Friday, January 14, 2011

Slurrrpppp....

Mari memulai 2011 dengan bermimpi =) Salah satu hal yang menjadi impian gue sepanjang masa adalah traveling ke sebanyak mungkin tempat. Dari yang bapuk, penuh petualangan, sampai yang serba lux dan penuh kenikmatan, semuanya pengen gue jalanin =D

Gue udah pernah tinggal di satu youth hostel di Barcelona dan sekamar sama cowok aneh yang tiap malem tidur setengah telanjang. Gue juga pernah kejebak booking hotel di internet pas lagi ke Belgia, dan ternyata kamar yang gue (waktu itu jalan sama nyokap) dapetin ternyata super duper busuk! Toiletnya, yang hanya berupa shower, dijadiin satu sama kamar tidur tanpa ada pintu atau apapun juga. Bleh. Gue sampe berantem hebat sama pengelolanya, dan akhirnya pindah ke hotel Ibis.

Tapi jangan salah!!! Pengalaman hedon pun pernah mampir dalam hidup gue. Syukurnya, kebanyakan gratis karena rejeki kerjaan. Gue pernah ngerasain spa paling enakkkk dalam hidup gue pas lagi liputan Kriya Spa di Grand Hyatt Bali. Asli, baru sekalinya gue dipijit sampe bener-bener ketiduran. Enak banget! Ditambah dengan ruangannya yang emang keren, minimalis sekaligus homey. Oh, pernah juga dulu gue dan keluarga jalan ke New York, dan salah satu kolega om gue mengatur penjemputan kita di airport dengan limousin putih panjang. Waaa...berasa jadi artis sehari deh. Meskipun menurut gue sih, naik limo itu nggak enak-enak banget kok. Tempat duduknya sebenernya kayak angkot, dengan kursi panjang yang saling berhadapan, hehehe..Tapi interiornya yaaa emang keren, lengkap dengan TV, mini bar dan telepon.

Anyway, karena semangat mimpi lagi menggebu-gebu, mariii kita berkhayal setinggi mungkin. Dan inilah beberapa tempat atau tujuan liburan yang menjadi impian gue. Hmm, siapa tau kan, ada yang mau ikut nyumbang, hahaha!

The Wizarding World of Harry Potter

Kayaknya, semua yang mengaku fans beratnya si Mas Harry pasti bakalan ngiler berat ngeliat tempat ini. Theme park yang menjadi bagian dari Universal Orlando di Florida ini memang belum lama dibuka, jadi isinya pun tidak sevariatif theme park lainnya. Tapi siapa sih yang nggak penasaran naik roller coaster berbentuk naga, berpetualang di Hogwarts, dan jalan-jalan di Hogsmeade sambil belanja tongkat sihir, permen Berty Botts atau minum Butterbeer? Arghh...serasa mimpi yang jadi kenyataan! Ada beberapa pilihan tiket yang bisa dibeli kalau mau mampir ke dunia Harry Potter ini. Yang paling murah bisa dibeli online di sini, harganya $82 untuk dewasa dan $74 untuk anak 3-9 tahun. Sebenernya, nggak terlalu mahal banget untuk dipakai seharian sih. Jadi, kalau memang ada rencana liburan ke US, silakan sempatkan mampir dan bergabung dengan dunia ciptaan JK Rowling ini.

Orient Express

Naik kereta api sih udah biasa, apalagi cuman dari Bandung ke Jakarta doang (eh, meskipun sedih juga sih, kereta Parahyangan yang legendaris malah udah nggak ada, huhu). Tapi naik kereta lux keliling Eropa? Lalalala....pastinya menjadi pengalaman luar biasa. Apalagi kalau keretanya adalah kereta legendaris Orient Express yang super duper lux. Mulai dari kabin yang mewah, service yang membuat kita merasa seperti bangsawan, sampai pemandangan di sepanjang perjalanan yang breathtaking. Ada beberapa tujuan yang ditawarkan, dari mulai Eropa sampai Asia Tenggara. Tapi yang paling populer adalah Venice Simplon Orient Express yang menjelajahi daratan Eropa. Salah satu paket "termurah" yang ditawarkan adalah jurusan London-Venice yang ditempuh dalam waktu dua hari satu malam. Harganya? $3,210 saja untuk kabin yang dishare berdua! Hehehe...Kapan ya bisa kesampaian?

