Just went through my old personal emails, and bumped into this one. Dedicated to all my twenty-something friends, where ever you guys are...Keep the spirit high!!
Being Twenty-something - they call it the "Quarter-life Crisis". It is when you stop going along with the crowd and start realising that there are many things about yourself that you didn't know and may not like.
You start feeling insecure and wonder where you will be in a year or two, but then get scared because you barely know where you are now.
You start realising that people are selfish and that, maybe, those friends that you thought you were so close to aren't exactly the greatest people you have ever met, and the people you have lost touch with are some of the most important ones. What you don't recognise is that they are realising that too, and aren't really cold, catty, mean or insincere, but that they are as confused as you.
You look at your job ... and it is not even close to what you thought you would be doing, or maybe you are looking for a job and realising that you are going to have to start at the bottom and that scares you.
Your opinions have gotten stronger. You see what others are doing and find yourself judging more than usual because suddenly you realise that you have certain boundaries in your life and are constantly adding things to your list of what is acceptable and what isn't.
One minute, you are insecure and then the next, secure. You laugh and cry with the greatest force of your life. You feel alone and scared and confused. Suddenly, change is the enemy and you try and cling on to the past with dear life, but soon realise that the past is drifting further and further away, and there is nothing to do but stay where you are or move forward.
You get your heart broken and wonder how someone you loved could do such damage to you. Or you lie in bed and wonder why you can't meet anyone decent enough that you want to get to know better. Or maybe you love someone but love someone else too and cannot figure out why you are doing this because you know that you aren't a bad person. One night stands and random hook ups start to look cheap. Getting wasted and acting like an idiot don't seem as fun.
You go through the same emotions and questions over and over, and talk with your friends about the same topics because you cannot seem to make a decision. You worry about loans, money, the future and making a life for yourself... and while winning the race would be great, right now you'd just like to be a contender!
What you may not realise is that everyone reading this relates to it. We are in our best of times and our worst of times, trying as hard as we can to figure this whole thing out.
I'm at my twenty something... And it's hard... Really,, it is!!!
Monday, July 24, 2006
Tuesday, July 18, 2006
Kangen
Somehow I really missed my home these days. Silly of course, because it's only two months until the day I'll go back to Indonesia.
But what can I say? I missed my house and the crazy dogs, I missed my Mom yelling at me because I don't want to clean my room, I missed talking to my sister, sharing Marlboro Light Menthol and a can of Bir Bintang, I missed the comfortable soffa in the living room, my favorite place to spend the whole season of 24 series DVD, I missed driving around in the city, stopping by in every distro and just sitting in Selasar Dago, I missed all my friends, from the one I share the most of my stories with(Congratulations for you engagement girl, I really wished I could be there...), to the one who was my loyal companion of DVD and CD searching in Dalem Kaum (Hey...when will you arrive in UK? I wish we could at least meet before I get back home..).
And all the songs in my playlist did not help me with this homesick thing, they made it even worse...Linger-Cranberries, Somebody-Depeche Mode, Dari Hati-Club 80s, Bimbang-Melly Goeslaw...and so on...and so on...I even re-read the book Cintapuccino, only to experience one more time the feeling I had when I first read the book in Bandung (especially because the setting of the story was Bandung after all...).
*Sigh....*
But for now, back to reality first...To my unfinished thesis, my wonderful friends here, the long summer days, and of course, all unforgettable experiences...=)Chomp-chomp!
But what can I say? I missed my house and the crazy dogs, I missed my Mom yelling at me because I don't want to clean my room, I missed talking to my sister, sharing Marlboro Light Menthol and a can of Bir Bintang, I missed the comfortable soffa in the living room, my favorite place to spend the whole season of 24 series DVD, I missed driving around in the city, stopping by in every distro and just sitting in Selasar Dago, I missed all my friends, from the one I share the most of my stories with(Congratulations for you engagement girl, I really wished I could be there...), to the one who was my loyal companion of DVD and CD searching in Dalem Kaum (Hey...when will you arrive in UK? I wish we could at least meet before I get back home..).
And all the songs in my playlist did not help me with this homesick thing, they made it even worse...Linger-Cranberries, Somebody-Depeche Mode, Dari Hati-Club 80s, Bimbang-Melly Goeslaw...and so on...and so on...I even re-read the book Cintapuccino, only to experience one more time the feeling I had when I first read the book in Bandung (especially because the setting of the story was Bandung after all...).
*Sigh....*
But for now, back to reality first...To my unfinished thesis, my wonderful friends here, the long summer days, and of course, all unforgettable experiences...=)Chomp-chomp!
Sunday, July 16, 2006
Teori Kebetulan
Dari dulu gue nggak pernah terlalu serius mikirin kebetulan-kebetulan yang mampir dalam hidup gue. Buat gue, semua yang harus terjadi ya memang harus terjadi, meski kadang ada hal-hal tertentu yang keterlaluan anehnya, seperti misalnya dua kali berturut-turut dalam sehari bertemu teman yang sudah lama nggak kelihatan , atau mendengar lagu kesayangan di radio yang berbeda dalam jangka waktu berdekatan.
Dan hari ini, kebetulan itu kembali terjadi. Ketika gue baru ngobrol online dengan seseorang dan membahas suatu hal yang bikin gue merasa sangat down, malamnya gue chatting dengan seorang teman lain yang ternyata, mengalami hal yang sama dalam waktu bersamaan pula.
