Sesudah beberapa lama Bandung kerasa gerah banget, panas, gersang dan nggak pernah disiram hujan, tiba-tiba hari ini Bandung diguyur hujan..Tepat di hari ulang tahun gue.
Bener-bener serasa dapet hadiah dari Yang Di Atas..Seneng banget, bisa ulang tahun di Bandung lagi, di tengah orang-orang yang sangat berarti, ditemenin bau hujan yang mengendap di tanah, percikan air yang jatuh dari langit, dan bahkan sempet bobo siang diiringin musik tetesan hujan yang nyampur sama guruh..Kangen banget rasanya sama Bandung yang kaya gini...
Kalau ngomongin tentang nambah umur berarti nambah juga masalah-masalah yang harus dipikirin, kayanya sih udah basi, ya..Tapi yang kepikiran sama gue hari ini adalah, selama duapuluhenam tahun (!) hidup di dunia, gue makin sadar kalo manusia itu adalah natural survivor...
Nggak seekstrim para survivor di film seri LOST tentunya, tapi gue cukup bersyukur karena selama ini, segala macem hambatan, dan situasi yang terkadang bisa bikin hidup gue berada di titik terendah, masih bisa gue atasin walaupun seringkali dengan susah payah..
Karena manusia itu, memang punya kecenderungan untuk selalu bertahan..Yang tadinya nggak bisa masak, mau nggak mau harus belajar juga kalau nggak ada yang masakin. Yang nggak pernah naek angkot, mau nggak mau jadi mengandalkan bis kota kalau nggak ada mobil. Yang habis disakitin, bakalan selalu membangun bentengnya sendiri untuk bertahan..dan bahkan mungkin, berani mengambil resiko untuk jatuh cinta lagi suatu hari nanti..
Anyway..I keep thank God for giving me this wonderful life..=)
Thursday, November 23, 2006
Wednesday, November 15, 2006
6:30
Satu hal yang gue kangen banget selama tinggal di Belanda adalah nonton film Indonesia. Dan setiap kali ada orang yang mau dateng ke Belanda, pesenan DVD atau VCD film Indonesia jadi sesuatu yang wajib buat ditunggu. Bahkan gue pernah bela-belain bayar tiket 8 euro (kurs: 1 euro=12 ribu rupiah) untuk ikutan nonton film 9 Naga di Festival Film Internasional Rotterdam..
Nggak tau kenapa, tapi nonton film Indonesia selalu bawa keasikan tersendiri buat gue. Entah sekedar nyela-nyela para pemainnya, jalan ceritanya yang kadang absurd, atau (biarpun jarang)terkagum-kagum sama kualitasnya yang di atas rata-rata.
Dan begitu sampe di Indonesia, gue langsung mengupdate diri gue sama film-film yang belum sempet gue tonton selama ini. Ketawa ngakak ngeliat aktingnya Ringgo (yang sebelum gue berangkat ke Belanda masih berstatus sebagai penyiar radio, dan ternyata sekarang udah jadi artis tenar)di film Jomblo, terkagum-kagum (lebih tepatnya sih terbingung-bingung) sama kenekatan sutradara film Ekskul yang sumpah deh, temanya kok hiperbola banget yah? Dan tentu aja menghindari film" horror nggak jelas yang biarpun sempet bikin gue tergoda pengen nonton buat nyela", tapi tetep nggak berhasil mengalahkan faktor penakut-nya gue..
Dan akhirnya, kemaren untuk pertama kalinya gue nonton lagi film Indonesia di bioskop (nomat sih, lumayan deh, 15 ribu doang). Setelah menilik beberapa film yang ada, tampaknya film 6:30 jadi satu-satunya film yang layak tonton buat gue (dibanding Kuntilanak? Gila kali gue).
