Seorang teman pernah berkomentar, "Kenapa ya orang yang udah punya anak itu kayaknya kehilangan identitas? Kalau ngetwit atau ngeblog pasti soal anak, foto di profil Facebook atau BB juga pasti foto anaknya..Aneh deh."
Oke, mendengar itu, gue langsung refleks melihat foto-foto profil gue di social media. Foto profil Facebook: Gue dan Yofel.
Foto profil BBM: Gue dan Yofel.
Avatar twitter: Yofel.
Glek. Apakah gue juga sudah mulai kehilangan identitas?
Hmm..oke, sebagai pembelaan, blog gue nggak sepenuhnya bercerita tentang Yofel atau keseharian gue sebagai ibu. Gue nggak pernah mendokumentasikan perkembangan Yofel ini-itu, gue baru belanja barang ina-ini untuk Yofel, atau kita baru jalan-jalan ke tempat ABCD.
Tapi tetep ajaaa...gue rasa, nggak mungkin juga menghindari topik tentang anak, khususnya anak gue sendiri, dalam blog. Atau twit. Karena biar bagaimanapun, Yofel sudah menjadi bagian dari hidup gue sekarang. Yaaa samalah, kayak gue ngebahas kerjaan, kantor, mimpi-mimpi gue, tempat-tempat yang gue kunjungi, dan semua pemikiran gue.
Menurut gue, bukan kehilangan identitas, tapi justru menambahkan satu keping identitas baru di tengah puluhan identitas kita yang lain (karyawan?anak buah?saudara perempuan?kutubuku? you name it). Identitas sebagai seorang ibu. Dan selama itu tidak berlebihan,dan hidup kita masih seimbang, kenapa nggak boleh memajang foto anak kita di Facebook atau blog?
Satu hal yang selalu gue inget adalah kutipan "Anak itu titipan Tuhan", dan gue biasa melanjutkannya dengan "Bukan hak milik kita". Well, as long as you don't live your life through your children's, then it's fine. But when you start to replace your life with your children's life, then you are welcome to worry =D
Monday, April 25, 2011
Thursday, March 17, 2011
Berkaca Dari Jepang?
Seluruh dunia terguncang dan berduka ketika gempa besar dan tsunami menyerang Jepang beberapa saat yang lalu. 9 SR bukanlah angka yang main-main. Dahsyatnya gempa yang berpusat di daerah utara Jepang, efeknya sampai benar-benar terasa di kota Tokyo.
Untuk gue, kepanikan lebih terasa karena beberapa adik nyokap sedang berkunjung ke Jepang saat bencana itu terjadi, untuk menengok salah satu sepupu yang kuliah di sana. Apalagi komunikasi sempat terputus, telepon tidak bisa tersambung. Untungnya, ada satu orang dari rombongan yang membuka akses roaming internasional Blackberry nya, sehingga akhirnya komunikasi bisa terjalin lewat BBM.
Hebatnya, meski diguncang gempa yang sedemikian dahsyat, penduduk Jepang tidak panik. Dari berbagai siaran berita di TV maupun artikel di koran, terlihat betapa siapnya masyarakat Jepang dalam menghadapi gempa maupun situasi genting seperti ancaman tsunami kemarin ini. Semua orang baris dengan teratur, bahkan kembali bekerja setelah gempa usai, meski masih banyak gempa susulan setelahnya.
Gedung-gedung di Tokyo pun tetap tegak berdiri meski menurut laporan para tante, sempat bergoyang kiri-kanan dengan hebohnya. Bayangkan bila gempa sebesar itu terjadi di Jakarta (ketok kayu tiga kali!!!), apa jadinya gedung-gedung di sekitar Jalan Sudirman? Waktu gempa beberapa tahun lalu saja, yang skalanya tidak sebesar gempa Jepang, banyak gedung yang retak-retak dan bahkan rusak parah. Gawat banget kan?
Tetapi di samping segala persiapan matang dari pemerintah dan masyarakat Jepang yang patut dicontoh dan menjadi panutan, ada beberapa sifat orang Jepang yang juga menurut gue sih, kurang baik pengaruhnya. Salah satu yang paling terasa adalah ketertutupan pemerintah dalam menanggapi efek bencana ini terhadap dunia luar. Pro-kontra bocornya reaktor nuklir yang berimbas pada bahaya radiasi adalah salah satu contoh nyatanya.
Sementara dunia luar melalui pemberitaan pers panik terhadap kejadian ini, pemerintah jepang (melalui media NHK nya yang "jepang banget") terkesan menutupi dan berusaha menyangkal pemberitaan tersebut. "Everything is under control", adalah pesan yang disampaikan mereka. Mereka mengimbau orang-orang untuk berpatokan pada media Jepang (terutama NHK) saja, ketimbang panik nggak jelas akibat berita simpang siur media asing.
Oke, mungkin di satu sisi maksudnya baik, tidak ingin membuat dunia panik melebihi kondisi yang sesungguhnya terjadi saat ini. Tapi di sisi lain, apakah benar, dampak radiasi bisa "disepelekan" begitu saja? Siapapun tahu, biarpun pada awalnya radius aman adalah 30 km dari reaktor nuklir, sewaktu-waktu bisa berubah dengan cepat. Tidak heran bila banyak negara yang sudah mengevakuasi penduduknya dari Jepang, dan memberlakukan travel warning ke sana.
Dan gue sama sekali nggak suka saat banyak orang berkata, media Indonesia (plus media asing lain di luar Jepang) terkesan lebay. Karena tidak ada bukti nyata juga kalau kejadian bocornya reaktor nuklir itu tidak membahayakan! Gue nggak menyalahkan tante gue yang ingin anaknya pulang sejenak hingga kekacauan berakhir. Ataupun saudara-saudara gue yang lain, yang selalu meminta update perkembangan situasi pada tante-tante gue yang hingga saat ini masih berada di Jepang.
Bersikap cool itu memang penting, tapi jangan sampai alasannya adalah karena "gengsi tidak ingin dianggap gagal atau tidak mampu mengatasi masalah". Kalau masalah bencana, seluruh dunia ingin ikut membantu, bukan justru menjelek-jelekkan. Sampai kapanpun kita juga akan tetap kagum dengan cara Jepang mengatasi masalah bencana alam seperti ini, dan sedikit bersikap terbuka tidak akan menodai respek kita pada negara Matahari Terbit ini!
Untuk gue, kepanikan lebih terasa karena beberapa adik nyokap sedang berkunjung ke Jepang saat bencana itu terjadi, untuk menengok salah satu sepupu yang kuliah di sana. Apalagi komunikasi sempat terputus, telepon tidak bisa tersambung. Untungnya, ada satu orang dari rombongan yang membuka akses roaming internasional Blackberry nya, sehingga akhirnya komunikasi bisa terjalin lewat BBM.
Hebatnya, meski diguncang gempa yang sedemikian dahsyat, penduduk Jepang tidak panik. Dari berbagai siaran berita di TV maupun artikel di koran, terlihat betapa siapnya masyarakat Jepang dalam menghadapi gempa maupun situasi genting seperti ancaman tsunami kemarin ini. Semua orang baris dengan teratur, bahkan kembali bekerja setelah gempa usai, meski masih banyak gempa susulan setelahnya.
Gedung-gedung di Tokyo pun tetap tegak berdiri meski menurut laporan para tante, sempat bergoyang kiri-kanan dengan hebohnya. Bayangkan bila gempa sebesar itu terjadi di Jakarta (ketok kayu tiga kali!!!), apa jadinya gedung-gedung di sekitar Jalan Sudirman? Waktu gempa beberapa tahun lalu saja, yang skalanya tidak sebesar gempa Jepang, banyak gedung yang retak-retak dan bahkan rusak parah. Gawat banget kan?
