Wednesday, January 23, 2013

Survivors

A very dear friend of mine who is now living in the U.S. said to me once, "Hidup di Jakarta itu kualitasnya rendah banget ya. Macet, banjir, polusi... Kalaupun aku pulang ke Indonesia, aku nggak mau hidup di Jakarta".

And Jakartans, do you agree with that statement?

Sejujurnya, sedih bangeeet karena di awal 2013 ini berita yang menghampiri Jakarta memang nggak ada bagus-bagusnya. Terutama tentang banjir yang melanda ibukota dan bahkan menenggelamkan daerah-daerah utama seperti jalan Sudirman dan Thamrin. Tak terhitung banyaknya rumah yang terendam, harta benda yang hanyut, dan terutama, korban baik luka maupun meninggal. My very deep condolences for each and every victim.

Tapi, apa benar hidup di Jakarta juga segitu menderitanya? Segitu "berkualitas rendah-nya" sampai-sampai tidak layak untuk membesarkan anak?

Well, probably it is. Kalau denger cerita temen-temen gue yang harus nganter anak sekolah pagi-pagi, belum lagi terjebak macet berjam-jam bahkan sebelum keluar dari kompleks perumahan, kayaknya kok emang kasian sama anak-anak ini. Belum lagi soal polusi, tingkat kriminalitas tinggi, plus kalo ada bencana semacam banjir kemarin ini...Awww...am I sure that I'll raise my kid in this city?

Tapi...bagaimanapun, Jakarta juga menawarkan hal-hal lain. Buat gue yang mencintai kota besar, Jakarta memberikan berbagai pilihan dan kemudahan, mulai dari cafe 24 jam, mal besar yang menyediakan segala kebutuhan, bahkan tempat bermain anak indoor, yang meski belum bisa menggantikan outdoor playground, keberadaannya cukup mengobati hati.

Yang paling gue suka dari Jakarta adalah, this city teaches me how to become a survivor. Banjir dan nggak ada public transport? Ojek siap mengantar ke manapun. Macet nggak ada dua? Siapkan mental untuk menyusuri jalan tikus! Kekurangan tempat hang out yang memadai? Use your creativity, this city offers many hidden gems among its polluted areas.

Dan yang pasti, kota ini juga memaparkan realita hidup yang nggak selamanya seperti dongeng Disney yang happily ever after. Banyaknya penduduk yang masih hidup di bawah garis kemiskinan, yang membutuhkan bantuan sekecil apapun di tengah hutan beton ibukota yang menjulang dengan angkuhnya. Dan meski banyak orang yang bilang kalau Jakarta penuh dengan orang-orang yang nggak peduli, gosh, I'm glad what happened during the flood last week showed the opposites. People were helping each other, for heaven's sake.

Temen kantor gue, orang Amerika yang tinggal di rumah daerah Blora bersama beberapa expat lainnya, harus mengalami kebanjiran parah akibat jebolnya tanggul Latuharhary. And what a nice surprise when they found out the whole neighborhood helping them to move all the stuff. Begitu juga dengan seorang anak Amerika lain, yang harus berangkat ke airport mengejar pesawat di saat banjir parah minggu lalu. Di tengah rasa putus asa akibat susahnya mendapat taksi, adaaa saja supir taksi baik hati yang bersedia mengantarnya ke bandara, terlepas dari situasi jalanan yang sulit waktu itu.

There are angels everywhere in every corner of the Earth, and Jakarta is not an exception. I'm a survivor here, and I'll teach my kid to be the same. Maybe we won't live here forever, maybe I don't want to grow old in this city, but for now, I'm glad I can experience things that can make me feel alive, to see life from a different perspective, and the most important thing: to show my kid that you need to be strong to face the world, to be a survivor =)

Friday, December 28, 2012

Twenty Twelve

This year is one of the toughest years in my life, in terms of finance, parenting, relationships, even work. I lost a beloved aunt, almost been kicked out from our previous apartment, and had a very challenging moments with my son. Who knows being a mom of a 3 years old boy could be so difficult and dramatic? Who knows that 4 years of marriage left you with more bitterness and dull routines? And who knows that 3 years at the same office (the longest record I have so far!) could define the word "bored" into a new level?