Teman gue mulai berteori, katanya nggak ada hal yang terjadi hanya karena kebetulan. Semua ada maksudnya. Termasuk obrolan kita di saat mengalami kejadian serupa. Dan gue jadi berpikir, mungkin Tuhan memang sengaja mempertemukan gue dengan dia di dunia maya malam tadi, untuk saling menghibur satu sama lain, untuk sekedar mendengarkan impian masing-masing yang harus dikubur mulai saat itu.
Dan ingatan gue mundur jauh, ke hari-hari di mana gue masih sering merasa down akibat orang yang sama. Setiap kali, selalu ada orang yang menemani gue. Entah punya masalah yang sama, atau sekedar numpang lewat dalam hidup gue yang sedang berwarna biru. Tuhan memang baik. Dan gue mulai percaya, kebetulan itu mungkin memang nggak ada. Yang ada hanyalah hal-hal yang memang patut disyukuri karena selalu punya maksud tertentu dalam hidup kita.
Dan hari ini, kebetulan itu kembali terjadi. Ketika gue baru ngobrol online dengan seseorang dan membahas suatu hal yang bikin gue merasa sangat down, malamnya gue chatting dengan seorang teman lain yang ternyata, mengalami hal yang sama dalam waktu bersamaan pula.
Teman gue mulai berteori, katanya nggak ada hal yang terjadi hanya karena kebetulan. Semua ada maksudnya. Termasuk obrolan kita di saat mengalami kejadian serupa. Dan gue jadi berpikir, mungkin Tuhan memang sengaja mempertemukan gue dengan dia di dunia maya malam tadi, untuk saling menghibur satu sama lain, untuk sekedar mendengarkan impian masing-masing yang harus dikubur mulai saat itu.
Dan ingatan gue mundur jauh, ke hari-hari di mana gue masih sering merasa down akibat orang yang sama. Setiap kali, selalu ada orang yang menemani gue. Entah punya masalah yang sama, atau sekedar numpang lewat dalam hidup gue yang sedang berwarna biru. Tuhan memang baik. Dan gue mulai percaya, kebetulan itu mungkin memang nggak ada. Yang ada hanyalah hal-hal yang memang patut disyukuri karena selalu punya maksud tertentu dalam hidup kita.
Thursday, July 13, 2006
Azzurri, Cinta yang tak Berbalas
Piala dunia usai sudah. Harap-harap cemas, perasaan excited karena tim favorit mau bertanding, dan rasa kesal yang amat sangat melihat pemain kesayangan dikartu kuning dengan semena-mena oleh wasit.
Banyak kenangan piala dunia tahun ini buat gue. Yang paling luar biasa dan nggak diduga-duga, tentu aja kemenangan tim azzurri sebagai juara dunia. Seumur-umur gue mengidolakan tim italia sebagai favorit, belum pernah sekalipun mereka meraih kemenangan. Paling banter masuk final. Itu pun biasanya diakhiri dengan tragis dan ironis, menyisakan air mata buat gue.
Jadi, betapa sangat bahagianya gue yang dari awal sudah menerima celaan-celaan seputar prospek tim italia di piala dunia tahun ini, ketika akhirnya italia berhasil masuk ke putaran final, setelah memenangkan pertandingan luar biasa seru melawan jerman sang tuan rumah.
Saking berlebihannya, seorang temen gue yang asli dari italia berkomentar, sepertinya gue malah lebih bersemangat daripada dia. Gue jadi agak malu sendiri sama kelakuan gue.
Dan kebahagiaan itu semakin berlipat ganda berhubung gue sdah memesan tiket kereta ke Berlin sejak beberapa bulan yang lalu, demi bisa menonton final piala dunia lewat widescreen di tengah kota Berlin. Nggak nyangka, ternyata fans Azzurri membludak di sana, lengkap dengan berbagai atribut gilanya. Gue langsung merasa ada di tengah teman senasib sepenanggungan. Bahkan sempat beberapa kali diminta foto bareng sama gerombolan fans gila itu, mungkin karena mereka heran melihat gue ikut bersemangat, komplit dengan modal atribut gratisan dari pihak sponsor.
Dan begitulah. Finalnya sendiri nggak semenarik yang dibayangkan sebelumnya, apalagi kalau dibandingkan dengan pertandingan semifinal antara italia melawan jerman. Italia kembali main bertahan, dengan passing-passing atas yang sering berakhir dengan terbuangnya bola ke tangan Perancis atau bahkan keluar lapangan. Menyebalkan sekaligus bikin gregetan. Dan menjelang akhir babak perpanjangan waktu, terjadilah insiden itu, yang membuat orang-orang semakin panas. Entah terprovokasi apa, Zidane menanduk dada Matterazi, disusul dengan dikeluarkannya kartu merah untuk Zidane. Gila. Semakin mirip sinetron.
Drama berlanjut kembali saat adu penalti dilakukan. Trezeguet, pemain Perancis yang saat final Euro 2000 berhasil menjadi pahlawan kemenangan melawan Italia, kini malah menjadi penyebab kekalahan Perancis karena tidak berhasil menyarangkan bolanya ke gawang Italia yang dijaga oleh Buffon. Tragis, dan dramatis. Karma, kalau kata orang-orang.Kebetulan yang menguntungkan, kalau menurut gue.
