Showing posts with label europe. Show all posts
Showing posts with label europe. Show all posts

Thursday, April 18, 2013

Hotel Stories

Salah satu elemen paling penting dalam traveling adalah akomodasi. Di mana kita menginap? Kalau travelingnya dalam rangka vacation alias berlibur sih justru masalah memilih hotel ini termasuk yang paling seru. Buka tutup situs booking hotel online, liat review di situs-situs traveling, baca blog dan forum, pokoknya semua dilakukan supaya bisa dapet hotel yang keren, murah, lokasi pas, dan child friendly untuk yang bawa anak.

Tapi gimana kalau perjalanan yang dilakukan adalah bagian dari pekerjaan, atau dinas kantor, atau tugas-tugas yang kita nggak bisa memilih sendiri akomodasinya? Nah, ini dia nih yang suka bikin deg-degan.. Untuk gue yang termasuk golongan penakut (dalam hal-hal tertentu terutama menyangkut dunia lain), urusan hotel ini suka bikin ketar-ketir juga. Paling malesss kalo dapet hotel yang tua, atau letaknya terpencil, atau dateng di saat low season yang kayaknya satu lantai cuman gue sendirian. Hiiii... Atau kalau kebetulan dateng ke daerah yang masih kurang berkembang, harus siap dapet hotel yang jorok, kamarnya kecil, atau fasilitasnya memprihatinkan. Anyway, gue kepingin share sedikit tentang beberapa pengalaman aneh-aneh selama menginap di berbagai hotel (dan hostel).

Pengalaman paling spooky mungkin saat gue menginap di Takengon, sebuah kota kecil di provinsi Aceh. Saat itu gue bekerja di salah satu NGO Jerman, dan kita harus stay di sana selama kurang lebih 2 mingguan. Hotel yang kita tempati adalah hotel terbesar di kota itu, tapi juga merupakan hotel paling tua, dan sialnya, belum direnovasi sejak puluhan tahun lalu. Kamarnya besar, dengan penerangan remang-remang. Untungnya gue masih ditempatkan di kamar yang bersebelahan dengan bos gue yang orang Perancis. Yang cukup mengganggu, setiap malam sekitar pk.10.00, hotel ini memutus aliran listriknya! Memang sih, kadang suka dipasang genset juga, tapi nggak selalu genset berfungsi dengan sempurna. Yang ada gue selalu deg-degan setiap kali mendekati jam 10 malam. Satu lagi yang bikin parno: berhubung penakut, gue selalu nyalain TV sepanjang malam tiap kali nginep di hotel yang agak shady. Dan selama di Takengon, berhubung nggak ada TV cable, akhirnya terpaksa nyalain TV lokal. Sialnya lagi, saat itu lagi sering banget diputer trailer promo film Kuntilanak yang sedang tayang di bioskop. Jadi tiap kali udah mulai keluar promo itu, gue cepet-cepet ganti channel TV. Stress berat!! Tapi anehnya, waktu gue iseng ngintip ke kamar bos gue, dia sih kayaknya enjoy-enjoy aja stay di hotel itu. Balkonnya selalu dibuka lebar untuk tempat ngerokok (sementara gue nggak pernah mau mendekati balkon kamar gue terutama malem-malem), dan dia bilang, kalo pas mati lampu, ya dia langsung tidur aja. Hebat! Sementara salah satu kolega gue, seorang cewek Jerman, malah dapet kamar yang ada lukisan perempuan berukuran super besar, tepat di belakang tempat tidurnya dan berhadapan dengan cermin. Hiiii....Dan si cewek Jerman malah hepi banget. "Isn't it beautiful?" Sementara gue diam-diam bersyukur, untuuuung bukan gue yang dapet kamar itu! Bisa nggak tidur 2 minggu deh...

Pengalaman spooky berikutnya terjadi beberapa bulan kemudian, saat NGO tempat gue berkerja tersebut mengadakan workshop di Srilanka. Dan tipikal bos-bos gue di sana yang serba nyentrik, bukannya memilih hotel berbintang di kota besar, tapi malah hotel tua di kota pegunungan Bandarawela yang menjadi venue sekaligus tempat menginap saat itu. Hotelnya tua, kuno, antik, pokoknya favorit para bos bule yang waktu itu dateng ke sana, tapi sama sekali not my kind of place! Gue langsung deg-degan melihat kamarnya yang masih menggunakan tempat tidur besi model tinggi, bathtub besar berkaki tinggi, dan cermin raksasa serta penerangan remang-remang. Huhuhu! Mana kita masing-masing sekamar sendiri, pula. Di dalam kamar memang ada TV, tapi nggak ada channel yang bisa tertangkap dengan baik! Dooh... Gue lebih ketar-ketir lagi waktu sadar kamar di kiri-kanan gue kosong, dan menyambut dengan sukacita saat di malam kedua, ada bapak-bapak yang menempati kamar sebelah. Suaranya nyanyi-nyanyi di waktu malam menjadi penghibur buat gue. Yang bikin nyesel, ternyata temen-temen gue dari Thailand, Vietnam dan negara Asia lain sama penakutnya kayak gue, dan kita baru nyadar di hari terakhir kenapa nggak sharing room aja dari awal? Zzzz...

Satu lagi yang nggak bisa gue lupakan adalah saat gue bekerja di majalah, dan harus meliput perjalanan honeymoon para pemenang kuis yang hadiahnya adalah stay di salah satu resort di daerah Ubud, Bali. Resortnya bergaya-gaya tradisional gitu, dan setiap pasangan honeymoon berhak mendapatkan private vila sendiri. Nah, yang bikin stress, ternyata gue juga ditempatkan di sebuah private vila bertingkat tiga, sendirian! Ngok. Mending kalo vilanya bergaya minimalis modern ceria gitu, lah ini malah berbau tradisional etnik, dengan lukisan-lukisan penari Bali segede-gede layar tancep. Waktu staff resort mengantar gue ke master bedroom berukuran super luas, dengan tempat tidur berkelambu, langit-langit kayu gelap, dan tidak ada TV, gue rasanya langsung pengen kabur. Untungnya gue menemukan sebuah kamar tidur tambahan di lantai paling bawah, ukurannya lebih kecil dan at least ada TV lah. Tapi semaleman itu asli gue nggak bisa tidur, karena meski sudah menutup dan mengunci pintu kamar, tetep aja gue kebayang-bayang vila berukuran gede gitu cuman gue sendirian. Keueung, kalo bahasa Sundanya sih. Makanya di hari kedua, gue membujuk-bujuk fotografer yang orang Bali untuk ikut stay di salah satu kamar di vila gue itu. Untungnya dia mau, dan karena sama-sama penakut, kita membuka lebar-lebar pintu kamar masing-masing supaya bisa saling teriak kalau ada apa-apa. Lebay ya? :D

