A few days ago, I went to Wallibi World (previously known as Six Flags), a great amusement park in northern part of Netherlands, with my friends from school.
It's been a while since my last experience to ride crazy attractions like roller coasters, and i felt rather afraid yet excited when I arrived there.
And really, all the roller coasters were crazy. The one that made our legs hanging in the sky, one with the highest peak ever(and I know how much I hate height!!!), one with terrible speed, and the craziest thing that made us rode backwards. Damn!
But true, that day I felt the adrenaline, the blood rushed to my head, a feeling that I haven't felt for quite some time.
Unfortunately besides the excitements, there were other things that made my blood rushed to my head. I met a bunch of bastards there in the park, Dutch boys that made several annoying comments while we were quieing for the ride. They kept asking my friend from Carribean if she came from Africa and whether she's legal here in Netherlands. C'mon! I think even a whole of African and Carribean students got better education about how to talk with people politely than those useless Dutch boys.
Okay, people here told me that the Dutches are very unwelcome to the immigrants because lots of the immigrants are trouble makers. But please, how about us, foreign students that just want to make our life better by studying here in the so-called-civilized country?
On the way back from the park, there were other incidents in the bus. I sat with my Chinese and Taiwanese friends, and a bunch of Turk and Moroccan boys kept shouting and singing bad words about Chinese people.One of my Taiwanese friends shouting back to them, but all she got were more insults from those crazy people.
I just could not stop wondering. What's wrong with the system here? When good people like my housemate who tried to get a decent job here got bad response only because the office did not want to arrange the documents for her, but racist people like silly Dutch boys in the park and trouble makers in the bus could live freely.
I'm totally speechless. Just feeling the blood now, rushing to my head, again.
Monday, June 26, 2006
Tuesday, June 13, 2006
Underdog
n. person,etc thought to be in a weaker position, and so unlikely to win a competition
Mungkin karena punya rasa empati yang terlalu besar, gue selalu merasa sedikit sedih kalo nonton pertandingan yang melibatkan tim yang tidak dijagokan. Dan biasanya, tanpa disadari, gue jadi mendukung tim underdog dalam hampir setiap pertandingan.
Termasuk dalam piala dunia kali ini. Seneng banget ngeliat tim debutan seperti Trinidad dan Tobago berhasil menahan imbang Swedia yang menyerang bertubi-tubi. Atau juga usaha Ivory Coast yang berusaha mati-matian melawan raksasa seperti Argentina.
Apalagi kalau baca sejarah sepak bola di beberapa negara debutan dari Afrika, seperti Angola yang merasa bisa memulihkan kembali negaranya lewat keikutsertaan di Piala Dunia 2006 setelah menderita perang sekian lama. Miris.
Jadi...selamat berjuang tim-tim underdog..Tetap semangat!
ps: hanya saja, kalau sudah berhadapan dengan Italia, gue nggak bisa menyangkal. Cinta gue tetep sama Azzurri (Biarpun banyak yang protes sama gaya bermain mereka..Divingnya, sandiwaranya, dramanya...Hahaha....Justru itu yang bikin tambah seru!) Maaf yaaa.... =)
Mungkin karena punya rasa empati yang terlalu besar, gue selalu merasa sedikit sedih kalo nonton pertandingan yang melibatkan tim yang tidak dijagokan. Dan biasanya, tanpa disadari, gue jadi mendukung tim underdog dalam hampir setiap pertandingan.
Termasuk dalam piala dunia kali ini. Seneng banget ngeliat tim debutan seperti Trinidad dan Tobago berhasil menahan imbang Swedia yang menyerang bertubi-tubi. Atau juga usaha Ivory Coast yang berusaha mati-matian melawan raksasa seperti Argentina.
Apalagi kalau baca sejarah sepak bola di beberapa negara debutan dari Afrika, seperti Angola yang merasa bisa memulihkan kembali negaranya lewat keikutsertaan di Piala Dunia 2006 setelah menderita perang sekian lama. Miris.
Jadi...selamat berjuang tim-tim underdog..Tetap semangat!
ps: hanya saja, kalau sudah berhadapan dengan Italia, gue nggak bisa menyangkal. Cinta gue tetep sama Azzurri (Biarpun banyak yang protes sama gaya bermain mereka..Divingnya, sandiwaranya, dramanya...Hahaha....Justru itu yang bikin tambah seru!) Maaf yaaa.... =)
Friday, June 09, 2006
Super Indo
Sejak tinggal di Belanda, gue semakin sadar kalau ternyata banyak banget orang Indonesia di negara ex penjajah kita ini. Mulai dari pelajar yang niatnya murni untuk sekolah, perempuan yang nikah sama laki-laki Belanda dan membentuk keluarga disini, sampai pekerja ilegal yang sebenernya nggak punya ijin kerja resmi tapi nekat berjuang demi sesuap nasi (atau dengan kata lain, demi menumpuk Euro).