Tetapi di samping segala persiapan matang dari pemerintah dan masyarakat Jepang yang patut dicontoh dan menjadi panutan, ada beberapa sifat orang Jepang yang juga menurut gue sih, kurang baik pengaruhnya. Salah satu yang paling terasa adalah ketertutupan pemerintah dalam menanggapi efek bencana ini terhadap dunia luar. Pro-kontra bocornya reaktor nuklir yang berimbas pada bahaya radiasi adalah salah satu contoh nyatanya.
Sementara dunia luar melalui pemberitaan pers panik terhadap kejadian ini, pemerintah jepang (melalui media NHK nya yang "jepang banget") terkesan menutupi dan berusaha menyangkal pemberitaan tersebut. "Everything is under control", adalah pesan yang disampaikan mereka. Mereka mengimbau orang-orang untuk berpatokan pada media Jepang (terutama NHK) saja, ketimbang panik nggak jelas akibat berita simpang siur media asing.
Oke, mungkin di satu sisi maksudnya baik, tidak ingin membuat dunia panik melebihi kondisi yang sesungguhnya terjadi saat ini. Tapi di sisi lain, apakah benar, dampak radiasi bisa "disepelekan" begitu saja? Siapapun tahu, biarpun pada awalnya radius aman adalah 30 km dari reaktor nuklir, sewaktu-waktu bisa berubah dengan cepat. Tidak heran bila banyak negara yang sudah mengevakuasi penduduknya dari Jepang, dan memberlakukan travel warning ke sana.
Dan gue sama sekali nggak suka saat banyak orang berkata, media Indonesia (plus media asing lain di luar Jepang) terkesan lebay. Karena tidak ada bukti nyata juga kalau kejadian bocornya reaktor nuklir itu tidak membahayakan! Gue nggak menyalahkan tante gue yang ingin anaknya pulang sejenak hingga kekacauan berakhir. Ataupun saudara-saudara gue yang lain, yang selalu meminta update perkembangan situasi pada tante-tante gue yang hingga saat ini masih berada di Jepang.
Bersikap cool itu memang penting, tapi jangan sampai alasannya adalah karena "gengsi tidak ingin dianggap gagal atau tidak mampu mengatasi masalah". Kalau masalah bencana, seluruh dunia ingin ikut membantu, bukan justru menjelek-jelekkan. Sampai kapanpun kita juga akan tetap kagum dengan cara Jepang mengatasi masalah bencana alam seperti ini, dan sedikit bersikap terbuka tidak akan menodai respek kita pada negara Matahari Terbit ini!
Tuesday, March 08, 2011
Konser!
Dari dulu gue suka nonton konser, tapi bukan berarti gue adalah seorang konser-mania. Kalau memang ada dana lebih dan waktunya kebetulan pas, dan gue suka banget sama si performer, baru gue bela-belain nonton konser.
Konser pertama gue adalah New Kids On The Block alias NKOTB, waktu mereka datang ke Jakarta di awal 90-an kemarin. Gue masih kelas 6 SD, dan rasanya sungguh sangat bahagia bisa menjadi salah satu dari segelintir anak yang menyaksikan kehebatan Jordan Knight dan kawan-kawan. If You Go Away, Please Don't Go Girl, Step By Step sampai Hangin' Tough, semua dinyanyiin. Puas!
Konser yang paliiing berkesan, dan paling penuh perjuangan, adalah konser Dangerous-nya Michael Jackson di Singapura. Bukan saja karena gue penggemar berat Michael Jackson sejak kecil, tapi juga karena konser ini sukses membuat gue bolos dari sekolah. Dan sampai di Singapura, ternyata konser sempat ditunda satu hari (padahal penonton sudah masuk ke stadion dan menunggu dengan manis!!) karena Jacko yang tidak sanggup tampil akibat mengalami dehidrasi. Tapi perjuangan ini nggak sia-sia, karena itu mungkin adalah salah satu konser paling keren yang pernah gue tonton. Dari mulai setting panggung, lighting, dancer, sampai suara dan pemilihan lagu, top semua =)
Selain konser penyanyi luar, konser penyanyi lokal pun gue suka tonton, lho. KLAkustik di Bandung adalah salah satu kenangan manis gue dengan masa SMA, apalagi saat itu formasi KLA Project lagi keren-kerennya. Ditto Dewa 19 saat Ari Lasso masih jadi vokalis. "Kamulah satu-satunya, yang ternyata mengerti aku.." lengkap dengan joget2 nggak jelas dengan tangan kiri dan kanan yang diangkat bergantian di depan dada =p Meskipun gue pernah lho, ketemu sama cewek aneh pas nonton konser Dewa 19. Jadi ceritanya, rombongan gue udah dapet tempat duduk (waktu itu konsernya di Sabuga Bandung) di deretan tengah, tapi berhubung ada tambahan satu orang lagi, tempat duduk kita kurang satu. Kita minta baik-baik sama cewek yang nonton sendirian di deretan itu, supaya geser satu aja kursi ke kanan. Dan ternyata dia nggak mau loh!! Dia bilang, udah duduk pas di paling tengah, dan udah ideal posisinya (padahal kalo dia geser cuma beda satu bangku!!). Jadi selama konser, dia duduk di tengah-tengah kita, dan ternyata hafal semua lagu yang dibawain sampe ke titik komanya. Woww... a die hard fan, indeed!!
Waktu di Belanda, gue menjadi saksi bahwa ternyata nonton konser band kelas dunia itu bukan mutlak untuk orang kaya (Helloooo Adrie Subono dan Java Musikindo!!). Gue nonton konser The Strokes di Amsterdam dengan tiket yang harganya 300 ribu rupiah. Konsernya bagus banget (mereka mainnya konsisten, nggak beda dengan denger kasetnya), tempatnya di Heineken Music Hall yang juga ok, dan masih ada duit sisa buat beli merchandise berupa tshirt yang super keren =) Seandainya bisa seperti itu di Indonesia...hmm, anehnya kalau disini harga tiket semahal apapun pasti ada yang beli sih ya...=( Eh..tapi di konser ini juga gue menyelamatkan temen gue yang nyaris pingsan akibat terlalu seru berdesak-desakan dengan ABG Belanda.
Tapi nggak semua konser yang gue tonton itu sukses lho! Konser Brian McKnight di Jakarta misalnya, adalah salah satu konser ter 'ancur' yang pernah gue tonton, karena tidak didukung dengan sound system yang bagus. Sayang banget! Padahal dia udah bawain semua lagu-lagunya yang ngehits, termasuk duet sama Titi DJ. Bahkan saking keselnya, Brian sempet menghilang lama dari panggung. Mungkin sebagai bentuk protes sama panitia =)
Ada beberapa konser yang gue lewatin dan nyeseeeel banget sampe sekarang: Alanis Morissette, The Cranberies, MUSE di Jakarta, juga Sting, Rolling Stone (yang kepentok deadline thesis padahal dapet tiket gratis, grrrr) dan Michael Buble di Belanda. Oiya, kalau yang jadi cita-cita, cukup U2 dan Coldplay aja deh =)
Sebenernya pengen banget nonton Maroon 5 juga, tapi apa daya segala promo licik sang promotor yang bikin pre sale tapi ternyata tiketnya dijual sampe sold out hari itu juga- menggagalkan impian gue itu. Hmph...semoga masih ada kesempatan di lain waktu..