Selain pengalaman spooky, ada juga sih pengalaman yang aneh-aneh lagi. Pernah waktu gue ke Brussels sama nyokap, kita pesen hotel dari internet, salah satu situs booking gitu deh. Kebetulan ada hotel yang lokasinya bagus, harga ga mahal, dan kalo liat foto-foto di websitenya lumayan oke lah. Ternyataaaa...begitu nyampe sana, kita dapet kamar yang gak ada kamar mandinya, alias sharing bathroom. Tapi yang bikin aneh lagi, ada shower nyempil di pojok kamar, tanpa tirai, tanpa pintu. Ya ampuuun.... Pas gue protes sama resepsionisnya, bukannya minta maaf, ehh dia malah ngeles. Dia bilang, makanya jangan pernah pesen dari internet, you never know what you're gonna get. Gilak ya, gue rasa si resepsionis lagi mabok deh. Tanpa banyak cingcong, gue sama nyokap langsung pindah ke Ibis, dan meski manajer hotel gendeng itu sempet minta maaf dan menawarkan kamar yang lebih bagus, kita tetep angkat kaki dari sana.

Menginap di  kota Lae di Papua Nugini juga membawa kenangan tersendiri buat gue. Selain karena gue dan bos gue nyaris nggak bisa bayar hotel akibat semua kartu kredit kita ditolak, sementara limit ATM sudah tidak mencukupi, gue juga sempet tidur di hotel yang ternyata memiliki stok kecoak super banyak! Hebatnya, kecoak-kecoak ini bisa bersembunyi di siang hari saat terang benderang, yang membuat kamar berkesan bersih dan normal. Tapi begitu malam tiba, mereka berlomba-lomba keluar dari tempat persembunyian, daaannn...gue sukses terbangun di malam pertama dengan beberapa kecoak merayapi tangan gue!

Selain fasilitas fisik hotel, kelakuan tamu-tamu di dalamnya juga suka mengundang tanda tanya. Waktu gue kuliah di Belanda, gue pernah backpacking sama temen-temen kuliah ke Barcelona. Kita nginep di satu hostel di daerah Passeig de Gracia, yang sayangnya namanya gue udah lupa, padahal hostelnya sangat recommended. Lokasinya bagus, harga oke, dan hostelnya bersih, dengan gaya interior art deco yang keren. Waktu itu kita dapet kamar yang berenam, dan berhubung kita cuman pergi berempat, jadi kita sekamar dengan dua orang tak dikenal, yang kebetulan adalah cowok-cowok keturunan Amerika Latin. Yang harus diingat dan dipersiapkan kalau nginep di hostel kayak gini adalah mental menghadapi keanehan teman sekamar. Dan benar saja, salah seorang cowok itu, sebelum tidur tiap malam selalu melakukan ritual: buka baju di depan kita, termasuk celana, dan hanya memakai celana dalam (bukan boxer, sodara-sodara!) waktu tidur. Alhasil gue dan temen-temen gue yang kebanyakan orang Asia, hanya bisa terkikik-kikik di balik bantal tiap kali ritual itu berlangsung. Untungnya, cowok itu berbadan bagus dan tampangnya juga oke. Kebayang kalo model-model preman gitu ya? Atau model bapak-bapak gendut? Huhuhu!

Kalau lagi tugas ke daerah di Indonesia, gue juga suka mengalami yang agak aneh-aneh. Di Banda Aceh misalnya, gue menginap di Sulthan Hotel International yang memang sudah agak tua (gue nggak tau kalo di sana sekarang sudah ada Swisbel Hotel!). Model kamarnya khas banget hotel tua, luas tapi minim perabotan. Berasa kayak kosong banget suasananya. Dan gong nya adalah waktu tengah malem, tiba-tiba atep di kamar gue bocor, plafonnya semacam jebol gitu, dan tiba-tiba air membanjir banyaaak banget. Ternyata pipa di kamar mandi gue bocor, dan airnya sudah menjalar sampai ke plafon kamar. Bayangin aja tengah malem kebangun karena ada hujan di dalam kamar. Surreal banget! Akhirnya para tukang pun membetulkan kamar gue sambil guenya terkantuk-kantuk, karena disuruh pindah kamarpun rasanya udah males banget.

Kejadian aneh juga terjadi waktu gue nginep di Quality Hotel, hotel paling "bagus" di Gorontalo. Memang sih, interior kamarnya lumayanlah, mirip-mirip Swisbel gitu tipenya. Tapi di tengah malam (kenapa ya kejadian aneh selalu berlangsung di tengah malam?) tiba-tiba AC di kamar ngadat, berbunyi-bunyi aneh, dan mendadak mengeluarkan kepingan-kepingan es batu! Gue yang lagi tidur mendadak kebangun karena disambit oleh kepingan-kepingan es batu berbagai ukuran. Pas gue cerita di Twitter besokannya, banyak yang komen "Mustinya sedia gelas aja, buat minum Coca Cola". Zzzz!

Salah satu peristiwa tak terlupakan juga pernah gue ceritain di sini, saat gue liburan sama keluarga besar nyokap, dan memutuskan untuk extend di Hotel Oasis Legian sama adek gue. Hotelnya sih bersih, bagus, minimalis dan harganya ramah di kantong. Lokasinya juga cihuy. Tapi....anehnya ada bau-bau nggak sedap di sekitar balkon kamar tidur kita. Yang mengagetkan,  waktu baru pulang jalan-jalan, ada segerombolan petugas polisi mengerubungi balkon kamar di sebelah kamar kita. Ternyata...bau-bau nggak sedap itu berasal dari janin yang ditemukan di balkon kamar sebelah! Oh no...horror banget nggak sih? Padahal kita berkeliaran di deket balkon itu terus selama stay di sana. Hiks!

Satu lagi deh pengalaman horor terakhir untuk kali ini. Kejadiannya udah lumayan lama, waktu gue masih SMA lah. Gue liburan rame-rame dengan keluarga ke Singapore, dan menginap di hotel Marina Mandarin. Kebetulan waktu itu gue sekamar dengan sepupu gue dan salah seorang tante. Sejujurnya nggak ada yang terlalu bersemangat untuk sekamar dengan si tante ini, karena kemampuan beliau untuk melihat hal-hal yang tak kasat mata, alias punya sixth sense gitu deh... Dan bener ajaaa..kejadian lah di malam pertama kita nginep di sana. Tante gue tiba-tiba ngigo pake bahasa aneh gitu, sampe gue dan sepupu gue kebangun. Bangunin si tante, eh dia nggak bangun-bangun, malah makin heboh gitu deh kayak ngobrol sama orang. We were scared like sh*t! Pas akhirnya berhasil bangunin si tante, ehhh doi nggak mau cerita gitu ada apaan. Barulah waktu kita mau check out beberapa hari kemudian, dia cerita emang digangguin sama orang India gitu, yang keliatan stress banget. Dan selidik punya selidik, kata staff hotel sih, emang pernah ada orang India bunuh diri di kamar itu, karena bankrupt. Shoot.