Dari sekian banyak jenis orang-orang Indonesia yang ada di sini, gue paling tertarik sama anak-anak Indo. Anak-anak yang punya tampang sama seperti anak-anak Indonesia pada umumnya, tapi nyaris nggak ada kesamaan dalam hal lainnya. Mereka, entah memang punya darah campuran Belanda dari orang tuanya, atau sudah sejak lahir ada di Belanda, rata-rata nggak bisa berbahasa Indonesia. Bahasa yang mereka kenal adalah Bahasa Belanda, dan mungkin hanya segelintir dari mereka yang masih familiar dengan budaya Indonesia.
Beberapa dari mereka masih menyempatkan waktu untuk "pulang" ke Indonesia dalam jangka waktu tertentu, tapi nggak semua peduli dengan isu-isu hangat di Indonesia seperti kenaikan BBM atau heboh RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi kemarin ini.
Pertama kali mengenal kelompok ini, gue sempet sebel setengah mati. Mereka nggak pernah ngomong bahasa Indonesia, biarpun lagi ngumpul sama anak Indonesia yang nggak bisa berbahasa Belanda, dan membentuk komunitas sendiri yang kadang-kadang lebih Belanda dari orang Belanda pada umumnya. Dan gue, tanpa sadar sering meremehkan mereka. Tau apa mereka soal kondisi Indonesia, kebobrokan yang ada dan rasanya hidup di negara yang nggak pernah lepas dari masalah setiap harinya. Negara yang masih ngutang ke mana-mana, sementara musibah dan bencana datang silih berganti. Tau apa mereka soal Maliq n The Essentials, geliat film Indonesia, megap-megapnya PSSI, dan semua manis pahitnya menjadi penduduk Indonesia.
Dan begitulah. Gue mulai bersikap apriori. Sikap yang sebenernya sangat gue benci.
Sampai akhirnya weekend kemarin, gue pergi ke Groningen, sebuah kota kecil di sebelah utara Belanda. Perjalanan 3 jam naik kereta gue bela-belain demi dateng ke satu event olah raga yang melibatkan seluruh student Indonesia di Belanda. Terlepas dari serunya pertandingan, habisnya suara gue karena sibuk menyuport tim kota Den Haag, dan gelar juara umum yang nggak disangka jatuh ke tangan kita, ada satu hal yang bikin gue miris.
Tim bola kota Deventer, yang emang kualitasnya di atas rata-rata, berhasil masuk ke final. Tapi menjelang pertarungan puncak itu, masalah muncul. Tim mereka diprotes keras oleh peserta lainnya karena mayoritas diisi anak-anak Indo yang hanya berkomunikasi dengan bahasa Belanda. Konflik pun terjadi, tim Deventer nyaris mengundurkan diri kalau saja nggak ada segelintir anak-anak yang peduli dan ikut memperjuangkan hak mereka ke panitia.
Dan sepanjang final berlangsung, teriakan dari kubu anti tim Indo ini semakin menggebu-gebu. "Hidup Indonesia!!" adalah satu teriakan menjurus provokasi yang banyak terdengar dari para suporter di pinggir lapangan.
Tiba-tiba, semua prejudice gue sama anak-anak Indo itu menguap. Mereka sama seperti gue. Pengen diterima, butuh komunitas. Dan mungkin lebih sulit buat mereka, yang sering terkesan masih bingung sama identitas mereka sendiri. Yang punya kulit gelap seperti gue tapi nggak bisa bahasa Indonesia, yang bangga banget pake kaos bertulisan "Super Indo", meskipun pertalian mereka sama Indonesia sangat-sangatlah tipis.
Dan gue bersyukur, setidaknya gue tau gue belong di mana, meskipun gue pantas merasa malu, dengan rasa "sok nasionalis" gue selama ini yang ternyata hanyalah semu.
Dari sekian banyak jenis orang-orang Indonesia yang ada di sini, gue paling tertarik sama anak-anak Indo. Anak-anak yang punya tampang sama seperti anak-anak Indonesia pada umumnya, tapi nyaris nggak ada kesamaan dalam hal lainnya. Mereka, entah memang punya darah campuran Belanda dari orang tuanya, atau sudah sejak lahir ada di Belanda, rata-rata nggak bisa berbahasa Indonesia. Bahasa yang mereka kenal adalah Bahasa Belanda, dan mungkin hanya segelintir dari mereka yang masih familiar dengan budaya Indonesia.
