Showing posts with label school. Show all posts
Showing posts with label school. Show all posts

Wednesday, April 10, 2013

Where Are They Now?

Kalau menilik jalan hidup gue, kadang gue suka pusing sendiri... Kok bisa ya end up di pekerjaan yang sekarang, menjadi orang yang seperti sekarang, dan punya passion seperti sekarang? Karena sebetulnya apa yang gue lakukan saat ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan yang gue pelajari saat SMA dan kuliah dulu. Bahkan kemarin, waktu chat di Whastapp sama sahabat gue sejak SMA yang sekarang tinggal di Middle East, kita sempat membahas betapa nggak bergunanya ilmu fisika dan kimia yang dulu mati-matian kita pelajari supaya bisa masuk jurusan IPA :)

Jujur, dulu gue masuk IPA karena semua keluarga gue berlatar belakang teknik, mulai dari nyokap yang dosen arsitektur, bokap yang kontraktor sipil, dan abang gue yang kuliah Teknik Industri. Begitupun saat gue lulus SMA dan masuk kuliah, pemikiran "sayang kan, udah masuk IPA" yang mendorong gue untuk memilih Teknik Industri. Ahhh...what do you expect from a 18 year old kid? I didn't even know what I want for lunch back then - let alone what my future would hold.

Anyway, masa-masa kuliah mungkin menjadi masa-masa yang paling menentukan buat gue karena di sanalah gue menyadari kalau dunia teknik bukan untuk gue. And voila, gue langsung terjun ke dunia jurnalistik, tanpa punya background sedikitpun tentang dunia media. Lanjut kuliah lagi di bidang komunikasi, sampai akhirnya nyasar-nyasar ke dunia pendidikan saat ini. And thankfully I love what I do. Tapi gue nggak menyesal sepenuhnya lho masuk jurusan Teknik. Karena setelah digembleng dengan angka dan logika selama 4 tahun lebih membuat gue lebih mudah berpikir secara sistematis dan logis. Dan itu perlu banget di kerjaan yang berhubungan dengan orang-orang seperti yang gue lakukan sekarang.

Anyway, sebenarnya yang mau gue bahas di sini bukan tentang hidup gue sih (zzzz). Justru gue mau menilik di mana sih temen-temen gue semasa kuliah di Teknik dulu? Apa emang semuanya jadi insinyur teladan ala-ala si Doel? Atau meninggalkan dunia teknik sejauh mungkin seperti yang gue lakukan?

Salah seorang teman main gue dulu, yang sama-sama malesnya ngerjain tugas kuliah berbau teknik, sekarang ada yang sudah jadi produser di sebuah stasiun TV swasta, menggawangi acara talkshow yang cukup beken di tanah air. Yang lucu, temen gue ini memang dari dulu seneng terlibat dalam kepanitiaan, kita malah pernah bareng jadi pengurus himpunan, dan dia selalu kebagian memegang divisi yang butuh kreativitas.

Ada lagi temen gue yang dulu pernah bareng nge-side job jadi wedding singer, akhirnya menekuni dunia ini dengan serius bersama suaminya (yang juga alumni jurusan TI). Setiap weekend sepertinya acara mereka full dengan job-job di kawinan berbagai kota. Way to go guys!

Sebaliknya, ada juga salah seorang teman gue yang lumayan deket, yang dari kuliah selaluuuu aja mengungkapkan ide-idenya yang idealis. Waktu gue memutuskan terjun jadi jurnalis selulus kuliah, dia salah satu suporter setia gue, dan selalu bilang kalau "Gue sirik banget sama loe, jadi jurnalis itu salah satu cita-cita gue dari dulu". And I was like "Ok, so why didn't you do it?" Dan dia jawab, one day. Tapi ternyata sampai hari ini, dia malah terdampar di salah satu perusahaan minyak asing, dan sepertinya betah banget di sana :)