Dan begitulah. Italia akhirnya menjadi juara, diiringi sorak tidak puas dari pendukung Perancis (terlebih setelah insiden dikeluarkannya Zidane dari lapangan), dan gemuruh kemenangan dari fans Azzurri. Gue larut dalam perayaan kemenangan pendukung Italia. Akhirnya, penantian gue terbalas sudah. Meski Inzaghi tidak juga main sampai detik terakhir...tapi kekecewaan gue cukup terbayar.
Tapi, melihat gerombolan Italia menyanyikan lagu kemenangan dalam bahasa nenek moyang mereka, lengkap dengan bendera merah-putih-hijau yang berkibar-kibar, dan sebagian malah dililitkan ke tubuh mereka, membuat gue merasa terasing. Cinta gue sama Azzurri adalah cinta tak berbalas. Sampai kapanpun, gue nggak bisa disamakan dengan pendukung asli Italia. Gue bukan orang Italia, secinta apapun gue pada Azzurri.
Dan tiba-tiba, gue merasa rindu. Rindu dengan hadirnya tim sepakbola negara gue di ajang internasional seperti ini. Rindu menyanyikan lagu kemenangan dengan bahasa Indonesia. Rindu melihat bendera merah putih yang berkibar, tanpa embel-embel hijau atau biru.Rindu mendapat cinta yang berbalas, dari sebuah tim bertajuk PSSI. Mungkinkah?
Banyak kenangan piala dunia tahun ini buat gue. Yang paling luar biasa dan nggak diduga-duga, tentu aja kemenangan tim azzurri sebagai juara dunia. Seumur-umur gue mengidolakan tim italia sebagai favorit, belum pernah sekalipun mereka meraih kemenangan. Paling banter masuk final. Itu pun biasanya diakhiri dengan tragis dan ironis, menyisakan air mata buat gue.
Jadi, betapa sangat bahagianya gue yang dari awal sudah menerima celaan-celaan seputar prospek tim italia di piala dunia tahun ini, ketika akhirnya italia berhasil masuk ke putaran final, setelah memenangkan pertandingan luar biasa seru melawan jerman sang tuan rumah.
Saking berlebihannya, seorang temen gue yang asli dari italia berkomentar, sepertinya gue malah lebih bersemangat daripada dia. Gue jadi agak malu sendiri sama kelakuan gue.
Dan kebahagiaan itu semakin berlipat ganda berhubung gue sdah memesan tiket kereta ke Berlin sejak beberapa bulan yang lalu, demi bisa menonton final piala dunia lewat widescreen di tengah kota Berlin. Nggak nyangka, ternyata fans Azzurri membludak di sana, lengkap dengan berbagai atribut gilanya. Gue langsung merasa ada di tengah teman senasib sepenanggungan. Bahkan sempat beberapa kali diminta foto bareng sama gerombolan fans gila itu, mungkin karena mereka heran melihat gue ikut bersemangat, komplit dengan modal atribut gratisan dari pihak sponsor.
Dan begitulah. Finalnya sendiri nggak semenarik yang dibayangkan sebelumnya, apalagi kalau dibandingkan dengan pertandingan semifinal antara italia melawan jerman. Italia kembali main bertahan, dengan passing-passing atas yang sering berakhir dengan terbuangnya bola ke tangan Perancis atau bahkan keluar lapangan. Menyebalkan sekaligus bikin gregetan. Dan menjelang akhir babak perpanjangan waktu, terjadilah insiden itu, yang membuat orang-orang semakin panas. Entah terprovokasi apa, Zidane menanduk dada Matterazi, disusul dengan dikeluarkannya kartu merah untuk Zidane. Gila. Semakin mirip sinetron.
Drama berlanjut kembali saat adu penalti dilakukan. Trezeguet, pemain Perancis yang saat final Euro 2000 berhasil menjadi pahlawan kemenangan melawan Italia, kini malah menjadi penyebab kekalahan Perancis karena tidak berhasil menyarangkan bolanya ke gawang Italia yang dijaga oleh Buffon. Tragis, dan dramatis. Karma, kalau kata orang-orang.Kebetulan yang menguntungkan, kalau menurut gue.
Dan begitulah. Italia akhirnya menjadi juara, diiringi sorak tidak puas dari pendukung Perancis (terlebih setelah insiden dikeluarkannya Zidane dari lapangan), dan gemuruh kemenangan dari fans Azzurri. Gue larut dalam perayaan kemenangan pendukung Italia. Akhirnya, penantian gue terbalas sudah. Meski Inzaghi tidak juga main sampai detik terakhir...tapi kekecewaan gue cukup terbayar.
Tapi, melihat gerombolan Italia menyanyikan lagu kemenangan dalam bahasa nenek moyang mereka, lengkap dengan bendera merah-putih-hijau yang berkibar-kibar, dan sebagian malah dililitkan ke tubuh mereka, membuat gue merasa terasing. Cinta gue sama Azzurri adalah cinta tak berbalas. Sampai kapanpun, gue nggak bisa disamakan dengan pendukung asli Italia. Gue bukan orang Italia, secinta apapun gue pada Azzurri.
Dan tiba-tiba, gue merasa rindu. Rindu dengan hadirnya tim sepakbola negara gue di ajang internasional seperti ini. Rindu menyanyikan lagu kemenangan dengan bahasa Indonesia. Rindu melihat bendera merah putih yang berkibar, tanpa embel-embel hijau atau biru.Rindu mendapat cinta yang berbalas, dari sebuah tim bertajuk PSSI. Mungkinkah?
Friday, July 07, 2006
BookCrossing
A book is not only a friend, it makes friends for you. When you have possessed a book with mind and spirit, you are enriched. But when you pass it on you are enriched threefold.