Pengalaman serem, horor, menakutkan, dan menjengkelkan, memang menyebalkan saat dialami, tapi bisa menjadi bumbu cerita kita saat mengenang petualangan yang sudah lewat. Justru kadang, pengalaman buruk dan mengerikan lah yang susah untuk dilupakan. And even though it felt bad when it happened, at least you will have some good stories to share over a glass of beer when you hang out with your friends!

Sunday, September 28, 2008

A Short Trip to Bonn

When my boss in the NGO where I've worked part time in this last couple of years told me, that they were opening a full time position in Indonesia as a Liaison Officer, I didn't think too serious about it. The details of my big day (which, answering some people's question, will be held in December) was quite giving me a constant headache. That's why, I thought a full time job was the last thing I need (although, come to think about it, the money part does make it sound a bit more interesting, hehe)...

But, since I've been working for quite some time with them, I thought this job would perfectly fit me. There will be no office (only working from home, huray!), lots of traveling to eastern part of Indonesia (which has too many places that I haven't explored before), and having a boss in a thousands miles distance...Quite tempting, hmm?

So I decided to just go for it, sending my resume, and suddenly, they asked me to come to the headquarter (which is located in Bonn, Germany) to have a final interview with some of the managers. So the next think I know, I have packed my small suitcase (without really knowing what were exactly I put inside it), and said goodbye to my family and my guy.

I was more nervous about the interview, so the fact that I will go to Europe for only 5 days (including the journey) didn't really fascinate me. Actually I didn't really care where the interview took place, as long as I wouldn't do anything stupid in front of my future employers.

So, I sat in Lufthansa for more than 12 hours, cursing the European plane with their lack of entertainment (but what could I say? my ticket is paid by the organisation, so I didn't have much choices, did I?), and spending most of my journey by sleeping. And finally, still in jet lag and didn't have any clue how to get to Bonn from Frankfurt Airport (I was given the direction to my hotel, of course, but my sense of direction itself was very dangerous to be relied on), so imagined how happy I was when accidentally met Indonesian students who just got back from their holiday in Indonesia, and on their way to Bonn!!(Gabriel and Sisco, I owe you guys one!).

So, I arrived in my hotel safely. A nice hotel, actually. But the very next question was: What should I do now? The interview was scheduled for the next day,so I had to spend one day in the city, alone. The thought of it suddenly hit me. I was alone in this freaking city, without knowing what to do. I didn't prepare my mood to become a tourist, so it took me quite some time to switched my mode into "exploring the city" mode.

But turned out, Bonn is quite beautiful. This city is actually the birthplace of Beethoven, so I decided to start my journey from the Beethoven Haus.
The nice thing about the city was its public transportation. The system was exactly like the one in Netherlands, so it's not really complicated for me. I took the tram to the Main Station, and from there walking to the museum. Beethoven Haus was a nice place, with lots of stories, archives, and bits and pieces about Beethoven.

Then I went to the market, (or centrum, like we called in the Netherlands), browsing some shops and taking pictures of beautiful buildings, having lunch in one of the squares, and going back to the hotel. It's easy to get homesick when you're traveling alone, but somehow Bonn reminded me a lot with Den Haag, from the old buildings, the pigeons in the squares, people with bicycles, even the way they say thank you.

On the second day, I had my interview, but to tell you the truth, all the images from that interview was just a blur, mostly because I was too nervous to remember anything, haha...Well, my presentation was not that bad, but those questions they asked!!! Huhuhu....

Anyway, on my last day, I decided to walk around the city for the last time. I stopped for a short time in Museum of The History of Federal Republic of Germany , buying some German sausages (yep, the pork ones! hahaha)for my mom in one of the supermarkets, and sat on the side of Rhein River, which divided the city into two beautiful parts.

And, despite my desire to really get the job, I felt very grateful to have this short yet wonderful trip experience. It's a great feeling when you think, hey, I'm a citizen of this beautiful place called Earth, and there are so many great places ready to welcome me...=)

PS: Several things about the Bonn-ers:

Like most of European people, they like to chase the sun...even when the sun doesn't feel like showing in the city. Don't worry...there'll always be the Sunpoint...where you can get the tan even though the sun feels like hiding forever =)




Don't feel bad about your English when you're in Germany. They also struggle with the language. And believe it or not, Wall Street Institute is definitely a good choice to start! (Well, now you don't have to be ashamed when walking to your class in Wall Street Institute in Ratu Plaza or Kelapa Gading Mall).

Wednesday, September 24, 2008

Using QWERTZ

Baru gue sadar kalo selama ini gue udah sangat terbiasa dengan keyboard QWERTY, dan mendapatkan kesulitan luar biasa menggunakan kezboard QWERTZ....

untuk nulis alamat emailpun misalnza, hasilnza adalah seperti iniÄ astridfelicia"hotmail.com....tombol @ harus diakses sedemikian rupa karena terletak di tombol huruf Q, dan harus ditekan bersamaan dengan tombol AltGr....

gak bermutu zah postingannza kali ini...hahaha-.-(Gue kok jadi serasa ngobrol sama Mr Punk...tau kan, guru fisika galaknya Lupus di novelnya Hilman..hehehe)

Yaaa..ini hanya catatan singkat dari sebuah warnet di tengah kota Bönn...will continue the story later----

Tuesday, September 12, 2006

Scribble

...and i looked around my room. my tiny little room. with all the posters gone off the walls. and instead of the books and messy papers that usually covering the floor, there lying my huge suitcase, open.

and i remembered. all the nights i spent here. sometimes accompanied with homesick songs. or broken heart tears. or brain that felt like exploding because of all the deadline assignments.

and i sigh.

this year, i learnt a lot. not only about theories, putting my thoughts into the papers, or dealing with the teachers. but most of all, about living far from familiarity. about love. and friendship. about struggling and surviving. about experiencing every details. about being thankful. about living life to its fullest.

and here i am, in my little room, trying to put my one-year life into one big suitcase, one travelling bag, four card boxes, and a very graceful heart. ready to end an era.

and once again, preparing for the new one.

Saturday, September 09, 2006

Things I'm Gonna Miss





Berhubung udah deket dengan waktu kepulangan ke tanah air, sepertinya emang wajar aja kalo belakangan gue jadi sedikit mellow dan penuh nostalgia menyangkut negara mungil eks penjajah Indonesia ini, tempat gue tinggal selama setahun terakhir.