Banyak juga temen-temen kuliah dulu yang akhirnya membuka butik atau online shop,  ada yang jadi guru bahkan kepala sekolah di sebuah SD Nasional Plus, ada juga yang akhirnya menetap di luar negeri karena "ikut suami". Tapi ternyata banyak juga yang masih tetap setia dengan ilmu-ilmu tekniknya. Bekerja di pabrik mobil, perusahaan konsultan, industri rokok atau kelapa sawit, juga meniti karier di bank. Dan memang, dulu banyak yang bilang kalau Teknik Industri itu ilmu "banci" - dibilang full teknik juga engga, karena kita banyak belajar ilmu manajemen dan keuangan. Tapi dibilang pure management juga nggak, karena kita cuma tau lapis luarnya doang.

Tapi gue rasa apapun jalan hidup yang ditempuh gue dan temen-temen gue itu, sedikit banyak masa-masa menuntut ilmu di Teknik Industri cukup membantu pembentukan masa depan kita. At least, selain dari mata kuliahnya, juga pergaulan dan kegiatan di luar ruang kelas. Buat gue pribadi, masa-masa aktif di himpunan, jadi panitia ini itu, nulis di buletin kampus, atau jadi asisten praktikum di lab, semuanya punya peranan tersendiri sampai gue akhirnya berjalan di jalur yang sekarang ini.

Tapi-tapi kalo ditanya, misalnya boleh ngulang lagi kuliah S1, masih mau nggak masuk TI? Jawabannya positif: enggak! Hihihi...Kemungkinan gue akan mengambil Media Studies, atau Sastra Inggris, atau International Relations/International Education. But probably I won't be satisfied either! Emang nothing's perfect sih ya, termasuk arranging for your future :)






Monday, March 18, 2013

Yay or Nay?

1. Religious schools
Is it better to enroll your kids in religious schools instead of some international/universal (non religious) schools? I studied in Christian and Catholic schools all my life, and I was thinking to do something different with my son, giving him different environment. But turned out, Christian and Catholic schools are the ones that will accept students who were born in odd months like October or November (other schools suggest us to wait for another year). So I guess I will have to reconsider my options. Strong based of religions might be good, but I would also like my kid to have more diverse environment, and know many kind of people. Hmmm..dilemma, dilemma.

2. Being friends with your ex(es)
Is this something that people do because they want other people see them as the "cool ones"? Oh yeah, we hung out together last night. Me, my husband, my ex and his new girlfriend. Is it true, that you could forget everything that has happened in the past and start a new kind of relationship without any baggage left behind? From boyfriend to bestfriend, is it possible?

3. Having another kid
Yep.. this has been a dilemma for quite some time now. I have lost count of how many people asking me the sacred question "Jadi kapan nambah lagi?" Because hey, who said that having more than one kid (or, having a kid at all) is mandatory? It's a choice. But sure, lots of great things coming from having more than a child. The more, the merrier. I have known a US Professor who said to me once, "The best thing you can give your kid is a sibling". Awww...really??

4. Getting a PhD
Is PhD for everyone? I admire my mom who could still obtain a PhD in her 50s. Even me, in my 30s, doesn't have that much energy! Well, I had my master's degree and it is quite an accomplishment for me. But yeah, sometimes I was wondering am I a PhD material? I'd rather do another master's than plunge into 4 or 5 years of research. I always thought myself as a more horizontal person than a vertical. I got bored easily, I love to do many different things. But still, a dreamy cloud of PhD still hanging right there close to my head.

5. Living far from family
This is my neverending dilemma. I would really love to live in another place right now, having a whole new adventure. But to think of going away from my big, fat, chaotic family, had always made me sad. It scared me to death if I have to receive a bad news about my family when I am faraway from home. I just got back from Bangkok the other day for a conference. And I remember how bad I felt when I heard that my Dad was hospitalized when I was away. It broke my heart to think that something could happen when I was not there - although of course anything could really happen anytime. But still.

So what do you think of my dilemmas? Are there more yays than nays?


Friday, September 01, 2006

Nuhuunnn...