Beberapa dari mereka masih menyempatkan waktu untuk "pulang" ke Indonesia dalam jangka waktu tertentu, tapi nggak semua peduli dengan isu-isu hangat di Indonesia seperti kenaikan BBM atau heboh RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi kemarin ini.
Pertama kali mengenal kelompok ini, gue sempet sebel setengah mati. Mereka nggak pernah ngomong bahasa Indonesia, biarpun lagi ngumpul sama anak Indonesia yang nggak bisa berbahasa Belanda, dan membentuk komunitas sendiri yang kadang-kadang lebih Belanda dari orang Belanda pada umumnya. Dan gue, tanpa sadar sering meremehkan mereka. Tau apa mereka soal kondisi Indonesia, kebobrokan yang ada dan rasanya hidup di negara yang nggak pernah lepas dari masalah setiap harinya. Negara yang masih ngutang ke mana-mana, sementara musibah dan bencana datang silih berganti. Tau apa mereka soal Maliq n The Essentials, geliat film Indonesia, megap-megapnya PSSI, dan semua manis pahitnya menjadi penduduk Indonesia.
Dan begitulah. Gue mulai bersikap apriori. Sikap yang sebenernya sangat gue benci.
Sampai akhirnya weekend kemarin, gue pergi ke Groningen, sebuah kota kecil di sebelah utara Belanda. Perjalanan 3 jam naik kereta gue bela-belain demi dateng ke satu event olah raga yang melibatkan seluruh student Indonesia di Belanda. Terlepas dari serunya pertandingan, habisnya suara gue karena sibuk menyuport tim kota Den Haag, dan gelar juara umum yang nggak disangka jatuh ke tangan kita, ada satu hal yang bikin gue miris.
Tim bola kota Deventer, yang emang kualitasnya di atas rata-rata, berhasil masuk ke final. Tapi menjelang pertarungan puncak itu, masalah muncul. Tim mereka diprotes keras oleh peserta lainnya karena mayoritas diisi anak-anak Indo yang hanya berkomunikasi dengan bahasa Belanda. Konflik pun terjadi, tim Deventer nyaris mengundurkan diri kalau saja nggak ada segelintir anak-anak yang peduli dan ikut memperjuangkan hak mereka ke panitia.
Dan sepanjang final berlangsung, teriakan dari kubu anti tim Indo ini semakin menggebu-gebu. "Hidup Indonesia!!" adalah satu teriakan menjurus provokasi yang banyak terdengar dari para suporter di pinggir lapangan.
Tiba-tiba, semua prejudice gue sama anak-anak Indo itu menguap. Mereka sama seperti gue. Pengen diterima, butuh komunitas. Dan mungkin lebih sulit buat mereka, yang sering terkesan masih bingung sama identitas mereka sendiri. Yang punya kulit gelap seperti gue tapi nggak bisa bahasa Indonesia, yang bangga banget pake kaos bertulisan "Super Indo", meskipun pertalian mereka sama Indonesia sangat-sangatlah tipis.
Dan gue bersyukur, setidaknya gue tau gue belong di mana, meskipun gue pantas merasa malu, dengan rasa "sok nasionalis" gue selama ini yang ternyata hanyalah semu.
Thursday, June 01, 2006
6.234
Itu data per pagi hari ini tentang jumlah korban meninggal akibat gempa di Jogja. Menyedihkan memang, ketika nyawa manusia yang hilang harus digambarkan dengan angka-angka berakhiran "ribu". Dan lebih menyedihkan lagi harus mendengar berita buruk tentang negara tempat kita lahir tanpa bisa berada di sana. Dengan kata lain, hanya mengandalkan gambar dari televisi asing dan berita-berita internet untuk bisa membayangkan kondisi yang ada saat ini.
Seorang teman di Indonesia mengirim SMS, "Kelihatannya orang-orang Indonesia yang ada di luar negeri lebih heboh tentang bencana ini dibanding orang yang ada di Indonesia sendiri. Kenapa ya?"
Jawabannya, mungkin karena berada di luar negeri membuat perasaan tidak berdaya, tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa berada di dekat orang-orang yang paling berarti. Entahlah.