Konser paling akhir yang gue tonton adalah Sondre Lerche dan Corinne Bailey Rae di Java Jazz 2011 kemarin. Terlepas dari semakin "tidak jazz"- nya artis-artis yang tampil di event ini, gue tetap menikmati sajian musik mereka. Hanya saja, satu hal yang gue sadar adalah: gue udah nggak ada energi untuk ikutan desek-desekan sama para penonton yang mayoritas adalah ABG atau alay atau apalah sebutannya sekarang. Gue cukup puas duduk manis di pojokan sambil ikut bergumam-gumam. Sementara di sekitar gue, semua orang sibuk mengabadikan konser dengan kamera super canggih atau mengetik live tweet lewat smartphone masing-masing. Sepertinya konser pun sudah beralih ke era digital =)
Konser pertama gue adalah New Kids On The Block alias NKOTB, waktu mereka datang ke Jakarta di awal 90-an kemarin. Gue masih kelas 6 SD, dan rasanya sungguh sangat bahagia bisa menjadi salah satu dari segelintir anak yang menyaksikan kehebatan Jordan Knight dan kawan-kawan. If You Go Away, Please Don't Go Girl, Step By Step sampai Hangin' Tough, semua dinyanyiin. Puas!
Konser yang paliiing berkesan, dan paling penuh perjuangan, adalah konser Dangerous-nya Michael Jackson di Singapura. Bukan saja karena gue penggemar berat Michael Jackson sejak kecil, tapi juga karena konser ini sukses membuat gue bolos dari sekolah. Dan sampai di Singapura, ternyata konser sempat ditunda satu hari (padahal penonton sudah masuk ke stadion dan menunggu dengan manis!!) karena Jacko yang tidak sanggup tampil akibat mengalami dehidrasi. Tapi perjuangan ini nggak sia-sia, karena itu mungkin adalah salah satu konser paling keren yang pernah gue tonton. Dari mulai setting panggung, lighting, dancer, sampai suara dan pemilihan lagu, top semua =)
Selain konser penyanyi luar, konser penyanyi lokal pun gue suka tonton, lho. KLAkustik di Bandung adalah salah satu kenangan manis gue dengan masa SMA, apalagi saat itu formasi KLA Project lagi keren-kerennya. Ditto Dewa 19 saat Ari Lasso masih jadi vokalis. "Kamulah satu-satunya, yang ternyata mengerti aku.." lengkap dengan joget2 nggak jelas dengan tangan kiri dan kanan yang diangkat bergantian di depan dada =p Meskipun gue pernah lho, ketemu sama cewek aneh pas nonton konser Dewa 19. Jadi ceritanya, rombongan gue udah dapet tempat duduk (waktu itu konsernya di Sabuga Bandung) di deretan tengah, tapi berhubung ada tambahan satu orang lagi, tempat duduk kita kurang satu. Kita minta baik-baik sama cewek yang nonton sendirian di deretan itu, supaya geser satu aja kursi ke kanan. Dan ternyata dia nggak mau loh!! Dia bilang, udah duduk pas di paling tengah, dan udah ideal posisinya (padahal kalo dia geser cuma beda satu bangku!!). Jadi selama konser, dia duduk di tengah-tengah kita, dan ternyata hafal semua lagu yang dibawain sampe ke titik komanya. Woww... a die hard fan, indeed!!
Waktu di Belanda, gue menjadi saksi bahwa ternyata nonton konser band kelas dunia itu bukan mutlak untuk orang kaya (Helloooo Adrie Subono dan Java Musikindo!!). Gue nonton konser The Strokes di Amsterdam dengan tiket yang harganya 300 ribu rupiah. Konsernya bagus banget (mereka mainnya konsisten, nggak beda dengan denger kasetnya), tempatnya di Heineken Music Hall yang juga ok, dan masih ada duit sisa buat beli merchandise berupa tshirt yang super keren =) Seandainya bisa seperti itu di Indonesia...hmm, anehnya kalau disini harga tiket semahal apapun pasti ada yang beli sih ya...=( Eh..tapi di konser ini juga gue menyelamatkan temen gue yang nyaris pingsan akibat terlalu seru berdesak-desakan dengan ABG Belanda.
Tapi nggak semua konser yang gue tonton itu sukses lho! Konser Brian McKnight di Jakarta misalnya, adalah salah satu konser ter 'ancur' yang pernah gue tonton, karena tidak didukung dengan sound system yang bagus. Sayang banget! Padahal dia udah bawain semua lagu-lagunya yang ngehits, termasuk duet sama Titi DJ. Bahkan saking keselnya, Brian sempet menghilang lama dari panggung. Mungkin sebagai bentuk protes sama panitia =)
Ada beberapa konser yang gue lewatin dan nyeseeeel banget sampe sekarang: Alanis Morissette, The Cranberies, MUSE di Jakarta, juga Sting, Rolling Stone (yang kepentok deadline thesis padahal dapet tiket gratis, grrrr) dan Michael Buble di Belanda. Oiya, kalau yang jadi cita-cita, cukup U2 dan Coldplay aja deh =)
Sebenernya pengen banget nonton Maroon 5 juga, tapi apa daya segala promo licik sang promotor yang bikin pre sale tapi ternyata tiketnya dijual sampe sold out hari itu juga- menggagalkan impian gue itu. Hmph...semoga masih ada kesempatan di lain waktu..
Konser paling akhir yang gue tonton adalah Sondre Lerche dan Corinne Bailey Rae di Java Jazz 2011 kemarin. Terlepas dari semakin "tidak jazz"- nya artis-artis yang tampil di event ini, gue tetap menikmati sajian musik mereka. Hanya saja, satu hal yang gue sadar adalah: gue udah nggak ada energi untuk ikutan desek-desekan sama para penonton yang mayoritas adalah ABG atau alay atau apalah sebutannya sekarang. Gue cukup puas duduk manis di pojokan sambil ikut bergumam-gumam. Sementara di sekitar gue, semua orang sibuk mengabadikan konser dengan kamera super canggih atau mengetik live tweet lewat smartphone masing-masing. Sepertinya konser pun sudah beralih ke era digital =)
Thursday, February 17, 2011
Virtual Celebrities
Di era internet seperti sekarang ini, siapapun bisa jadi selebriti (atau bahasa Indonesianya yang benar: selebritas, hehe). Bermodalkan kerajinan untuk menulis, entah dalam format twit, status Facebook, blog, atau postingan di berbagai forum, maka seseorang bisa menjadi amat sangat terkenal di dunia maya, terlepas dari ketidaktahuan orang-orang terhadap sosok sebenarnya dari orang tersebut.
Setiap komunitas memiliki figur "selebriti" nya sendiri. Tak terkecuali lingkungan ibu-ibu canggih yang eksis di dunia maya. Mengikuti perjalanan hidup mereka melalui blog dan twit-nya merupakan suatu guilty pleasure tersendiri, layaknya menonton infotainment atau telenovela. Kebanyakan dari mereka memiliki blog atau website dengan embel-embel "keluarga" atau "family", meski sebenarnya sebagian besar postingan blog didominasi oleh sang ibu. Ceritanya pun biasanya berkisar tentang kehidupan sehari-hari, mulai dari menu makan anak, perkembangan atau milestone si anak, kegiatan sehari-hari, sampai review tempat-tempat yang dikunjungi saat weekend, dan produk yang baru dibeli.