Ternyata oh ternyata, film yang tampak menjanjikan ini jatuhnya jauhhh dari harapan gue. Oke, ide ceritanya termasuk orisinil, dan settingnya di San Francisco juga pas banget sama jalan ceritanya (yang berkisar tentang cinta segitiga anak" rantau Indonesia dan segala problema mereka sehari"), tapi sayang beribu sayang, dialognya tuh garing banget, datar dan bikin ngantuk. Kalo mau dibandingin sama film sejenis seperti Before Sunrise-nya Ethan Hawke, yang ngandalin kekuatan dialog dan karakter tokoh"nya, hummm...tampak masih jauh...Dan satu hal lagi yang sangat disayangkan, soundnya itu lhooo...kok ya jelek banget..(Denger" sih emang budget filmnya kecil banget, tapi...buktinya bisa nyampe ke San Francisco toh..).
Tapi...Kalo untuk variasi perfilman nasional, bolehlah 6:30 diacungi jempol. Setidaknya dia nggak berkutat di seputar stereotype film" Indonesia jaman sekarang (yang kalo nggak horor, cerita ABG yang sebenernya lebih pantes masuk sinetron, atau adaptasi novel...oh soooo boring).Moga" lebih banyak lagi sineas nasional yang berani keluar dari mainstream yang ada sekarang...Biar setidaknya tujuan nonton film Indonesia bukanlah untuk mencela" lagi, tapi bener" untuk menikmatinya..
Nggak tau kenapa, tapi nonton film Indonesia selalu bawa keasikan tersendiri buat gue. Entah sekedar nyela-nyela para pemainnya, jalan ceritanya yang kadang absurd, atau (biarpun jarang)terkagum-kagum sama kualitasnya yang di atas rata-rata.
Dan begitu sampe di Indonesia, gue langsung mengupdate diri gue sama film-film yang belum sempet gue tonton selama ini. Ketawa ngakak ngeliat aktingnya Ringgo (yang sebelum gue berangkat ke Belanda masih berstatus sebagai penyiar radio, dan ternyata sekarang udah jadi artis tenar)di film Jomblo, terkagum-kagum (lebih tepatnya sih terbingung-bingung) sama kenekatan sutradara film Ekskul yang sumpah deh, temanya kok hiperbola banget yah? Dan tentu aja menghindari film" horror nggak jelas yang biarpun sempet bikin gue tergoda pengen nonton buat nyela", tapi tetep nggak berhasil mengalahkan faktor penakut-nya gue..
Dan akhirnya, kemaren untuk pertama kalinya gue nonton lagi film Indonesia di bioskop (nomat sih, lumayan deh, 15 ribu doang). Setelah menilik beberapa film yang ada, tampaknya film 6:30 jadi satu-satunya film yang layak tonton buat gue (dibanding Kuntilanak? Gila kali gue).
Ternyata oh ternyata, film yang tampak menjanjikan ini jatuhnya jauhhh dari harapan gue. Oke, ide ceritanya termasuk orisinil, dan settingnya di San Francisco juga pas banget sama jalan ceritanya (yang berkisar tentang cinta segitiga anak" rantau Indonesia dan segala problema mereka sehari"), tapi sayang beribu sayang, dialognya tuh garing banget, datar dan bikin ngantuk. Kalo mau dibandingin sama film sejenis seperti Before Sunrise-nya Ethan Hawke, yang ngandalin kekuatan dialog dan karakter tokoh"nya, hummm...tampak masih jauh...Dan satu hal lagi yang sangat disayangkan, soundnya itu lhooo...kok ya jelek banget..(Denger" sih emang budget filmnya kecil banget, tapi...buktinya bisa nyampe ke San Francisco toh..).
Tapi...Kalo untuk variasi perfilman nasional, bolehlah 6:30 diacungi jempol. Setidaknya dia nggak berkutat di seputar stereotype film" Indonesia jaman sekarang (yang kalo nggak horor, cerita ABG yang sebenernya lebih pantes masuk sinetron, atau adaptasi novel...oh soooo boring).Moga" lebih banyak lagi sineas nasional yang berani keluar dari mainstream yang ada sekarang...Biar setidaknya tujuan nonton film Indonesia bukanlah untuk mencela" lagi, tapi bener" untuk menikmatinya..