Tapi tetap, kepedulian ada di mana-mana. Contoh paling kecil, hampir setiap blog yang gue kunjungin menyinggung tentang gempa Jogja di postingannya. Dan gue pikir, semuanya merasakan kepedulian yang sama. Baik dalam bentuk rasa duka cita, keprihatinan, menunjukkan link ke kantung sumbangan, atau bahkan berbagi pengalaman, seperti Mas Andi yang niatnya liburan ke Jogja tapi ternyata malah kebagian gempa.
Anyway, turut berduka cita sedalam-dalamnya, untuk Indonesia, khususnya semua yang ditinggalkan, kehilangan, dan harus menata kembali kehidupannya dengan sisa yang ada.
Seorang teman di Indonesia mengirim SMS, "Kelihatannya orang-orang Indonesia yang ada di luar negeri lebih heboh tentang bencana ini dibanding orang yang ada di Indonesia sendiri. Kenapa ya?"
Jawabannya, mungkin karena berada di luar negeri membuat perasaan tidak berdaya, tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa berada di dekat orang-orang yang paling berarti. Entahlah.
Tapi tetap, kepedulian ada di mana-mana. Contoh paling kecil, hampir setiap blog yang gue kunjungin menyinggung tentang gempa Jogja di postingannya. Dan gue pikir, semuanya merasakan kepedulian yang sama. Baik dalam bentuk rasa duka cita, keprihatinan, menunjukkan link ke kantung sumbangan, atau bahkan berbagi pengalaman, seperti Mas Andi yang niatnya liburan ke Jogja tapi ternyata malah kebagian gempa.
Anyway, turut berduka cita sedalam-dalamnya, untuk Indonesia, khususnya semua yang ditinggalkan, kehilangan, dan harus menata kembali kehidupannya dengan sisa yang ada.
Tuesday, May 23, 2006
Nostalgia 80-an
Kemaren pas lagi blogwalking di sela-sela bikin report (halah...padahal banyakan browsingnya), gue menemukan sebuah blog lucu. Isinya tentang semua hal yang menyangkut tahun 80-an.Taglinenya aja udah bikin senyum senyum sendiri: Memble tapi Kece. Hehehe, berasa lagi baca buku-buku Lupus jaman dulu.
Dibilang generasi yang besar di tahun 80-an mungkin nggak sepenuhnya bener buat gue. Gue lahir di penghujung tahun 80, dan ingatan tentang dekade itu sebagian cuma samar-samar aja. Jadi waktu gue menelusuri blog itu, nggak semua fenomena tahun 80-an yang ada di sana familiar buat gue.
Tapi bahagia banget waktu baca postingan tentang jajanan tahun 80-an, dengan wafer superman dan cokelat ayam, permen chelsea dan cocorico, minuman vitacharm dan jus kotak GoGo, atau jajanan penuh bumbu penyedap seperti Anak Mas dan Krip-krip. Berasa semua rasa makanan itu ada lagi di lidah gue.
Juga waktu gue baca postingan tentang Buku Trio Detektif (favorit gue banget, bahkan masih ngelengkapin koleksinya sampe sekarang), Film-film Warkop DKI dan Catatan si Boy, Albumnya Vina Panduwinata dan bahkan bahasan tentang Coverboy & Covergirl majalah MODE! Hahaha...
Berasa balik lagi ke jaman dulu, jaman di mana seragam kebangsaan kakak cowok gue adalah wristband dan headband, dengan gaya-gaya breakdance amatirannya itu..Jaman di mana uang jajan gue selalu abis buat koleksi sapu tangan dan pritilan Hello Kitty dan Sanrio...Jaman di mana seratus rupiah itu bisa dapet Krip-krip 4 bungkus...Jaman di mana mobil VW Kodok bukanlah mobil gaul tapi emang mobil kebanyakan..
Jaman yang buat gue, berarti 1 kata: childhood...=)
Dibilang generasi yang besar di tahun 80-an mungkin nggak sepenuhnya bener buat gue. Gue lahir di penghujung tahun 80, dan ingatan tentang dekade itu sebagian cuma samar-samar aja. Jadi waktu gue menelusuri blog itu, nggak semua fenomena tahun 80-an yang ada di sana familiar buat gue.
Tapi bahagia banget waktu baca postingan tentang jajanan tahun 80-an, dengan wafer superman dan cokelat ayam, permen chelsea dan cocorico, minuman vitacharm dan jus kotak GoGo, atau jajanan penuh bumbu penyedap seperti Anak Mas dan Krip-krip. Berasa semua rasa makanan itu ada lagi di lidah gue.