Makasih banget buat semua yang udah support, udah ngedoain, udah ngirim sms, udah telfon bangunin gue malem", udah ngasi komen" penghiburan dan penyemangat di posting sebelumnya...=)

Akhirnya akuw lulus jugaaa....Terbebas dari sistem pendidikan aneh di Belanda, dari dosen" yang suka nggak jelas maunya apa, dari tugas" menumpuk dan thesis yang super duper menyebalkan...

I'm gonna miss all those things...(NEAAAHHHH!!!)

Bandung, here I come!

Monday, August 28, 2006

Menghitung Hari

Three more days to my defence...Damn...And to make it worse, some of my friends got the news from their supervisor to postpone the defence because their works are not good enough..Imagine that! Receiving the bad news less than 1 week before the defence day...And some of them even had booked the ticket to get back to their home country...

So..right now I am just continually checking my inbox, hoping that there is no bad news about my stuff from my supervisor...

Pray for me pleaseeee =)

Tuesday, August 08, 2006

Agen Siluman dan Bisnis Sekolah: Ketika Pendidikan Diperdagangkan

Gue dateng ke Belanda lewat bantuan sebuah organisasi yang menamakan dirinya "agen representatif sekolah". Gue memilih sekolah gue yang sekarang setelah menghadiri pameran pendidikan yang diselenggarakan oleh NEC (Netherlands Education Centre), badan resmi pendidikan Belanda yang salah satu cabangnya ada di Jakarta.

Ada beberapa pilihan sekolah yang menarik hati gue saat itu, meskipun pilihan programnya tetap berkisar di bidang komunikasi dan media. Akhirnya, karena salah satu sekolah memiliki "agen representatif" di Jakarta, dan proses pendaftaran serta tetek bengeknya (termasuk mengurus akte kelahiran dan visa di kedutaan Belanda) lebih cepat dan ringkas, gue pun resmi menjatuhkan pilihan di sekolah gue yang sekarang. Tentu saja setelah menilik dan menimbang faktor lainnya, seperti jenis program yang ditawarkan, lamanya studi, dan biaya yang harus dikeluarkan.

Dan jujur aja, entah karena ekspektasi gue terlalu berlebihan, atau memang si sekolah dan "agen representatifnya" tidak memberikan informasi yang akurat dan lengkap, banyak hal yang ternyata berada di luar dugaan gue ketika gue menjalani hari-hari pertama di bangku kuliah. Sistem pendidikan Belanda yang ternyata sangat-sangat berbeda dengan Indonesia (ataupun sistem pendidikan internasional pada umumnya), adanya pemisahan antara University dan University of Profesional Education (atau yang umum disebut Hogeschool), dan banyak hal lain yang seharusnya sih, merupakan tugas si "agen representatif" tadi untuk memberi informasi pada calon student yang akan berangkat menuntut ilmu.

Banyak hal yang menyebalkan di dunia ini, tapi salah satu hal paling kejam menurut gue adalah menjadikan pendidikan sebagai bisnis, dan memperlakukan calon pelajar yang akan menuntut ilmu tak lebih sebagai konsumen. Kenapa? Karena pendidikan itu mempengaruhi masa depan seseorang. Kasus gue mungkin nggak terlalu parah, karena setidaknya gue masih bisa dapet ilmu selama gue studi di sini, meskipun mungkin kadarnya di bawah harapan yang udah gue pasang sebelumnya. Tapi, agen-agen representatif tadi merugikan banyak orang selain gue. Gue tahu seorang pelajar asal Indonesia yang mengeluh nggak bisa mengerti apapun di kelasnya karena bahasa Inggrisnya yang nggak memadai, atau pelajar Cina teman sekelas gue yang bahkan jadi tidak lulus karena reportnya yang nggak bisa dimengerti oleh sang dosen.