Terkadang memang sharing dan cerita yang ditulis hanya berbeda tipis dengan ajang pamer atau show off, memancing timbulnya komentar pedas dan sinis dari para haters, yang biasanya dengan senang hati ditimpali balik oleh sang empunya blog, kadang melalui satu posting khusus tersendiri. Ohh...we love drama!
Sebenarnya gue tidak menyalahkan si pemilik blog, karena toh memang blog itu diciptakan sebagai tempatnya berekspresi. Kalau memang tidak suka, ya tidak usah baca toh? Sama seperti kita yang punya banyak pilihan saat menonton TV. Kalau sudah eneg dengan infotainment atau reality show kacangan, ya pindahkan saja channelnya. Nggak usah terlalu banyak nyela. Bikin capek hati dan mulut.
Tapi....membaca blog-blog ini memang layaknya candu, nggak bisa berhenti! Seberapapun sebelnya kita, atau irinya kita dengan rumput tetangga yang hijau dan subur itu, tetep ajaaa..akhirnya balik lagi dan balik lagi mengklik link yang sudah dihafal di luar kepala karena penasaran =D
Apalagi kalau secara nggak sengaja pernah berpapasan dengan sosok-sosok seleb ini di tempat umum, rasanya sama excitednya dengan bertemu artis ibukota! Bahkan ada lho, yang sampai nekat menyapa dan mengajak foto bareng segala. Seru kan? =)Padahal sebenarnya kalau dipikir-pikir, apa yang membuat mereka berbeda dengan kita? Sama-sama orang biasa kok, bukan penyanyi, pemusik atau bintang film. Tulisannya pun kadang..hmmm...standar. Meski memang ceritanya suka membuat pembaca ngiler-ngiler saking "indahnya".
Sebenarnya, menurut pendapat gue, banyak juga kok contoh virtual celebrity yang pada akhirnya memang layak menjadi public figure yang sebenarnya. Raditya Dika misalnya,mengawali ketenarannya lewat blog pribadinya yang memang kocak dan menghibur. Cerita yang ditulis memang merupakan kisah keseharian hidupnya, tapi gayanya yang konyol dan effortless lah yang membuat pembaca (dan penerbit! dan sutradara!) jatuh cinta padanya, hingga akhirnya blognya dibukukan, bahkan difilmkan dengan si kambing jantan sendiri sebagai pemeran utamanya.
Trinity, penulis travel yang sejak dulu blognya memang fenomenal dengan cerita-cerita backpacking trip yang seru, juga salah satu blogger yang kini sedang naik daun, baik di dunia maya maupun nyata. Karyanya sudah diterbitkan menjadi beberapa buah buku dan komik, dan bahkan kini ia sudah menggawangi majalah travel lokal yang keren banget.
Sosok-sosok tadi adalah contoh nyata betapa dunia maya bisa membawa status yang berbeda bagi orang-orang yang tadinya hanyalah orang biasa. Tapi, seperti juga selebriti di dunia nyata, para virtual celebrity ini pun ada berbagai jenis. Yang terkenal karena kehidupannya yang penuh drama, atau karena talenta dan bakat yang dikembangkan secara optimal =)
But who am I to judge? I just want to enjoy the world wide web!
Setiap komunitas memiliki figur "selebriti" nya sendiri. Tak terkecuali lingkungan ibu-ibu canggih yang eksis di dunia maya. Mengikuti perjalanan hidup mereka melalui blog dan twit-nya merupakan suatu guilty pleasure tersendiri, layaknya menonton infotainment atau telenovela. Kebanyakan dari mereka memiliki blog atau website dengan embel-embel "keluarga" atau "family", meski sebenarnya sebagian besar postingan blog didominasi oleh sang ibu. Ceritanya pun biasanya berkisar tentang kehidupan sehari-hari, mulai dari menu makan anak, perkembangan atau milestone si anak, kegiatan sehari-hari, sampai review tempat-tempat yang dikunjungi saat weekend, dan produk yang baru dibeli.
Terkadang memang sharing dan cerita yang ditulis hanya berbeda tipis dengan ajang pamer atau show off, memancing timbulnya komentar pedas dan sinis dari para haters, yang biasanya dengan senang hati ditimpali balik oleh sang empunya blog, kadang melalui satu posting khusus tersendiri. Ohh...we love drama!
Sebenarnya gue tidak menyalahkan si pemilik blog, karena toh memang blog itu diciptakan sebagai tempatnya berekspresi. Kalau memang tidak suka, ya tidak usah baca toh? Sama seperti kita yang punya banyak pilihan saat menonton TV. Kalau sudah eneg dengan infotainment atau reality show kacangan, ya pindahkan saja channelnya. Nggak usah terlalu banyak nyela. Bikin capek hati dan mulut.
Tapi....membaca blog-blog ini memang layaknya candu, nggak bisa berhenti! Seberapapun sebelnya kita, atau irinya kita dengan rumput tetangga yang hijau dan subur itu, tetep ajaaa..akhirnya balik lagi dan balik lagi mengklik link yang sudah dihafal di luar kepala karena penasaran =D
Apalagi kalau secara nggak sengaja pernah berpapasan dengan sosok-sosok seleb ini di tempat umum, rasanya sama excitednya dengan bertemu artis ibukota! Bahkan ada lho, yang sampai nekat menyapa dan mengajak foto bareng segala. Seru kan? =)Padahal sebenarnya kalau dipikir-pikir, apa yang membuat mereka berbeda dengan kita? Sama-sama orang biasa kok, bukan penyanyi, pemusik atau bintang film. Tulisannya pun kadang..hmmm...standar. Meski memang ceritanya suka membuat pembaca ngiler-ngiler saking "indahnya".
Sebenarnya, menurut pendapat gue, banyak juga kok contoh virtual celebrity yang pada akhirnya memang layak menjadi public figure yang sebenarnya. Raditya Dika misalnya,mengawali ketenarannya lewat blog pribadinya yang memang kocak dan menghibur. Cerita yang ditulis memang merupakan kisah keseharian hidupnya, tapi gayanya yang konyol dan effortless lah yang membuat pembaca (dan penerbit! dan sutradara!) jatuh cinta padanya, hingga akhirnya blognya dibukukan, bahkan difilmkan dengan si kambing jantan sendiri sebagai pemeran utamanya.
Trinity, penulis travel yang sejak dulu blognya memang fenomenal dengan cerita-cerita backpacking trip yang seru, juga salah satu blogger yang kini sedang naik daun, baik di dunia maya maupun nyata. Karyanya sudah diterbitkan menjadi beberapa buah buku dan komik, dan bahkan kini ia sudah menggawangi majalah travel lokal yang keren banget.
Sosok-sosok tadi adalah contoh nyata betapa dunia maya bisa membawa status yang berbeda bagi orang-orang yang tadinya hanyalah orang biasa. Tapi, seperti juga selebriti di dunia nyata, para virtual celebrity ini pun ada berbagai jenis. Yang terkenal karena kehidupannya yang penuh drama, atau karena talenta dan bakat yang dikembangkan secara optimal =)
But who am I to judge? I just want to enjoy the world wide web!
Friday, January 14, 2011
Slurrrpppp....
Mari memulai 2011 dengan bermimpi =) Salah satu hal yang menjadi impian gue sepanjang masa adalah traveling ke sebanyak mungkin tempat. Dari yang bapuk, penuh petualangan, sampai yang serba lux dan penuh kenikmatan, semuanya pengen gue jalanin =D
Gue udah pernah tinggal di satu youth hostel di Barcelona dan sekamar sama cowok aneh yang tiap malem tidur setengah telanjang. Gue juga pernah kejebak booking hotel di internet pas lagi ke Belgia, dan ternyata kamar yang gue (waktu itu jalan sama nyokap) dapetin ternyata super duper busuk! Toiletnya, yang hanya berupa shower, dijadiin satu sama kamar tidur tanpa ada pintu atau apapun juga. Bleh. Gue sampe berantem hebat sama pengelolanya, dan akhirnya pindah ke hotel Ibis.