Disney Cruise

Naik kapal pesiar mungkin adalah salah satu keinginan yang dimiliki oleh hampir semua orang (kecuali orangnya gampang mabuk laut ya, hehe). Tapi entah kenapa gue sangat penasaran dengan kapal pesiar keluarannya Disney ini. Kayaknya fun dan seru aja. Biasanya kan cruise itu identik dengan orang-orang kaya yang sudah pensiun dan bingung bagaimana menghabiskan uangnya =p Tapi Disney Cruise sepertinya seru dijalani, terutama untuk ibu-ibu kayak gue yang nggak pernah mau kehilangan masa kecil, hahaha..Kebayang serunya cruising dengan tujuan Karibia bersama Donald Duck di sepanjang perjalanan. Belum lagi entertainmentnya, seperti pertunjukan musikal sekelas Broadway yang bisa ditonton seluruh keluarga. Oya, untuk tahu perkiraan harga, bisa coba-coba masukin planning kita ke sini. Nanti keluar deh harganya berapa sesuai tujuan dan jenis cruise yang kita mau. Misalnya, gue coba masukin cruise dengan tujuan Karibia, berangkat dari Florida, selama 7 hari, untuk 2 dewasa dan 1 anak, total perjalanan kita adalah sekitar $2,880. Not bad kan ya? Tapi yang mahal adalah tiket menuju titik pemberangkatannya. Bahagialah wahai kalian penduduk Amerika!

Atlantis The Palm, Dubai

Gue sangat terkesan dengan hotel Atlantis di Dubai ini karena menonton salah satu episode The Amazing Race, di mana challengenya adalah meluncur dari perosotan super curam yang melewati kolam berisi hiu. Awww...adrenalin's calling nih! Semakin tua gue emang makin penakut sih. Kalau dulu mungkin cuek aja naik segala macam permainan gila di theme park, sekarang mikir seribu kali. Tapi kayaknya kalau udah sampe di Atlantis sih harus banget ya, meluncur di perosotan edan ini. Otherwise I can't sleep thinking about it, hehe. Selain marine dan water parknya, hotel ini juga terkenal karena fasilitasnya yang mewah dan bangunannya yang unik. Tapi ternyata tarif satu malamnya nggak semahal yang gue bayangin. Untuk deluxe room, tarifnya sekitar AED 1,490; atau $405. Itu untuk kamar paling standar loh ya...Kalau mau yang gila, misalnya Poseidon Suite yang pemandangan kamarnya adalah under the sea, lengkap dengan private butler 24 jam, semalamnya adalah....AED 29,500; atauuuuu $8,030 sajah sodara-sodara...hehehe...Mari berkhayal!!



Hmm, kayaknya segitu dulu aja deh berkhayalnya. Mungkin lain kali akan dilanjutkan dengan tempat-tempat lain yang sama gilanya...Life is indeed good (especially if you have money!)

Thursday, January 13, 2011

2011

Nggak muluk-muluk deh, tahun 2011 temanya adalah passion (eh, terlalu terpengaruh sama Rene Suhardono sepertinya hahaha). Mencari passion, mengejar mimpi.

Don't waste too much time, since we only live once!

Happy new year folks =)

Thursday, December 30, 2010

Nasionalis?

Seorang temen kemarin ini cerita, kalau dia berniat untuk "pindah paspor" ke negara lain, karena sudah tinggal begitu lama di negara tersebut dan selama ini masih memegang paspor hijau sebagai identitasnya.

Kenapa? Gitu tanya gue. Kenapa sekarang, setelah sekian lama?

Jawabannya simpel. Soalnya biar gampang kalau mau traveling. Kalau pake paspor Indo susah dapet visa nya, belum lagi suka dicurigain macem-macem dan imbasnya suka jadi korban tindakan security lebay di negara-negara tertentu.

Gue masih penasaran. Tapi berarti loe bukan warga negara Indonesia lagi donk, officially?

Dan temen gue menjawab santai. I'm still Indonesian at heart.

Oke...hmmm mungkin emang terlalu dangkal kalau nasionalisme hanya dinilai berdasarkan sebuah buku mungil bernama paspor. Dan nggak bisa disangkal juga, paspor Indonesia memang kadang sedikit merepotkan. Bikin visa suka ditolak. Tembus imigrasi di airport asing suka susah.

