Monday, May 15, 2006

Future Talk

It's like 4 months to my graduation day (if everything is going smoothly), and one of the most popular topics nowadays between me and my foreign classmates is about "going home...or stay?"

For me, the question is rethorical. Of course I will go home! Back to my beloved country...and from my so-called-idealistic-point-of-view, "Do something for Indonesia".

But true, this thought is getting more and more vague. My Latin American friends said to me to at least consider staying here, try to find a job...or a man! Hehehe...They remind me of all the great possibilities if I stay here. More money, better future, and as my Honduran friend said "You can do something for your country better if you had more experiences here."

My friend from Nicaragua even try to find a woman who wants to pretend being his fiancee, to make him easier getting the residence permit here.Talking about effort!

Okay, try not to think about the difficulties first, about my limitation in Dutch language, about the priority they have for the European Union citizens, and about the small opportunities of finding the job I really want here.

Think first about "Do I really want to stay here?" In the country that has freaking system for almost everything, from the education system to the gas and electricity payment system...In the country where you could really know the meaning of "bad weather"...In the country that will cost you a lot just to find a proper place to stay...

Anyway...Maybe it's not about idealistic reason anymore..Maybe the reason why I want to go back is simple. The familiarity of everything, the comfort I have around my friends and family. Or in other words, the crazy, chaotic place I called home..

Friday, May 05, 2006

Places I Love The Most

Kalo ada satu tempat yang bisa bikin gue ngerasa seperti di rumah sendiri, itu adalah toko buku. Dari dulu gue selalu suka nongkrong di toko buku, sekedar liat", browsing buku baru, cari buku lama, atau menikmati suasana...Wangi yang khas dari lembaran" kertas, rak" tinggi menjulang, dan orang" yang tenggelam dalam dunianya masing"...

Kalo di Bandung, gue paling seneng nongkrong di Gramedia lantai paling atas, tempat buku anak" dan novel" fiksi dijual. Gue seneng ngeliat orang tua yang lagi ngedampingin anaknya milih" buku, sementara gue sendiri sibuk browsing novel" Agatha Christie, salah seorang pengarang terbaik sepanjang masa menurut gue..

Omunium juga salah satu tempat nongkrong favorit gue. Orang" nya ramah", dan punya pengetahuan yang luas soal buku, jadi nggak segan" memberi komentar atau saran tentang suatu buku kalo kita minta. Biasanya gue nyulik si Tha ke toko kecil yang terletak di depan mantan sekolah gue itu. Cari" buku mulai dari Trio Detektif (yang bikin gue terkenang" sama masa kecil dulu), Kahlil Gibran dan Paulo Coelho, buku" sastra yang lumayan berat kayak Pramoedya (alm) atau Remy Silado, sampe sastra Indonesia kontemporer karya" angkatan Ayu Utami dan kawan"nya. Dan yang paling menyenangkan dari Omunium adalah harga buku" nya yang di bawah kisaran toko" besar pada umumnya...

Di Jakarta, gue paling suka nongkrong di Kinokuniya Plaza Senayan. Tinggal pilih salah satu bangku di pojokan, ambil satu novel berbahasa inggris yang kadang nggak sanggup gue beli dengan gaji reporter gue yang nge pas (hahaha, it's true!), trus mulai deh...memanfaatkan toko buku seperti perpustakaan... Sampe pernah, gue disamperin satpamnya karena udah terlalu lama nongkrong disana. Tapi gue nggak kapok, dan terus datang lagi....Sayangnya, nggak semua buku disana available untuk dibaca", karena sebagian besar masih dibungkus plastik...

Aksara Kemang juga tempat yang menyenangkan. Banyak buku" aneh terutama tentang musik, film dan fotografi yang dijual di sana. Suasananya juga menyenangkan, karena sering ada acara" menarik seperti diskusi dan eksibisi di sana. Dan kadang, kalo lagi musim korting, Aksara sering nggak tanggung" dalam menurunkan harga.