Dan orang-orang seperti mereka, kebanyakan hanya mengandalkan agen-agen representatif untuk menjamin mereka masuk ke sekolah yang bersangkutan. Sementara mungkin kualitas mereka sendiri nggak memadai untuk menjadi siswa di sekolah itu. Apakah pelajar hanya dihargai setara dengan calon pembeli? Yang rela membayar berapapun asal bisa masuk ke sekolah yang diinginkan? Sementara itu, sebagian siswa yang lain justru "terperangkap" masuk ke salah satu sekolah karena agen representatif tadi nggak memberi informasi yang memadai, bahkan cenderung menyesatkan.

Mungkin ini hanya salah satu cara sekolah untuk menarik murid sebanyak-banyaknya. Dan gue yakin, untuk sekolah dengan kualifikasi tinggi yang nggak mengandalkan pemasukan dari jumlah murid, kondisi ini nggak mungkin terjadi. Tapi, masa sih orang-orang yang berkecimpung di dunia pendidikan itu nggak punya hati nurani? Masa sih, udah nggak ada lahan bisnis lain, sehingga bahkan pendidikan pun jadi diperdagangkan?

(Thanks buat Mbak Niken dari NEC untuk obrolan sorenya yang mencerahkan...)

Saturday, July 29, 2006

Musim Panas, Thesis, dan Dante

Setelah musim dingin selesai, gue pikir penderitaan paling berat hidup di Belanda sudah lewat, dengan angin dingin menusuk-nusuk dan suhu yang kadang bisa mencapai minus. Ternyata, perkiraan gue salah, karena musim panas tidak kalah sadisnya. Panas matahari yang keterlaluan teriknya, suhu yang bisa mencapai lebih dari 30 derajat, dan alergi menyebalkan yang mulai menyerang kulit gue. Arghhhh....!

Dan efek sampingnya, gue jadi super males ke mana-mana, dan lebih memilih untuk diem di dalem rumah yang memang lumayan adem, dan sepertinya lebih bersahabat dengan cuaca di musim panas dibanding tempat lainnya.

Jadi....mestinya nggak ada alesan buat gue untuk terus menunda thesis, yang deadlinenya tinggal 4 hari lagi. Gue hampir selalu ada di rumah, nggak tergoda untuk jalan ke centrum, makan di Wing Kee, bahkan pergi ke pantai. Gue di rumah. Di depan komputer. Seharusnya.

Tapi...Godaan memang ada di mana-mana, bahkan di rumah sendiri. Dan kali ini, datang dalam bentuk novel berjudul The Dante Club. Buku super seru yang kisahnya berkisar tentang pembunuhan berantai yang menjiplak puisi Inferno karangan Dante, pujangga Italia yang menulis perjalanannya ke neraka dan melihat hukuman para pendosa. Dengan setting di tahun 1800-an, dan gaya bercerita yang detil, buku ini sedikit mengingatkan gue dengan film Se7en-nya Brad Pitt yang diramu dengan setting lebih modern.

Dan entah kenapa, malam tadi, salah satu channel di TV malah memutar film Se7en yang sudah bertahun-tahun nggak pernah gue tonton. Thesis gue pun, tertunda lagi... (Untung, yang masih ketinggalan hanyalah Appendix dan pritilan-pritilannya, setidaknya gue nggak terlalu merasa bersalah..hehehe).

Tapi baca buku The Dante Club dan nonton film Se7en jadi bikin gue berpikir, apa rasanya ya, menghakimi dosa orang dengan membuat dosa baru? Bukan hal yang asing sebetulnya, bahkan di kehidupan kita sekarang ini. Perang atas nama negara, teror dengan latar belakang agama, dan entah alasan apa lagi, seakan-akan menghalalkan satu dosa manusia yang sangat mendasar: membunuh. Serem kalo dipikir-pikir, betapa manusia makin hari makin bertindak sebagai Tuhan untuk sesamanya.

Dan memang,untuk sekarang, mungkin lebih baik gue kembali ke thesis gue =)

Tuesday, July 18, 2006

Kangen

Somehow I really missed my home these days. Silly of course, because it's only two months until the day I'll go back to Indonesia.