Juga waktu gue baca postingan tentang Buku Trio Detektif (favorit gue banget, bahkan masih ngelengkapin koleksinya sampe sekarang), Film-film Warkop DKI dan Catatan si Boy, Albumnya Vina Panduwinata dan bahkan bahasan tentang Coverboy & Covergirl majalah MODE! Hahaha...
Berasa balik lagi ke jaman dulu, jaman di mana seragam kebangsaan kakak cowok gue adalah wristband dan headband, dengan gaya-gaya breakdance amatirannya itu..Jaman di mana uang jajan gue selalu abis buat koleksi sapu tangan dan pritilan Hello Kitty dan Sanrio...Jaman di mana seratus rupiah itu bisa dapet Krip-krip 4 bungkus...Jaman di mana mobil VW Kodok bukanlah mobil gaul tapi emang mobil kebanyakan..
Jaman yang buat gue, berarti 1 kata: childhood...=)
Monday, May 15, 2006
Future Talk
It's like 4 months to my graduation day (if everything is going smoothly), and one of the most popular topics nowadays between me and my foreign classmates is about "going home...or stay?"
For me, the question is rethorical. Of course I will go home! Back to my beloved country...and from my so-called-idealistic-point-of-view, "Do something for Indonesia".
But true, this thought is getting more and more vague. My Latin American friends said to me to at least consider staying here, try to find a job...or a man! Hehehe...They remind me of all the great possibilities if I stay here. More money, better future, and as my Honduran friend said "You can do something for your country better if you had more experiences here."
My friend from Nicaragua even try to find a woman who wants to pretend being his fiancee, to make him easier getting the residence permit here.Talking about effort!
Okay, try not to think about the difficulties first, about my limitation in Dutch language, about the priority they have for the European Union citizens, and about the small opportunities of finding the job I really want here.
Think first about "Do I really want to stay here?" In the country that has freaking system for almost everything, from the education system to the gas and electricity payment system...In the country where you could really know the meaning of "bad weather"...In the country that will cost you a lot just to find a proper place to stay...
Anyway...Maybe it's not about idealistic reason anymore..Maybe the reason why I want to go back is simple. The familiarity of everything, the comfort I have around my friends and family. Or in other words, the crazy, chaotic place I called home..
For me, the question is rethorical. Of course I will go home! Back to my beloved country...and from my so-called-idealistic-point-of-view, "Do something for Indonesia".
But true, this thought is getting more and more vague. My Latin American friends said to me to at least consider staying here, try to find a job...or a man! Hehehe...They remind me of all the great possibilities if I stay here. More money, better future, and as my Honduran friend said "You can do something for your country better if you had more experiences here."
My friend from Nicaragua even try to find a woman who wants to pretend being his fiancee, to make him easier getting the residence permit here.Talking about effort!
Okay, try not to think about the difficulties first, about my limitation in Dutch language, about the priority they have for the European Union citizens, and about the small opportunities of finding the job I really want here.
Think first about "Do I really want to stay here?" In the country that has freaking system for almost everything, from the education system to the gas and electricity payment system...In the country where you could really know the meaning of "bad weather"...In the country that will cost you a lot just to find a proper place to stay...
Anyway...Maybe it's not about idealistic reason anymore..Maybe the reason why I want to go back is simple. The familiarity of everything, the comfort I have around my friends and family. Or in other words, the crazy, chaotic place I called home..
Friday, May 05, 2006
Places I Love The Most
Kalo ada satu tempat yang bisa bikin gue ngerasa seperti di rumah sendiri, itu adalah toko buku. Dari dulu gue selalu suka nongkrong di toko buku, sekedar liat", browsing buku baru, cari buku lama, atau menikmati suasana...Wangi yang khas dari lembaran" kertas, rak" tinggi menjulang, dan orang" yang tenggelam dalam dunianya masing"...
Kalo di Bandung, gue paling seneng nongkrong di Gramedia lantai paling atas, tempat buku anak" dan novel" fiksi dijual. Gue seneng ngeliat orang tua yang lagi ngedampingin anaknya milih" buku, sementara gue sendiri sibuk browsing novel" Agatha Christie, salah seorang pengarang terbaik sepanjang masa menurut gue..
