Thursday, January 19, 2012
Tentang Parenting (LAGI??)
Kayaknya topik ini sering banget deh ya diomongin, sampe pusing sendiri bawaannya, hehe...Tapi karena jadi orang tua itu status seumur hidup, pelajaran yang didapat pun sepertinya tidak berakhir.
I'm not gonna talk about UHT, home made food, imunisasi dan sebangsanya ya, karena udah banyak banget bahasan tentang itu di blog para ibu lainnya yang lebih kompeten daripada gue =p And frankly speaking, gue termasuk yang cuek soal topik beginian. Gue masih ngasih susu pertumbuhan (bukan UHT), suka beliin Yofel makanan di restoran (dan sesekali nggak bisa terhindar dari MSG si musuh bersama), dan gue melengkapi Yofel dengan imunisasi, apapun yang disarankan dokter (meski masih suka telat, hehe).
Jadi, jadi, jadiiiiii....sebenernya tulisan ini dibuat karena gue kepikiran beberapa hal yang terjadi dalam lingkup hidup gue akhir-akhir ini.
Salah satunya, tante gue, yang baru-baru ini curhat sama nyokap gue tentang ketidakrelaannya melepaskan anak perempuannya yang paling besar untuk menikah dengan seorang lelaki dari Inggris. Kenapa nggak rela? Karena anak bungsunya pun sudah diboyong oleh suaminya, yang juga seorang British guy. Masa harus dua-duanya sih kawin sama bule? Gitulah kira-kira keluh kesah si tante sama nyokap gue. Tapi di lain pihak, tante gue ini juga sadar kalau anak-anaknya sudah dewasa. Apalagi, yang menyekolahkan mereka ke London sehingga akhirnya ketemu dengan para pria Inggris itu juga tante gue. Jadi dilema sebagai orang tua itu emang gak pernah berakhir ya. Seberapapun dewasanya anak kita nanti, tetep akan ada "my little kiddo" sense yang menguasai hati kita.
Hal yang mirip juga menimpa nyokap gue, saat adik gue mengakhiri hubungannya dengan cowok yang sudah dianggap anak sendiri sama nyokap gue. Sambil berlinangan air mata, nyokap bercerita sama gue tentang harapan-harapannya, apalagi usianya yang semakin tua dan cita-citanya ingin melihat adik gue bahagia. Tapi kenyataannya adik gue nggak bahagia, jadi harusnya nyokap lebih mudah menerima dong? Ternyata nggak sesimpel itu. Meski nyokap bilang sekarang sudah bukan jaman Siti Nurbaya, tetep saja sebagai orang tua ada perasaan "memiliki" anaknya, ingin memilihkan "yang terbaik" untuk anaknya. Dan who knows? Sometimes, parents know best. But still, children have their own thinking, living their own life.
Merinding juga membayangkan suatu saat nanti gue harus siap menghadapi hal yang sama. Merelakan. Melepaskan. Dan mendoakan. Bukan memiliki, apalagi mengatur hidup anak gue.
Ujian terkecil datang setelah libur tahun baru kemarin. Ketika nanny-nya Yofel cuti dan pulang kampung, sementara gue dan Rayo sudah harus masuk kerja. Akhirnya, kita memutuskan untuk menitipkan Yofel di Bogor. Without nanny. Without us. And it's damn difficult at first! (Sebelumnya, gue sudah beberapa kali meninggalkan Yofel karena harus dinas, rekor terlama adalah 2 minggu, tapi selalu ada nanny atau papanya). Takut juga Yofel kangen dan mencari-cari kita. Takut Yofel nggak mau makan. Takut oma opanya di Bogor stress. Dan nggak rela kalau mereka sampai melakukan hal-hal yang "kurang sesuai" dengan kebiasaan kita.
But turned out, everything's going well. Yofel emang susah makannya (but he's a picky eater anyway, doesn't matter who watched for him), kadang bertanya-tanya di mana mama, papa atau ncus. Tapi toh, he lives! And we live too =)
Jadi...dua puluh tahunan lagi, harusnya kita siap dong ya melepas dia? Merelakan dia memilih jalan hidupnya? (yea, rite!!!!)
Tuesday, January 10, 2012
Thank You God
Awal tahun, sungguhlah saat yang tepat untuk bersyukur atas kebaikan Tuhan di tahun sebelumnya, sambil tentunya berharap yang baik-baik untuk hari-hari ke depan.
Tapi sejujurnya gue sedikit risih kalau ada orang yang sedikit-sedikit bersyukur pada Tuhan karena segala kejadian baik yang ada dalam hidupnya...kadang tanpa memikirkan apa yang menimpa orang lain.
Contoh.
Kemarin, di salah satu BB Grup, pembicaraan sedang berkisar tentang musim hujan, daerah-daerah yang diprediksi akan banjir, dan sejenisnya. Ada satu orang yang mem-forward berita tentang daerah di Jakarta yang katanya sih bakal jadi korban banjir lima tahunan yang terkenal itu. Lalu, karena merasa daerahnya tidak muncul di daftar itu, langsung deh beberapa orang memuji-muji nama Tuhan. "Puji Tuhan daerahku nggak ada", "Wahh..Tuhan luar biasa masih jaga kita ya", dll dsb.
Kalo lagi iseng sih gue bisa nyeletuk, "Trus di daerah-daerah yang kena banjir itu, Tuhan nggak ada gitu? Salah apa ya mereka sampe nggak dilindungi sama yang di atas?"
Contoh lagi.
Seorang teman cerita, dia sedang buru-buru mau ke kantor, karena sudah terlambat. Akhirnya dia nekat menerobos 3 in 1. Dan ternyata, seorang polisi yang jeli melihatnya, lalu langsung mengambil motornya. Tapi keberuntungan ada di pihaknya. "Tuhan baik banget deh, motor polisi itu nggak bisa distarter! Ajaib ya!"
Manusia itu kadang memang sangat egosentris ya. Yang ada di pikiran kita hanyalah kita, kita dan kita. Tak terkecuali gue, yang selaluuuu berkutat dengan masalah gue sendiri. Yang bersyukur sepenuh hati kalau lagi dapet rejeki, tapi mengeluh sekalinya mendapat sedikit tantangan.
Bersyukur itu perlu. Perlu banget. Tapi jangan lupakan juga esensi dari kebaikan Tuhan itu sendiri.
Happy 2012, hopefully I did not start this year with a too negative post ya =D
Wednesday, December 28, 2011
2011 Best Finds
We're saying goodbye to 2011 in a few days, so many memorable moments, laughter and tears, things that I will remember for the rest of my life.
Here are some of my best finds in 2011.
