Until today, sometimes I still can't believe that Mami was gone. There's a giant hole inside my heart, and every time our family got together, there's something missing. A huge silence. A black hole. A realization that we're not gonna be together forever, the rest of us, and losing your dearest ones become a bitter reality that you need to accept.

On the other hand, this also made me realize how lucky I am, blessed with this family, where there's always a shoulder to cry on. Because when all you have is sorrow, there's nothing you can do except crying it out loud. So you will be ready to move on, and face your life. After all, the world keeps on spinning no matter what, as if there's nothing happened, there's no soul being missed and no hope being crushed. But you know that's not true. And your family knows that too.

we'll always love you mami. and your kindred spirit will always, always be in our heart. patiently to see you in heaven!