Isu nasionalisme muncul lagi di benak gue ketika heboh Piala AFF kemarin ini. Timnas bermain bagus, meski sempat ada bahasan seru tentang naturalisasi pemain asing. Nah lhoo...meski tentunya berkat the so-called pemain asing itulah prestasi dan performa timnas jadi meningkat tajam. Sampai-sampai ada yang nyeletuk, "Garuda di pasporku!" instead of "Garuda di dadaku" hehehe...Entahlah apakah pemain yang dimaksud memang bermain sepenuh hati karena memang merasa sudah meng-Indonesia, atau hanya karena memang "kewajibannya".

Sebenernya apa makna nasionalisme juga gue masih nggak yakin sampai sekarang. Iya, gue cinta Indonesia, iya gue bangga jadi orang Indonesia. Dan iya, gue bakal mikir seribu kali untuk memutuskan tinggal for good di negara lain atau mengganti paspor gue dengan paspor negara lain. Tapi apa nasionalisme berarti marah-marah dan ngatain tim dari negara lain yang mengalahkan kita? atau sibuk rusuh sendiri bikin trending topic di Twitter tentang betapa negara tersebut adalah cheater?

Menurut gue, nasionalisme kayak begitu hanya yang jenisnya semu. Mungkin malah lebih semu dibanding menukar paspor hijau dengan paspor berwarna lain.

Akhirnya, kembali ke masing-masing orang sih. Mungkin memang nasionalisme hanya bisa diukur dari hati. Bukan dari atribut seperti paspor atau kaos merah bergambar garuda di dada.

Wednesday, December 08, 2010

For Parents in Need: The Urban Mama Indeed!



The Urban Mama Writing Contest

I am not a person with motherly instincts. I love kids, but I've never dreamed to have lots of them since I was a child. I love playing with children, but I know nothing about raising a child on my own, or even doing a simple task like changing diaper or feeding a baby.

So, I was very-very clueless when I was pregnant and finally have my own baby Yofel (yep, not a nephew who I could give back to his parents if he started to get naughty!). I read several books about pregnancy and parenting, but still, so many questions unanswered and so many things I need to ask.

My curiosity led me to internet (of course!) and I stumbled to many websites, blogs, and mailing lists. Some could answer my questions, but some made me feel more isolated and guilty than ever. I couldn't give Yofel ASI Exclusive, and to read many negative comments about formula and bottle feeding made me feel really sad and bad about myself.

Then one day, a friend of mine mentioned a forum I never heard before: The Urban Mama. A bit sceptical at first, but I thought, ok, let's give it a try. And wow! I'd mesmerized of its tag line: There is always a different story in every parenting style. I totally agree with this!

And since that day, The Urban Mama became my saviour. I learned A LOT about many things, from breastfeeding to Baby Led Weaning, from traveling with infants to choose a recommended baby bottle. Ok, there's one tiny bad point from this wonderful forum: It brought out the shopaholic in me! Hahaha, I found out many cute brands that I've never known before, from baby stroller to diaper bag, and it makes me craving for more shopping! =)

At first, I only became a silent reader of The Urban Mama. I'm not a fan of internet forum, and I feel a bit uncomfortable to share my problems or stories with people I don't know. But when Yofel had his colic problem, I had no idea what should I do, and decided it's time to seek an advice from the amazing parents of this amazing forum. And what a surprise when I found out that many people actually answered my questions! They shared their stories, gave advice, and offered support. Imagine, these people whose faces I didn't even know! I felt warmth inside my heart, and quickly became an active member of the forum. I remembered how great it felt when you got support from other people, so even though I didn't have solutions for every problem, at least I tried my best to offer support and comfort, by writing an article or dropping some lines in the forums. I also recommended The Urban Mama to all my friends who are parents and parents-to-be. And although I only got a chance to join the kopdar once, I still feel as a proud member of The Urban Mama: I'm a TUMbler! =)

The Urban Mama is not only helping me to solve everyday problems as a parent (from parenting to financial tips!), but it taught me about the most principal thing in parenting (more important than ASIX, IMD, RUM, BLW or other abbreviations): Respect.

Parenting is about respecting other people's choices, because there is always a different story in every parenting style. And hopefully, one day we can teach our kids to do the same in their future.