1. Kramersbooks and Afterwords Cafe
2. My birthday is on Thanksgiving day!
I've never celebrated thanksgiving before, but this year, for the first time in my office's history (and my history as well!), we celebrated thanksgiving. Complete with two huge turkeys, so many delicious traditional food, and the best home made pumpkin pie ever, made by my American colleague's girlfriend. And the best part? We had the celebration on my birthday! So it's considered my birthday celebration too! (without me even spending a dime, hee hee!)
3. Book Blogger Indonesia
I bumped into this crowd on the internet when I was in my lowest moment. Suddenly my spirit was lifted again, knowing these people who shared the same passion with me: books! Since I joined the group, I only had chance to meet with two of them, but it felt like I know all of them forever =)
4. Hummingbird
Bandung is still at the top of my list if I want to find a good place to eat. Frankly speaking, so many overpriced restaurants and cafes in Jakarta, making the good culinary experience turn into a not so good financial situation. So I'm so happy everytime I went to Bandung, there are new places, affordable but nice places, ready to be tried. Hummingbird is one of my favorites this year. A cute little restaurant, has a warm ambiance, and quite good food too. Try the roast chicken with rosemary and their peach tea. Yummy! =)
5. Discount time, baby!
One of the best inventions in internet era so far is the promo and discount site! Me and my colleagues are addicted buying the promos from sites like Deal Keren and Ada Diskon. It's so much fun! Not only the feeling that we had been saving money (a mexican buffet lunch for only IDR 40k, or fancy karaoke for IDR 15k per person, hurray!), but also the chance to try something we never did before. I found a good dentist from one of the promos, and I even tried to do a treatment here, for a very very cheap price. I love discount sites! Who doesn't??? =p
6. Meat is still my choice
I'm totally not against vegetarian. I admire them! But from what I experienced this year, vegetarian is not my way (yet). Especially since I found some places serving really nice carnivore-dish =D One of them is Moe's Place, a great place in Kemang, their specialty is ribs (my choice is baby-back pork ribs, it's heaveeeen!!!!). The quality is almost the same as Tony Romas, but with almost half the price. We celebrated our anniversary there (without even planning it), and we had a great surprise, 25% discount! When I asked until when they'll have the promo, the waiter answered "We haven't decided yet". So go there, hurry! =) Ow, and I also had the best steak of the year, in Outback (I tried the one in Ratu Plaza). Their Outback Special is ridiculously delicious, a very juicy sirloin (ask them to serve the medium one). It’s indescribable =)
7. Time.com
My most favorite site of the year! Their articles, especially the ones in "Top 10" category, saved me in the most boring day at the office or even the most stressful ones. I love how the editors write in a witty, smarty-ass way but still delightful to read. I envy their creativity. Read this Top 10 Everything of 2011 and you'll be taken into a great journey of the year =)
8. BCL
What? The singer? Are you kidding me? Certainly not. Luckily, I'm still sane =D And I found an old school amusement park in Bandung, called Bandung Carnival Land (or BCL!), thanks to my sister =)I took Yofel there and it's a great change from an overly expensive playground at the malls. The simple yet terrifying roller coaster, the as bright as carnival lights, and even the ancient haunted house with the "real" ghosts =) Crazy fun!
9. Sriti Hotel
This is a hotel we stayed at when we had Christmas holiday last week in Magelang. The hotel is surprisingly good, with clean and tidy rooms, nice pool, and warm Christmas-y feeling. It's not that expensive too, about IDR 350k per night for standard room (but a bit more expensive during holiday seasons),located in the center of the city. I will definitely recommend it for anyone who wants to crash in Magelang.
10. Bookish Me
2011 had offered me many great moments as a bookworm. I found several very great books this year. One of them is Special Topics in Calamity Physics. This is not a new book, but it's my best book of the year. Been a while since I read a book that can haunt me long after I finish it. Marisha Pessl had written a really nice debut novel about a girl who tries to find her identity, in the middle of a mysterious murder. The other book is Jellicoe Road, a coming-of-age novel by Melina Marchetta, very intense but enjoyable at the same time. Both novels have brilliant slash crazy epilogue, not to be missed for anything. Probably my favorite epilogues ever!!! I do look forward to reading more good books next year. Fingers crossed!!!Ow, and another great bookish experience is when I was asked by The Urban Mama to represent them as a speaker for Aleph (Paulo Coelho) Book Discussion with Times Bookstore. Crazily nervous, but in the end, I loved the experience! =)
11. Dinosaurs Rule!
Yofel is in love with dinosaurs. Literally =) And the good news is, I found so many great things related to this ancient animal. Cool books, movies, t shirts, birthday cupcakes and even a big T Rex baloon we bought in ELC. And I found so many interesting facts about dinosaurs too, thanks to Yofel and his obsession =) At least he's not into guns and robot (yet!), but if he does reach that stage, I will let his Dad take over the stage =D
Anyway, it's been a great year, of course lots of stumbling too along with the climbs. But I am very grateful for this wonderful 2011, and looking forward to a great 2012 as well. Wishing everybody more adventures to come! Happy new year! =)
Tuesday, December 13, 2011
Skills I Want To Have
Kadang-kadang gue masih diminta menulis sebagai kontributor untuk majalah ELLE Indonesia. Dan terakhir, gue menulis satu artikel yang mengangkat profil perempuan yang berprofesi di bidang sex & relationship.
Salah satu perempuan yang gue interview adalah Natalia Indrasari, seorang marriage & family therapist yang berdomisili di Amerika Serikat. Iseng gue ajukan pertanyaan, "What do you think about happily ever after marriage? Does it even exist?"
Dan inilah jawabannya =)
"Happily ever after could be a reality and is realistic wish asalkan tahu 'pilar-pilar' apa yang dibutuhkan dan juga menjalaninya. Sebelum menikah, kita bisa mempelajari dan latihan mempraktekkan skill-skill yang dibutuhkan untuk hubungan perkawinan yang sehat (communication skill, problem solving skill, prioritizing skill, budgeting, dll). Sebaiknya ketika jatuh cinta, mata dan telinga harus dibuka lebar-lebar. Kalau pun ketahuan tidak cocoknya sebelum menikah, itu lebih baik daripada tahunya setelah menikah. Untuk pasangan yang sudah menikah, coba luangkan waktu untuk tidak hanya membicarakan masalah 'logistik' sehari-hari (anak, schedule, rutinitas), tapi coba biasakan untuk membicarakan misi dan visi keluarga, ke mana keluarga ini mau di bawa, dan apa peran dan harapan masing-masing anggota keluarganya. Sense of humor adalah salah satu skill yang baik dan bisa membuat pasangan lebih bahagia , biaskan untuk 'be playful' dengan pasangan, jangan selalu serius, namun ini harus dilakukan di saat yang tepat. Biasakan untuk mencoba kegiatan baru bersama pasangan (tanpa selalu menyertakan anak), mempelajari hal baru (tidak harus kemudian menjadi ahli) bisa meningkatkan kuatnya ikatan pasangan. Coba benar-benar cari tahu 'inner quality' apa yang membuat pasangan jatuh cinta pada kita dan pertahankan kualitas tersebut. Misalnya suami jatuh cinta karena kita dipandang sebagai wanita yang cerdas dan supel, coba pertahankan untuk tetap cerdas dan tetap supel. Coba perlakukan pasangan kita setidaknya sebaik kita memperlakukan teman kita. 'pick your battle' jangan semua masalah dijadikan ajang pertengkaran, pilih hal-hal yang benar-benar penting untuk kita, misalnya hal-hal yang berhubungan dengan prinsip, selebihnya kita harus bisa 'let go'. Belajar untuk 'fight fair', pasangan yang bahagia itu bukan pasangan yang tidak pernah bertengkar, namun pasangan yang walaupun bertengkar tidak kehilangan 'respect' satu sama lain, sama-sama bertujuan mencari pemecahan terbaik dan berani bertanggung jawab akan konsekuensi dari keputusannya."