Well.. I didn't know all of that stuff. But now I learned my lessons =D

It's not about the situation - challenging kid, flat relationship or bad financial situation. I can't even blame my boss for my so-called unhappiness at work.

It's about my attitude. And how I deal with things.

The biggest problem in 2012 is the way hope was slipped from my grip. The way giving up seemed so easy for me. The way walking out from the hard reality and never faced it bravely became the only solution I knew. The way I compared other people's life with mine, with increasing jealousy and hatred every day. The way I coped with life with so much bitterness.

This year is indeed tough. But I'm sure it's not only for me. And I don't want to be one of the losers who will give up with the hard times. I want to keep my hope, grip it hard and put it in my heart. I want to be back in the game of love - not only with my husband and son, but with everyone who shares their life with mine. I want to face my problems bravely - not walking away or hiding behind somebody else's back.

I want to live my life. Just like I did for many years before.

And I want to welcome 2013 with a different spirit.

How about you?

Monday, December 17, 2012

Four Years

Soooo it's been four years since we said our vows in a church in Bogor, in front of the people whom we love so much. And how's marriage life treated me so far?

To tell you the truth, it's not all rainbows and butterflies like I thought before. We are two different people, with two very different needs, and we really have different approaches in solving our problems. We're not the perfect couple. I am not a romantic, even in our first year of marriage he could tell the obvious fact.

And after being with one person for these past four years, sometimes I miss my single life. My carefree-do whatever I want to do- days. When I could sort all my plans without having to consult anybody. When I didn't have to bear a heavy responsibility as a mother and a wife. When my identity was simply me. Myself.

And then the reality hit me hard. Do I really want to go back to those days? Days without the little boy's laughter and cries? Days without having someone to talk to after a series of unfortunate events? Days without my own little family?

I can't imagine that happens to me.

Yes we don't have a perfect marriage, yes we have so many unsolved problems, yes we have very bad days. But who doesn't? 

We don't live in Twilight world anyway. And even there, they have their own problems.

Happy anniversary!


Friday, November 23, 2012

Thirty Something

Okaaay...I'm officially a thirty something lady now, not a funky care-free twenty something girl anymore =D Well setidaknya gue berharap jiwa tetap muda sih, meski sudah ada embel-embel kepala tiga sekian sekian (hokeee..tiga puluh dua, susah amat sih ngaku umur doang!).

Anyway, mengutip khotbah pendeta di sebuah kebaktian minggu beberapa waktu lalu, ada 14 hal yang biasanya jadi penyesalan seseorang:

1. tidak merawat kesehatan
2. terlibat pergaulan yang salah
3. membiarkan pernikahan rusak
4. malas belajar hal-hal baru, termasuk bahasa asing
5. gagal menyelesaikan atau melanjutkan pendidikan
6. tidak pernah traveling
7. terlalu serius menjalani hidup
8. tidak menjalani pekerjaan impian
9. hidup mengikuti cara dan kemauan orang tua (!)
10. khawatir berlebihan tentang yang orang lain katakan
11. tidak memperjuangkan cinta sejati (ciyeee..romantis juga pak pendeta)
12. putus kontak dengan teman masa kecil
13. membully orang lain semasa sekolah
14. bekerja terlalu banyak dan mengorbankan waktu dengan orang-orang tercinta

Sebenernya mungkin masih banyak penyesalan-penyesalan yang dihadapi orang-orang, tapi 14 poin di atas cukup bisa mewakili kehidupan: kesehatan, keluarga, pendidikan dan passion, juga relationship dengan orang-orang sekitar.