Omunium juga salah satu tempat nongkrong favorit gue. Orang" nya ramah", dan punya pengetahuan yang luas soal buku, jadi nggak segan" memberi komentar atau saran tentang suatu buku kalo kita minta. Biasanya gue nyulik si Tha ke toko kecil yang terletak di depan mantan sekolah gue itu. Cari" buku mulai dari Trio Detektif (yang bikin gue terkenang" sama masa kecil dulu), Kahlil Gibran dan Paulo Coelho, buku" sastra yang lumayan berat kayak Pramoedya (alm) atau Remy Silado, sampe sastra Indonesia kontemporer karya" angkatan Ayu Utami dan kawan"nya. Dan yang paling menyenangkan dari Omunium adalah harga buku" nya yang di bawah kisaran toko" besar pada umumnya...
Di Jakarta, gue paling suka nongkrong di Kinokuniya Plaza Senayan. Tinggal pilih salah satu bangku di pojokan, ambil satu novel berbahasa inggris yang kadang nggak sanggup gue beli dengan gaji reporter gue yang nge pas (hahaha, it's true!), trus mulai deh...memanfaatkan toko buku seperti perpustakaan... Sampe pernah, gue disamperin satpamnya karena udah terlalu lama nongkrong disana. Tapi gue nggak kapok, dan terus datang lagi....Sayangnya, nggak semua buku disana available untuk dibaca", karena sebagian besar masih dibungkus plastik...
Aksara Kemang juga tempat yang menyenangkan. Banyak buku" aneh terutama tentang musik, film dan fotografi yang dijual di sana. Suasananya juga menyenangkan, karena sering ada acara" menarik seperti diskusi dan eksibisi di sana. Dan kadang, kalo lagi musim korting, Aksara sering nggak tanggung" dalam menurunkan harga.
Hmm..kalo di luar Indonesia, gue paling seneng sama toko buku Borders di Singapura. Tempatnya bener" nyaman buat nongkrong berjam".. Buku"nya nggak ada yg diplastikin, dan kita boleh pilih posisi seenaknya untuk baca" buku yg ada di sana, dari mulai ngejogrok di sofa sampai lesehan di karpet. Nggak heran toko ini rame terus, apalagi kalo weekend dia masih buka sampai midnight..
Selama gue di Belanda, toko buku jadi satu hal yang cukup mewah buat gue. Bukannya apa", tapi disini jarang banget toko yang jual buku dalam Bahasa Inggris dengan harga miring. Yang ada, kalo nggak harganya mahal, ya jualnya buku" berbahasa Belanda. Nasib tinggal di negara yang nggak memakai bahasa Inggris sebagai bahasa utama...
American Book Center (ABC) di Den Haag adalah satu dari sedikit toko yang menjual buku bahasa Inggris. Sayang, tempatnya kecil, dan terlalu crowded. Tapi di lantai dua yang menyerupai loteng kecil, banyak buku" lama dan secondhand yang dijual dengan harga murah.
Waterstone's di Amsterdam juga jual buku" bahasa Inggris, secara dia adalah cabang dari salah satu toko buku terbesar di Inggris. Tapi tempatnya nggak terlalu nyaman, bukan tempat yang tepat kalo kita pengen berlama" menikmati suasana.
Anyway...Kayanya kalo mau nulis tentang ini, bisa nggak berenti"...Yang jelas, toko buku jadi satu tempat yang wajib banget buat didatangin seandainya gue singgah ke suatu kota...Terutama kalo gue lagi merasa lost banget, dan pengen feels at home...
Kalo di Bandung, gue paling seneng nongkrong di Gramedia lantai paling atas, tempat buku anak" dan novel" fiksi dijual. Gue seneng ngeliat orang tua yang lagi ngedampingin anaknya milih" buku, sementara gue sendiri sibuk browsing novel" Agatha Christie, salah seorang pengarang terbaik sepanjang masa menurut gue..
Omunium juga salah satu tempat nongkrong favorit gue. Orang" nya ramah", dan punya pengetahuan yang luas soal buku, jadi nggak segan" memberi komentar atau saran tentang suatu buku kalo kita minta. Biasanya gue nyulik si Tha ke toko kecil yang terletak di depan mantan sekolah gue itu. Cari" buku mulai dari Trio Detektif (yang bikin gue terkenang" sama masa kecil dulu), Kahlil Gibran dan Paulo Coelho, buku" sastra yang lumayan berat kayak Pramoedya (alm) atau Remy Silado, sampe sastra Indonesia kontemporer karya" angkatan Ayu Utami dan kawan"nya. Dan yang paling menyenangkan dari Omunium adalah harga buku" nya yang di bawah kisaran toko" besar pada umumnya...