Happy 1st anniversary, The Urban Mama, I wish you more fruitful years to come! (And a big thanks for the founding mamas: Shinta, Thalia and Ninit, and all the crew. Keep up the great job!)

Tuesday, November 23, 2010

The Grass Always Looks Greener...

Every person in this planet experienced his low times. Different reasons, maybe, but the same feelings: gloomy, hopeless, sad. It feels like we have the worst life ever in the whole wide world.

Some people struggled with their finance, some had health problems, and many tried to find a purpose of their lives. And the ungrateful feeling, the evil sentence of "if only my life is not like this...", and the neverending envy of other people's lives!

I had this kind of situation lately, where I feel really bad about my life. I was kinda lost, seemed to forget what the hell am I doing here, with my life, right now? How come I ended up doing job that I don't really care about, with people I don't really like? What am I doing here, where has my so-called idealist self gone?

And I started to feel bad because I wish my old life back. I wish I can still have the dream job with many traveling plans and do stuff that I care about. I wish I don't have to think about the money, to count every penny before decided to buy a book in a book store. I wish I don't have to feel guilty every time I want to have a night out and leave my baby at home.

I talked to an old friend who has a wonderful plan for his future, and felt jealous. I saw a facebook page of one of my best friends and I was green with envy. It could be my life! An interesting-less stressful-and not-boring life. Not plain like mine now.

And so it goes, the unbearable days of whining-cursing-struggling.

Until last weekend, when I visited a Foundation for Disabled Children and Adults with my big family, just like we do every year before the Christmas. The foundation called Panti Rawinala, a place for children and adults who have disability with their vision, either they are blind or have low vision. Besides that, all the children and adults there have other disabilities, some are mentally ill and others have physical problems.

Seeing them living their lives there, with happy faces and hope that is so high to the sky, I felt like being slapped in my face. Especially when one of the children sang (with his very beautiful voice) a song called Ku Tak Akan Menyerah, a christian song that has very beautiful lyric.

"I will never give up, before I try everything I can. But I trust God and I believe that He has a plan for me"

Ok, I don't want to sound like a religious-hypocrite, but seriously, I was very touched. How come I was so ungrateful with my life? With a loving family, a great son, a decent job and a future to be reached out? Yes, my life is not perfect. But it is up to me to make it as perfect as I want to.

The grass will always look greener on the other side of the fence, but like I once said before, you never know how much pesticide is used on them!

And today, when the big three O is coming to my life, I want to get ready to be grateful for every chance I have, for every single problem that makes me stronger, for every love, every crash, every struggle and every little happiness in my life. Thank God for the thirty years You have given to me.

Bring it on! =)

Wednesday, November 10, 2010

Home Sweet Home

Selama nyaris dua tahun sudah gue tinggal di apartemen mungil di kawasan Jakarta Barat. Jujur, gue suka banget tinggal di apartemen. Gue seneng suasananya yang selalu rame (meskipun, suka bikin jantungan kalau ada berita-berita mengerikan seperti "ada yang loncat dari tingkat 20!", atau "ada pembunuhan model di tower sebelah!", atau "kemarin tetangga bawah ikut digerebek polisi karena nyimpen narkoba!"), dan yang paling kerasa adalah praktisnya kalau mau ngapa-ngapain. Mau belanja? Tinggal turun ke Hero. Males masak? Tinggal angkat telepon, pesen delivery deh.
Tapi sejak ada anak, tinggal di apartemen emang jadi tantangan juga. Space jadi mengecil, terlalu banyak barang di mana-mana. Belum lagi, Yofel sekarang lagi seneng-senengnya merangkak dan belajar berdiri, serem banget tiap ngeliat dia nyaris kepentok meja atau keserimpet kabel.Hiii...

Lalu, lalu...Biaya tinggal di apartemenpun sebenernya lebih mahal daripada tinggal di perumahan. Kenapa? Karena untuk bayar listrik dan air, hitungannya melalui pihak ketiga (yaitu pengelola apartemen), jadi jatohnya emang mahal banget. Satu bulan listrik dan air gue bisa sama dengan bayaran listrik dan air rumah nyokap di Bandung (yang jelas-jelas ukurannya lebih besar). Ditambah lagi dengan service maintenance yang mayan mahal juga per bulannya.