Menginjak usia 32, gue sendiri masih punya banyak "penyesalan". Memang benar, orang bilang banyak-banyaklah bersyukur. Tapi menurut gue, nggak ada salahnya mengatur target untuk diri sendiri. Dan "penyesalan" merupakan pengingat akan apa yang belum kita lakukan - dan tentu saja melakukannya, bukan hanya menyesalinya terus menerus =)

So let me say: welcome to the age of 32, and bring it on!

Tuesday, November 20, 2012

Drama Apartemen

Hampir 4 tahun tinggal di apartemen, gue masih maleesss banget untuk pindah ke rumahan. Kayaknya emang udah kecanduan tinggal di apartemen dengan segala kemudahannya: bisa ditinggal pergi berhari-hari, cari makanan malem-malem, belanja dadakan tinggal turun ke bawah, dan ngesot sedikit langsung ketemu mall. Oiya, satu lagi alesan egois kenapa gue males pindah rumah: apartemen itu gampang beberesnya, huahaha...sangat pemalas yah.

Anyway, bukan berarti tinggal di apartemen selalu tenang damai bahagia lhooo...Justru banyak kejadian aneh dan terkadang tragis yang sebenernya bikin mikir untuk pindah. Gempa bumi misalnya, pernah beberapa kali gue rasain. Dari yang paling gede saat lagi hamil 7 bulan dan terpaksa ngos-ngosan turun tangga 12 lantai, sampai yang cukup kecil dan hanya bikin loncat sedikit, dan biasanya gue cuekin aja.

Tinggal di apartemen juga berarti ketemu banyak orang. Senengnya, jadi kenal berbagai jenis orang, mulai dari tetangga yang kalo berantem sampe kedengeran ke mana-mana, terus anak-anak kecil yang jadi temen mainnya Yofel, juga ibu-ibu ngeselin yang kalo naik lift maunya nyerobot aja. Nggak enaknya, tentu space yang kecil bikin ruang gerak dan privasi kita menyempit juga. Kadang pengen marah-marah karena anak tetangga ribut lari-larian di lorong depan sementara kita pengen tidur siang. Tapi, kondisi sebaliknya juga pernah terjadi, tetangga depan ngetok-ngetok pintu gara-gara Yofel nggak bisa berenti nangis pas jaman suka kolik dulu.

Di apartemen gue juga suka banyak orang yang kurang jelas asal-usulnya. Well, gue sih sebenernya nggak mau mikirin dan ngurusin, selama mereka juga nggak pernah ngerecokin dan bermaksud jahat sama kita. Tapi kadang ngeri juga kalo udah denger berita-berita serem seputar "pembunuhan" atau "penggerebekan narkoba". Pernah nih, satu sore gue pulang kantor mendapati gerombolan polisi dan petugas dengan seragam imigrasi berkerumun di depan apartemen gue. Kaget donk, kirain ada apaan. Ternyata, tetangga depan gue, sekumpulan cowok bertampang Timur Tengah, lagi kena gerebek karena nggak punya ijin tinggal dan dokumen jelas. Zzzzz...

Tragedi terakhir yang juga menyedihkan adalah jatuhnya seorang anak kecil dari lantai 28. Kebetulan satu tower dengan gue, dan kebetulan suka main di lobby sama Yofel sesekali. Selain tragis karena korbannya adalah anak kecil dan banyak saksi yang melihat dari kolam renang, kejadian ini juga menimbulkan kontroversi karena banyaknya kabar burung di balik kecelakaan tersebut. Ada yang bilang bukan murni kecelakaan, ada yang bilang melibatkan keluarga, dll dsb. Apapun itu, gue berdoa supaya anak laki-laki itu bisa beristirahat dengan tenang.