Tuesday, November 07, 2006
The Invitations
Masih jelas dalam ingatan, sekitar 8 tahun yang lalu, banyak banget undangan sweet seventeen yang gue terima. Kadang bertempat di hotel berbintang, kadang di cafe yang lagi trend di Bandung, atau di rumah orang yang berulang tahun..
Kadang dalam satu malam, ada dua pesta yang digelar bersamaan, dan akhirnya malam minggu pun dihabiskan dengan tur dari satu pesta ke pesta lain. Membandingkan MC nya, makanannya, band-nya, dan tamu" nya..
Dan sekarang, undangan-undangan itu kembali berdatangan..Bukan sweet seventeen tentu, tapi undangan pernikahan. Kalau lagi bertemu dengan teman-teman lama pun, pembicaraan biasanya berkisar antara kapan si ini nikah, di mana tempat dengan harga murah, lebih baik makanan hotel atau pesan catering, perlu pakai wedding organizer atau tidak, dekorasi dan undangan pesan ke mana...
Dan gue hanya bisa berpikir, sambil membuka undangan-undangan berbentuk bagus itu... Does time really fly so fast..Or is it just me who do not want to fly with it?
Kadang dalam satu malam, ada dua pesta yang digelar bersamaan, dan akhirnya malam minggu pun dihabiskan dengan tur dari satu pesta ke pesta lain. Membandingkan MC nya, makanannya, band-nya, dan tamu" nya..
Dan sekarang, undangan-undangan itu kembali berdatangan..Bukan sweet seventeen tentu, tapi undangan pernikahan. Kalau lagi bertemu dengan teman-teman lama pun, pembicaraan biasanya berkisar antara kapan si ini nikah, di mana tempat dengan harga murah, lebih baik makanan hotel atau pesan catering, perlu pakai wedding organizer atau tidak, dekorasi dan undangan pesan ke mana...
Dan gue hanya bisa berpikir, sambil membuka undangan-undangan berbentuk bagus itu... Does time really fly so fast..Or is it just me who do not want to fly with it?
Sunday, October 29, 2006
Kamu
Iya, kamu..
Yang selalu nyela aku karna kegendutanku..
Yang sering bangunin aku dengan telfon"mu..
Dan memenuhi inbox-ku dengan SMS"mu..
Kamu..
Yang bikin hari"ku jadi berwarna..
Yang selalu bisa buat aku ketawa..
Dan berusaha untuk selalu ada..
Kamu..
Satu alasan untukku mencinta..
Dan yakin kalau semuanya akan baik" saja..
Kamu..
Aku kangen..
Yang selalu nyela aku karna kegendutanku..
Yang sering bangunin aku dengan telfon"mu..
Dan memenuhi inbox-ku dengan SMS"mu..
Kamu..
Yang bikin hari"ku jadi berwarna..
Yang selalu bisa buat aku ketawa..
Dan berusaha untuk selalu ada..
Kamu..
Satu alasan untukku mencinta..
Dan yakin kalau semuanya akan baik" saja..
Kamu..
Aku kangen..
Wednesday, October 18, 2006
hope
Kalau sudah berada di titik terskeptis tentang suatu hal, lalu tiba" ada sekelumit pencerahan muncul di depan mata, apa reaksi terwajar yang akan muncul dari diri seseorang?
Tidak percaya, senang, takut kalau semuanya hanya sementara belaka, dan jauhhhh di lubuk hati terdalam, lebih dari segalanya, berharap supaya ini adalah sesuatu yang real. Bukan ilusi. Bukan temporary.
Dan harapan, meskipun kadang menyesatkan, ada kalanya harus dilakukan. Dinikmati. Karena tanpa harapan, apa artinya hidup? =)
Tidak percaya, senang, takut kalau semuanya hanya sementara belaka, dan jauhhhh di lubuk hati terdalam, lebih dari segalanya, berharap supaya ini adalah sesuatu yang real. Bukan ilusi. Bukan temporary.