Di Jakarta, gue paling suka nongkrong di Kinokuniya Plaza Senayan. Tinggal pilih salah satu bangku di pojokan, ambil satu novel berbahasa inggris yang kadang nggak sanggup gue beli dengan gaji reporter gue yang nge pas (hahaha, it's true!), trus mulai deh...memanfaatkan toko buku seperti perpustakaan... Sampe pernah, gue disamperin satpamnya karena udah terlalu lama nongkrong disana. Tapi gue nggak kapok, dan terus datang lagi....Sayangnya, nggak semua buku disana available untuk dibaca", karena sebagian besar masih dibungkus plastik...
Aksara Kemang juga tempat yang menyenangkan. Banyak buku" aneh terutama tentang musik, film dan fotografi yang dijual di sana. Suasananya juga menyenangkan, karena sering ada acara" menarik seperti diskusi dan eksibisi di sana. Dan kadang, kalo lagi musim korting, Aksara sering nggak tanggung" dalam menurunkan harga.
Hmm..kalo di luar Indonesia, gue paling seneng sama toko buku Borders di Singapura. Tempatnya bener" nyaman buat nongkrong berjam".. Buku"nya nggak ada yg diplastikin, dan kita boleh pilih posisi seenaknya untuk baca" buku yg ada di sana, dari mulai ngejogrok di sofa sampai lesehan di karpet. Nggak heran toko ini rame terus, apalagi kalo weekend dia masih buka sampai midnight..
Selama gue di Belanda, toko buku jadi satu hal yang cukup mewah buat gue. Bukannya apa", tapi disini jarang banget toko yang jual buku dalam Bahasa Inggris dengan harga miring. Yang ada, kalo nggak harganya mahal, ya jualnya buku" berbahasa Belanda. Nasib tinggal di negara yang nggak memakai bahasa Inggris sebagai bahasa utama...
American Book Center (ABC) di Den Haag adalah satu dari sedikit toko yang menjual buku bahasa Inggris. Sayang, tempatnya kecil, dan terlalu crowded. Tapi di lantai dua yang menyerupai loteng kecil, banyak buku" lama dan secondhand yang dijual dengan harga murah.
Waterstone's di Amsterdam juga jual buku" bahasa Inggris, secara dia adalah cabang dari salah satu toko buku terbesar di Inggris. Tapi tempatnya nggak terlalu nyaman, bukan tempat yang tepat kalo kita pengen berlama" menikmati suasana.
Anyway...Kayanya kalo mau nulis tentang ini, bisa nggak berenti"...Yang jelas, toko buku jadi satu tempat yang wajib banget buat didatangin seandainya gue singgah ke suatu kota...Terutama kalo gue lagi merasa lost banget, dan pengen feels at home...
Tuesday, May 02, 2006
Eternal Sunshine of The Spotless Mind
Kalau sedang dihadapkan sama sebuah masalah, kita jadi bisa melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda.
Setiap orang punya masalah masing". Orang" optimis menyebutnya sebagai "tantangan". Tapi gue, simply call it "freaking annoying problem". Pendekatan orang ke masalahnya pun cenderung berbeda".
Seorang sahabat gue di tempat yang jauh bilang, yang perlu gue lakukan adalah berdamai dengan hidup gue sendiri. Try to find a proper place for myself..and live my life as if I would die tomorrow.
Seorang sahabat gue yang lain mengingatkan gue supaya mulai fair sama perasaan gue sendiri, dan jangan terlalu memikirkan perasaan orang lain. Belajar untuk deal dengan perasaan gue, adalah satu hal yang sedari dulu sangat sulit untuk gue lakukan..
Seorang teman gue, orang Belanda yang sama sekali nggak tau masalah apa yang sedang gue alamin, pernah bilang kalo cara dia mengatasi masalah adalah dengan menjalaninya seolah nggak terjadi apapun. "The trick is to keep on breathing..."
Sementara adek gue, one of the few people that truly understand my way of thinking, bilang ke gue kalo "jangan dipikirin, karena these too shall pass..."
Ada cara yang mudah untuk mengatasi masalah, ada cara yang sulit. Ada jalan pintas yang bisa diambil, tapi ada juga pelajaran yang lebih berharga yang pantas untuk didapat. Ada rasa ingin memaafkan, namun tetap tidak bisa melupakan.
Tapi yang pasti, email dan sms, chatting dan percakapan telepon, obrolan tengah malam, atau dalam kata lain, teman-teman. Just to know that I'm not alone. Itu yang paling penting. And I could really have the eternal sunshine of my spotless mind...
Thanks guys...