Dan kalau dipikir-pikir, banyak juga loh yang sepertinya bakal gue kangenin dari kehidupan gue selama di sini. Pergi keliling kota hanya bermodalkan sepeda cupu, tanpa harus takut disaingi knalpot metromini atau terperosok ke lubang-lubang di jalanan. Menikmati suasana kota Den Haag yang sejak jam 6 sore udah mulai sepi. Mengagumi gedung-gedung tua yang arsitekturnya bakal bikin nyokap atau ade gue (yang sama-sama terjun di dunia arsitek) terkesiap. Duduk di salah satu bangku Plein Centrum atau tepi sungai Buitenhof sambil baca buku. Bahagia setiap hari Kamis karena itulah satu-satunya hari di mana toko-toko buka sampe jam 9 malem.

Menyerbu KFC dengan nasi dan sambal tiap hari Senin malam (waktunya ayam-ayam KFC jadi super murah!). Menahan kantuk sampai jam 2 pagi karena ruang depan rumah dipake tempat nongkrong anak-anak. Sesi curhat bersama Hellena, temen serumah gue, tentang segala hal aneh dan weirdo people yang kita temuin selama hidup di sini. Chatting semaleman dan nyalain internet seharian tanpa takut ada yang protes karena tarif telepon membengkak. Download lagu kurang dari 1 menit dengan koneksi internet yang luar biasa cepat.

Baileys, Heineken, Sherry kebanggaan Regi, dan segala jenis minuman yang dengan gampang dan murahnya bisa didapet di sini. Nonton Sneak Preview setiap Selasa malam bareng Christian. Merencanakan jalan-jalan keliling Belanda dan mencari tiket-tiket murah untuk kunjungan ke negara lain. Pesta-pesta ulang tahun temen sekelas dari berbagai negara, having a drink after a whole crazy day in class. Menanti gugurnya daun kuning, turunnya salju putih, harumnya kuncup bunga yang mulai bermunculan, terbenamnya matahari musim panas yang bertahan lama di ufuk langit.

Teman-teman dalam senang dan sedih. Gelak tawa dan air mata.

And the most important thing, a truly memorable and precious lifetime experience.

Tuesday, September 05, 2006

Rencana, dan Impian

Semenjak berasa lega karna beban" sekolah yang udah berakhir, gue jadi punya banyak waktu luang buat merenung". Hmm..sebenernya, selama ini gue juga banyak merenung sih (baca: melamun), tapi karna masih kebayang" thesis dan kawan"nya, merenungnya jadi kurang maksimal.

Dan topik perenungan paling utama, tentu aja pertanyaan klise: Mau ngapain gue abis ini?

Dari beberapa perbincangan dan e-mail dengan temen" wartawan, sebagian besar menyarankan gue untuk nggak kembali ke dunia pewartawanan. Kenapa? Karna menurut mereka, profesi itu sangat mubazir buat seorang lulusan Master (cieee) seperti gue, setidaknya dari segi gaji, dan mungkin, jenjang karir.

Seorang temen ex wartawan TV yang lagi menuntut ilmu di Inggris malah bilang, "Itu nista banget kali, buat seorang lulusan Master Belanda kaya elo". Waduh...masa sih segitunya?

Jujur, gue emang masih membuka opsi buat melakukan hal" lain di luar dunia jurnalistik. Alasannya, biar lebih buka peluang aja, dan siapa tau, gue menemukan sesuatu yang lebih gue suka. Tapi, hari ini, perasaan gue terusik lagi.

Bermula dari ajakan seorang temen gue, Pamela, yang bekerja di pemerintahan Taiwan dan lagi melakukan riset di Belanda, untuk menghadiri salah satu hearing di International Criminal Court yang ada di kota Den Haag. Gue pikir, okelah, paling nggak gue bisa ngeliat yang namanya hearing di pengadilan internasional itu seperti apa.

Ternyata, hmm..keren, keren. Meskipun nggak terlalu mudeng sama kasus yang lagi dibahas (menyangkut situasi di negara Kongo), tapi gue langsung terkesan gitu pas masuk ke ruang buat visitors, yang dibatasin sama kaca bening dengan ruang sidang. Di deretan depan, ada bangku khusus untuk Pers, yang dipenuhi sama cowok" dan cewek" berpenampilan modis, yang pada lagi sibuk nyatet".

Untuk ngedengerin hearing itu, kita dikasi semacam audio tool gitu, lengkap dengan earphone nya, karena hearingnya dilakuin dalam dua bahasa, Inggris dan Perancis, jadi ada interpreternya gitu. Dan begitu ngikutin jalannya hearing, tanpa sadar gue malah bikin" angle berita, sambil mikir mana yang bakal gue pake seandainya gue disuruh naikin beritanya.

Dan saat itulah...ohh...gue baru menyadari kalo gue sangat kangen sama yang namanya liputan! Masa" nongkrong berjam" di DPR dengerin anggota komisi 1 ngoceh" nggak karuan, contek" an lead berita, laporan di pojokan, colongan ngabur makan siang...Bedanya sama di ICC ini, wartawan DPR sih cuek banget ngampar" di ruang sidang kalo emang kursinya udah kepenuhan, dan curi" makanan kotak punya anggota dewan. Hehehe...

Hummm...jadi, kembali ke dilema gue...Balik ke dunia peliputan? Atau mencoba peruntungan di tempat lain? Seberapa pentingnya sih gaji buat gue? Duh...hidup emang selalu dipenuhi pilihan sulit.

*Mungkin, gue bakal kembali ke impian semula aja, punya peternakan anjing. Senangnya...=)*

Friday, September 01, 2006

Nuhuunnn...

Makasih banget buat semua yang udah support, udah ngedoain, udah ngirim sms, udah telfon bangunin gue malem", udah ngasi komen" penghiburan dan penyemangat di posting sebelumnya...=)

Akhirnya akuw lulus jugaaa....Terbebas dari sistem pendidikan aneh di Belanda, dari dosen" yang suka nggak jelas maunya apa, dari tugas" menumpuk dan thesis yang super duper menyebalkan...

I'm gonna miss all those things...(NEAAAHHHH!!!)

Bandung, here I come!

Monday, August 28, 2006

Menghitung Hari

Three more days to my defence...Damn...And to make it worse, some of my friends got the news from their supervisor to postpone the defence because their works are not good enough..Imagine that! Receiving the bad news less than 1 week before the defence day...And some of them even had booked the ticket to get back to their home country...

So..right now I am just continually checking my inbox, hoping that there is no bad news about my stuff from my supervisor...

Pray for me pleaseeee =)

Wednesday, August 23, 2006

Sneak Preview

Setiap hari Selasa malam, salah satu hal yang gue tunggu-tunggu adalah nonton Sneak Preview di bioskop. Film yang ditayangkan di Sneak Preview adalah film-film yang belum diputar untuk umum di bioskop sini, meski kadang nggak terlalu baru kalau dibandingkan dengan waktu pemutaran perdananya di Hollywood.