Dan harapan, meskipun kadang menyesatkan, ada kalanya harus dilakukan. Dinikmati. Karena tanpa harapan, apa artinya hidup? =)
Monday, October 09, 2006
5 Kilogram Pembawa Bencana
Oke, udah seminggu lebih gue pulang, dan sementara ini agenda gue masih seputar ketemuan sama temen" lama, mulai dari temen kuliah, temen sma, temen masa kecil, dan temen" lainnya.
Hasil dari ketemuan" itu, selain melampiaskan rasa kangen, mengupdate gosip terbaru (yang biasanya berkisar antara: si ini mau merit tanggal segini lho....), sambil memuaskan hasrat jajan, adalah menerima cercaan tentang berat badan gue.
Sampe" gue bikin janji, orang ke 50 yg bilang "Astrid...jadi gendutan ya sekarang??" bakal gue kasih suvenir cantik dari negeri penjajah. Hehehe...
Tapi gue jadi agak" introspeksi diri juga. Selama ini, gue selalu mikir kalo orang yg keluar negeri dan pulangnya jadi gendut adalah sebatas mitos belaka, setidaknya buat diri gue, karena gue bukan orang yang gampang menjadi gendut.
Tapi ternyata, berada 1 taun di antara keju, susu, slaagroem, kentang goreng dan mayones, bener" bikin berat badan gue bertambah 5 kilogram, yang sialnya, membuat muka gue menjadi sangat bulet, dan nomer celana gue naik 1 level.
Dan sangatlah nggak membantu waktu si komentator, yang mungkin sedikit menyesal setelah melihat tampang gue yang sedih karena mendengar kata "gendut", buru" berusaha menghibur dengan kalimat: "Tapi bagusan sekarang kok, dulu sih terlalu kurus.."
Arghhhhhhh! Mari", berolah raga!
Hasil dari ketemuan" itu, selain melampiaskan rasa kangen, mengupdate gosip terbaru (yang biasanya berkisar antara: si ini mau merit tanggal segini lho....), sambil memuaskan hasrat jajan, adalah menerima cercaan tentang berat badan gue.
Sampe" gue bikin janji, orang ke 50 yg bilang "Astrid...jadi gendutan ya sekarang??" bakal gue kasih suvenir cantik dari negeri penjajah. Hehehe...
Tapi gue jadi agak" introspeksi diri juga. Selama ini, gue selalu mikir kalo orang yg keluar negeri dan pulangnya jadi gendut adalah sebatas mitos belaka, setidaknya buat diri gue, karena gue bukan orang yang gampang menjadi gendut.
Tapi ternyata, berada 1 taun di antara keju, susu, slaagroem, kentang goreng dan mayones, bener" bikin berat badan gue bertambah 5 kilogram, yang sialnya, membuat muka gue menjadi sangat bulet, dan nomer celana gue naik 1 level.
Dan sangatlah nggak membantu waktu si komentator, yang mungkin sedikit menyesal setelah melihat tampang gue yang sedih karena mendengar kata "gendut", buru" berusaha menghibur dengan kalimat: "Tapi bagusan sekarang kok, dulu sih terlalu kurus.."
Arghhhhhhh! Mari", berolah raga!
Friday, September 29, 2006
Yang Sempat Ditinggalkan
Setelah melewati perjalanan panjang, dimulai dengan kebaktian pengucapan syukur di Den Haag bareng sama Hellena dan Michael, acara wisudaan di sekolah yang sempet bikin kaget karena ternyata nyantai banget (pada pake celana jins dan kaos, sementara gue keukeuh dengan kebaya gue, haha, untung nggak sanggulan segala), traveling bareng nyokap seputaran barcelona, montseraat, brussel, bruge, ghent, amsterdam dan singapore (flonaaa...maap yaaa ga sempet ketemu, cuman bentar banget di spore nya, hectic pisan...next time harus ketemuan yaaa)...
Finally, I'm home...=) Back to Bandung.
Dan lumayan terkaget-kaget juga, karena rasanya gue baruuu aja kemaren pergi, semuanya tampak sangat familiar, tapi sekaligus juga asing. Tempat tidur di kamar gue udah jadi super besar, ruangan atas udah merangkap jadi studio arsiteknya adek gue yang sangat berantakan, anjing" gue keliatan tambah gede dan gondrong...Everything seems so different...but also familiar at the same time.