Setiap orang punya masalah masing". Orang" optimis menyebutnya sebagai "tantangan". Tapi gue, simply call it "freaking annoying problem". Pendekatan orang ke masalahnya pun cenderung berbeda".
Seorang sahabat gue di tempat yang jauh bilang, yang perlu gue lakukan adalah berdamai dengan hidup gue sendiri. Try to find a proper place for myself..and live my life as if I would die tomorrow.
Seorang sahabat gue yang lain mengingatkan gue supaya mulai fair sama perasaan gue sendiri, dan jangan terlalu memikirkan perasaan orang lain. Belajar untuk deal dengan perasaan gue, adalah satu hal yang sedari dulu sangat sulit untuk gue lakukan..
Seorang teman gue, orang Belanda yang sama sekali nggak tau masalah apa yang sedang gue alamin, pernah bilang kalo cara dia mengatasi masalah adalah dengan menjalaninya seolah nggak terjadi apapun. "The trick is to keep on breathing..."
Sementara adek gue, one of the few people that truly understand my way of thinking, bilang ke gue kalo "jangan dipikirin, karena these too shall pass..."
Ada cara yang mudah untuk mengatasi masalah, ada cara yang sulit. Ada jalan pintas yang bisa diambil, tapi ada juga pelajaran yang lebih berharga yang pantas untuk didapat. Ada rasa ingin memaafkan, namun tetap tidak bisa melupakan.
Tapi yang pasti, email dan sms, chatting dan percakapan telepon, obrolan tengah malam, atau dalam kata lain, teman-teman. Just to know that I'm not alone. Itu yang paling penting. And I could really have the eternal sunshine of my spotless mind...
Thanks guys...
Tuesday, April 25, 2006
Astrid Juga Manusia
When I thought that my heart couldn't feel any more hurt..
Voila, it hurts..
So much...
I'm too tired for this...
Just fucking tired.
Voila, it hurts..
So much...
I'm too tired for this...
Just fucking tired.
Friday, April 21, 2006
Aslan is Near!
Begitu bangun pagi ini, yang pertama gue denger adalah suara burung berkicau di luar jendela kamar gue. Penasaran, gue buka jendela kamar, dan emang bener, ada suara-suara burung yang rame berceloteh.
Begitu keluar rumah, yang pertama gue rasain adalah hangatnya sinar matahari...Dan insting pertama gue adalah mau langsung buka jaket dan nekat jalan hanya dengan kaos lengan panjang. Untung gue masih waras, dan akhirnya memaksakan diri untuk terus pake jaket (hmm..mungkin...kalo situasi ini bertahan terus, gue bener" bisa mempensiunkan jaket tebel gue dalam minggu" ini...).
Begitu gue nyusurin sepanjang jalan depan rumah, yang gue perhatiin adalah pohon-pohon yang mulai menampakkan warnanya lewat kuncup" yang mulai mengembang. Hijau. Dan gue jadi inget pemandangan indah sepanjang jalan dari Den Haag ke Hilversum kemarin, yang gue liat dari balik jendela kereta. Hamparan bunga tulip beraneka warna, dari mulai ungu, merah muda, pink sampai kuning..You name it...Serasa ngeliat permadani warna warni terbentang luas...
Dan gue, yang lagi keranjingan baca Chronicles of Narnia, jadi berasa ada di Narnia, saat Aslan mulai mendekat...=) Spring, here he comes...
Begitu keluar rumah, yang pertama gue rasain adalah hangatnya sinar matahari...Dan insting pertama gue adalah mau langsung buka jaket dan nekat jalan hanya dengan kaos lengan panjang. Untung gue masih waras, dan akhirnya memaksakan diri untuk terus pake jaket (hmm..mungkin...kalo situasi ini bertahan terus, gue bener" bisa mempensiunkan jaket tebel gue dalam minggu" ini...).
Begitu gue nyusurin sepanjang jalan depan rumah, yang gue perhatiin adalah pohon-pohon yang mulai menampakkan warnanya lewat kuncup" yang mulai mengembang. Hijau. Dan gue jadi inget pemandangan indah sepanjang jalan dari Den Haag ke Hilversum kemarin, yang gue liat dari balik jendela kereta. Hamparan bunga tulip beraneka warna, dari mulai ungu, merah muda, pink sampai kuning..You name it...Serasa ngeliat permadani warna warni terbentang luas...
Dan gue, yang lagi keranjingan baca Chronicles of Narnia, jadi berasa ada di Narnia, saat Aslan mulai mendekat...=) Spring, here he comes...
Subscribe to:
Comments (Atom)