Biarpun film yang diputar kebanyakan bukan film-film box office atau mainstream Hollywood, tapi tetep aja, perasaan excited karna nggak tau "what should we expect" adalah hal yang menyenangkan dan bikin gue ketagihan nonton Sneak Preview. Seperti beli kucing dalam karung sebenernya, karena kita nggak bakal tau film apa yang bakal diputer sampai film itu bener-bener mulai main. Tapi berhubung gue punya kartu Pathe Unlimited (semacam kartu pra-bayar yang bisa memungkinkan gue nonton bioskop sepuasnya dengan membayar 17,50 euro per bulan), gue nggak terlalu ngerasa rugi, karna tujuan gue punya kartu itu justru menonton film sebanyak-banyaknya di bioskop.

Selain karena punya kartu Pathe Unlimited, gue baru mulai tertarik nonton Sneak Preview akhir-akhir ini, setelah gue nggak ada kelas lagi setiap hari Selasa (dulu, setiap hari Selasa gue selalu ada kelas sampe jam 9 malem..huhuhu). Beberapa kali kehabisan tiket, malah bikin gue makin penasaran untuk nonton Sneak Preview (secara ruangan yang dipake untuk pemutaran film juga nggak berkapasitas terlalu besar).

Pertama kali gue berhasil dapet tiket untuk nonton Sneak Preview, gue sempet kecewa berat, karena ternyata, di antara sekian banyak film yang akan diputar di bioskop minggu berikutnya, yang terpilih untuk diputar di Sneak Preview adalah film hantu! Dan gue, yang sebenernya adalah pecinta film dan rela nonton film apapun, terpaksa mengakui kalau satu-satunya film yang bikin gue alergi adalah film hantu, atau film setan, atau film horror (Gue belum nonton The Ring sampe sekarang karna masih trauma sama Jelangkung yang bikin gue nggak bisa tidur selama seminggu penuh!).

Di tengah film, emang banyak orang yang akhirnya keluar karna mungkin termasuk kelompok penakut seperti gue, atau justru kelompok yang terlalu pemberani dan menjadikan film hantu bahan tertawaan. Tapi, gue yang selalu mikir "pamali" untuk keluar bioskop di tengah film (betapapun jeleknya film yang diputar), akhirnya memaksakan diri untuk bertahan sampai penghabisan film Fragile itu, sambil dengan setengah hati melihat pemeran Ally McBeal, Calista Flockhart, kejer-kejeran sama hantu yang bergentayangan di rumah sakit tempat dia bekerja sebagai perawat (Mampus banget dehhh).

Tapi minggu berikutnya, gue nggak kapok. Tetep menjadi salah satu pengantri setia di loket bioskop untuk mendapatkan tiket Sneak Preview. Lumayan, kali ini filmnya berjudul Step Up, agak lucu, mengambil tema dansa dan pemainnya pun lumayan ganteng (biarpun ceritanya ABG banget dan agak-agak mirip sama Save The Last Dance-nya Julia Stiles).

Dan hari ini, penantian gue akhirnya terbayar. Film yang diputer, meskipun bukan film terkenal, bener-bener bikin seger gue yang akhir-akhir ini kebanyakan nonton film Hollywood. Brick, judul filmya, bersetting tentang konspirasi mafia drugs di daerah selatan California, yang hebatnya, sebagian besar terdiri dari anak sekolahan. Tapi jangan ngebayangin film ini berbau-bau action dan dipenuhi adegan-adegan ala film gangster , karena penyajiannya yang kental nuansa Noir bener-bener menyegarkan dan beda sama film remaja Hollywood kebanyakan. Apalagi buat yang udah kangen sama Joseph Gordon-Levitt, aktor imut yang dulu pernah bikin cewek ABG kesengsem berat di film 10 Things I Hate About You (yang lagi-lagi, menampilkan Julia Stiles), sekarang ternyata udah menjelma jadi aktor berlevel film independen.

Anyway, nonton Sneak Preview sepertinya bakal jadi salah satu hal yang bakal gue kangenin dari kehidupan gue di Belanda. Kecuali, tentunya, kalo modelan kaya gini udah ada juga di Indonesia. Atau jangan-jangan udah ada dan gue yang ketinggalan jaman? =) Then, I was really wasting your time reading this posting...

Saturday, August 19, 2006

Tentang Indonesia

Terakhir kali gue ikut upacara bendera untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia adalah tujuh tahun yang lalu, dengan seragam putih hitam dan atribut ospek, diiringi tatapan "haus darah" para senior di kampus Unpar.

Dan kemarin, karena diajak beberapa teman yang entah kenapa lagi kesambit semangat nasionalisme berlebihan, akhirnya gue kembali ke lapangan upacara bendera, kali ini di Wisma Duta KBRI, dengan suasana kelewat santai karena diselingi foto" bareng, dengan kostum warna merah, dan tanpa pembacaan teks Pancasila (I wonder why?).

Meskipun suasana upacaranya nggak seserius upacara bendera waktu jaman SD (yang dilakuin setiap Senin pagi!), gue cukup kaget juga karena ternyata gue masih hafal mati lirik lagu mengheningkan cipta (secara dulu gue anggota paduan suara di sekolah) dan pembukaan UUD 45 (Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan...).

Waks! Hasil doktrinasi bertahun-tahun dari mulai seragam putih merah sampai putih abu-abu ternyata nggak sia-sia. Gue nggak tau, apakah anak SD jaman sekarang masih wajib hafal mati butir-butir Pancasila dan pasal-pasal dalam UUD 45. Dan gue juga nggak tau, apakah PPKN yang dulunya bertitel PMP sekarang udah diganti dengan akronim lain, atau bahkan udah dihapuskan dari kurikulum sekolah. Tapi gue pikir, kebegoan kurikulum sekolah jaman dulu dengan segala "pemaksaan nasionalisme" nya itu adalah bagian dari diri gue, generasi gue, dan kenangan gue sama segala hal tentang tanah air.

Seorang teman pernah bilang, dia merasa sebagai bagian yang terbuang di Indonesia, dan gue masih inget ucapannya: "Gue lebih baik dijajah di negara orang, oleh bangsa lain, daripada dijajah di negeri sendiri, oleh bangsa sendiri".

Seorang teman lain pernah juga berargumen tentang kecintaan gue sama tanah air: "Kamu kangen sama Indonesia karena kamu termasuk salah satu orang beruntung yang punya segala fasilitas enak di sana. Kalo misalnya kamu dateng dari keluarga yang nggak beruntung misalnya, apa kamu masih pengen pulang? Apa Kopaja buat kamu tetep punya nilai romantis dan sentimentil?"