Tapi jangan salah!!! Pengalaman hedon pun pernah mampir dalam hidup gue. Syukurnya, kebanyakan gratis karena rejeki kerjaan. Gue pernah ngerasain spa paling enakkkk dalam hidup gue pas lagi liputan Kriya Spa di Grand Hyatt Bali. Asli, baru sekalinya gue dipijit sampe bener-bener ketiduran. Enak banget! Ditambah dengan ruangannya yang emang keren, minimalis sekaligus homey. Oh, pernah juga dulu gue dan keluarga jalan ke New York, dan salah satu kolega om gue mengatur penjemputan kita di airport dengan limousin putih panjang. Waaa...berasa jadi artis sehari deh. Meskipun menurut gue sih, naik limo itu nggak enak-enak banget kok. Tempat duduknya sebenernya kayak angkot, dengan kursi panjang yang saling berhadapan, hehehe..Tapi interiornya yaaa emang keren, lengkap dengan TV, mini bar dan telepon.
Anyway, karena semangat mimpi lagi menggebu-gebu, mariii kita berkhayal setinggi mungkin. Dan inilah beberapa tempat atau tujuan liburan yang menjadi impian gue. Hmm, siapa tau kan, ada yang mau ikut nyumbang, hahaha!
The Wizarding World of Harry Potter

Kayaknya, semua yang mengaku fans beratnya si Mas Harry pasti bakalan ngiler berat ngeliat tempat ini. Theme park yang menjadi bagian dari Universal Orlando di Florida ini memang belum lama dibuka, jadi isinya pun tidak sevariatif theme park lainnya. Tapi siapa sih yang nggak penasaran naik roller coaster berbentuk naga, berpetualang di Hogwarts, dan jalan-jalan di Hogsmeade sambil belanja tongkat sihir, permen Berty Botts atau minum Butterbeer? Arghh...serasa mimpi yang jadi kenyataan! Ada beberapa pilihan tiket yang bisa dibeli kalau mau mampir ke dunia Harry Potter ini. Yang paling murah bisa dibeli online di sini, harganya $82 untuk dewasa dan $74 untuk anak 3-9 tahun. Sebenernya, nggak terlalu mahal banget untuk dipakai seharian sih. Jadi, kalau memang ada rencana liburan ke US, silakan sempatkan mampir dan bergabung dengan dunia ciptaan JK Rowling ini.
Orient Express

Naik kereta api sih udah biasa, apalagi cuman dari Bandung ke Jakarta doang (eh, meskipun sedih juga sih, kereta Parahyangan yang legendaris malah udah nggak ada, huhu). Tapi naik kereta lux keliling Eropa? Lalalala....pastinya menjadi pengalaman luar biasa. Apalagi kalau keretanya adalah kereta legendaris Orient Express yang super duper lux. Mulai dari kabin yang mewah, service yang membuat kita merasa seperti bangsawan, sampai pemandangan di sepanjang perjalanan yang breathtaking. Ada beberapa tujuan yang ditawarkan, dari mulai Eropa sampai Asia Tenggara. Tapi yang paling populer adalah Venice Simplon Orient Express yang menjelajahi daratan Eropa. Salah satu paket "termurah" yang ditawarkan adalah jurusan London-Venice yang ditempuh dalam waktu dua hari satu malam. Harganya? $3,210 saja untuk kabin yang dishare berdua! Hehehe...Kapan ya bisa kesampaian?
Disney Cruise

Naik kapal pesiar mungkin adalah salah satu keinginan yang dimiliki oleh hampir semua orang (kecuali orangnya gampang mabuk laut ya, hehe). Tapi entah kenapa gue sangat penasaran dengan kapal pesiar keluarannya Disney ini. Kayaknya fun dan seru aja. Biasanya kan cruise itu identik dengan orang-orang kaya yang sudah pensiun dan bingung bagaimana menghabiskan uangnya =p Tapi Disney Cruise sepertinya seru dijalani, terutama untuk ibu-ibu kayak gue yang nggak pernah mau kehilangan masa kecil, hahaha..Kebayang serunya cruising dengan tujuan Karibia bersama Donald Duck di sepanjang perjalanan. Belum lagi entertainmentnya, seperti pertunjukan musikal sekelas Broadway yang bisa ditonton seluruh keluarga. Oya, untuk tahu perkiraan harga, bisa coba-coba masukin planning kita ke sini. Nanti keluar deh harganya berapa sesuai tujuan dan jenis cruise yang kita mau. Misalnya, gue coba masukin cruise dengan tujuan Karibia, berangkat dari Florida, selama 7 hari, untuk 2 dewasa dan 1 anak, total perjalanan kita adalah sekitar $2,880. Not bad kan ya? Tapi yang mahal adalah tiket menuju titik pemberangkatannya. Bahagialah wahai kalian penduduk Amerika!
Atlantis The Palm, Dubai

Gue sangat terkesan dengan hotel Atlantis di Dubai ini karena menonton salah satu episode The Amazing Race, di mana challengenya adalah meluncur dari perosotan super curam yang melewati kolam berisi hiu. Awww...adrenalin's calling nih! Semakin tua gue emang makin penakut sih. Kalau dulu mungkin cuek aja naik segala macam permainan gila di theme park, sekarang mikir seribu kali. Tapi kayaknya kalau udah sampe di Atlantis sih harus banget ya, meluncur di perosotan edan ini. Otherwise I can't sleep thinking about it, hehe. Selain marine dan water parknya, hotel ini juga terkenal karena fasilitasnya yang mewah dan bangunannya yang unik. Tapi ternyata tarif satu malamnya nggak semahal yang gue bayangin. Untuk deluxe room, tarifnya sekitar AED 1,490; atau $405. Itu untuk kamar paling standar loh ya...Kalau mau yang gila, misalnya Poseidon Suite yang pemandangan kamarnya adalah under the sea, lengkap dengan private butler 24 jam, semalamnya adalah....AED 29,500; atauuuuu $8,030 sajah sodara-sodara...hehehe...Mari berkhayal!!

Hmm, kayaknya segitu dulu aja deh berkhayalnya. Mungkin lain kali akan dilanjutkan dengan tempat-tempat lain yang sama gilanya...Life is indeed good (especially if you have money!)
Gue udah pernah tinggal di satu youth hostel di Barcelona dan sekamar sama cowok aneh yang tiap malem tidur setengah telanjang. Gue juga pernah kejebak booking hotel di internet pas lagi ke Belgia, dan ternyata kamar yang gue (waktu itu jalan sama nyokap) dapetin ternyata super duper busuk! Toiletnya, yang hanya berupa shower, dijadiin satu sama kamar tidur tanpa ada pintu atau apapun juga. Bleh. Gue sampe berantem hebat sama pengelolanya, dan akhirnya pindah ke hotel Ibis.