Henry Miller-The Books In My Life (1969
Sepotong kalimat itu yang jadi salah satu pemikiran dibentuknya BookCrossing. Awalnya, gue lagi jalan-jalan sama anak-anak kelas gue ke Peace Palace, bangunan tua di Den Haag yang juga berfungsi sebagai International Court of Justice dan Permanent Court of Arbitration. Waktu kita lagi mengagumi Api Perdamaian yang terletak di depan gedung, lengkap dengan batu-batu perdamaian yang melambangkan tiap negara di seluruh dunia, mata gue menangkap ada benda yang tergeletak di salah satu bangku deket situ.
Ternyata sebuah buku, novel berjudul Life Of Pi yang keliatannya udah agak lecek, dengan halaman-halaman yang udah berkerut termakan cuaca. Penasaran, gue ambil buku itu. Di covernya ternyata ada tulisan : Free Book. Menarik, pikir gue. Gue buka buku itu, dan di cover bagian dalam ada label dengan penjelasan yang lebih menarik lagi.
Ternyata buku itu adalah bagian dari aktivitas BookCrossing, komunitas para pencinta buku yang saling mengoper buku secara berantai ke seluruh dunia. Menurut kamus Oxford, kata bookcrossing sendiri memiliki arti:
n.the practice of leaving a book in a public place to be picked up and read by others, who then do likewise
Dan gue, yang sebelumnya nggak tau apa-apa soal organisasi ini, jadi sangat-sangat tertarik, membayangkan buku di tangan gue itu udah jalan-jalan keliling dunia, berada di tangan-tangan para traveler yang juga doyan membaca, menemani perjalanan orang-orang dengan ceritanya yang memikat (gue sendiri udah pernah baca The Life of Pi, dan sangat terkesan dengan ceritanya).
Ide dasar aktivitas ini sederhana: baca bukunya, dan kalau udah, lepasin lagi dia ke alam liar di luar sana.
Nggak hanya manusia yang senang dengan kebebasan, buku pun pasti senang bisa punya spirit menjadi bagian dari the world walking library seperti ini. Jadi pesen gue, kalo menemukan buku berlabel Free Book yang jadi bagian dari komunitas BookCrossing, please treat it with kindness, baca, dan lepasin lagi dia ke dunia luar, berharap dia jatuh ke tangan-tangan yang membutuhkan.
Dan jangan lupa, kabarin gue ya kalo udah...=)
Henry Miller-The Books In My Life (1969
Sepotong kalimat itu yang jadi salah satu pemikiran dibentuknya BookCrossing. Awalnya, gue lagi jalan-jalan sama anak-anak kelas gue ke Peace Palace, bangunan tua di Den Haag yang juga berfungsi sebagai International Court of Justice dan Permanent Court of Arbitration. Waktu kita lagi mengagumi Api Perdamaian yang terletak di depan gedung, lengkap dengan batu-batu perdamaian yang melambangkan tiap negara di seluruh dunia, mata gue menangkap ada benda yang tergeletak di salah satu bangku deket situ.
Ternyata sebuah buku, novel berjudul Life Of Pi yang keliatannya udah agak lecek, dengan halaman-halaman yang udah berkerut termakan cuaca. Penasaran, gue ambil buku itu. Di covernya ternyata ada tulisan : Free Book. Menarik, pikir gue. Gue buka buku itu, dan di cover bagian dalam ada label dengan penjelasan yang lebih menarik lagi.
Ternyata buku itu adalah bagian dari aktivitas BookCrossing, komunitas para pencinta buku yang saling mengoper buku secara berantai ke seluruh dunia. Menurut kamus Oxford, kata bookcrossing sendiri memiliki arti:
n.the practice of leaving a book in a public place to be picked up and read by others, who then do likewise
Dan gue, yang sebelumnya nggak tau apa-apa soal organisasi ini, jadi sangat-sangat tertarik, membayangkan buku di tangan gue itu udah jalan-jalan keliling dunia, berada di tangan-tangan para traveler yang juga doyan membaca, menemani perjalanan orang-orang dengan ceritanya yang memikat (gue sendiri udah pernah baca The Life of Pi, dan sangat terkesan dengan ceritanya).
Ide dasar aktivitas ini sederhana: baca bukunya, dan kalau udah, lepasin lagi dia ke alam liar di luar sana.
Nggak hanya manusia yang senang dengan kebebasan, buku pun pasti senang bisa punya spirit menjadi bagian dari the world walking library seperti ini. Jadi pesen gue, kalo menemukan buku berlabel Free Book yang jadi bagian dari komunitas BookCrossing, please treat it with kindness, baca, dan lepasin lagi dia ke dunia luar, berharap dia jatuh ke tangan-tangan yang membutuhkan.
Dan jangan lupa, kabarin gue ya kalo udah...=)
Tuesday, July 04, 2006
Paris, dan Da Vinci Code
Sekitar dua minggu yang lalu, gue berkunjung ke Paris. Hanya tiga hari, berangkat hari Jumat pagi naik Thallys, pulang hari Minggu malam naik kereta yang sama. Jujur, tujuan utama gue cuman satu, singgah di Louvre, museum super besar yang namanya makin berkibar setelah demam Da Vinci Code.