Dan gue jadi berpikir. Gue nggak tau, apa gara" pendidikan kebangsaan yang terlalu berlebihan di jaman gue, atau keberuntungan gue yang memiliki semua yang gue sayang di Indonesia, yang jelas, pulang ataupun enggak, gue tetep cinta tanah air gue, dengan segala kesemrawutan dan kekacauannya.

Saturday, July 29, 2006

Musim Panas, Thesis, dan Dante

Setelah musim dingin selesai, gue pikir penderitaan paling berat hidup di Belanda sudah lewat, dengan angin dingin menusuk-nusuk dan suhu yang kadang bisa mencapai minus. Ternyata, perkiraan gue salah, karena musim panas tidak kalah sadisnya. Panas matahari yang keterlaluan teriknya, suhu yang bisa mencapai lebih dari 30 derajat, dan alergi menyebalkan yang mulai menyerang kulit gue. Arghhhh....!

Dan efek sampingnya, gue jadi super males ke mana-mana, dan lebih memilih untuk diem di dalem rumah yang memang lumayan adem, dan sepertinya lebih bersahabat dengan cuaca di musim panas dibanding tempat lainnya.

Jadi....mestinya nggak ada alesan buat gue untuk terus menunda thesis, yang deadlinenya tinggal 4 hari lagi. Gue hampir selalu ada di rumah, nggak tergoda untuk jalan ke centrum, makan di Wing Kee, bahkan pergi ke pantai. Gue di rumah. Di depan komputer. Seharusnya.

Tapi...Godaan memang ada di mana-mana, bahkan di rumah sendiri. Dan kali ini, datang dalam bentuk novel berjudul The Dante Club. Buku super seru yang kisahnya berkisar tentang pembunuhan berantai yang menjiplak puisi Inferno karangan Dante, pujangga Italia yang menulis perjalanannya ke neraka dan melihat hukuman para pendosa. Dengan setting di tahun 1800-an, dan gaya bercerita yang detil, buku ini sedikit mengingatkan gue dengan film Se7en-nya Brad Pitt yang diramu dengan setting lebih modern.

Dan entah kenapa, malam tadi, salah satu channel di TV malah memutar film Se7en yang sudah bertahun-tahun nggak pernah gue tonton. Thesis gue pun, tertunda lagi... (Untung, yang masih ketinggalan hanyalah Appendix dan pritilan-pritilannya, setidaknya gue nggak terlalu merasa bersalah..hehehe).

Tapi baca buku The Dante Club dan nonton film Se7en jadi bikin gue berpikir, apa rasanya ya, menghakimi dosa orang dengan membuat dosa baru? Bukan hal yang asing sebetulnya, bahkan di kehidupan kita sekarang ini. Perang atas nama negara, teror dengan latar belakang agama, dan entah alasan apa lagi, seakan-akan menghalalkan satu dosa manusia yang sangat mendasar: membunuh. Serem kalo dipikir-pikir, betapa manusia makin hari makin bertindak sebagai Tuhan untuk sesamanya.

Dan memang,untuk sekarang, mungkin lebih baik gue kembali ke thesis gue =)

Tuesday, July 04, 2006

Paris, dan Da Vinci Code

Sekitar dua minggu yang lalu, gue berkunjung ke Paris. Hanya tiga hari, berangkat hari Jumat pagi naik Thallys, pulang hari Minggu malam naik kereta yang sama. Jujur, tujuan utama gue cuman satu, singgah di Louvre, museum super besar yang namanya makin berkibar setelah demam Da Vinci Code.

Gue berusaha sebisa mungkin untuk menikmati suasana yang ditawarkan Paris. Mulai dari menapaki gereja Notre Dame yang bikin gue teringat sama film Disney Hunchback of Notredame, foto-foto dari atas monumen Arc de Triomphe, menyusuri Les-Champs Elysees yang selalu padat, mengagumi keunikan bangunan Site du Centre Pompidou yang sarat dengan aroma seni, tidur-tiduran santai di taman dekat Plaza Concorde, menanti lampu menyala di Menara Eiffel,sampai mendaki bukit menuju gereja berkubah Sacré Coeur. Semuanya menyenangkan. Tapi tetap, ada yang mengganjal.

Rasanya berbeda dengan waktu gue singgah di Barcelona, misalnya. Di mana gue langsung bisa jatuh hati dengan kota di negara matador itu. Paris, bagi gue terlalu...komersil. Semuanya berbau-bau turis, terlepas dari semua acara TV yang didubbing Bahasa Perancis dan minimnya toko buku berbahasa Inggris.

Dan yang paling terasa jelas adalah betapa besarnya fenomena Da Vinci Code di kota yang katanya adalah salah satu kota teromantis di seluruh dunia ini. Memang, gue salah satu penggemar berat karya fenomenalnya Dan Brown itu (biarpun cukup kecewa dengan film layar lebarnya). Dan memang benar, salah satu tujuan utama gue mengunjungi Paris adalah untuk mengubek-ubek Louvre yang katanya adalah tempat penyimpanan The Holy Grail yang bikin heboh itu. Tapi...waktu dihadapkan kenyataan bahwa Paris sudah terlalu terkontaminasi dengan Da Vinci Code, kok gue jadi ilfil ya?

Ada Walking Tour yang menyusuri tempat" Robert Langdon berpetualang di kota Paris. Ada audio tour di Louvre yang narasinya dibawakan oleh Jean Reno (salah satu aktor di film Da Vinci Code).Dan bahkan, saat gue menyempatkan diri mampir di Gereja San Sulpice (yang juga jadi salah satu setting novelnya Dan Brown), ada artikel-artikel tentang Da Vinci Code dipasang di sana, tepat di sebelah roseline yang terkenal itu.

Hmmm...anyway. I really enjoyed my stay in Paris. But for me, Paris is just...another city. Not the city of love, or the city of romance. Or even the city of The Holy Grail. It's just another city. And maybe I didn't really like it, or fell in love with it. But I will remember my times spent there. And the memories I made there. And just hoping that someday, I will return =)

Friday, June 09, 2006

Super Indo

Sejak tinggal di Belanda, gue semakin sadar kalau ternyata banyak banget orang Indonesia di negara ex penjajah kita ini. Mulai dari pelajar yang niatnya murni untuk sekolah, perempuan yang nikah sama laki-laki Belanda dan membentuk keluarga disini, sampai pekerja ilegal yang sebenernya nggak punya ijin kerja resmi tapi nekat berjuang demi sesuap nasi (atau dengan kata lain, demi menumpuk Euro).

Dari sekian banyak jenis orang-orang Indonesia yang ada di sini, gue paling tertarik sama anak-anak Indo. Anak-anak yang punya tampang sama seperti anak-anak Indonesia pada umumnya, tapi nyaris nggak ada kesamaan dalam hal lainnya. Mereka, entah memang punya darah campuran Belanda dari orang tuanya, atau sudah sejak lahir ada di Belanda, rata-rata nggak bisa berbahasa Indonesia. Bahasa yang mereka kenal adalah Bahasa Belanda, dan mungkin hanya segelintir dari mereka yang masih familiar dengan budaya Indonesia.