Tapi ternyata nggak berakhir disana, sekarang banyak pula yang membuat cerita jadi horror dengan kesaksian mereka melihat arwah si anak jalan-jalan, mulai di kolam renang sampai nongkrong di lobby tower. Sampai-sampai, waktu lagi cari apartemen untuk pindahan bulan depan, kita nggak jadi ambil satu unit yang ngadep ke kolam renang, persis ke tempat si anak jatoh...akibat terlalu banyak dengerin kisah-kisah seram. Huhuhu!

Anyway, berbagai drama di atas belum menyurutkan niat gue untuk tetap melanjutkan tinggal di apartemen. Tapi drama masih berlanjut, karena sampai sekarang kita belum menemukan apartemen yang pas...padahal sisa kontrakan yang sekarang tinggal 3 minggu lagi! wakwawwww...

Friday, November 02, 2012

Berlibur ke Rumah Nenek....(not!)

Judul itu adalah judul favorit jaman SD ketika mendapat tugas mengarang setelah liburan. Dan betapa irinya gue sama teman-teman yang bisa bercerita panjang lebar tentang liburan mereka di rumah Nenek - di desa, liat sawah, main sama kambing dan bebek...Sementara gue? Kedua Nenek gue saat itu tinggal di kota yang sama dengan gue. Bahkan Oma, Nenek gue dari pihak bokap, malah tinggal di rumah yang sama dengan gue, hanya dipisahkan oleh pintu paviliun saja. Blaaah...

Dan gue pun bercita-cita supaya Yofel setidaknya punya pengalaman liaht sawah, lihat bebek meleter dan kambing mengembik. Masalahnya, para oma-opa sekarang tinggal di kota-kota besar, di kompleks perumahan yang lebih dekat dengan mall ketimbang dengan sawah. Jadi gimana donk?

Untunglah, Ncus Yofel yang sudah bekerja mengurus Yofel selama 3 tahun ini berasal dari daerah yang masih cukup asri tapi nggak jauh-jauh banget dari Jakarta, yaitu Subang. Dan weekend Idul Adha kemarin kita memutuskan untuk jalan ke Subang, sekalian makan sate kambing dan merayakan 3 tahunnya Yofel (sekaligus 3 tahunnya Ncus bersama kita).

Dulu, jaman belum ada Cipularang, Subang adalah salah satu jalur favorit yang ditempuh untuk bisa sampai ke Jakarta. Biasanya, kalo pergi sama bokap, kita akan berhenti di salah satu resto dan makan siang di sana, atau mampir dulu ke Ciater sekadar kongkow-kongkow. Kangen juga suasana santai kayak gitu, karena kalo sekarang kan, Bandung-Jakarta bisa ditempuh dalam 2 jam (tanpa macet), businesslike banget deh feelnya, nggak ada santai-santainya sama sekali (Bahkan rest area nya pun terkesan penuh, serba buru-buru dan hectic).

Bagaimana dengan Subang saat ini? Meski sudah mengalami banyak perkembangan (ada Yogya department store yang cukup besar, lengkap dengan supermarketnya), namun suasana "kampung" nya juga masih berasa, apalagi kebanyakan orang masih bicara dalam bahasa Sunda. Senangnya =)

Kita menginap di Hotel Lotus, yang menurut anaknya Ncus, adalah hotel paling baru dan bagus di kota tersebut. Surprisingly, hotelnya bersih dan masih baru bangunannya, ada TV kabel dan wifi segala. Lokasinya juga persis di tengah kota, sehingga gampang kalau mau cari makan. Yang bikin terharu adalah waktu salah satu ponakan Ncus main ke kamar kita dan berseru dengan takjubnya, "Wah...ngeunaheun pisan euy ieu mah!" (Wah, enak banget ini sih!). Sementara si Ncus (yang punya pengalaman tinggal hotel-hotel bagus di berbagai negara) malahan sibuk menjelek-jelekkan hotel yang menurut dia "nggak ada apa-apanya dibanding Sheraton". Hahaha...kacau banget.