But what can I say? I missed my house and the crazy dogs, I missed my Mom yelling at me because I don't want to clean my room, I missed talking to my sister, sharing Marlboro Light Menthol and a can of Bir Bintang, I missed the comfortable soffa in the living room, my favorite place to spend the whole season of 24 series DVD, I missed driving around in the city, stopping by in every distro and just sitting in Selasar Dago, I missed all my friends, from the one I share the most of my stories with(Congratulations for you engagement girl, I really wished I could be there...), to the one who was my loyal companion of DVD and CD searching in Dalem Kaum (Hey...when will you arrive in UK? I wish we could at least meet before I get back home..).

And all the songs in my playlist did not help me with this homesick thing, they made it even worse...Linger-Cranberries, Somebody-Depeche Mode, Dari Hati-Club 80s, Bimbang-Melly Goeslaw...and so on...and so on...I even re-read the book Cintapuccino, only to experience one more time the feeling I had when I first read the book in Bandung (especially because the setting of the story was Bandung after all...).

*Sigh....*

But for now, back to reality first...To my unfinished thesis, my wonderful friends here, the long summer days, and of course, all unforgettable experiences...=)Chomp-chomp!

Monday, May 15, 2006

Future Talk

It's like 4 months to my graduation day (if everything is going smoothly), and one of the most popular topics nowadays between me and my foreign classmates is about "going home...or stay?"

For me, the question is rethorical. Of course I will go home! Back to my beloved country...and from my so-called-idealistic-point-of-view, "Do something for Indonesia".

But true, this thought is getting more and more vague. My Latin American friends said to me to at least consider staying here, try to find a job...or a man! Hehehe...They remind me of all the great possibilities if I stay here. More money, better future, and as my Honduran friend said "You can do something for your country better if you had more experiences here."

My friend from Nicaragua even try to find a woman who wants to pretend being his fiancee, to make him easier getting the residence permit here.Talking about effort!

Okay, try not to think about the difficulties first, about my limitation in Dutch language, about the priority they have for the European Union citizens, and about the small opportunities of finding the job I really want here.

Think first about "Do I really want to stay here?" In the country that has freaking system for almost everything, from the education system to the gas and electricity payment system...In the country where you could really know the meaning of "bad weather"...In the country that will cost you a lot just to find a proper place to stay...

Anyway...Maybe it's not about idealistic reason anymore..Maybe the reason why I want to go back is simple. The familiarity of everything, the comfort I have around my friends and family. Or in other words, the crazy, chaotic place I called home..

Friday, March 17, 2006

From Barcelona with Luv



Minggu lalu gue baru ikut program workshop dari sekolah di Madrid. Dan dengan semangatnya, gue langsung memperpanjang beberapa hari untuk jalan" ke Barcelona.

And immediately I just fell in love with the city...Jalan"nya, bangunan dan gedung"nya, cafe"nya, taman dan air mancurnya, matahari dan suhu 18 derajatnya, orang" yang udah lalu lalang make tanktop, aroma udara dari laut, tapas yang dijual di mana", artis" yang berkeliaran dengan kostum aneh di La Ramblas...I love almost everything about this city...Gue bahkan bisa mentolerir cowok aneh yang satu kamar sama gue di hostel, kemampuan bahasa inggris orang" spanyol yang terbatas, harga makanan dan suvenir yang hampir semua mahal, dan copet yang banyak banget di mana"...

And suddenly, I missed my mom soooo much....Gue inget obsesinya sebagai seorang arsitek buat dateng ke kota ini, betapa ngefansnya dia sama Gaudi dan bangunan"nya, betapa dia ngotot kalo "Jalan di Barcelona itu salah satu yang terbaik di dunia lho", dan titipan"nya supaya gue foto" sebanyak mungkin sudut kota Barcelona...

Dan sambil merasakan sinar matahari yang hangat di atas kepala gue, menyusuri Passeig de Gracia dan lewat di depan Cassa Milla, gue berjanji dalam hati, "Someday, we're gonna walk together in this street, Mum..."