Beberapa dari mereka masih menyempatkan waktu untuk "pulang" ke Indonesia dalam jangka waktu tertentu, tapi nggak semua peduli dengan isu-isu hangat di Indonesia seperti kenaikan BBM atau heboh RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi kemarin ini.

Pertama kali mengenal kelompok ini, gue sempet sebel setengah mati. Mereka nggak pernah ngomong bahasa Indonesia, biarpun lagi ngumpul sama anak Indonesia yang nggak bisa berbahasa Belanda, dan membentuk komunitas sendiri yang kadang-kadang lebih Belanda dari orang Belanda pada umumnya. Dan gue, tanpa sadar sering meremehkan mereka. Tau apa mereka soal kondisi Indonesia, kebobrokan yang ada dan rasanya hidup di negara yang nggak pernah lepas dari masalah setiap harinya. Negara yang masih ngutang ke mana-mana, sementara musibah dan bencana datang silih berganti. Tau apa mereka soal Maliq n The Essentials, geliat film Indonesia, megap-megapnya PSSI, dan semua manis pahitnya menjadi penduduk Indonesia.

Dan begitulah. Gue mulai bersikap apriori. Sikap yang sebenernya sangat gue benci.

Sampai akhirnya weekend kemarin, gue pergi ke Groningen, sebuah kota kecil di sebelah utara Belanda. Perjalanan 3 jam naik kereta gue bela-belain demi dateng ke satu event olah raga yang melibatkan seluruh student Indonesia di Belanda. Terlepas dari serunya pertandingan, habisnya suara gue karena sibuk menyuport tim kota Den Haag, dan gelar juara umum yang nggak disangka jatuh ke tangan kita, ada satu hal yang bikin gue miris.

Tim bola kota Deventer, yang emang kualitasnya di atas rata-rata, berhasil masuk ke final. Tapi menjelang pertarungan puncak itu, masalah muncul. Tim mereka diprotes keras oleh peserta lainnya karena mayoritas diisi anak-anak Indo yang hanya berkomunikasi dengan bahasa Belanda. Konflik pun terjadi, tim Deventer nyaris mengundurkan diri kalau saja nggak ada segelintir anak-anak yang peduli dan ikut memperjuangkan hak mereka ke panitia.

Dan sepanjang final berlangsung, teriakan dari kubu anti tim Indo ini semakin menggebu-gebu. "Hidup Indonesia!!" adalah satu teriakan menjurus provokasi yang banyak terdengar dari para suporter di pinggir lapangan.

Tiba-tiba, semua prejudice gue sama anak-anak Indo itu menguap. Mereka sama seperti gue. Pengen diterima, butuh komunitas. Dan mungkin lebih sulit buat mereka, yang sering terkesan masih bingung sama identitas mereka sendiri. Yang punya kulit gelap seperti gue tapi nggak bisa bahasa Indonesia, yang bangga banget pake kaos bertulisan "Super Indo", meskipun pertalian mereka sama Indonesia sangat-sangatlah tipis.

Dan gue bersyukur, setidaknya gue tau gue belong di mana, meskipun gue pantas merasa malu, dengan rasa "sok nasionalis" gue selama ini yang ternyata hanyalah semu.

Monday, May 15, 2006

Future Talk

It's like 4 months to my graduation day (if everything is going smoothly), and one of the most popular topics nowadays between me and my foreign classmates is about "going home...or stay?"

For me, the question is rethorical. Of course I will go home! Back to my beloved country...and from my so-called-idealistic-point-of-view, "Do something for Indonesia".

But true, this thought is getting more and more vague. My Latin American friends said to me to at least consider staying here, try to find a job...or a man! Hehehe...They remind me of all the great possibilities if I stay here. More money, better future, and as my Honduran friend said "You can do something for your country better if you had more experiences here."

My friend from Nicaragua even try to find a woman who wants to pretend being his fiancee, to make him easier getting the residence permit here.Talking about effort!

Okay, try not to think about the difficulties first, about my limitation in Dutch language, about the priority they have for the European Union citizens, and about the small opportunities of finding the job I really want here.

Think first about "Do I really want to stay here?" In the country that has freaking system for almost everything, from the education system to the gas and electricity payment system...In the country where you could really know the meaning of "bad weather"...In the country that will cost you a lot just to find a proper place to stay...

Anyway...Maybe it's not about idealistic reason anymore..Maybe the reason why I want to go back is simple. The familiarity of everything, the comfort I have around my friends and family. Or in other words, the crazy, chaotic place I called home..

Friday, April 21, 2006

Aslan is Near!

Begitu bangun pagi ini, yang pertama gue denger adalah suara burung berkicau di luar jendela kamar gue. Penasaran, gue buka jendela kamar, dan emang bener, ada suara-suara burung yang rame berceloteh.

Begitu keluar rumah, yang pertama gue rasain adalah hangatnya sinar matahari...Dan insting pertama gue adalah mau langsung buka jaket dan nekat jalan hanya dengan kaos lengan panjang. Untung gue masih waras, dan akhirnya memaksakan diri untuk terus pake jaket (hmm..mungkin...kalo situasi ini bertahan terus, gue bener" bisa mempensiunkan jaket tebel gue dalam minggu" ini...).

Begitu gue nyusurin sepanjang jalan depan rumah, yang gue perhatiin adalah pohon-pohon yang mulai menampakkan warnanya lewat kuncup" yang mulai mengembang. Hijau. Dan gue jadi inget pemandangan indah sepanjang jalan dari Den Haag ke Hilversum kemarin, yang gue liat dari balik jendela kereta. Hamparan bunga tulip beraneka warna, dari mulai ungu, merah muda, pink sampai kuning..You name it...Serasa ngeliat permadani warna warni terbentang luas...

Dan gue, yang lagi keranjingan baca Chronicles of Narnia, jadi berasa ada di Narnia, saat Aslan mulai mendekat...=) Spring, here he comes...

Friday, March 17, 2006

From Barcelona with Luv



Minggu lalu gue baru ikut program workshop dari sekolah di Madrid. Dan dengan semangatnya, gue langsung memperpanjang beberapa hari untuk jalan" ke Barcelona.

And immediately I just fell in love with the city...Jalan"nya, bangunan dan gedung"nya, cafe"nya, taman dan air mancurnya, matahari dan suhu 18 derajatnya, orang" yang udah lalu lalang make tanktop, aroma udara dari laut, tapas yang dijual di mana", artis" yang berkeliaran dengan kostum aneh di La Ramblas...I love almost everything about this city...Gue bahkan bisa mentolerir cowok aneh yang satu kamar sama gue di hostel, kemampuan bahasa inggris orang" spanyol yang terbatas, harga makanan dan suvenir yang hampir semua mahal, dan copet yang banyak banget di mana"...