Anyway, we had a really-really great time there. Main ke rumah kakaknya Ncus yang masih tetanggaan sama sawah. Kesampaian juga Yofel ketemu kambing (yang selamat dari pemotongan massal hari itu), main sama ayam dan ngeliat bebek, mancing ikan dari baskom, dan lari-lari di pematang sawah. Yang lebih seru adalah karena salah satu cucu si Ncus, Ivan (yang dipanggil Aa Ipan sama Yofel) juga datang hari itu dan menemani Yofel main-main (sebelumnya mereka udah pernah ketemu pas di Bandung).

Semoga Yofel akan punya pengalaman seperti ini terus untuk ditulis di pelajaran mengarang nya suatu hari nanti, sehingga nggak perlu mengarang bebas sambil sirik-sirikan kayak gue dulu =)

Next time ke sini, mampir ke Ciater ah !


Ketemu kambing di tengah sawah =)

Nasibmu oh ayammm... (tenang, abis ini dilepas lagi kok) 



Sepanjang pematang...


 

yang ini agak gersang ya sawahnya? 





Thursday, November 01, 2012

Letting Go

To love is knowing when to let go, that's what people said. But it's easier said than done.

Last week, I heard a sad news from a very dear friend of mine, who had lost her father after one week in ICCU. It's quite a shock since her father seemed healthy and never had serious complaint about his health. Turned out, he had a serious heart attack and several other complications, causing a multi organ failure. After several days in comma, the doctor asked the family whether they wanted to continue the procedures (which involved ventilator and hemodialysis), or to stop them altogether.

Looking at the father's condition, the family decided to stop the treatment and let go. Let the best thing happen, even though that means they have to lose their father. Anything, but making their father suffered more than he should.

And at the very evening, their father passed away. My friend said that to let go her father was the hardest thing she'd ever done, but the most liberating at the same time.

The older we become, the scarier it feels to lose the people we love. But some things are unavoidable, and the most important thing is to remember that loving someone doesn't always mean having them around us all the time. Losing someone doesn't mean that we lost them forever. Because the memories, the love, the time we spent together, will always be captured in our heart.

Monday, October 22, 2012

Free Malling

Hidup di Jakarta sebenarnya sekarang sudah cukup menyenangkan untuk membawa anak-anak berjalan-jalan. Banyak variasi tempat selain mall yang patut dikunjungi, seperti museum, taman, area outdoor, sampai tempat-tempat bersejarah. Tapi sejujurnya, ada hari-hari dimana gue hanya pingin ke mall, ngadem di ruangan ber-AC (apalagi Jakarta sudah lama banget nggak disambangi hujan) sambil nyantai-nyantai aja.

Tapi, kelemahan mall adalah uang melayang tanpa terasa. Apalagi kalau pergi ke tempat permainan seperti Fun World atau Timezone, huhuuu seratus ribu bisa habis dalam sekejap. Belum lagi kalau disambi ngopi-ngopi, atau makan di restoran...Mana mungkin bisa berhemat, apalagi kalau lagi tanggal tua, menderita banget.

Sayangnya, di mall-mall Jakarta memang belum banyak playground atau tempat bermain yang gratisan. Jadi kita harus pintar-pintar mencari ide yang bisa cukup menghibur hati anak-anak tanpa terlalu mencekik dompet orang tua. Kalau untuk tanggal tua sih, lumayanlah beberapa altenatif di bawah ini =)

1. Free Playground 
Tentu nggak secanggih Giggles di FX dengan semprot-semprotan airnya, atau semeriah Fun World Grand Indonesia yang super heboh. Tapi ada beberapa playground mini yang cukup menyenangkan untuk menghabiskan waktu. di Burger King Senayan City, misalnya, ada ruangan khusus playground anak. Kita bisa membeli soft drink dan duduk menunggu, bahkan kayaknya nggak beli apa-apa pun nggak ada yang peduli juga (meski terlalu pelit sih kalau untuk sekadar soft drink pun nggak mau beli, hihi). Ace Hardware di Living World Mall juga memiliki playground gratisan yang lumayan lengkap dan besar. Sementara itu, di PIM juga tersedia beberapa mini playground (sebenarnya cuman berupa perosotan dan mainan modelnya Little Tikes). Kelemahan playground gratisan, tentu ramenya yang suka nggak kira-kira. Sangat disarankan datang di hari biasa, atau di jam-jam aneh seperti pagi hari pas mall baru buka, atau setelah lewat jam makan siang untuk playground di restoran.