Friday, March 03, 2006

Sugar-Honey-Ice-Tea!*

Yesterday, finally I've received all my grades for previous semester. It's not really bad, although I think I could have done better...Thanks to my laziness and deadline-minded! =)

Actually, there are lot of things that I've learnt since I've been in this course. The framework of thinking with more flexibility, doing qualitative papers with convincing argument instead of just rellying on numbers like I usually did in my bachelor study (for god sake, I was studdying industrial-engineering then...!), trying to work together with people from around the world...adjusting to any kind of people with different culture and background...and even trying hard to fit in with the Dutch-teaching-system...It's hard, but also fun in the same time...

Anyway, as I collected my papers in International Office yesterday, I've accidentally bumped into my friend's assignment. And without thinking, I read the note that was placed in the front page of her paper. It's my teacher's handwriting.

"If you want to graduate with distinction, you have to get 8 for the average grade. And you still can do it if you want to improve this paper".

And suddenly, I felt sick. It's been allowed to receit your paper if you get the score under 5.50. But for me, to give the second chance just to make a student graduated with distinction is not a really fair thing to do. Especially if you know exactly how close this teacher to that particular student.

How if there are other students who have exactly the same grade with her? Do they also deserve the second chance? And how about other students who have the score a little bit lower than her? Is it really unfair if they also ask for the opportunity to upgrade their score?

I have no idea why this thing really bothered me, because I'm not a kind of person who like to mess around with other people's businesses. Maybe because I hope for a more fair system here..But you never know..Maybe it's all the same everywhere, even here, when justice and fairness become one of the most crucial things..Or am I being too judgemental? Or maybe...deep down inside...I just hope that I will be given that second chance also...

*Sugar-Honey-Ice-Tea = SHIT! taken from Icha Rahmanti's Beauty Case...

Wednesday, October 12, 2005

One Fine Day

This was a great day...Had guest speaker from Nestle in my class, got lots of free chocolates...Yummy...
The wheather was nice, a little windy but with lovely sunshine all day long...I even didn't wear my jacket when taking a walk outside the campus.
Had a very nice evening, with nice conversation, a cup of choco plus a piece of taart, and a night walk around the city... (Bedankt ya Chris..)

And as I checked my mail when I got home, there's something in my Inbox. It's from him...
Excited, I opened the email. Nice, with words that as usual, always make me smile. But in the end, there's a line that made me think.

"You're my best friend, right?"

My smile was gone, and I felt a little cold. I am his friend. He is one of the best friend I've ever had. But why is it my heart suddenly feels so empty? What's wrong for being just a friend for him? What do I expect?

Damn!! Why is it a very simple question can ruin my one fine day??

Monday, September 19, 2005

Batagor, Cireng dan Nasi Uduk

Hari keempat gue di negeri kincir...Wah...kesan pertama tuh, dingin banget siy ni negara? Yang ada kalo keluar rumah kudu rangkep" tiga biji, itu pun masih belum bisa menahan angin dingin yang menusuk-nusuk...

Kadang kalo lagi bengong sendirian, gue suka mikir, ngapain siy gue di sini? Di negara yang bahkan untuk mau ke toilet aja harus bayar setengah euro, yang kalo mau belanja ke supermarket kudu bawa kantong sendiri...

Dan kalo sisi mellow gue lagi nongol, gue langsung yang ngerasa kangen banget sama semua yang udah familiar buat gue, bandung, keluarga, temen", batagor, cireng dan nasi uduk...

Tapi pasti gue jadi mikir lagi, hey...ini semua kan gue yang mau? Gue dengan mengejar mataharinya gue...So..I have to do this with all my heart...Jadi...to be continued aja dulu...=)

Saturday, September 18, 2004

Ten Years Ago...