And suddenly, I missed my mom soooo much....Gue inget obsesinya sebagai seorang arsitek buat dateng ke kota ini, betapa ngefansnya dia sama Gaudi dan bangunan"nya, betapa dia ngotot kalo "Jalan di Barcelona itu salah satu yang terbaik di dunia lho", dan titipan"nya supaya gue foto" sebanyak mungkin sudut kota Barcelona...

Dan sambil merasakan sinar matahari yang hangat di atas kepala gue, menyusuri Passeig de Gracia dan lewat di depan Cassa Milla, gue berjanji dalam hati, "Someday, we're gonna walk together in this street, Mum..."

Thursday, February 23, 2006

Part of My Dreams...





Gue, seperti juga setiap orang di dunia, punya banyak mimpi...Dari mulai yang standar dan mulia seperti lulus kuliah dengan nilai bagus, bisa ikut ngajar keliling Indonesia, membahagiakan orang tua, dan punya rumah di tepi pantai, sampai yang sedikit gila seperti jalan" keliling dunia, bisa ketemu sama orlando bloom dan punya peternakan anjing (huehueheuheu...it's true!)

Kemaren, salah satu mimpi gue yang masuk kategori "mengkhayal", sempet jadi kenyataan. Nonton liga champions di stadion ArenA...

Gara"nya juga kebetulan. Seorang temen gue tiba" nelfon dan ngabarin kalo dia punya satu tiket lebih karena temennya ada yang mendadak batal nonton. Dan gue, serasa dapet durian runtuh, langsung menyambut gembira ajakannya buat beli tiket nganggur itu.

Biarpun sebelumnya gue udah pernah ke stadion arena dan ikut tur keliling disana, rasanya tetep aja beda banget. Puluhan ribu orang menuhin stadion, lebih dari 90% nya adalah pendukung ajax yang membawa berbagai macam atribut, mulai dari bendera sampai spanduk super besar.

Lebih seru lagi, gue nonton sama rombongan dari Italia, tapi alih" duduk di daerah suporter Intermilan, kita malah kebagian tempat di tengah para pendukung Ajax. Yang ada, hanya bisa menahan diri setiap kali para penyerang Inter melakukan serangan" berbahaya atau justru mengeluh dalam hati waktu pemain Ajax mulai memberi umpan" bagus. Itupun masih harus menerima nasib setiap kali ada suporter Ajax yang lempar" sesuatu ke arah kita, mungkin karena familiar dengan raut muka khas italia yang menguasai deretan gue.

Anyway, it was a good game. Biarpun hasilnya seri, tapi permainan Ajax nggak jelek" amat kaya biasanya. Inter yang pas babak satu masih melempem, bisa menyamakan kedudukan dari 2-0 jadi 2-2. Dan yang pasti, berada beberapa meter saja dari Luis Figo tentu beda rasanya dibanding hanya menonton di televisi...

Not every dream is impossible though...=)

Wednesday, February 15, 2006

Salju Yang Menjauh

Selama tinggal di negeri kincir yang berangin dingin dan menusuk ini, gue selalu harap" cemas menunggu salju turun.

Salju, butiran" es warna putih seperti kapas, yang jatuh dari langit sampai membentuk tumpukan lembut di tanah...Itu yang selalu gue bayangin, mungkin terlalu dipengaruhi sama film" Hollywood bersetting natal.

Hari demi hari, sampai suhu udah hampir mencapai minus, yang namanya salju tetep aja nggak turun". Bikin gue sempet berpikir, jangan" salju di negeri 4 musim cuman mitos belaka. Buktinya??? Mana???

Sampai akhirnya, natal udah lewat, dan harapan gue mulai menipis, yang namanya salju akhirnya turun juga. Semua impian masa kecil gue yang terpendam akhirnya keluar semua. Perang bola salju, lari"di bawah butiran tipis selembut kapas, dan bahkan buka mulut lebar" buat ngerasain dinginnya es di tenggorokan (sumpah, gue juga nggak bangga kalo harus inget ini, hehe).

Dan setelah itu, salju pun lenyap. Serasa mimpi, Den Haag kembali lagi seperti semula. Dingin, mendung dan berangin...Tanpa ada tanda" bakal turun butiran kapas dari langit. Apa gue emang cuman ditakdirin liat salju sekali aja ya?

Dan kini, hujan turun terus menerus, angin semakin menusuk, langit berwarna kelabu dan matahari tenggelam semakin lambat...Tanda" datangnya musim semi....Salju gue pun, semakin manjauh...

*Buat pencinta senja di Jakarta....Kalau ada salju lagi, gue kirim kesana yah...=)

Friday, February 03, 2006

Rumah Yang Yahud

Dua kamar tidur,
Satu ruang tengah merangkap dapur,
Satu kamar mandi,
Sepetak kebun belakang kecil,
Sebuah jendela depan menyerupai etalase,
Sebentang sungai di bagian depan,
Dan dua orang perempuan di perantauan...

Berharap bisa menemukan rumah sementara,
Sambil menghitung hari sebelum bisa pulang
Ke rumah yang sesungguhnya...

*Baru pindahan nih...Semoga rumah yang baru bawa semangat belajar yang baru buat gue...=)Dan terima kasih untuk semua pihak yang udah bantu" pindahan ini...Dari mulai nyetir mobil box gede (padahal yang kita pesen hanya mobil van), ngangkut-ngangkut barang sampe bersih-bersih...Luv u all!!!!*

Tuesday, January 17, 2006

Becoming a Legal Alien

Today I went to the Immigration Office and finally taking my ID Card..After a long and winding process..With lots of worrying, complaining, cursing the Dutch government system, wasting time and also money...At last..I become a legal alien in this freaking country!

But still..after 4 months dealing with the Dutch..there are things that I could not understand..or maybe..do not want to understand.

The way people in public services treated clients..The time wasted for waiting my burger's been done in McD (and they called it fast food...why?)..The high prices for almost everything..The after midnite programs in TV (naked girls, girls with no clothes, girls and even old women looking for dates...goshhh)..The no-rice-and-sambal in KFC (and I always bring my own rice and sambal if I go there...)..The so-called chilli sauce (with no chilli taste at all)..The long for finding bubur ayam after taking a walk on Sunday morning (and found patat instead...)..And the everlasting homesick...

But anyway...I try not to think too much about those things..Because there are such things that I wont trade with anything else..The warme chocolade melk met slagroom..The cold and white snow..The late night laugh and gossip..The exciting new places..The baileys-heineken marathon..The cool and nice city..The friends for better or worse..And the experience of my lifetime...

I keep thank God for giving me this chance..=)