Thank you Natalia, sudah mengingatkan gue tentang janji yang gue ucapkan 3 tahun yang lalu. Sometimes time flies so fast, and I forgot what's my reason when I decided to spend my life with my guy. Apalagi setelah ada anak, rasanya waktu gue jauhhh lebih banyak dihabiskan dengan anak gue.
So many ups and downs. So many obstacles, from little things like the way he eats and the way he talks, to the most challenging issues like raising a kid and managing our finance. Marriage is indeed a battlefield! But it's worth to fight for.
Happy 3rd anniversary Bung, cheers to our next adventures to come! =)
Salah satu perempuan yang gue interview adalah Natalia Indrasari, seorang marriage & family therapist yang berdomisili di Amerika Serikat. Iseng gue ajukan pertanyaan, "What do you think about happily ever after marriage? Does it even exist?"
Dan inilah jawabannya =)
"Happily ever after could be a reality and is realistic wish asalkan tahu 'pilar-pilar' apa yang dibutuhkan dan juga menjalaninya. Sebelum menikah, kita bisa mempelajari dan latihan mempraktekkan skill-skill yang dibutuhkan untuk hubungan perkawinan yang sehat (communication skill, problem solving skill, prioritizing skill, budgeting, dll). Sebaiknya ketika jatuh cinta, mata dan telinga harus dibuka lebar-lebar. Kalau pun ketahuan tidak cocoknya sebelum menikah, itu lebih baik daripada tahunya setelah menikah. Untuk pasangan yang sudah menikah, coba luangkan waktu untuk tidak hanya membicarakan masalah 'logistik' sehari-hari (anak, schedule, rutinitas), tapi coba biasakan untuk membicarakan misi dan visi keluarga, ke mana keluarga ini mau di bawa, dan apa peran dan harapan masing-masing anggota keluarganya. Sense of humor adalah salah satu skill yang baik dan bisa membuat pasangan lebih bahagia , biaskan untuk 'be playful' dengan pasangan, jangan selalu serius, namun ini harus dilakukan di saat yang tepat. Biasakan untuk mencoba kegiatan baru bersama pasangan (tanpa selalu menyertakan anak), mempelajari hal baru (tidak harus kemudian menjadi ahli) bisa meningkatkan kuatnya ikatan pasangan. Coba benar-benar cari tahu 'inner quality' apa yang membuat pasangan jatuh cinta pada kita dan pertahankan kualitas tersebut. Misalnya suami jatuh cinta karena kita dipandang sebagai wanita yang cerdas dan supel, coba pertahankan untuk tetap cerdas dan tetap supel. Coba perlakukan pasangan kita setidaknya sebaik kita memperlakukan teman kita. 'pick your battle' jangan semua masalah dijadikan ajang pertengkaran, pilih hal-hal yang benar-benar penting untuk kita, misalnya hal-hal yang berhubungan dengan prinsip, selebihnya kita harus bisa 'let go'. Belajar untuk 'fight fair', pasangan yang bahagia itu bukan pasangan yang tidak pernah bertengkar, namun pasangan yang walaupun bertengkar tidak kehilangan 'respect' satu sama lain, sama-sama bertujuan mencari pemecahan terbaik dan berani bertanggung jawab akan konsekuensi dari keputusannya."
Thank you Natalia, sudah mengingatkan gue tentang janji yang gue ucapkan 3 tahun yang lalu. Sometimes time flies so fast, and I forgot what's my reason when I decided to spend my life with my guy. Apalagi setelah ada anak, rasanya waktu gue jauhhh lebih banyak dihabiskan dengan anak gue.
So many ups and downs. So many obstacles, from little things like the way he eats and the way he talks, to the most challenging issues like raising a kid and managing our finance. Marriage is indeed a battlefield! But it's worth to fight for.
Happy 3rd anniversary Bung, cheers to our next adventures to come! =)
Friday, November 25, 2011
Being 31...
...means you have less time to pursue the rest of your dreams
...means you have more regrets, tears and disappointment in life
...means you start to worry about wrinkles, gaining weight and cellulite
...means you face more problems, including domestic problems, kids problems, relationship problems, etc
...means you miss your childhood days more and more...
But being 31...
...also means that you add more experience, golden moments, and valuable lessons into life
...and it also means that God has granted one more year into your life, a fine reason to celebrate!
And being 31 doesn't mean...
...that you have less energy to reach out for your dreams
...or that you won't be given any second chance in life
...or that it's too late to do anything interesting.
All in all, I'm so grateful being 31. And being who I am today =)
Thank you God for everything.
...means you have more regrets, tears and disappointment in life
...means you start to worry about wrinkles, gaining weight and cellulite
...means you face more problems, including domestic problems, kids problems, relationship problems, etc
...means you miss your childhood days more and more...
But being 31...
...also means that you add more experience, golden moments, and valuable lessons into life
...and it also means that God has granted one more year into your life, a fine reason to celebrate!
And being 31 doesn't mean...
...that you have less energy to reach out for your dreams
...or that you won't be given any second chance in life
...or that it's too late to do anything interesting.
All in all, I'm so grateful being 31. And being who I am today =)
Thank you God for everything.
Friday, November 18, 2011
Reality Bites
Salah satu hal paling sulit dalam pekerjaan gue sekarang adalah mengakui kalau ada beberapa hal yang memang belum bisa diubah dari negara kita ini. Dan hal-hal itu, meski memang bisa terjadi di belahan dunia manapun, sayangnya justru terjadi di Indonesia...dan menimpa orang asing, yang kebetulan menjadi tanggung jawab gue selama mereka tinggal di Indonesia.
I'm talking about sexual harassment.