Gue berusaha sebisa mungkin untuk menikmati suasana yang ditawarkan Paris. Mulai dari menapaki gereja Notre Dame yang bikin gue teringat sama film Disney Hunchback of Notredame, foto-foto dari atas monumen Arc de Triomphe, menyusuri Les-Champs Elysees yang selalu padat, mengagumi keunikan bangunan Site du Centre Pompidou yang sarat dengan aroma seni, tidur-tiduran santai di taman dekat Plaza Concorde, menanti lampu menyala di Menara Eiffel,sampai mendaki bukit menuju gereja berkubah Sacré Coeur. Semuanya menyenangkan. Tapi tetap, ada yang mengganjal.
Rasanya berbeda dengan waktu gue singgah di Barcelona, misalnya. Di mana gue langsung bisa jatuh hati dengan kota di negara matador itu. Paris, bagi gue terlalu...komersil. Semuanya berbau-bau turis, terlepas dari semua acara TV yang didubbing Bahasa Perancis dan minimnya toko buku berbahasa Inggris.
Dan yang paling terasa jelas adalah betapa besarnya fenomena Da Vinci Code di kota yang katanya adalah salah satu kota teromantis di seluruh dunia ini. Memang, gue salah satu penggemar berat karya fenomenalnya Dan Brown itu (biarpun cukup kecewa dengan film layar lebarnya). Dan memang benar, salah satu tujuan utama gue mengunjungi Paris adalah untuk mengubek-ubek Louvre yang katanya adalah tempat penyimpanan The Holy Grail yang bikin heboh itu. Tapi...waktu dihadapkan kenyataan bahwa Paris sudah terlalu terkontaminasi dengan Da Vinci Code, kok gue jadi ilfil ya?
Ada Walking Tour yang menyusuri tempat" Robert Langdon berpetualang di kota Paris. Ada audio tour di Louvre yang narasinya dibawakan oleh Jean Reno (salah satu aktor di film Da Vinci Code).Dan bahkan, saat gue menyempatkan diri mampir di Gereja San Sulpice (yang juga jadi salah satu setting novelnya Dan Brown), ada artikel-artikel tentang Da Vinci Code dipasang di sana, tepat di sebelah roseline yang terkenal itu.
Hmmm...anyway. I really enjoyed my stay in Paris. But for me, Paris is just...another city. Not the city of love, or the city of romance. Or even the city of The Holy Grail. It's just another city. And maybe I didn't really like it, or fell in love with it. But I will remember my times spent there. And the memories I made there. And just hoping that someday, I will return =)
Gue berusaha sebisa mungkin untuk menikmati suasana yang ditawarkan Paris. Mulai dari menapaki gereja Notre Dame yang bikin gue teringat sama film Disney Hunchback of Notredame, foto-foto dari atas monumen Arc de Triomphe, menyusuri Les-Champs Elysees yang selalu padat, mengagumi keunikan bangunan Site du Centre Pompidou yang sarat dengan aroma seni, tidur-tiduran santai di taman dekat Plaza Concorde, menanti lampu menyala di Menara Eiffel,sampai mendaki bukit menuju gereja berkubah Sacré Coeur. Semuanya menyenangkan. Tapi tetap, ada yang mengganjal.
Rasanya berbeda dengan waktu gue singgah di Barcelona, misalnya. Di mana gue langsung bisa jatuh hati dengan kota di negara matador itu. Paris, bagi gue terlalu...komersil. Semuanya berbau-bau turis, terlepas dari semua acara TV yang didubbing Bahasa Perancis dan minimnya toko buku berbahasa Inggris.
Dan yang paling terasa jelas adalah betapa besarnya fenomena Da Vinci Code di kota yang katanya adalah salah satu kota teromantis di seluruh dunia ini. Memang, gue salah satu penggemar berat karya fenomenalnya Dan Brown itu (biarpun cukup kecewa dengan film layar lebarnya). Dan memang benar, salah satu tujuan utama gue mengunjungi Paris adalah untuk mengubek-ubek Louvre yang katanya adalah tempat penyimpanan The Holy Grail yang bikin heboh itu. Tapi...waktu dihadapkan kenyataan bahwa Paris sudah terlalu terkontaminasi dengan Da Vinci Code, kok gue jadi ilfil ya?
Ada Walking Tour yang menyusuri tempat" Robert Langdon berpetualang di kota Paris. Ada audio tour di Louvre yang narasinya dibawakan oleh Jean Reno (salah satu aktor di film Da Vinci Code).Dan bahkan, saat gue menyempatkan diri mampir di Gereja San Sulpice (yang juga jadi salah satu setting novelnya Dan Brown), ada artikel-artikel tentang Da Vinci Code dipasang di sana, tepat di sebelah roseline yang terkenal itu.
Hmmm...anyway. I really enjoyed my stay in Paris. But for me, Paris is just...another city. Not the city of love, or the city of romance. Or even the city of The Holy Grail. It's just another city. And maybe I didn't really like it, or fell in love with it. But I will remember my times spent there. And the memories I made there. And just hoping that someday, I will return =)
Monday, June 26, 2006
A Rush of Blood to My Head
A few days ago, I went to Wallibi World (previously known as Six Flags), a great amusement park in northern part of Netherlands, with my friends from school.
It's been a while since my last experience to ride crazy attractions like roller coasters, and i felt rather afraid yet excited when I arrived there.
And really, all the roller coasters were crazy. The one that made our legs hanging in the sky, one with the highest peak ever(and I know how much I hate height!!!), one with terrible speed, and the craziest thing that made us rode backwards. Damn!