Tapi jangan salah!!! Pengalaman hedon pun pernah mampir dalam hidup gue. Syukurnya, kebanyakan gratis karena rejeki kerjaan. Gue pernah ngerasain spa paling enakkkk dalam hidup gue pas lagi liputan Kriya Spa di Grand Hyatt Bali. Asli, baru sekalinya gue dipijit sampe bener-bener ketiduran. Enak banget! Ditambah dengan ruangannya yang emang keren, minimalis sekaligus homey. Oh, pernah juga dulu gue dan keluarga jalan ke New York, dan salah satu kolega om gue mengatur penjemputan kita di airport dengan limousin putih panjang. Waaa...berasa jadi artis sehari deh. Meskipun menurut gue sih, naik limo itu nggak enak-enak banget kok. Tempat duduknya sebenernya kayak angkot, dengan kursi panjang yang saling berhadapan, hehehe..Tapi interiornya yaaa emang keren, lengkap dengan TV, mini bar dan telepon.
Anyway, karena semangat mimpi lagi menggebu-gebu, mariii kita berkhayal setinggi mungkin. Dan inilah beberapa tempat atau tujuan liburan yang menjadi impian gue. Hmm, siapa tau kan, ada yang mau ikut nyumbang, hahaha!
The Wizarding World of Harry Potter

Kayaknya, semua yang mengaku fans beratnya si Mas Harry pasti bakalan ngiler berat ngeliat tempat ini. Theme park yang menjadi bagian dari Universal Orlando di Florida ini memang belum lama dibuka, jadi isinya pun tidak sevariatif theme park lainnya. Tapi siapa sih yang nggak penasaran naik roller coaster berbentuk naga, berpetualang di Hogwarts, dan jalan-jalan di Hogsmeade sambil belanja tongkat sihir, permen Berty Botts atau minum Butterbeer? Arghh...serasa mimpi yang jadi kenyataan! Ada beberapa pilihan tiket yang bisa dibeli kalau mau mampir ke dunia Harry Potter ini. Yang paling murah bisa dibeli online di sini, harganya $82 untuk dewasa dan $74 untuk anak 3-9 tahun. Sebenernya, nggak terlalu mahal banget untuk dipakai seharian sih. Jadi, kalau memang ada rencana liburan ke US, silakan sempatkan mampir dan bergabung dengan dunia ciptaan JK Rowling ini.
Orient Express

Naik kereta api sih udah biasa, apalagi cuman dari Bandung ke Jakarta doang (eh, meskipun sedih juga sih, kereta Parahyangan yang legendaris malah udah nggak ada, huhu). Tapi naik kereta lux keliling Eropa? Lalalala....pastinya menjadi pengalaman luar biasa. Apalagi kalau keretanya adalah kereta legendaris Orient Express yang super duper lux. Mulai dari kabin yang mewah, service yang membuat kita merasa seperti bangsawan, sampai pemandangan di sepanjang perjalanan yang breathtaking. Ada beberapa tujuan yang ditawarkan, dari mulai Eropa sampai Asia Tenggara. Tapi yang paling populer adalah Venice Simplon Orient Express yang menjelajahi daratan Eropa. Salah satu paket "termurah" yang ditawarkan adalah jurusan London-Venice yang ditempuh dalam waktu dua hari satu malam. Harganya? $3,210 saja untuk kabin yang dishare berdua! Hehehe...Kapan ya bisa kesampaian?
Disney Cruise

Naik kapal pesiar mungkin adalah salah satu keinginan yang dimiliki oleh hampir semua orang (kecuali orangnya gampang mabuk laut ya, hehe). Tapi entah kenapa gue sangat penasaran dengan kapal pesiar keluarannya Disney ini. Kayaknya fun dan seru aja. Biasanya kan cruise itu identik dengan orang-orang kaya yang sudah pensiun dan bingung bagaimana menghabiskan uangnya =p Tapi Disney Cruise sepertinya seru dijalani, terutama untuk ibu-ibu kayak gue yang nggak pernah mau kehilangan masa kecil, hahaha..Kebayang serunya cruising dengan tujuan Karibia bersama Donald Duck di sepanjang perjalanan. Belum lagi entertainmentnya, seperti pertunjukan musikal sekelas Broadway yang bisa ditonton seluruh keluarga. Oya, untuk tahu perkiraan harga, bisa coba-coba masukin planning kita ke sini. Nanti keluar deh harganya berapa sesuai tujuan dan jenis cruise yang kita mau. Misalnya, gue coba masukin cruise dengan tujuan Karibia, berangkat dari Florida, selama 7 hari, untuk 2 dewasa dan 1 anak, total perjalanan kita adalah sekitar $2,880. Not bad kan ya? Tapi yang mahal adalah tiket menuju titik pemberangkatannya. Bahagialah wahai kalian penduduk Amerika!
Atlantis The Palm, Dubai

Gue sangat terkesan dengan hotel Atlantis di Dubai ini karena menonton salah satu episode The Amazing Race, di mana challengenya adalah meluncur dari perosotan super curam yang melewati kolam berisi hiu. Awww...adrenalin's calling nih! Semakin tua gue emang makin penakut sih. Kalau dulu mungkin cuek aja naik segala macam permainan gila di theme park, sekarang mikir seribu kali. Tapi kayaknya kalau udah sampe di Atlantis sih harus banget ya, meluncur di perosotan edan ini. Otherwise I can't sleep thinking about it, hehe. Selain marine dan water parknya, hotel ini juga terkenal karena fasilitasnya yang mewah dan bangunannya yang unik. Tapi ternyata tarif satu malamnya nggak semahal yang gue bayangin. Untuk deluxe room, tarifnya sekitar AED 1,490; atau $405. Itu untuk kamar paling standar loh ya...Kalau mau yang gila, misalnya Poseidon Suite yang pemandangan kamarnya adalah under the sea, lengkap dengan private butler 24 jam, semalamnya adalah....AED 29,500; atauuuuu $8,030 sajah sodara-sodara...hehehe...Mari berkhayal!!

Hmm, kayaknya segitu dulu aja deh berkhayalnya. Mungkin lain kali akan dilanjutkan dengan tempat-tempat lain yang sama gilanya...Life is indeed good (especially if you have money!)
Thursday, January 13, 2011
Thursday, December 30, 2010
Nasionalis?
Seorang temen kemarin ini cerita, kalau dia berniat untuk "pindah paspor" ke negara lain, karena sudah tinggal begitu lama di negara tersebut dan selama ini masih memegang paspor hijau sebagai identitasnya.
Kenapa? Gitu tanya gue. Kenapa sekarang, setelah sekian lama?
Jawabannya simpel. Soalnya biar gampang kalau mau traveling. Kalau pake paspor Indo susah dapet visa nya, belum lagi suka dicurigain macem-macem dan imbasnya suka jadi korban tindakan security lebay di negara-negara tertentu.
Gue masih penasaran. Tapi berarti loe bukan warga negara Indonesia lagi donk, officially?
Dan temen gue menjawab santai. I'm still Indonesian at heart.
Oke...hmmm mungkin emang terlalu dangkal kalau nasionalisme hanya dinilai berdasarkan sebuah buku mungil bernama paspor. Dan nggak bisa disangkal juga, paspor Indonesia memang kadang sedikit merepotkan. Bikin visa suka ditolak. Tembus imigrasi di airport asing suka susah.
Isu nasionalisme muncul lagi di benak gue ketika heboh Piala AFF kemarin ini. Timnas bermain bagus, meski sempat ada bahasan seru tentang naturalisasi pemain asing. Nah lhoo...meski tentunya berkat the so-called pemain asing itulah prestasi dan performa timnas jadi meningkat tajam. Sampai-sampai ada yang nyeletuk, "Garuda di pasporku!" instead of "Garuda di dadaku" hehehe...Entahlah apakah pemain yang dimaksud memang bermain sepenuh hati karena memang merasa sudah meng-Indonesia, atau hanya karena memang "kewajibannya".