Miris banget waktu mendengar kalau salah seorang volunteer yang mengajar di Kupang, rumahnya dimasuki oleh seorang laki-laki (tetangga!!!)saat dia sedang mandi, untung saja refleks si cewek ini cukup cepat, dan dia sempat membanting pintu tepat di muka si laki-laki sinting (yang saat itu sudah buka celana!!!)
Belum hilang kekagetan, ada kasus lain lagi di Palembang. Kali ini, masih menimpa volunteer perempuan, yang diikuti oleh seorang laki-laki pengendara motor saat sedang berjalan menuju rumahnya, dan disentuh dengan tidak senonoh oleh makhluk menyedihkan itu.
Yang bikin tambah gemes adalah, ternyata tidak hanya sebagai "korban", tapi bule-bule ini juga merupakan sasaran empuk untuk dituduh menjadi "pelaku pelecehan seksual". Gilanya, peristiwa ini malah menimpa volunteer perempuan yang tiba-tiba dituduh oleh sekelompok anak pesantren di lingkungan rumahnya, kalau dia telah menggoda dan memprovokasi mereka dengan mengenakan bikini di depan anak-anak itu! Sinting banget. Apalagi setelah ditelusuri dan dilakukan sejumlah meeting dengan orang-orang yang terkait, ternyata anak-anak itu terbukti berbohong, entah karena iseng, atau sakit hati pernah ditolak? Who knows.
Kenapa ya, masih harus ada jenis orang seperti ini, yang mencoreng nama Indonesia di dunia luar? Bagaimana bangsa ini mau cerdas sih, kalau orang-orang yang ingin membantu mencerdaskan anak-anak kita malah diperlakukan seperti ini?
Well, it's true that this could happen anywhere in the world. Gue pernah diikuti oleh seorang laki-laki kulit hitam di Washington DC yang keukeuh ngajak gue pergi sama dia dan jadi pacarnya. Gue juga pernah dikerjain sekelompok anak laki-laki keturunan Maroko waktu gue tinggal di Belanda. Di negara semaju apapun, penduduk yang primitif itu memang masih ada.
Tapi alangkah gondoknya saat gue harus mengakui kalau Indonesia, yang penuh dengan orang-orang ramah, baik hati, berpikiran terbuka dan gemar menolong, ternyata masih harus dinodai oleh banyaknya orang sinting, kurang kerjaan dan nggak punya otak, yang menganggap perempuan (apalagi bule!) adalah sasaran empuk hawa nafsu mereka.
Oh well, maafkan posting penuh kemarahan ini ya. I still love this country. It's the crazy people that I can't stand.
I'm talking about sexual harassment.
Miris banget waktu mendengar kalau salah seorang volunteer yang mengajar di Kupang, rumahnya dimasuki oleh seorang laki-laki (tetangga!!!)saat dia sedang mandi, untung saja refleks si cewek ini cukup cepat, dan dia sempat membanting pintu tepat di muka si laki-laki sinting (yang saat itu sudah buka celana!!!)
Belum hilang kekagetan, ada kasus lain lagi di Palembang. Kali ini, masih menimpa volunteer perempuan, yang diikuti oleh seorang laki-laki pengendara motor saat sedang berjalan menuju rumahnya, dan disentuh dengan tidak senonoh oleh makhluk menyedihkan itu.
Yang bikin tambah gemes adalah, ternyata tidak hanya sebagai "korban", tapi bule-bule ini juga merupakan sasaran empuk untuk dituduh menjadi "pelaku pelecehan seksual". Gilanya, peristiwa ini malah menimpa volunteer perempuan yang tiba-tiba dituduh oleh sekelompok anak pesantren di lingkungan rumahnya, kalau dia telah menggoda dan memprovokasi mereka dengan mengenakan bikini di depan anak-anak itu! Sinting banget. Apalagi setelah ditelusuri dan dilakukan sejumlah meeting dengan orang-orang yang terkait, ternyata anak-anak itu terbukti berbohong, entah karena iseng, atau sakit hati pernah ditolak? Who knows.
Kenapa ya, masih harus ada jenis orang seperti ini, yang mencoreng nama Indonesia di dunia luar? Bagaimana bangsa ini mau cerdas sih, kalau orang-orang yang ingin membantu mencerdaskan anak-anak kita malah diperlakukan seperti ini?
Well, it's true that this could happen anywhere in the world. Gue pernah diikuti oleh seorang laki-laki kulit hitam di Washington DC yang keukeuh ngajak gue pergi sama dia dan jadi pacarnya. Gue juga pernah dikerjain sekelompok anak laki-laki keturunan Maroko waktu gue tinggal di Belanda. Di negara semaju apapun, penduduk yang primitif itu memang masih ada.
Tapi alangkah gondoknya saat gue harus mengakui kalau Indonesia, yang penuh dengan orang-orang ramah, baik hati, berpikiran terbuka dan gemar menolong, ternyata masih harus dinodai oleh banyaknya orang sinting, kurang kerjaan dan nggak punya otak, yang menganggap perempuan (apalagi bule!) adalah sasaran empuk hawa nafsu mereka.
Oh well, maafkan posting penuh kemarahan ini ya. I still love this country. It's the crazy people that I can't stand.
Thursday, October 13, 2011
Expect the Unexpected
Sooo..if there's someone asking me what do I learn since I became a mom, probably I would answer: I learn to expect the unexpected. Of course every parent will have high expectations on their children. Healthy, happy, smart and successful. That's totally normal. But sometimes, we just have to accept things as what they are.
I wanted to breastfeed Yofel until he's 2 years old, but unfortunately, I couldn't do it. So many things happened, so many choices had to be made, and eventually we gave him formula. Was it the end of the world? Maybe for some time, it felt like it was. But when I look back at that time now, I can smile and think ,"Well, we have survived, he's healthy and happy and I love him more everyday!"
I wanted Yofel to stay on his car seat everytime we went with car. But for several reasons, we had to give up our car when Yofel was less than 1 year old, and we started to travel by taxi, or by joining someone's car. So we had to say goodbye to the car seat, and well..accept the fact that it doesn't mean the end of the world either =D
I was also dreaming that Yofel will be very easy with eating his food. He will eat everything, from Indonesian food to Middle East one if necessary. He will be very adaptive even if we have to travel to Alaska. But the fact is totally different than my dream! Yofel is a very very very picky eater, not only he doesn't want to eat Mediteranian food (oh well, I can live with this, hehe), he can't even chew his food properly! He's choking and vomiting every time we gave him real solid food. Fried rice? Baked potato? Some fancy quiche? Out of questions.
Sometimes I just want to give up. Sometimes everything seems so difficult. Sometimes I don't have enough patience to deal with all of this. And I could only look at the kids on the next table in the restaurant with full envy. They eat everything!!! Sometimes even in the high chair!! Oh my goodness. God I want that happens on my table so much!!!