But true, that day I felt the adrenaline, the blood rushed to my head, a feeling that I haven't felt for quite some time.
Unfortunately besides the excitements, there were other things that made my blood rushed to my head. I met a bunch of bastards there in the park, Dutch boys that made several annoying comments while we were quieing for the ride. They kept asking my friend from Carribean if she came from Africa and whether she's legal here in Netherlands. C'mon! I think even a whole of African and Carribean students got better education about how to talk with people politely than those useless Dutch boys.
Okay, people here told me that the Dutches are very unwelcome to the immigrants because lots of the immigrants are trouble makers. But please, how about us, foreign students that just want to make our life better by studying here in the so-called-civilized country?
On the way back from the park, there were other incidents in the bus. I sat with my Chinese and Taiwanese friends, and a bunch of Turk and Moroccan boys kept shouting and singing bad words about Chinese people.One of my Taiwanese friends shouting back to them, but all she got were more insults from those crazy people.
I just could not stop wondering. What's wrong with the system here? When good people like my housemate who tried to get a decent job here got bad response only because the office did not want to arrange the documents for her, but racist people like silly Dutch boys in the park and trouble makers in the bus could live freely.
I'm totally speechless. Just feeling the blood now, rushing to my head, again.
It's been a while since my last experience to ride crazy attractions like roller coasters, and i felt rather afraid yet excited when I arrived there.
And really, all the roller coasters were crazy. The one that made our legs hanging in the sky, one with the highest peak ever(and I know how much I hate height!!!), one with terrible speed, and the craziest thing that made us rode backwards. Damn!
But true, that day I felt the adrenaline, the blood rushed to my head, a feeling that I haven't felt for quite some time.
Unfortunately besides the excitements, there were other things that made my blood rushed to my head. I met a bunch of bastards there in the park, Dutch boys that made several annoying comments while we were quieing for the ride. They kept asking my friend from Carribean if she came from Africa and whether she's legal here in Netherlands. C'mon! I think even a whole of African and Carribean students got better education about how to talk with people politely than those useless Dutch boys.
Okay, people here told me that the Dutches are very unwelcome to the immigrants because lots of the immigrants are trouble makers. But please, how about us, foreign students that just want to make our life better by studying here in the so-called-civilized country?
On the way back from the park, there were other incidents in the bus. I sat with my Chinese and Taiwanese friends, and a bunch of Turk and Moroccan boys kept shouting and singing bad words about Chinese people.One of my Taiwanese friends shouting back to them, but all she got were more insults from those crazy people.
I just could not stop wondering. What's wrong with the system here? When good people like my housemate who tried to get a decent job here got bad response only because the office did not want to arrange the documents for her, but racist people like silly Dutch boys in the park and trouble makers in the bus could live freely.
I'm totally speechless. Just feeling the blood now, rushing to my head, again.
Tuesday, June 13, 2006
Underdog
n. person,etc thought to be in a weaker position, and so unlikely to win a competition
Mungkin karena punya rasa empati yang terlalu besar, gue selalu merasa sedikit sedih kalo nonton pertandingan yang melibatkan tim yang tidak dijagokan. Dan biasanya, tanpa disadari, gue jadi mendukung tim underdog dalam hampir setiap pertandingan.
Termasuk dalam piala dunia kali ini. Seneng banget ngeliat tim debutan seperti Trinidad dan Tobago berhasil menahan imbang Swedia yang menyerang bertubi-tubi. Atau juga usaha Ivory Coast yang berusaha mati-matian melawan raksasa seperti Argentina.
Apalagi kalau baca sejarah sepak bola di beberapa negara debutan dari Afrika, seperti Angola yang merasa bisa memulihkan kembali negaranya lewat keikutsertaan di Piala Dunia 2006 setelah menderita perang sekian lama. Miris.
Jadi...selamat berjuang tim-tim underdog..Tetap semangat!
ps: hanya saja, kalau sudah berhadapan dengan Italia, gue nggak bisa menyangkal. Cinta gue tetep sama Azzurri (Biarpun banyak yang protes sama gaya bermain mereka..Divingnya, sandiwaranya, dramanya...Hahaha....Justru itu yang bikin tambah seru!) Maaf yaaa.... =)
Mungkin karena punya rasa empati yang terlalu besar, gue selalu merasa sedikit sedih kalo nonton pertandingan yang melibatkan tim yang tidak dijagokan. Dan biasanya, tanpa disadari, gue jadi mendukung tim underdog dalam hampir setiap pertandingan.
Termasuk dalam piala dunia kali ini. Seneng banget ngeliat tim debutan seperti Trinidad dan Tobago berhasil menahan imbang Swedia yang menyerang bertubi-tubi. Atau juga usaha Ivory Coast yang berusaha mati-matian melawan raksasa seperti Argentina.
Apalagi kalau baca sejarah sepak bola di beberapa negara debutan dari Afrika, seperti Angola yang merasa bisa memulihkan kembali negaranya lewat keikutsertaan di Piala Dunia 2006 setelah menderita perang sekian lama. Miris.