Dan gue masih harus terus mengingatkan diri gue sendiri untuk bilang "terima kasih" instead of "dank je wel", jalan di jalur kiri dan bukan di jalur kanan, STOP mengkurs segala sesuatu, karna toh semua barang dijual dengan harga Rupiah instead of Euro, bisa menikmati film di TV dengan baca teks berbahasa Indonesia (bukan bahasa belanda yang ngejelimet), dan cium pipi orang cukup dua kali, bukan tiga kali!!
Anyway...mau mulai merancang jajanan dan tempat" yang harus dikunjungi dulu, ya...=)
Finally, I'm home...=) Back to Bandung.
Dan lumayan terkaget-kaget juga, karena rasanya gue baruuu aja kemaren pergi, semuanya tampak sangat familiar, tapi sekaligus juga asing. Tempat tidur di kamar gue udah jadi super besar, ruangan atas udah merangkap jadi studio arsiteknya adek gue yang sangat berantakan, anjing" gue keliatan tambah gede dan gondrong...Everything seems so different...but also familiar at the same time.
Dan gue masih harus terus mengingatkan diri gue sendiri untuk bilang "terima kasih" instead of "dank je wel", jalan di jalur kiri dan bukan di jalur kanan, STOP mengkurs segala sesuatu, karna toh semua barang dijual dengan harga Rupiah instead of Euro, bisa menikmati film di TV dengan baca teks berbahasa Indonesia (bukan bahasa belanda yang ngejelimet), dan cium pipi orang cukup dua kali, bukan tiga kali!!
Anyway...mau mulai merancang jajanan dan tempat" yang harus dikunjungi dulu, ya...=)
Tuesday, September 12, 2006
Scribble
...and i looked around my room. my tiny little room. with all the posters gone off the walls. and instead of the books and messy papers that usually covering the floor, there lying my huge suitcase, open.
and i remembered. all the nights i spent here. sometimes accompanied with homesick songs. or broken heart tears. or brain that felt like exploding because of all the deadline assignments.
and i sigh.
this year, i learnt a lot. not only about theories, putting my thoughts into the papers, or dealing with the teachers. but most of all, about living far from familiarity. about love. and friendship. about struggling and surviving. about experiencing every details. about being thankful. about living life to its fullest.
and here i am, in my little room, trying to put my one-year life into one big suitcase, one travelling bag, four card boxes, and a very graceful heart. ready to end an era.
and once again, preparing for the new one.
and i remembered. all the nights i spent here. sometimes accompanied with homesick songs. or broken heart tears. or brain that felt like exploding because of all the deadline assignments.
and i sigh.
this year, i learnt a lot. not only about theories, putting my thoughts into the papers, or dealing with the teachers. but most of all, about living far from familiarity. about love. and friendship. about struggling and surviving. about experiencing every details. about being thankful. about living life to its fullest.
and here i am, in my little room, trying to put my one-year life into one big suitcase, one travelling bag, four card boxes, and a very graceful heart. ready to end an era.
and once again, preparing for the new one.
Saturday, September 09, 2006
Things I'm Gonna Miss

Berhubung udah deket dengan waktu kepulangan ke tanah air, sepertinya emang wajar aja kalo belakangan gue jadi sedikit mellow dan penuh nostalgia menyangkut negara mungil eks penjajah Indonesia ini, tempat gue tinggal selama setahun terakhir.
Dan kalau dipikir-pikir, banyak juga loh yang sepertinya bakal gue kangenin dari kehidupan gue selama di sini. Pergi keliling kota hanya bermodalkan sepeda cupu, tanpa harus takut disaingi knalpot metromini atau terperosok ke lubang-lubang di jalanan. Menikmati suasana kota Den Haag yang sejak jam 6 sore udah mulai sepi. Mengagumi gedung-gedung tua yang arsitekturnya bakal bikin nyokap atau ade gue (yang sama-sama terjun di dunia arsitek) terkesiap. Duduk di salah satu bangku Plein Centrum atau tepi sungai Buitenhof sambil baca buku. Bahagia setiap hari Kamis karena itulah satu-satunya hari di mana toko-toko buka sampe jam 9 malem.