But then again, I think I've learned the lessons. I remember when I waited anxiously for Yofel's teeth to show up. And not until he's over 9 months old that miracle happened =D And what about when he kept on crawling until he's one year old? And how happy I was when suddenly, out of the blue,he looked at me with his smiling face, stood up on his two feet, and walked. Just like that!
So I think God does make everything beautiful in His time. I learn to expect the unexpected, and accept the unacceptable. And yet I am very grateful for the lessons Yofel gave me throughout these years.
Happy birthday, my curly boy. These past two years were the most wonderful time in my life =) I love you.
I wanted to breastfeed Yofel until he's 2 years old, but unfortunately, I couldn't do it. So many things happened, so many choices had to be made, and eventually we gave him formula. Was it the end of the world? Maybe for some time, it felt like it was. But when I look back at that time now, I can smile and think ,"Well, we have survived, he's healthy and happy and I love him more everyday!"
I wanted Yofel to stay on his car seat everytime we went with car. But for several reasons, we had to give up our car when Yofel was less than 1 year old, and we started to travel by taxi, or by joining someone's car. So we had to say goodbye to the car seat, and well..accept the fact that it doesn't mean the end of the world either =D
I was also dreaming that Yofel will be very easy with eating his food. He will eat everything, from Indonesian food to Middle East one if necessary. He will be very adaptive even if we have to travel to Alaska. But the fact is totally different than my dream! Yofel is a very very very picky eater, not only he doesn't want to eat Mediteranian food (oh well, I can live with this, hehe), he can't even chew his food properly! He's choking and vomiting every time we gave him real solid food. Fried rice? Baked potato? Some fancy quiche? Out of questions.
Sometimes I just want to give up. Sometimes everything seems so difficult. Sometimes I don't have enough patience to deal with all of this. And I could only look at the kids on the next table in the restaurant with full envy. They eat everything!!! Sometimes even in the high chair!! Oh my goodness. God I want that happens on my table so much!!!
But then again, I think I've learned the lessons. I remember when I waited anxiously for Yofel's teeth to show up. And not until he's over 9 months old that miracle happened =D And what about when he kept on crawling until he's one year old? And how happy I was when suddenly, out of the blue,he looked at me with his smiling face, stood up on his two feet, and walked. Just like that!
So I think God does make everything beautiful in His time. I learn to expect the unexpected, and accept the unacceptable. And yet I am very grateful for the lessons Yofel gave me throughout these years.
Happy birthday, my curly boy. These past two years were the most wonderful time in my life =) I love you.
Thursday, September 29, 2011
Culturally Insensitive
This month, I've spent three weeks with 40 young American volunteers, who just came to Indonesia and will teach in various high schools, madrasahs and pesantrens across the archipelago. One of our sessions in the three weeks orientation was about culture, especially the differences between Indonesian and American culture.
After the session, some of the youngsters asked me about why Indonesians do this and do that. And suddenly I became very aware of our Indonesian culture. Some of the culture is actually a bit rude, impolite and inappropriate. Here are the most questionable culture according to those Americans (and actually, according to me too!):
- When an Indonesian meets a friend, they won't make small talks about weather or politics or current news. Instead, they will make comments about the friend's appearance: "Gemukan ya sekarang?" or "Tambah item aja!" Imagine if you translate that into English: "You're so fat now!" or "Your skin is darker!" I don't think you've ever heard someone made those comments in English. It's not nice, it even could be considered rude.
- In Indonesia, everybody wants to know everybody else businesses. When you meet someone you know on the street, what will you ask? "Mau ke mana?" "Sama siapa" or "Dari mana?" And it's not considered impolite if you ask somebody's marital status or even salary. That's the bright side of being a part of social-culture-community =D
- Indonesian do not like to receive compliments. If somebody said to you that you look great or your dress is so nice, you can't just simply say thank you. You have to find an excuse to lower yourself. "Well, I bought this dress in Mangga Dua, only 50k rupiah!" Sounds familiar? We are not only rendah hati, but sometimes we are almost rendah diri.
-Someone said to me that in Indonesia, you can't take things as they are. You have to master the art of reading between the lines. So, if someone said "nanti", it means "never"; "mungkin lain kali" means "not interested at all", and "kurang tahu" means "no freaking idea!"
One thing I remember from the session is, when Ibu Irid Agoes, the speaker, said that no matter what Indonesians said to you, please don't get offended. It's culture, not personal. So everytime you want to strangle someone because of his/her hurtful comments, just tell yourself: It's culture, not personal!
Lately, that worked for me too! When I wanted to punch an old friend who just met me after years and his first comment was "Gendut banget ya loe sekarang!"; I kept saying to myself, that's culture, not personal! (but added: freaking idiot! anyway).
What I promised myself since that day was, I will teach my kid to differentiate between the great Indonesian cultural heritage, and the so-called idiotic and insensitive comments. My kid is Indonesian, but I'm sure he'll become an Indonesian gentleman, and not an Indonesian jerk! =)
After the session, some of the youngsters asked me about why Indonesians do this and do that. And suddenly I became very aware of our Indonesian culture. Some of the culture is actually a bit rude, impolite and inappropriate. Here are the most questionable culture according to those Americans (and actually, according to me too!):
- When an Indonesian meets a friend, they won't make small talks about weather or politics or current news. Instead, they will make comments about the friend's appearance: "Gemukan ya sekarang?" or "Tambah item aja!" Imagine if you translate that into English: "You're so fat now!" or "Your skin is darker!" I don't think you've ever heard someone made those comments in English. It's not nice, it even could be considered rude.
- In Indonesia, everybody wants to know everybody else businesses. When you meet someone you know on the street, what will you ask? "Mau ke mana?" "Sama siapa" or "Dari mana?" And it's not considered impolite if you ask somebody's marital status or even salary. That's the bright side of being a part of social-culture-community =D
- Indonesian do not like to receive compliments. If somebody said to you that you look great or your dress is so nice, you can't just simply say thank you. You have to find an excuse to lower yourself. "Well, I bought this dress in Mangga Dua, only 50k rupiah!" Sounds familiar? We are not only rendah hati, but sometimes we are almost rendah diri.
-Someone said to me that in Indonesia, you can't take things as they are. You have to master the art of reading between the lines. So, if someone said "nanti", it means "never"; "mungkin lain kali" means "not interested at all", and "kurang tahu" means "no freaking idea!"
One thing I remember from the session is, when Ibu Irid Agoes, the speaker, said that no matter what Indonesians said to you, please don't get offended. It's culture, not personal. So everytime you want to strangle someone because of his/her hurtful comments, just tell yourself: It's culture, not personal!