Mainan di Playground gratisan Ace Hardware - kok burem yah...


2. Toy Store
Ini agak tricky sih, soalnya main ke toy store berarti harus siap menghadapi drama dan godaan membelikan mainan. Tapi beberapa toy store memiliki fasilitas bermain gratis yang diharapkan bisa meredam hasrat belanja si kecil. Sogo dan Metro misalnya, sering menyediakan meja khusus untuk bermain lego sepuasnya (selama nggak ada anak lain yang ngantri sih, hehe). Juga suka ada mainan track mobil atau kereta api Thomas yang dinyalakan non stop, lumayanlah menghibur juga untuk tontonan. Di toko mainan lain seperti ELC, Toys Kingdom atau Kidz Station, sebenarnya juga banyak mainan yang boleh dicoba gratis, atau sekadar dipandang-pandang. Asal cukup tebel muka untuk keluar dari toko tanpa membeli apa-apa, dan siap menghadapi drama si kecil, main-main ke toy store bukanlah ide yang buruk.

Nyobain keyboard di ELC, sampe mbak-mbaknya hapal sama yofel =p


3. Art & Craft
Sebenarnya, kalau mau mengeluarkan sedikit modal (30 ribuan rupiah), ada fasilitas mewarnai gambar dengan pewarna cair yang nantinya disetrika dan dikeringkan (nggak tau namanya apa). Selain marak di playground, fasilitas semacam ini juga banyak terdapat di tempat lain di mall, seperti di department store semacam Matahari, di toko buku bahkan di foodcourt. Tapi, kalau memang tidak mau mengeluarkan uang sama sekali, di Paperclip (toko stationery) juga ada fasilitas mewarnai gratis untuk anak-anak. Biasanya mereka menyiapkan area khusus di sudut toko, lengkap dengan meja-kursi, kertas yang sudah ada gambar yang siap diwarnai, dan pensil warna atau crayon. Lumayan juga untuk menghabiskan waktu, dan biasanya tempat ini tidak terlalu ramai.

4. Bookstore!
Tentu saja ini sama tricky nya dengan toko mainan, tapi merupakan alternatif yang sangat menyenangkan. Toko buku yang children friendly adalah Kinokuniya (di Plaza Senayan maupun Grand Indonesia), di mana area buku anak dibuat cukup lega, bisa sambil lesehan, sambil membuka buku-buku yang seringkali tidak dibungkus plastik. Gramedia di Grand Indonesia juga cukup menyenangkan. Selain membaca buku, Gramedia memiliki fasilitas permainan komputer untuk anak (sebenarnya sih ini area promosi untuk menjual DVD atau games edukatif, tapi bisa dipakai untuk main-main kok). TGA di Senayan City juga memiliki koleksi buku anak yang lumayan seru, di samping interiornya yang tak kalah menarik. 

5. Free shows
Setiap mall memiliki daya tarik dan ciri khasnya masing-masing, tapi pasti ada minimal satu show atau pertunjukan atau kegiatan gratisan yang ditawarkan, baik reguler maupun yang khusus. Contoh show gratisan yang reguler: air mancur menari di Grand Indonesia, pertunjukan jam di Plaza Senayan (yang kayaknya nggak pernah berubah tapi tetep ditungguin para pengunjung), atau air mancur menari di taman Central Park Mall (beda jenis dengan Grand Indonesia, yang ini lebih seperti air mancur loncat-loncat). Selain show reguler, tiap mall sering menawarkan show-show khusus terutama di musim liburan sekolah (Juni-Juli atau Desember). So far, gue pernah mengajak Yofel melihat show Spongebob dan Thomas di Central Park, Spiderman di Senayan City, juga Sea World (lengkap dengan touch pool dan aquariumnya) di Citraland Mall. Kelemahannya? Rameeee...jadi harus siap-siap berdesakan atau antri dengan pengunjung lain, terutama di hari libur.