Menyerbu KFC dengan nasi dan sambal tiap hari Senin malam (waktunya ayam-ayam KFC jadi super murah!). Menahan kantuk sampai jam 2 pagi karena ruang depan rumah dipake tempat nongkrong anak-anak. Sesi curhat bersama Hellena, temen serumah gue, tentang segala hal aneh dan weirdo people yang kita temuin selama hidup di sini. Chatting semaleman dan nyalain internet seharian tanpa takut ada yang protes karena tarif telepon membengkak. Download lagu kurang dari 1 menit dengan koneksi internet yang luar biasa cepat.
Baileys, Heineken, Sherry kebanggaan Regi, dan segala jenis minuman yang dengan gampang dan murahnya bisa didapet di sini. Nonton Sneak Preview setiap Selasa malam bareng Christian. Merencanakan jalan-jalan keliling Belanda dan mencari tiket-tiket murah untuk kunjungan ke negara lain. Pesta-pesta ulang tahun temen sekelas dari berbagai negara, having a drink after a whole crazy day in class. Menanti gugurnya daun kuning, turunnya salju putih, harumnya kuncup bunga yang mulai bermunculan, terbenamnya matahari musim panas yang bertahan lama di ufuk langit.
Teman-teman dalam senang dan sedih. Gelak tawa dan air mata.
And the most important thing, a truly memorable and precious lifetime experience.
Tuesday, September 05, 2006
Rencana, dan Impian
Semenjak berasa lega karna beban" sekolah yang udah berakhir, gue jadi punya banyak waktu luang buat merenung". Hmm..sebenernya, selama ini gue juga banyak merenung sih (baca: melamun), tapi karna masih kebayang" thesis dan kawan"nya, merenungnya jadi kurang maksimal.
Dan topik perenungan paling utama, tentu aja pertanyaan klise: Mau ngapain gue abis ini?
Dari beberapa perbincangan dan e-mail dengan temen" wartawan, sebagian besar menyarankan gue untuk nggak kembali ke dunia pewartawanan. Kenapa? Karna menurut mereka, profesi itu sangat mubazir buat seorang lulusan Master (cieee) seperti gue, setidaknya dari segi gaji, dan mungkin, jenjang karir.
Seorang temen ex wartawan TV yang lagi menuntut ilmu di Inggris malah bilang, "Itu nista banget kali, buat seorang lulusan Master Belanda kaya elo". Waduh...masa sih segitunya?
Jujur, gue emang masih membuka opsi buat melakukan hal" lain di luar dunia jurnalistik. Alasannya, biar lebih buka peluang aja, dan siapa tau, gue menemukan sesuatu yang lebih gue suka. Tapi, hari ini, perasaan gue terusik lagi.
Bermula dari ajakan seorang temen gue, Pamela, yang bekerja di pemerintahan Taiwan dan lagi melakukan riset di Belanda, untuk menghadiri salah satu hearing di International Criminal Court yang ada di kota Den Haag. Gue pikir, okelah, paling nggak gue bisa ngeliat yang namanya hearing di pengadilan internasional itu seperti apa.
Ternyata, hmm..keren, keren. Meskipun nggak terlalu mudeng sama kasus yang lagi dibahas (menyangkut situasi di negara Kongo), tapi gue langsung terkesan gitu pas masuk ke ruang buat visitors, yang dibatasin sama kaca bening dengan ruang sidang. Di deretan depan, ada bangku khusus untuk Pers, yang dipenuhi sama cowok" dan cewek" berpenampilan modis, yang pada lagi sibuk nyatet".
Untuk ngedengerin hearing itu, kita dikasi semacam audio tool gitu, lengkap dengan earphone nya, karena hearingnya dilakuin dalam dua bahasa, Inggris dan Perancis, jadi ada interpreternya gitu. Dan begitu ngikutin jalannya hearing, tanpa sadar gue malah bikin" angle berita, sambil mikir mana yang bakal gue pake seandainya gue disuruh naikin beritanya.