Lately, that worked for me too! When I wanted to punch an old friend who just met me after years and his first comment was "Gendut banget ya loe sekarang!"; I kept saying to myself, that's culture, not personal! (but added: freaking idiot! anyway).
What I promised myself since that day was, I will teach my kid to differentiate between the great Indonesian cultural heritage, and the so-called idiotic and insensitive comments. My kid is Indonesian, but I'm sure he'll become an Indonesian gentleman, and not an Indonesian jerk! =)
Friday, August 19, 2011
Indonesiaku
Setelah menyinggung mimpi-mimpi tentang Amerika di posting sebelumnya, rasanya nggak fair kalau nggak membahas impian tentang Indonesia. Apalagi kemarin negeri tercinta baru berulang tahun ke-66. Way to go, Indonesia!
Sejak bekerja di organisasi yang sekarang, gue banyak berhubungan dengan orang-orang dari Amerika yang ingin meneliti atau mengajar di Indonesia. Sebagian dari mereka membuat gue sangat amazed, terutama karena pengetahuan dan kecintaan mereka yang luar biasa terhadap negara kita ini. Kadang gue pikir, mereka malah lebih Indonesia daripada gue!
Seorang cewek yang kuliah di Berkeley dan sedang melakukan penelitian tentang semut (yep, semut!) di Indonesia, pernah bilang ke gue kalau Indonesia adalah negara yang akan dia pilih sebagai tempat menetap. "I love everything about this country!". Gitu katanya. Padahal dia menghabiskan hari-harinya di Pulau Komodo dan daerah Sumbawa lho! Bukan di mall kota besar atau di ruangan ber-AC. Impressive.
Ada juga salah satu pasangan profesor favorit gue, berasal dari Washington, DC. Sang suami sudah sangat fasih berbahasa Indonesia, dan mendengarnya presentasi tentang penelitiannya selalu menyenangkan buat gue. Pengetahuannya tentang agama Islam jauh melebihi gue yang seumur hidup tinggal di Indonesia. Sementara istrinya sangat care dengan perkembangan kurikulum universitas di Indonesia dan selalu siap membantu universitas kecil yang membutuhkan bimbingan.
Masih ada lagi mahasiswa sejarah dari Yale, yang selain ramah dan baik hati, juga sangat mencintai Indonesia. Dia bahkan sudah dianggap anak oleh keluarga angkatnya, dan diberikan marga kehormatan =D Kalau ngobrol dengan cowok ini, gue selalu ketawa-ketawa, karena dia jago banget bikin joke2 bule pake bahasa Indonesia. Hilarious!
Banyak juga dari mereka yang akhirnya menikah dengan orang Indonesia, dan menetap di Indonesia. Gue selalu suka denger cerita mereka, betapa mereka menganggap Indonesia sebagai tanah air kedua, bahkan kadang lebih mencintai Indonesia dibanding tanah kelahiran mereka sendiri. Seorang peneliti laki-laki dari Colorado yang menikahi perempuan Indonesia bahkan mengaku pada gue, kalau sekarang bahasa Indonesianya malah lebih bagus daripada bahasa Inggrisnya. Dan memang logat Indonesianya sudah seperti orang lokal, yang imbasnya, bahasa Inggrisnya pun jadi meng-Indonesia, hehehe!
Mengobrol dengan orang-orang ini kadang membuat gue bertanya-tanya, apa sih yang membuat Indonesia begitu menarik di mata mereka? Apa mereka tidak peduli dengan polusinya, korupsinya, macetnya, joroknya...dan sejuta hal lain yang menyebalkan? Anehnya, mereka tahu kok semua kekacauan Indonesia. Tapi justru itulah yang membuat mereka jatuh cinta.
Gue jadi ingat saat gue tinggal di Belanda, betapa nasionalisme gue rasanya begitu nyata. Rasa kangen dan cinta tanah air membuat gue begitu yakin atas keputusan gue saat itu: pulang ke Indonesia dan membangun bangsa! Tapi begitu tiba di sini, perasaan itu perlahan memudar. Kopaja bukan lagi suatu kenangan sentimental, tapi gangguan di jalan raya yang menjengkelkan. Macetnya Jakarta tak tertahankan, dan berita di koran semuanya begitu mengkhawatirkan. Ke mana perasaan cinta itu ya?
I want to see Indonesia from a different perspective. I want to fall in love all over again. Because this is my country. And nothing could ever change that.
Happy independence day!
Sejak bekerja di organisasi yang sekarang, gue banyak berhubungan dengan orang-orang dari Amerika yang ingin meneliti atau mengajar di Indonesia. Sebagian dari mereka membuat gue sangat amazed, terutama karena pengetahuan dan kecintaan mereka yang luar biasa terhadap negara kita ini. Kadang gue pikir, mereka malah lebih Indonesia daripada gue!
Seorang cewek yang kuliah di Berkeley dan sedang melakukan penelitian tentang semut (yep, semut!) di Indonesia, pernah bilang ke gue kalau Indonesia adalah negara yang akan dia pilih sebagai tempat menetap. "I love everything about this country!". Gitu katanya. Padahal dia menghabiskan hari-harinya di Pulau Komodo dan daerah Sumbawa lho! Bukan di mall kota besar atau di ruangan ber-AC. Impressive.
Ada juga salah satu pasangan profesor favorit gue, berasal dari Washington, DC. Sang suami sudah sangat fasih berbahasa Indonesia, dan mendengarnya presentasi tentang penelitiannya selalu menyenangkan buat gue. Pengetahuannya tentang agama Islam jauh melebihi gue yang seumur hidup tinggal di Indonesia. Sementara istrinya sangat care dengan perkembangan kurikulum universitas di Indonesia dan selalu siap membantu universitas kecil yang membutuhkan bimbingan.
Masih ada lagi mahasiswa sejarah dari Yale, yang selain ramah dan baik hati, juga sangat mencintai Indonesia. Dia bahkan sudah dianggap anak oleh keluarga angkatnya, dan diberikan marga kehormatan =D Kalau ngobrol dengan cowok ini, gue selalu ketawa-ketawa, karena dia jago banget bikin joke2 bule pake bahasa Indonesia. Hilarious!
Banyak juga dari mereka yang akhirnya menikah dengan orang Indonesia, dan menetap di Indonesia. Gue selalu suka denger cerita mereka, betapa mereka menganggap Indonesia sebagai tanah air kedua, bahkan kadang lebih mencintai Indonesia dibanding tanah kelahiran mereka sendiri. Seorang peneliti laki-laki dari Colorado yang menikahi perempuan Indonesia bahkan mengaku pada gue, kalau sekarang bahasa Indonesianya malah lebih bagus daripada bahasa Inggrisnya. Dan memang logat Indonesianya sudah seperti orang lokal, yang imbasnya, bahasa Inggrisnya pun jadi meng-Indonesia, hehehe!