Sebenernya apa makna nasionalisme juga gue masih nggak yakin sampai sekarang. Iya, gue cinta Indonesia, iya gue bangga jadi orang Indonesia. Dan iya, gue bakal mikir seribu kali untuk memutuskan tinggal for good di negara lain atau mengganti paspor gue dengan paspor negara lain. Tapi apa nasionalisme berarti marah-marah dan ngatain tim dari negara lain yang mengalahkan kita? atau sibuk rusuh sendiri bikin trending topic di Twitter tentang betapa negara tersebut adalah cheater?
Menurut gue, nasionalisme kayak begitu hanya yang jenisnya semu. Mungkin malah lebih semu dibanding menukar paspor hijau dengan paspor berwarna lain.
Akhirnya, kembali ke masing-masing orang sih. Mungkin memang nasionalisme hanya bisa diukur dari hati. Bukan dari atribut seperti paspor atau kaos merah bergambar garuda di dada.
Kenapa? Gitu tanya gue. Kenapa sekarang, setelah sekian lama?
Jawabannya simpel. Soalnya biar gampang kalau mau traveling. Kalau pake paspor Indo susah dapet visa nya, belum lagi suka dicurigain macem-macem dan imbasnya suka jadi korban tindakan security lebay di negara-negara tertentu.
Gue masih penasaran. Tapi berarti loe bukan warga negara Indonesia lagi donk, officially?
Dan temen gue menjawab santai. I'm still Indonesian at heart.
Oke...hmmm mungkin emang terlalu dangkal kalau nasionalisme hanya dinilai berdasarkan sebuah buku mungil bernama paspor. Dan nggak bisa disangkal juga, paspor Indonesia memang kadang sedikit merepotkan. Bikin visa suka ditolak. Tembus imigrasi di airport asing suka susah.
Isu nasionalisme muncul lagi di benak gue ketika heboh Piala AFF kemarin ini. Timnas bermain bagus, meski sempat ada bahasan seru tentang naturalisasi pemain asing. Nah lhoo...meski tentunya berkat the so-called pemain asing itulah prestasi dan performa timnas jadi meningkat tajam. Sampai-sampai ada yang nyeletuk, "Garuda di pasporku!" instead of "Garuda di dadaku" hehehe...Entahlah apakah pemain yang dimaksud memang bermain sepenuh hati karena memang merasa sudah meng-Indonesia, atau hanya karena memang "kewajibannya".
Sebenernya apa makna nasionalisme juga gue masih nggak yakin sampai sekarang. Iya, gue cinta Indonesia, iya gue bangga jadi orang Indonesia. Dan iya, gue bakal mikir seribu kali untuk memutuskan tinggal for good di negara lain atau mengganti paspor gue dengan paspor negara lain. Tapi apa nasionalisme berarti marah-marah dan ngatain tim dari negara lain yang mengalahkan kita? atau sibuk rusuh sendiri bikin trending topic di Twitter tentang betapa negara tersebut adalah cheater?
Menurut gue, nasionalisme kayak begitu hanya yang jenisnya semu. Mungkin malah lebih semu dibanding menukar paspor hijau dengan paspor berwarna lain.
Akhirnya, kembali ke masing-masing orang sih. Mungkin memang nasionalisme hanya bisa diukur dari hati. Bukan dari atribut seperti paspor atau kaos merah bergambar garuda di dada.
Wednesday, December 08, 2010
For Parents in Need: The Urban Mama Indeed!
I am not a person with motherly instincts. I love kids, but I've never dreamed to have lots of them since I was a child. I love playing with children, but I know nothing about raising a child on my own, or even doing a simple task like changing diaper or feeding a baby.
So, I was very-very clueless when I was pregnant and finally have my own baby Yofel (yep, not a nephew who I could give back to his parents if he started to get naughty!). I read several books about pregnancy and parenting, but still, so many questions unanswered and so many things I need to ask.
My curiosity led me to internet (of course!) and I stumbled to many websites, blogs, and mailing lists. Some could answer my questions, but some made me feel more isolated and guilty than ever. I couldn't give Yofel ASI Exclusive, and to read many negative comments about formula and bottle feeding made me feel really sad and bad about myself.
Then one day, a friend of mine mentioned a forum I never heard before: The Urban Mama. A bit sceptical at first, but I thought, ok, let's give it a try. And wow! I'd mesmerized of its tag line: There is always a different story in every parenting style. I totally agree with this!
And since that day, The Urban Mama became my saviour. I learned A LOT about many things, from breastfeeding to Baby Led Weaning, from traveling with infants to choose a recommended baby bottle. Ok, there's one tiny bad point from this wonderful forum: It brought out the shopaholic in me! Hahaha, I found out many cute brands that I've never known before, from baby stroller to diaper bag, and it makes me craving for more shopping! =)
At first, I only became a silent reader of The Urban Mama. I'm not a fan of internet forum, and I feel a bit uncomfortable to share my problems or stories with people I don't know. But when Yofel had his colic problem, I had no idea what should I do, and decided it's time to seek an advice from the amazing parents of this amazing forum. And what a surprise when I found out that many people actually answered my questions! They shared their stories, gave advice, and offered support. Imagine, these people whose faces I didn't even know! I felt warmth inside my heart, and quickly became an active member of the forum. I remembered how great it felt when you got support from other people, so even though I didn't have solutions for every problem, at least I tried my best to offer support and comfort, by writing an article or dropping some lines in the forums. I also recommended The Urban Mama to all my friends who are parents and parents-to-be. And although I only got a chance to join the kopdar once, I still feel as a proud member of The Urban Mama: I'm a TUMbler! =)
The Urban Mama is not only helping me to solve everyday problems as a parent (from parenting to financial tips!), but it taught me about the most principal thing in parenting (more important than ASIX, IMD, RUM, BLW or other abbreviations): Respect.
Parenting is about respecting other people's choices, because there is always a different story in every parenting style. And hopefully, one day we can teach our kids to do the same in their future.
Happy 1st anniversary, The Urban Mama, I wish you more fruitful years to come! (And a big thanks for the founding mamas: Shinta, Thalia and Ninit, and all the crew. Keep up the great job!)
Tuesday, November 23, 2010
The Grass Always Looks Greener...
Every person in this planet experienced his low times. Different reasons, maybe, but the same feelings: gloomy, hopeless, sad. It feels like we have the worst life ever in the whole wide world.
Some people struggled with their finance, some had health problems, and many tried to find a purpose of their lives. And the ungrateful feeling, the evil sentence of "if only my life is not like this...", and the neverending envy of other people's lives!
I had this kind of situation lately, where I feel really bad about my life. I was kinda lost, seemed to forget what the hell am I doing here, with my life, right now? How come I ended up doing job that I don't really care about, with people I don't really like? What am I doing here, where has my so-called idealist self gone?
And I started to feel bad because I wish my old life back. I wish I can still have the dream job with many traveling plans and do stuff that I care about. I wish I don't have to think about the money, to count every penny before decided to buy a book in a book store. I wish I don't have to feel guilty every time I want to have a night out and leave my baby at home.
I talked to an old friend who has a wonderful plan for his future, and felt jealous. I saw a facebook page of one of my best friends and I was green with envy. It could be my life! An interesting-less stressful-and not-boring life. Not plain like mine now.
And so it goes, the unbearable days of whining-cursing-struggling.