Jadi...selamat berjuang tim-tim underdog..Tetap semangat!
ps: hanya saja, kalau sudah berhadapan dengan Italia, gue nggak bisa menyangkal. Cinta gue tetep sama Azzurri (Biarpun banyak yang protes sama gaya bermain mereka..Divingnya, sandiwaranya, dramanya...Hahaha....Justru itu yang bikin tambah seru!) Maaf yaaa.... =)
Friday, June 09, 2006
Super Indo
Sejak tinggal di Belanda, gue semakin sadar kalau ternyata banyak banget orang Indonesia di negara ex penjajah kita ini. Mulai dari pelajar yang niatnya murni untuk sekolah, perempuan yang nikah sama laki-laki Belanda dan membentuk keluarga disini, sampai pekerja ilegal yang sebenernya nggak punya ijin kerja resmi tapi nekat berjuang demi sesuap nasi (atau dengan kata lain, demi menumpuk Euro).
Dari sekian banyak jenis orang-orang Indonesia yang ada di sini, gue paling tertarik sama anak-anak Indo. Anak-anak yang punya tampang sama seperti anak-anak Indonesia pada umumnya, tapi nyaris nggak ada kesamaan dalam hal lainnya. Mereka, entah memang punya darah campuran Belanda dari orang tuanya, atau sudah sejak lahir ada di Belanda, rata-rata nggak bisa berbahasa Indonesia. Bahasa yang mereka kenal adalah Bahasa Belanda, dan mungkin hanya segelintir dari mereka yang masih familiar dengan budaya Indonesia.
Beberapa dari mereka masih menyempatkan waktu untuk "pulang" ke Indonesia dalam jangka waktu tertentu, tapi nggak semua peduli dengan isu-isu hangat di Indonesia seperti kenaikan BBM atau heboh RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi kemarin ini.
Pertama kali mengenal kelompok ini, gue sempet sebel setengah mati. Mereka nggak pernah ngomong bahasa Indonesia, biarpun lagi ngumpul sama anak Indonesia yang nggak bisa berbahasa Belanda, dan membentuk komunitas sendiri yang kadang-kadang lebih Belanda dari orang Belanda pada umumnya. Dan gue, tanpa sadar sering meremehkan mereka. Tau apa mereka soal kondisi Indonesia, kebobrokan yang ada dan rasanya hidup di negara yang nggak pernah lepas dari masalah setiap harinya. Negara yang masih ngutang ke mana-mana, sementara musibah dan bencana datang silih berganti. Tau apa mereka soal Maliq n The Essentials, geliat film Indonesia, megap-megapnya PSSI, dan semua manis pahitnya menjadi penduduk Indonesia.
Dan begitulah. Gue mulai bersikap apriori. Sikap yang sebenernya sangat gue benci.
Sampai akhirnya weekend kemarin, gue pergi ke Groningen, sebuah kota kecil di sebelah utara Belanda. Perjalanan 3 jam naik kereta gue bela-belain demi dateng ke satu event olah raga yang melibatkan seluruh student Indonesia di Belanda. Terlepas dari serunya pertandingan, habisnya suara gue karena sibuk menyuport tim kota Den Haag, dan gelar juara umum yang nggak disangka jatuh ke tangan kita, ada satu hal yang bikin gue miris.
Tim bola kota Deventer, yang emang kualitasnya di atas rata-rata, berhasil masuk ke final. Tapi menjelang pertarungan puncak itu, masalah muncul. Tim mereka diprotes keras oleh peserta lainnya karena mayoritas diisi anak-anak Indo yang hanya berkomunikasi dengan bahasa Belanda. Konflik pun terjadi, tim Deventer nyaris mengundurkan diri kalau saja nggak ada segelintir anak-anak yang peduli dan ikut memperjuangkan hak mereka ke panitia.
Dan sepanjang final berlangsung, teriakan dari kubu anti tim Indo ini semakin menggebu-gebu. "Hidup Indonesia!!" adalah satu teriakan menjurus provokasi yang banyak terdengar dari para suporter di pinggir lapangan.
Tiba-tiba, semua prejudice gue sama anak-anak Indo itu menguap. Mereka sama seperti gue. Pengen diterima, butuh komunitas. Dan mungkin lebih sulit buat mereka, yang sering terkesan masih bingung sama identitas mereka sendiri. Yang punya kulit gelap seperti gue tapi nggak bisa bahasa Indonesia, yang bangga banget pake kaos bertulisan "Super Indo", meskipun pertalian mereka sama Indonesia sangat-sangatlah tipis.
Dan gue bersyukur, setidaknya gue tau gue belong di mana, meskipun gue pantas merasa malu, dengan rasa "sok nasionalis" gue selama ini yang ternyata hanyalah semu.
Dari sekian banyak jenis orang-orang Indonesia yang ada di sini, gue paling tertarik sama anak-anak Indo. Anak-anak yang punya tampang sama seperti anak-anak Indonesia pada umumnya, tapi nyaris nggak ada kesamaan dalam hal lainnya. Mereka, entah memang punya darah campuran Belanda dari orang tuanya, atau sudah sejak lahir ada di Belanda, rata-rata nggak bisa berbahasa Indonesia. Bahasa yang mereka kenal adalah Bahasa Belanda, dan mungkin hanya segelintir dari mereka yang masih familiar dengan budaya Indonesia.
Beberapa dari mereka masih menyempatkan waktu untuk "pulang" ke Indonesia dalam jangka waktu tertentu, tapi nggak semua peduli dengan isu-isu hangat di Indonesia seperti kenaikan BBM atau heboh RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi kemarin ini.