After the show- bisa elus-elus si Thomas =)


6. Every little thing...
Selain kegiatan-kegiatan di atas, masih banyak yang bisa dimanfaatkan dari fasilitas mall, bahkan yang kecil-kecil dan nggak penting. Misalnya, taman di Central Park Mall, seru banget buat lari-larian, atau sekadar ngeliatin ikan koi di kolamnya. Atau di Mal Taman Anggrek, ngeliatin orang main ice skating (terutama kalau lagi ada event perlombaan atau pertandingan hoki) juga nggak kalah seru. Yang juga culun tapi menyenangkan adalah keliling-keliling supermarket pake kereta, terutama kalau ada kereta khusus anak seperti di Carefour yang berbentuk mobil mainan. 

Apapun kegiatannya, yang penting kebersamaannya kan. Jadi, ngemall nggak apa-apa juga kok, asal sesekali tetap main ke luar, cari variasi tempat yang ada udara non-AC nya =)  Oiya, untuk kegiatan ngemall gratisan ini, lebih baik kalau kartu kredit ditinggal dulu di rumah, biar nggak tergoda rayuan anak beli ini-itu.



Friday, October 12, 2012

How Far Will You Go?

Masih ingat kegundahan gue soal Blackberry beberapa tahun lalu? Well, well... Saat gue pikir gue sudah nggak usah diribetin oleh BB dan segala macam dilemanya (dan saat ini memegang satu BB dari kantor dan satu BB dari nyokap).. Who knows? It's apparently only the tip of the iceberg.

Beberapa minggu lalu, gue ketemuan sama temen-temen kuliah, dan satu fenomena yang gue lihat adalah betapa gadget sudah menjadi bagian penting dari hidup mereka. Nggak hanya Blackberry, sekarang hampir semua teman gue itu sudah memegang iPhone atau Android. Tapi kenapa sebagian besar dari mereka nggak melepas BB? Karena teman-teman mereka yang lain masih menggunakan BB dan berkomunikasi via BBM atau BB Group.

Lalu kenapa harus iPhone atau Android? Because they are the "it" phones now! Dan bukan hanya bentuknya yang keren atau feature nya yang canggih lho, tapi juga komunitas pemakainya (banyak yang bilang pemakai BB kurang smart karena sering menyebarkan broadcast message nggak penting). Ditambah lagi, berbagai aplikasi dan sosial media yang eksklusif bisa diakses oleh gadget-gadget tersebut.

Mengutip salah satu teman gue yang meminta gue untuk segera membuat akun Path "Soalnya Twitter udah nggak seru sekarang, ribet!" (Dan gue masih terbayang-bayang hari-hari awal gue berusaha keras memahami kegunaan Twitter. Masa harus diulang lagi sekarang?) Belum lagi Instagram yang membuat setiap pemakainya serasa menjadi jago fotografi dalam sekejap. Lalu bagaimana dengan BBM? Lho, kan ada Whatsapp yang bisa digunakan untuk berbagai smartphone tanpa harus keluar uang!

Anyway, bahkan para pencinta olah raga seperti lari dan sepeda pun sekarang sangat eksis dengan gadgetnya masing-masing, berlomba-lomba untuk menunjukkan kemajuannya melalui aplikasi seperti Endomondo atau Nikeplus.

Semakin terkejut juga saat gue bertemu teman-teman lama dari kantor majalah. iPhone ternyata sudah menjadi bagian hidup mereka juga, termasuk follow-follow-an di Path dan Instagram.