10 taun yang lalu, kamu kayak apa?
hehehe....sebenernya ini hanya pemikiran iseng bercampur sedikit nostalgia.
gara"nya, kemaren di salah satu radio, in the middle of the nite, tau" ada lagunya take six yang "u can never ask too much of love"..
gila betul, entah kapan gue terakhir kali denger lagu itu..

ingetan gue langsung melayang ke masa" 10 taun yang lalu, umur 13, seragam putih biru,naksir berat ama satu cowok yang sekolah siang, nongkrong di pendopo sekolah sambil ngeliatin cowok" ganteng yang lagi maen bola, ngabisin waktu berjam" di kamar buat nulis diary atau ngumpulin teks lagu, dan cuma sekitar 15 menit untuk buat peer matematik (dan langsung ngerasa putus asa karna nggak tau rumus apa yang harus dipake..) ,kalo lagi ngumpul sama temen" cewek pasti kerjaannya ngisengin kecengan kita lewat telfon..hahahaha...pathetic banget yah..

kayanya dulu tuh jauh lebih penting kalo sempet ketemu kecengan gue di sekolah (walaupun dia nyaris nggak sadar kalo gue itu ada!!!) daripada dapet nilai bagus pas ulangan fisika...

skala prioritasnya juga nggak terlalu ribet, yang penting bisa survive dalam satu hari itu..
nggak mikirin deh, besok" gimana, taun depan gimana, cita" gue jangka panjang apa...
bener" menyenangkan..

dan begitu lagu itu abis, gue balik lagi ke masa sekarang..
dengan tugas yang numpuk, pikiran dan rencana buat masa depan, hari" yang kerasa nggak sesimpel dulu..
kangen, pastinya..

nostalgia....
menyenangkan, tapi bisa jadi racun, yang bikin kita males beranjak...


Thursday, December 11, 2003

ST!

Hari ini gue resmi menyandang gelar Sarjana Teknik.
Wah...rasanya lega sekaligus ngeri...
Lega, karena akhirnya gue berhasil juga nyelesein kuliah setelah 4 taun setengah terkatung-katung di jurusan yang bahkan gue sendiri nggak ngerasa cocok...
Tapi juga ngeri, karena seperti kata orang" yang tadi nyalamin gue : "Welcome to the real world!!!"

Monday, November 03, 2003

Time Flies

Wah...nggak kerasa udah bulan november lagi...
Udah mulai puasa lagi...
Dan udah mau ulang taun gue lagi... =)

Kenapa ya, kalo ada sesuatu yang nyebelin atau nakutin, waktu tu berlalu cepeeeeet banget?
Kaya misalnya aja besok, gue kan mau seminar skripsi...
Sumpah lho, yang namanya tegang, serem, deg"an semua nyampur jadi satu...
Dan rasanya detik-detik berlalu dengan amat sangat cepat sekali...
Sampe-sampe nggak ada waktu buat mikirin yang laen selaen seminar itu...
Kayaknya gue makan, mandi, bahkan tidur juga tetep aja kepikiran skripsi gue...
Kacaaauuuu...... =)

Tuesday, October 14, 2003

Frantic!

Gue baru nemuin soundtrack baru buat hari" gue sekarang ini : FRANTIC nya metallica.

Lagu itu bener" ngegambarin orang yang lagi kehabisan waktu dalam hidupnya...
Cuman nggak se ekstrim itu sih, gue cuman ngerasa kehabisan waktu buat nyelesein skripsi gue...
Hehehe...hiperbola juga...

Anyway, dalam hidup kita emang nggak bisa balikin waktu, termasuk semua waktu yang udah kebuang percuma...
Satu hari itu bener" berharga (kecuali kalo ada Doraemon dan mesin waktunya...heheheh)
Padahal, sering banget kita nyia"in waktu buat hal" nggak guna...
Kaya nyantai", tidur"an, gosip" dan telfon"an...
Hal" yang pas dilakuin kayanya sih asik" aja...
Tapi kalo udah lewat, dipikir" kok sayang bangeeet...

Jadi....
Jangan sampe FRANTIC dulu, baru ngehargain waktu..
Itu bener" nggak berguna...