Jadi, memang ada plus minusnya, dan sebenernya bingung juga kalau mau pilih tinggal di rumah atau apartemen. Bulan depan, kontrak kita dengan apartemen ini habis. Rencananya memang mau diperpanjang, tapi karena si owner menaikkan harga sewa, jadi mikir-mikir juga. Apa sebaiknya pindah aja? Tetep ke apartemen, atau mulai cari rumah?

Sebenernya sih belum rela juga meninggalkan apartemen yang sekarang. Biarpun mungil, tapi udah jadi saksi berbagai kejadian, termasuk panik gempa waktu hamil 7 bulan, diketok-ketok tetangga pas jamannya Yofel kolik dan nangis tiada henti, juga pendengar yang baik saat kita berangan-angan tentang mimpi dan rencana masa depan.

Hmm...Jadi gimana nih...pindah? atau tetep disini?

Monday, November 01, 2010

On Blogging

Karena membaca komentar seorang ibu di salah satu forum yang bilang kalau blog gue terlalu polos, gue jadi ketawa-ketawa sendiri sambil membuka-buka blog lain (terutama blog para ibu-ibu).

Dan bener banget, blog gue mungkin adalah salah satu yang paling plain, cupu dan ngebosenin secara visual. Hahaha...Nggak ada template yang seru, header warna warni atau aplikasi yang lucu-lucu.

Entah kenapa gue emang males banget ngutak-ngatik HTML dari dulu. Tujuan awal gue bikin blog (sejak 2003 dulu) adalah karna gue suka nulis. Terlepas dari ada atau enggaknya orang yang suka baca blog ini, gue ngerasa seneng aja bisa mendokumentasikan pikiran gue sejak dari awal umur duapuluhan sampai sekarang nyaris menginjak usia 30 tahun. Buat gue, blog ini adalah salah satu lambang evolusi pemikiran dan gaya menulis gue. Mudah-mudahan sih isinya nggak se-membosankan tampilannya, hahaha...

Anyway, mungkin ada yang berminat menolong gue untuk mendesain ulang blog ini (secara baru dua kali ganti template dalam 7 tahun!) supaya lebih layak baca? hehehe...

Tuesday, October 12, 2010

Chaos

Waking up in the morning, hoping to play a bit with your kid before going to the office. What seemed like a simple wish apparently led into a crazy day. Your kid had accidentally dislocated his hand while rolling on the bed, and suddenly everything was a chaos.

Your babysitter suddenly had diarrhea, and your kid was crying out loud. Your apartment looked very messy, and all you want to do is going back to sleep, pretending that this was just a bad dream.

But sadly, you opened your eyes and everything was still a mess.

What can you say? This is what people called being a parent. And it's not an easy job, at all.

*dedicated to my baby boy, who's no longer a baby. Happy first bday, and we love you no matter what! (wait for my post about the bday party!)

Wednesday, October 06, 2010

Makan Temen

Dari dulu, gue selalu berprinsip, pilihlah pekerjaan yang disukai, lalu lakukan sebaik mungkin. Gue sendiri emang nggak ngoyo harus mengejar karier, punya target jadi bos dalam usia sekian, hehehe...Buat gue, bisa melakukan pekerjaan yang sesuai kata hati aja udah jadi kepuasan tersendiri. (Di samping dapet uang lho ya, hahaha)

Sampai saat ini, menjadi perempuan yang bekerja masih menjadi pilihan gue. Well, dibilang pilihan 100% juga nggak sih, karena sejak jadi ibu, ada keinginan besar untuk bisa tinggal di rumah aja, or at least, working from home. Apa daya, belum memungkinkan sampai sekarang. Jadi, yang bisa gue lakukan setidaknya adalah berusaha menikmati pekerjaan gue.

Dalam setiap pekerjaan yang gue ambil, salah satu bagian yang paling gue suka adalah proses pembelajarannya. Gue suka belajar hal-hal baru, tentu aja sesuai dengan minat gue ya. Entah itu belajar menulis berita dan mencari angle waktu kerja sebagai jurnalis politik, belajar menulis feature dan mengatur pemotretan waktu kerja di salah satu majalah hedon, atau belajar bagaimana presentasi di depan ratusan petani tentang sebuah konsep rumit bernama Fairtrade, waktu gue sempat kerja di NGO tersebut.