Pertama kali mengenal kelompok ini, gue sempet sebel setengah mati. Mereka nggak pernah ngomong bahasa Indonesia, biarpun lagi ngumpul sama anak Indonesia yang nggak bisa berbahasa Belanda, dan membentuk komunitas sendiri yang kadang-kadang lebih Belanda dari orang Belanda pada umumnya. Dan gue, tanpa sadar sering meremehkan mereka. Tau apa mereka soal kondisi Indonesia, kebobrokan yang ada dan rasanya hidup di negara yang nggak pernah lepas dari masalah setiap harinya. Negara yang masih ngutang ke mana-mana, sementara musibah dan bencana datang silih berganti. Tau apa mereka soal Maliq n The Essentials, geliat film Indonesia, megap-megapnya PSSI, dan semua manis pahitnya menjadi penduduk Indonesia.
Dan begitulah. Gue mulai bersikap apriori. Sikap yang sebenernya sangat gue benci.
Sampai akhirnya weekend kemarin, gue pergi ke Groningen, sebuah kota kecil di sebelah utara Belanda. Perjalanan 3 jam naik kereta gue bela-belain demi dateng ke satu event olah raga yang melibatkan seluruh student Indonesia di Belanda. Terlepas dari serunya pertandingan, habisnya suara gue karena sibuk menyuport tim kota Den Haag, dan gelar juara umum yang nggak disangka jatuh ke tangan kita, ada satu hal yang bikin gue miris.
Tim bola kota Deventer, yang emang kualitasnya di atas rata-rata, berhasil masuk ke final. Tapi menjelang pertarungan puncak itu, masalah muncul. Tim mereka diprotes keras oleh peserta lainnya karena mayoritas diisi anak-anak Indo yang hanya berkomunikasi dengan bahasa Belanda. Konflik pun terjadi, tim Deventer nyaris mengundurkan diri kalau saja nggak ada segelintir anak-anak yang peduli dan ikut memperjuangkan hak mereka ke panitia.
Dan sepanjang final berlangsung, teriakan dari kubu anti tim Indo ini semakin menggebu-gebu. "Hidup Indonesia!!" adalah satu teriakan menjurus provokasi yang banyak terdengar dari para suporter di pinggir lapangan.
Tiba-tiba, semua prejudice gue sama anak-anak Indo itu menguap. Mereka sama seperti gue. Pengen diterima, butuh komunitas. Dan mungkin lebih sulit buat mereka, yang sering terkesan masih bingung sama identitas mereka sendiri. Yang punya kulit gelap seperti gue tapi nggak bisa bahasa Indonesia, yang bangga banget pake kaos bertulisan "Super Indo", meskipun pertalian mereka sama Indonesia sangat-sangatlah tipis.
Dan gue bersyukur, setidaknya gue tau gue belong di mana, meskipun gue pantas merasa malu, dengan rasa "sok nasionalis" gue selama ini yang ternyata hanyalah semu.
Thursday, June 01, 2006
6.234
Itu data per pagi hari ini tentang jumlah korban meninggal akibat gempa di Jogja. Menyedihkan memang, ketika nyawa manusia yang hilang harus digambarkan dengan angka-angka berakhiran "ribu". Dan lebih menyedihkan lagi harus mendengar berita buruk tentang negara tempat kita lahir tanpa bisa berada di sana. Dengan kata lain, hanya mengandalkan gambar dari televisi asing dan berita-berita internet untuk bisa membayangkan kondisi yang ada saat ini.
Seorang teman di Indonesia mengirim SMS, "Kelihatannya orang-orang Indonesia yang ada di luar negeri lebih heboh tentang bencana ini dibanding orang yang ada di Indonesia sendiri. Kenapa ya?"
Jawabannya, mungkin karena berada di luar negeri membuat perasaan tidak berdaya, tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa berada di dekat orang-orang yang paling berarti. Entahlah.
Tapi tetap, kepedulian ada di mana-mana. Contoh paling kecil, hampir setiap blog yang gue kunjungin menyinggung tentang gempa Jogja di postingannya. Dan gue pikir, semuanya merasakan kepedulian yang sama. Baik dalam bentuk rasa duka cita, keprihatinan, menunjukkan link ke kantung sumbangan, atau bahkan berbagi pengalaman, seperti Mas Andi yang niatnya liburan ke Jogja tapi ternyata malah kebagian gempa.
Anyway, turut berduka cita sedalam-dalamnya, untuk Indonesia, khususnya semua yang ditinggalkan, kehilangan, dan harus menata kembali kehidupannya dengan sisa yang ada.
Seorang teman di Indonesia mengirim SMS, "Kelihatannya orang-orang Indonesia yang ada di luar negeri lebih heboh tentang bencana ini dibanding orang yang ada di Indonesia sendiri. Kenapa ya?"
Jawabannya, mungkin karena berada di luar negeri membuat perasaan tidak berdaya, tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa berada di dekat orang-orang yang paling berarti. Entahlah.
Tapi tetap, kepedulian ada di mana-mana. Contoh paling kecil, hampir setiap blog yang gue kunjungin menyinggung tentang gempa Jogja di postingannya. Dan gue pikir, semuanya merasakan kepedulian yang sama. Baik dalam bentuk rasa duka cita, keprihatinan, menunjukkan link ke kantung sumbangan, atau bahkan berbagi pengalaman, seperti Mas Andi yang niatnya liburan ke Jogja tapi ternyata malah kebagian gempa.
Anyway, turut berduka cita sedalam-dalamnya, untuk Indonesia, khususnya semua yang ditinggalkan, kehilangan, dan harus menata kembali kehidupannya dengan sisa yang ada.
Subscribe to:
Posts (Atom)