Dan gue jadi bertanya-tanya, sampai kapan ya perjuangan ini akan berakhir? How far will you go until one fine day, you'll decide to say "enough"?

Wednesday, September 19, 2012

Anyhting You Want to Be

How does it feel having a chance to become anything that you wanted?

Gue menghabiskan banyak waktu gue dengan anak-anak Amerika usia 20-an yang mengajar sebagai volunteer di SMA-SMA di berbagai daerah Indonesia. Yang menarik adalah perbedaan cara mereka memandang hidup dan merancang masa depan, dibandingkan dengan anak-anak muda Indonesia di usia yang sama.

Seringkali, kalau sudah mendekati akhir masa volunteer mereka di Indonesia, gue bertanya-tanya tentang rencana mereka ke depan. Dan jawaban mereka membuat gue miris, betapa "mudah" mewujudkan mimpi bagi mereka.

Banyak yang setelah menyelesaikan volunteer di Indonesia, kembali ke Indonesia untuk bekerja (dengan gaji ekspat, tentu!). Bukan di perusahaan minyak atau konsultan multinasional kok, kebanyakan malah mengajar di sekolah internasional atau bekerja di NGO asing. Tapi yang membuat iri adalah, gaji mereka yang setara dengan level manajer lokal, meski posisi mereka masih karyawan biasa. Renting apartemen atau rumah di daerah Sudirman atau Menteng pun bukan menjadi masalah besar.

Sebagian lagi, belum puas dengan petualangan mereka, kembali mencari fellowship atau volunteering program ke negara-negara lain. Dan betapa banyaknya kesempatan bagi mereka. Berkelana ke pelosok Asia, Afrika atau Eropa. Belajar bahasa di Amerika Selatan. Mengajar bahasa Inggris di Korea. Volunteer di program Peace Corps di Namibia. Atau bekerja di NGO asing di Nepal. Seolah tanpa beban, tanpa batasan apapun.

Betapa mudahnya mewujudkan mimpi bagi mereka! Lagi-lagi, komentar bernada iri hati itu tercetus dalam hati gue. Banyak juga yang balik ke Amerika, langsung lanjut ke grad school, dan rata-rata, alumni program Fulbright biasanya diterima di sekolah-sekolah bergengsi seperti Yale, Columbia atau Harvard. Masa depan tampak cerah bagi mereka.

Apa yang mereka miliki tapi tidak dimiliki oleh kita? Kadang gue lihat, kemampuan mereka sama-sama aja kok. Banyak teman-teman gue yang malah lebih pintar dan memiliki kemampuan lebih. Tapi satu yang kita nggak punya: privilege. Lahir dan hidup sebagai warga negara adikuasa. Memang ada sih, beberapa teman gue sesama orang Indonesia yang akhirnya berhasil menggapai mimpi-mimpi internasional mereka: sekolah di Ivy Leagues, kerja di berbagai belahan dunia, jalan-jalan ke mana-mana... Tapi effort mereka pun lebih besar, jauh lebih besar. Mereka kerja lebih keras, dan berusaha sekuat tenaga untuk menyamai posisi mereka dengan anak-anak yang sudah mendapat privilege lahir dan dibesarkan di Amerika.

Tapi memang betul, hal ini tidak bisa dijadikan alasan untuk menyerah begitu saja. Kesempatan kita mungkin memang lebih sedikit, kita mungkin akan selalu dianggap warga kelas dua di Amerika (dan negara-negara maju lainnya) meski sudah punya pendidikan dan kedudukan yang oke, dan sampai kapanpun, kita tetap orang Indonesia, dengan segala keterbatasan kita. Tapi kita juga lebih tangguh, lebih mudah beradaptasi, lebih humble, dan lebih tidak dijagokan.

Sometimes being an underdog is good. And who knows? Underdogs could be anything they wanted too!