*frantic : panik, kalut

Tuesday, August 12, 2003

Safety Zone

Kadang, kita suka takut untuk ninggalin sesuatu yang keliatannya udah bikin kita ngerasa aman...
Misalnya aja, untuk ninggalin kerjaan kita sekarang, karena gajinya udah lumayan, lagian orang"nya juga udah kenal...
Padahal...dalem hati, ada rasa nggak puas sama kerjaan sekarang...

Gitu juga dengan kuliah...
Karena takut ngadepin yang namanya interview, lamar"an, suasana kantor....
Rasanya pengen langsung aja nerusin sekolah..S2, atau kursus"...
Yang sebenernya nggak laen adalah pengisi waktu aja...
Karna takut kalo harus berhadapan sama "dunia luar"...

Yang paling jelas, rasanya berhubungan sama pasangan...
Kayanya males banget kalo harus pergi dari pasangan sekarang ini...
Meskipun udah nggak cocok, meskipun udah nggak bisa diterusin...
Tapi toh rasanya ngeri aja kalo harus pergi dari dia...
Mendingan bareng" meskipun rasanya agak ragu", daripada sendirian....
Bener nggak?

Terus terang, gue sendiri juga termasuk orang yang penakut...
Takut ninggalin semua keadaan yang udah "biasa" banget...
Udah familiar banget di kehidupan gue....
Padahal...gue tau, di luar sana, mungkin ada kehidupan yang lebih baik dari sekarang ini..
Hanya aja, untuk buka pintu dan melangkah keluar...
Rasanya beraaaattt banget....

Saturday, July 26, 2003

"What Should I Do with My Life?"

gitu judul buku yang belakangan ini lagi gue baca.
Buku karangan Po Bronson itu lumayan ngasih inspirasi, terutama buat yang lagi bingung tentang yang namanya tujuan hidup.

Buku itu nggak ngasih nasehat atau motivasi supaya kita nyari tujuan hidup kita..
Tapi justru ngasih liat real stories tentang orang" yang lagi struggling buat nyari tujuan hidupnya masing"...
Ada beberapa yang bahkan ganti" kerjaan sampe 5 atau 6 kali, tapi masih belom berhasil nemuin apa yang sebenernya dia mau....

Buat gue, yang masih sibuk berkutat dengan skripsi, terus terang masih blank sama tujuan hidup gue nantinya.
Nggak kebayang gimana caranya supaya hidup gue bisa ngasih kontribusi buat orang-orang di sekitar gue.
Bahkan, gue juga belum yakin 100% apa yang bisa gue lakuin supaya hidup gue bisa bener" meaningful...

Kalo mau jujur, sering banget gue nyesel, kenapa ya dulu gue ngambil jurusan Teknik Industri?
Karna ternyata, sesudah lebih kurang 4 taun kuliah...
Kok ya gue nggak ngerasa seneng...

Oke, selama 4 taun itu ada masa" di mana gue nikmatin yang namanya kuliah...
Tapi itu lebih karena temen" di sekitar gue, terus juga karena kegiatan" himpunan dan lain" yang pokoknya nggak ada hubungannya sama mata kuliah yang gue ambil...

Nggak jarang orang ngambil keputusan yang salah dalam hidupnya...
Termasuk juga gue...
Mungkin kalo disuruh balik lagi ke 4 taun yang lalu, gue nggak bakalan mau ngambil jurusan yang sama seperti sekarang ini.
Tapi.... gue juga nggak mau nyesel, kebanyakan nyalah"in keputusan gue, dan akhirnya malah nggak pernah tau apa sebenernya yang gue mau...

Nggak ada kata terlambat buat ngerubah hidup kita jadi sesuatu yang lebih berarti, terutama buat diri kita sendiri...
Buat apa kita maksa untuk nerusin hidup seperti yang udah kita jalanin sekarang ini, hanya gara" kita udah ngerasa terlanjur?

Gue sendiri masih belom tau pasti apa yang bakal gue lakuin sesudah lulus nanti...
Tapi...gue bakal terus nyari...
Dan (mudah"an nih....) nggak bakal berenti sebelum ketemu apa yang bener" gue suka...