Mengobrol dengan orang-orang ini kadang membuat gue bertanya-tanya, apa sih yang membuat Indonesia begitu menarik di mata mereka? Apa mereka tidak peduli dengan polusinya, korupsinya, macetnya, joroknya...dan sejuta hal lain yang menyebalkan? Anehnya, mereka tahu kok semua kekacauan Indonesia. Tapi justru itulah yang membuat mereka jatuh cinta.
Gue jadi ingat saat gue tinggal di Belanda, betapa nasionalisme gue rasanya begitu nyata. Rasa kangen dan cinta tanah air membuat gue begitu yakin atas keputusan gue saat itu: pulang ke Indonesia dan membangun bangsa! Tapi begitu tiba di sini, perasaan itu perlahan memudar. Kopaja bukan lagi suatu kenangan sentimental, tapi gangguan di jalan raya yang menjengkelkan. Macetnya Jakarta tak tertahankan, dan berita di koran semuanya begitu mengkhawatirkan. Ke mana perasaan cinta itu ya?
I want to see Indonesia from a different perspective. I want to fall in love all over again. Because this is my country. And nothing could ever change that.
Happy independence day!
Wednesday, July 27, 2011
American Dreams
Perjalanan gue dikirim kantor kemarin ke Amerika untuk suatu tugas membosankan malah menyempatkan gue bertemu dengan orang-orang Indonesia yang sudah tinggal di sana, dan memberi cerita-cerita menarik.
Kota pertama yang gue singgahi adalah Los Angeles, dan disini gue menyempatkan diri untuk bertemu dengan om gue, adik nyokap, yang sudah menetap di LA selama 5 tahun terakhir ini bersama istri dan kedua anaknya. Latar belakangnya adalah Green Card Lottery. Dari mereka juga dulu gue akhirnya yakin kalau lotere untuk mendapatkan ijin tinggal di Amerika itu bukan hanya isapan jempol, karena gue akhirnya benar-benar mengenal orang yang dapet lotere itu.
Perjalanan keluarga om gue selama 5 tahun ini nggak bisa dibilang selalu mulus. Berawal dari kerjaan serabutan seperti shift malam di supermarket 24 jam, petugas administrasi di sebuah klinik cuci darah, sampai akhirnya menjadi karyawan di salah satu chain pharmacy terbesar di Amerika. Bayangkan, padahal tadinya om gue ini menjabat sebagai manajer senior di sebuah bank swasta di Jakarta. Kebayang betapa ego dan harga dirinya harus dikesampingkan untuk sementara, selagi dia menyesuaikan situasinya dari yang punya anak buah segambreng, tiba-tiba menempati posisi bawah yang bahkan shift kerjanya nggak jelas.
Untungnya 5 tahun kemudian situasi mulai membaik. Posisi store manager sudah berhasil dicapai, kedua anak bersekolah di sekolah bagus, dan mereka kini menempati rumah yang nyaman di daerah suburb LA dengan sebuah mobil Honda Odysey yang masih baru.
Tapi gue sempat tersentak juga waktu om gue bercerita tentang pekerjaannya. "At the end of the day, what really matters is we can pay the bills. Nggak pentinglah kerjaannya disukai atau enggak". Wow..sebesar itu pengorbanannya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik di Amerika. Gue jadi berpikir, apakah rela terjebak dalam sebuah pekerjaan membosankan atau tidak menyenangkan, demi kehidupan gue atau anak gue yang lebih baik (well, at least dari segi finansial dan akses pendidikan) di negeri utopia ini?
Pernyataan yang mirip-mirip juga dikeluarkan oleh sepasang suami istri yang gue temui di Washington, D.C. Mereka sudah menetap di DC sejak tahun 1998 atau saat terjadi kerusuhan di Indonesia. Sebagai informasi, periode kerusuhan ini memang termasuk salah satu periode yang paling banyak digunakan orang Indonesia (baik pribumi maupun keturunan Tionghoa) untuk mengungsi ke luar negeri, termasuk Amerika.
Pasangan suami istri yang asli Padang ini mengaku segera mengambil momentum kerusuhan untuk memboyong anak semata wayang mereka ke negeri Paman Sam. Tak lama kemudian, anak kedua mereka lahir di Amerika, membuatnya langsung menjadi citizen di sana. Mereka mengaku tidak pernah pulang semenjak pindah ke Amerika, dan meski sering merasa kangen, mereka berusaha mengatasinya dengan mengajarkan ke-Indonesia-an pada anak-anak mereka.Selalu berbicara bahasa Indonesia, bahkan mengajari tarian dan musik daerah pada anak-anak mereka.
Yang juga mengagumkan adalah pengorbanan mereka untuk tidak pernah membeli makanan berupa daging (ayam ataupun sapi) di tempat-tempat yang non-halal. Waw, ini berarti mereka praktis harus menjadi vegetarian kecuali makan masakan rumah sendiri, karena bahkan KFC pun tidak berlabel halal di Amerika! Semuanya demi tinggal di negeri adikuasa yang dianggap mampu memberikan masa depan yang lebih baik bagi keluarga mereka, terutama untuk anak-anak.
Cerita lain gue peroleh saat bertemu dengan seorang teman lama yang dulu pernah menjadi sesama jurnalis. Sudah beberapa tahun terakhir dia menetap di DC untuk bekerja di salah satu media besar di sana. Gue pikir, hidupnya sempurna. Tinggal di negara maju, dan tidak seperti kebanyakan orang lain yang menggapai mimpi di Amerika, teman gue ini tidak perlu berganti profesi, tetap bisa menjalankan pekerjaan yang dia sukai.
Ternyata, dia baru cerita, motivasinya tinggal di Amerika bukanlah untuk mengejar pekerjaan, atau uang atau masa depan lebih baik. Ceritanya simpel, namun mengena. Orientasi seksual yang berbedalah yang membuatnya akhirnya memutuskan menjauh dari Indonesia. Di tanah air tercinta,dia tidak bisa terbuka. Orang tuanya pasti tak bisa menerima. Sebelumnya, teman gue ini sudah pernah mencoba untuk menyangkal kondisinya, berpacaran dengan seorang perempuan baik hati. Namun apa daya, kenyataan berkata lain. Akhirnya dengan segala daya upaya ia berjuang untuk mencari jalan keluar. Amerika lah pilihannya.
Dan ia bercerita, betapa di sini ia sangat diterima. Bisa bersikap terbuka, dan bergaul dengan orang-orang yang memiliki kesamaan dengannya. Bahkan saat ini ia sudah menemukan seseorang yang menjadi pasangan hidupnya.