Jadi, waktu gue mulai pekerjaan gue yang sekarang, gue sudah siap untuk belajar hal-hal baru lagi. Tentang sistem pendidikan Amerika dan Indonesia, proses perijinan dan birokrasi, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan kerjaan yang sekarang.

Tapi jujur, yang paling gue benci dari bekerja adalah menghadapi orang-orang di dalamnya yang suka unexpected, termasuk terlibat dalam politik kantor yang tidak penting. Gue pernah satu kantor dengan mayoritas perempuan yang tiada hari tanpa bergosip, atau pernah juga dapet bos Perancis yang kadang super duper aneh. Tapi yang paling gue takutin dan gue sebel adalah menghadapi seorang backstabber.

Apa salahnya sih bekerja dengan tenang, tanpa harus saling tikam-menikam dari belakang? Apa susahnya berkompetisi dengan sehat, tanpa harus ada manuver-manuver aneh yang bikin hari-hari terasa gila?

Gue ngerti, mungkin emang ada model orang yang merasa kalau kerjaan adalah segalanya, kalau karier adalah yang nomer satu dalam kehidupan, dan orang-orang lain dianggap sebagai ancaman (even though di saat lunch time dia bisa ketawa" dan ngajak gosip tentang artis seakan nggak ada hal yang terjadi).

Tapi please deh, if you want to do that office politic thing, find the equal opponent! Gue nggak tertarik dengan urusan kantor, politik, karier, jabatan ataupun uang(kecuali kenaikan gaji yah, huahaha). So please, just leave me alone, ok.

And let me work in peace.

Tuesday, September 28, 2010

Random Things

The last time I posted in this blog was like 2 months ago! This is definitely the longest hiatus I've ever taken. And to be honest, I miss writing so bad. The last month was a total chaos for me, and being in that frantic situation is mostly my reason why I didn't write.

Salah satu kerjaan gue di kantor yang sekarang adalah mengurus orang-orang Amerika yang mendapat beasiswa Fulbright untuk mengajar ataupun meneliti di Indonesia. Dan program yang paling edan adalah mendatangkan 44 orang pengajar sukarela asing, yang akan diperbantukan di berbagai SMA sampai ke pelosok tanah air (and by pelosok, I mean really far, as far as Polewali in Sulawesi or Kupang in NTT). Semuanya adalah fresh graduate yang baru lulus dari university di Amerika. Anak-anak umur dua puluhan tahun yang kelebihan energi, haus melihat dunia, dan beridealisme tinggi. Dan mengurus anak-anak ini, selama satu bulan penuh, bukan hal yang gampang. Adaaa aja kejadian yang bikin heboh.

Nemenin salah seorang dari mereka ke ginekolog, misalnya. Atau panik-panik karena ada satu orang yang kena serangan semacam ayan. Belum lagi kasus diare, muntah-muntah sampai flu. Phew.

Yang lebih mengejutkan lagi adalah betapa mereka masih (secara tidak sadar mungkin) menganut stereotype tertentu untuk orang Indonesia. Seperti misalnya: "You went to the University, right?" "Yes I did", jawab gue sambil dalam hati menambahkan,"And I have Master's degree from Netherlands!!!"

Atau betapa kagetnya mereka waktu gue bilang gue tahu di mana letak kota Boston. Hello, gue nggak segitunya juga kali kupernya! Apalagi waktu mereka ketawa-ketawa pas gue bilang gue ngerti apa itu artinya sorority. I do watch Hollywood movies, guys!

Dan betapa mereka tertakjub-takjub melihat banyaknya McDonalds, KFC dan Starbucks di Jakarta, di antara menggunungnya mal-mal super besar di sana.

Selama satu bulan gue menghabiskan hari-hari gue sama mereka, mengajari mereka bahasa dan budaya Indonesia, membiarkan mereka main-main dengan Yofel, dan selalu siap sedia mendampingi mereka di saat-saat emergency.

Melihat mereka, gue jadi inget saat-saat beberapa tahun yang lalu, when my life was filled with dreams, full of passion, and when today is the only thing that counts. Do I lose that kind of life now? Time flies so fast and without knowing it, I will become 30 in the next couple of months.

Masih banyak banget hal yang mau gue lakuin, despite my current status as a mom and a wife. And watching these kids, really, it woke me up one more time, to reach whatever it was that I started to forget.