Dan saat itulah...ohh...gue baru menyadari kalo gue sangat kangen sama yang namanya liputan! Masa" nongkrong berjam" di DPR dengerin anggota komisi 1 ngoceh" nggak karuan, contek" an lead berita, laporan di pojokan, colongan ngabur makan siang...Bedanya sama di ICC ini, wartawan DPR sih cuek banget ngampar" di ruang sidang kalo emang kursinya udah kepenuhan, dan curi" makanan kotak punya anggota dewan. Hehehe...
Hummm...jadi, kembali ke dilema gue...Balik ke dunia peliputan? Atau mencoba peruntungan di tempat lain? Seberapa pentingnya sih gaji buat gue? Duh...hidup emang selalu dipenuhi pilihan sulit.
*Mungkin, gue bakal kembali ke impian semula aja, punya peternakan anjing. Senangnya...=)*
Dan topik perenungan paling utama, tentu aja pertanyaan klise: Mau ngapain gue abis ini?
Dari beberapa perbincangan dan e-mail dengan temen" wartawan, sebagian besar menyarankan gue untuk nggak kembali ke dunia pewartawanan. Kenapa? Karna menurut mereka, profesi itu sangat mubazir buat seorang lulusan Master (cieee) seperti gue, setidaknya dari segi gaji, dan mungkin, jenjang karir.
Seorang temen ex wartawan TV yang lagi menuntut ilmu di Inggris malah bilang, "Itu nista banget kali, buat seorang lulusan Master Belanda kaya elo". Waduh...masa sih segitunya?
Jujur, gue emang masih membuka opsi buat melakukan hal" lain di luar dunia jurnalistik. Alasannya, biar lebih buka peluang aja, dan siapa tau, gue menemukan sesuatu yang lebih gue suka. Tapi, hari ini, perasaan gue terusik lagi.
Bermula dari ajakan seorang temen gue, Pamela, yang bekerja di pemerintahan Taiwan dan lagi melakukan riset di Belanda, untuk menghadiri salah satu hearing di International Criminal Court yang ada di kota Den Haag. Gue pikir, okelah, paling nggak gue bisa ngeliat yang namanya hearing di pengadilan internasional itu seperti apa.
Ternyata, hmm..keren, keren. Meskipun nggak terlalu mudeng sama kasus yang lagi dibahas (menyangkut situasi di negara Kongo), tapi gue langsung terkesan gitu pas masuk ke ruang buat visitors, yang dibatasin sama kaca bening dengan ruang sidang. Di deretan depan, ada bangku khusus untuk Pers, yang dipenuhi sama cowok" dan cewek" berpenampilan modis, yang pada lagi sibuk nyatet".
Untuk ngedengerin hearing itu, kita dikasi semacam audio tool gitu, lengkap dengan earphone nya, karena hearingnya dilakuin dalam dua bahasa, Inggris dan Perancis, jadi ada interpreternya gitu. Dan begitu ngikutin jalannya hearing, tanpa sadar gue malah bikin" angle berita, sambil mikir mana yang bakal gue pake seandainya gue disuruh naikin beritanya.
Dan saat itulah...ohh...gue baru menyadari kalo gue sangat kangen sama yang namanya liputan! Masa" nongkrong berjam" di DPR dengerin anggota komisi 1 ngoceh" nggak karuan, contek" an lead berita, laporan di pojokan, colongan ngabur makan siang...Bedanya sama di ICC ini, wartawan DPR sih cuek banget ngampar" di ruang sidang kalo emang kursinya udah kepenuhan, dan curi" makanan kotak punya anggota dewan. Hehehe...
Hummm...jadi, kembali ke dilema gue...Balik ke dunia peliputan? Atau mencoba peruntungan di tempat lain? Seberapa pentingnya sih gaji buat gue? Duh...hidup emang selalu dipenuhi pilihan sulit.
*Mungkin, gue bakal kembali ke impian semula aja, punya peternakan anjing. Senangnya...=)*
Subscribe to:
Posts (Atom)