Gue, dari mulai kaget saat mendengar ceritanya, akhirnya malah ikut bahagia melihat wajahnya yang berseri-seri. "It's good that you can be who you really are," itu komentar gue untuknya. Meski sempat merasa miris, mengingat dulu sekali, gue pernah sedikit menyimpan harapan saat cukup dekat dengannya. Ah, naif banget sih gue =D
Gue pikir, cerita teman gue inilah yang membuka mata gue tentang arti American dreams. Bukan hanya mengorbankan hidup untuk memberikan masa depan yang lebih baik bagi keluarga dan anak-anak...Tapi justru menemukan tempat yang tepat untuk membuat diri kita diterima apa adanya. Dan memang, untuk kasus teman gue, Amerika lah jawabannya.
Jadi...masih bermimpi untuk tinggal di Amerika? =)
Kota pertama yang gue singgahi adalah Los Angeles, dan disini gue menyempatkan diri untuk bertemu dengan om gue, adik nyokap, yang sudah menetap di LA selama 5 tahun terakhir ini bersama istri dan kedua anaknya. Latar belakangnya adalah Green Card Lottery. Dari mereka juga dulu gue akhirnya yakin kalau lotere untuk mendapatkan ijin tinggal di Amerika itu bukan hanya isapan jempol, karena gue akhirnya benar-benar mengenal orang yang dapet lotere itu.
Perjalanan keluarga om gue selama 5 tahun ini nggak bisa dibilang selalu mulus. Berawal dari kerjaan serabutan seperti shift malam di supermarket 24 jam, petugas administrasi di sebuah klinik cuci darah, sampai akhirnya menjadi karyawan di salah satu chain pharmacy terbesar di Amerika. Bayangkan, padahal tadinya om gue ini menjabat sebagai manajer senior di sebuah bank swasta di Jakarta. Kebayang betapa ego dan harga dirinya harus dikesampingkan untuk sementara, selagi dia menyesuaikan situasinya dari yang punya anak buah segambreng, tiba-tiba menempati posisi bawah yang bahkan shift kerjanya nggak jelas.
Untungnya 5 tahun kemudian situasi mulai membaik. Posisi store manager sudah berhasil dicapai, kedua anak bersekolah di sekolah bagus, dan mereka kini menempati rumah yang nyaman di daerah suburb LA dengan sebuah mobil Honda Odysey yang masih baru.
Tapi gue sempat tersentak juga waktu om gue bercerita tentang pekerjaannya. "At the end of the day, what really matters is we can pay the bills. Nggak pentinglah kerjaannya disukai atau enggak". Wow..sebesar itu pengorbanannya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik di Amerika. Gue jadi berpikir, apakah rela terjebak dalam sebuah pekerjaan membosankan atau tidak menyenangkan, demi kehidupan gue atau anak gue yang lebih baik (well, at least dari segi finansial dan akses pendidikan) di negeri utopia ini?
Pernyataan yang mirip-mirip juga dikeluarkan oleh sepasang suami istri yang gue temui di Washington, D.C. Mereka sudah menetap di DC sejak tahun 1998 atau saat terjadi kerusuhan di Indonesia. Sebagai informasi, periode kerusuhan ini memang termasuk salah satu periode yang paling banyak digunakan orang Indonesia (baik pribumi maupun keturunan Tionghoa) untuk mengungsi ke luar negeri, termasuk Amerika.
Pasangan suami istri yang asli Padang ini mengaku segera mengambil momentum kerusuhan untuk memboyong anak semata wayang mereka ke negeri Paman Sam. Tak lama kemudian, anak kedua mereka lahir di Amerika, membuatnya langsung menjadi citizen di sana. Mereka mengaku tidak pernah pulang semenjak pindah ke Amerika, dan meski sering merasa kangen, mereka berusaha mengatasinya dengan mengajarkan ke-Indonesia-an pada anak-anak mereka.Selalu berbicara bahasa Indonesia, bahkan mengajari tarian dan musik daerah pada anak-anak mereka.
Yang juga mengagumkan adalah pengorbanan mereka untuk tidak pernah membeli makanan berupa daging (ayam ataupun sapi) di tempat-tempat yang non-halal. Waw, ini berarti mereka praktis harus menjadi vegetarian kecuali makan masakan rumah sendiri, karena bahkan KFC pun tidak berlabel halal di Amerika! Semuanya demi tinggal di negeri adikuasa yang dianggap mampu memberikan masa depan yang lebih baik bagi keluarga mereka, terutama untuk anak-anak.
Cerita lain gue peroleh saat bertemu dengan seorang teman lama yang dulu pernah menjadi sesama jurnalis. Sudah beberapa tahun terakhir dia menetap di DC untuk bekerja di salah satu media besar di sana. Gue pikir, hidupnya sempurna. Tinggal di negara maju, dan tidak seperti kebanyakan orang lain yang menggapai mimpi di Amerika, teman gue ini tidak perlu berganti profesi, tetap bisa menjalankan pekerjaan yang dia sukai.
Ternyata, dia baru cerita, motivasinya tinggal di Amerika bukanlah untuk mengejar pekerjaan, atau uang atau masa depan lebih baik. Ceritanya simpel, namun mengena. Orientasi seksual yang berbedalah yang membuatnya akhirnya memutuskan menjauh dari Indonesia. Di tanah air tercinta,dia tidak bisa terbuka. Orang tuanya pasti tak bisa menerima. Sebelumnya, teman gue ini sudah pernah mencoba untuk menyangkal kondisinya, berpacaran dengan seorang perempuan baik hati. Namun apa daya, kenyataan berkata lain. Akhirnya dengan segala daya upaya ia berjuang untuk mencari jalan keluar. Amerika lah pilihannya.
Dan ia bercerita, betapa di sini ia sangat diterima. Bisa bersikap terbuka, dan bergaul dengan orang-orang yang memiliki kesamaan dengannya. Bahkan saat ini ia sudah menemukan seseorang yang menjadi pasangan hidupnya.
Gue, dari mulai kaget saat mendengar ceritanya, akhirnya malah ikut bahagia melihat wajahnya yang berseri-seri. "It's good that you can be who you really are," itu komentar gue untuknya. Meski sempat merasa miris, mengingat dulu sekali, gue pernah sedikit menyimpan harapan saat cukup dekat dengannya. Ah, naif banget sih gue =D
Gue pikir, cerita teman gue inilah yang membuka mata gue tentang arti American dreams. Bukan hanya mengorbankan hidup untuk memberikan masa depan yang lebih baik bagi keluarga dan anak-anak...Tapi justru menemukan tempat yang tepat untuk membuat diri kita diterima apa adanya. Dan memang, untuk kasus teman gue, Amerika lah jawabannya.
Jadi...masih bermimpi untuk tinggal di Amerika? =)
Subscribe to:
Comments (Atom)