Until last weekend, when I visited a Foundation for Disabled Children and Adults with my big family, just like we do every year before the Christmas. The foundation called Panti Rawinala, a place for children and adults who have disability with their vision, either they are blind or have low vision. Besides that, all the children and adults there have other disabilities, some are mentally ill and others have physical problems.
Seeing them living their lives there, with happy faces and hope that is so high to the sky, I felt like being slapped in my face. Especially when one of the children sang (with his very beautiful voice) a song called Ku Tak Akan Menyerah, a christian song that has very beautiful lyric.
"I will never give up, before I try everything I can. But I trust God and I believe that He has a plan for me"
Ok, I don't want to sound like a religious-hypocrite, but seriously, I was very touched. How come I was so ungrateful with my life? With a loving family, a great son, a decent job and a future to be reached out? Yes, my life is not perfect. But it is up to me to make it as perfect as I want to.
The grass will always look greener on the other side of the fence, but like I once said before, you never know how much pesticide is used on them!
And today, when the big three O is coming to my life, I want to get ready to be grateful for every chance I have, for every single problem that makes me stronger, for every love, every crash, every struggle and every little happiness in my life. Thank God for the thirty years You have given to me.
Bring it on! =)
Some people struggled with their finance, some had health problems, and many tried to find a purpose of their lives. And the ungrateful feeling, the evil sentence of "if only my life is not like this...", and the neverending envy of other people's lives!
I had this kind of situation lately, where I feel really bad about my life. I was kinda lost, seemed to forget what the hell am I doing here, with my life, right now? How come I ended up doing job that I don't really care about, with people I don't really like? What am I doing here, where has my so-called idealist self gone?
And I started to feel bad because I wish my old life back. I wish I can still have the dream job with many traveling plans and do stuff that I care about. I wish I don't have to think about the money, to count every penny before decided to buy a book in a book store. I wish I don't have to feel guilty every time I want to have a night out and leave my baby at home.
I talked to an old friend who has a wonderful plan for his future, and felt jealous. I saw a facebook page of one of my best friends and I was green with envy. It could be my life! An interesting-less stressful-and not-boring life. Not plain like mine now.
And so it goes, the unbearable days of whining-cursing-struggling.
Until last weekend, when I visited a Foundation for Disabled Children and Adults with my big family, just like we do every year before the Christmas. The foundation called Panti Rawinala, a place for children and adults who have disability with their vision, either they are blind or have low vision. Besides that, all the children and adults there have other disabilities, some are mentally ill and others have physical problems.
Seeing them living their lives there, with happy faces and hope that is so high to the sky, I felt like being slapped in my face. Especially when one of the children sang (with his very beautiful voice) a song called Ku Tak Akan Menyerah, a christian song that has very beautiful lyric.
"I will never give up, before I try everything I can. But I trust God and I believe that He has a plan for me"
Ok, I don't want to sound like a religious-hypocrite, but seriously, I was very touched. How come I was so ungrateful with my life? With a loving family, a great son, a decent job and a future to be reached out? Yes, my life is not perfect. But it is up to me to make it as perfect as I want to.
The grass will always look greener on the other side of the fence, but like I once said before, you never know how much pesticide is used on them!
And today, when the big three O is coming to my life, I want to get ready to be grateful for every chance I have, for every single problem that makes me stronger, for every love, every crash, every struggle and every little happiness in my life. Thank God for the thirty years You have given to me.
Bring it on! =)
Wednesday, November 10, 2010
Home Sweet Home
Selama nyaris dua tahun sudah gue tinggal di apartemen mungil di kawasan Jakarta Barat. Jujur, gue suka banget tinggal di apartemen. Gue seneng suasananya yang selalu rame (meskipun, suka bikin jantungan kalau ada berita-berita mengerikan seperti "ada yang loncat dari tingkat 20!", atau "ada pembunuhan model di tower sebelah!", atau "kemarin tetangga bawah ikut digerebek polisi karena nyimpen narkoba!"), dan yang paling kerasa adalah praktisnya kalau mau ngapa-ngapain. Mau belanja? Tinggal turun ke Hero. Males masak? Tinggal angkat telepon, pesen delivery deh.
Tapi sejak ada anak, tinggal di apartemen emang jadi tantangan juga. Space jadi mengecil, terlalu banyak barang di mana-mana. Belum lagi, Yofel sekarang lagi seneng-senengnya merangkak dan belajar berdiri, serem banget tiap ngeliat dia nyaris kepentok meja atau keserimpet kabel.Hiii...
Lalu, lalu...Biaya tinggal di apartemenpun sebenernya lebih mahal daripada tinggal di perumahan. Kenapa? Karena untuk bayar listrik dan air, hitungannya melalui pihak ketiga (yaitu pengelola apartemen), jadi jatohnya emang mahal banget. Satu bulan listrik dan air gue bisa sama dengan bayaran listrik dan air rumah nyokap di Bandung (yang jelas-jelas ukurannya lebih besar). Ditambah lagi dengan service maintenance yang mayan mahal juga per bulannya.
Jadi, memang ada plus minusnya, dan sebenernya bingung juga kalau mau pilih tinggal di rumah atau apartemen. Bulan depan, kontrak kita dengan apartemen ini habis. Rencananya memang mau diperpanjang, tapi karena si owner menaikkan harga sewa, jadi mikir-mikir juga. Apa sebaiknya pindah aja? Tetep ke apartemen, atau mulai cari rumah?
Sebenernya sih belum rela juga meninggalkan apartemen yang sekarang. Biarpun mungil, tapi udah jadi saksi berbagai kejadian, termasuk panik gempa waktu hamil 7 bulan, diketok-ketok tetangga pas jamannya Yofel kolik dan nangis tiada henti, juga pendengar yang baik saat kita berangan-angan tentang mimpi dan rencana masa depan.
Hmm...Jadi gimana nih...pindah? atau tetep disini?
Tapi sejak ada anak, tinggal di apartemen emang jadi tantangan juga. Space jadi mengecil, terlalu banyak barang di mana-mana. Belum lagi, Yofel sekarang lagi seneng-senengnya merangkak dan belajar berdiri, serem banget tiap ngeliat dia nyaris kepentok meja atau keserimpet kabel.Hiii...
Lalu, lalu...Biaya tinggal di apartemenpun sebenernya lebih mahal daripada tinggal di perumahan. Kenapa? Karena untuk bayar listrik dan air, hitungannya melalui pihak ketiga (yaitu pengelola apartemen), jadi jatohnya emang mahal banget. Satu bulan listrik dan air gue bisa sama dengan bayaran listrik dan air rumah nyokap di Bandung (yang jelas-jelas ukurannya lebih besar). Ditambah lagi dengan service maintenance yang mayan mahal juga per bulannya.
Jadi, memang ada plus minusnya, dan sebenernya bingung juga kalau mau pilih tinggal di rumah atau apartemen. Bulan depan, kontrak kita dengan apartemen ini habis. Rencananya memang mau diperpanjang, tapi karena si owner menaikkan harga sewa, jadi mikir-mikir juga. Apa sebaiknya pindah aja? Tetep ke apartemen, atau mulai cari rumah?
Sebenernya sih belum rela juga meninggalkan apartemen yang sekarang. Biarpun mungil, tapi udah jadi saksi berbagai kejadian, termasuk panik gempa waktu hamil 7 bulan, diketok-ketok tetangga pas jamannya Yofel kolik dan nangis tiada henti, juga pendengar yang baik saat kita berangan-angan tentang mimpi dan rencana masa depan.
Hmm...Jadi gimana nih...pindah? atau tetep disini?
Subscribe to:
Comments (Atom)