Hmm..kalo di luar Indonesia, gue paling seneng sama toko buku Borders di Singapura. Tempatnya bener" nyaman buat nongkrong berjam".. Buku"nya nggak ada yg diplastikin, dan kita boleh pilih posisi seenaknya untuk baca" buku yg ada di sana, dari mulai ngejogrok di sofa sampai lesehan di karpet. Nggak heran toko ini rame terus, apalagi kalo weekend dia masih buka sampai midnight..

Selama gue di Belanda, toko buku jadi satu hal yang cukup mewah buat gue. Bukannya apa", tapi disini jarang banget toko yang jual buku dalam Bahasa Inggris dengan harga miring. Yang ada, kalo nggak harganya mahal, ya jualnya buku" berbahasa Belanda. Nasib tinggal di negara yang nggak memakai bahasa Inggris sebagai bahasa utama...

American Book Center (ABC) di Den Haag adalah satu dari sedikit toko yang menjual buku bahasa Inggris. Sayang, tempatnya kecil, dan terlalu crowded. Tapi di lantai dua yang menyerupai loteng kecil, banyak buku" lama dan secondhand yang dijual dengan harga murah.

Waterstone's di Amsterdam juga jual buku" bahasa Inggris, secara dia adalah cabang dari salah satu toko buku terbesar di Inggris. Tapi tempatnya nggak terlalu nyaman, bukan tempat yang tepat kalo kita pengen berlama" menikmati suasana.

Anyway...Kayanya kalo mau nulis tentang ini, bisa nggak berenti"...Yang jelas, toko buku jadi satu tempat yang wajib banget buat didatangin seandainya gue singgah ke suatu kota...Terutama kalo gue lagi merasa lost banget, dan pengen feels at home...

Tuesday, May 02, 2006

Eternal Sunshine of The Spotless Mind

Kalau sedang dihadapkan sama sebuah masalah, kita jadi bisa melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda.

Setiap orang punya masalah masing". Orang" optimis menyebutnya sebagai "tantangan". Tapi gue, simply call it "freaking annoying problem". Pendekatan orang ke masalahnya pun cenderung berbeda".

Seorang sahabat gue di tempat yang jauh bilang, yang perlu gue lakukan adalah berdamai dengan hidup gue sendiri. Try to find a proper place for myself..and live my life as if I would die tomorrow.

Seorang sahabat gue yang lain mengingatkan gue supaya mulai fair sama perasaan gue sendiri, dan jangan terlalu memikirkan perasaan orang lain. Belajar untuk deal dengan perasaan gue, adalah satu hal yang sedari dulu sangat sulit untuk gue lakukan..

Seorang teman gue, orang Belanda yang sama sekali nggak tau masalah apa yang sedang gue alamin, pernah bilang kalo cara dia mengatasi masalah adalah dengan menjalaninya seolah nggak terjadi apapun. "The trick is to keep on breathing..."

Sementara adek gue, one of the few people that truly understand my way of thinking, bilang ke gue kalo "jangan dipikirin, karena these too shall pass..."

Ada cara yang mudah untuk mengatasi masalah, ada cara yang sulit. Ada jalan pintas yang bisa diambil, tapi ada juga pelajaran yang lebih berharga yang pantas untuk didapat. Ada rasa ingin memaafkan, namun tetap tidak bisa melupakan.

Tapi yang pasti, email dan sms, chatting dan percakapan telepon, obrolan tengah malam, atau dalam kata lain, teman-teman. Just to know that I'm not alone. Itu yang paling penting. And I could really have the eternal sunshine of my spotless mind...

Thanks guys...

Tuesday, April 25, 2006

Astrid Juga Manusia

When I thought that my heart couldn't feel any more hurt..
Voila, it hurts..
So much...

I'm too tired for this...
Just fucking tired.

Friday, April 21, 2006

Aslan is Near!

Begitu bangun pagi ini, yang pertama gue denger adalah suara burung berkicau di luar jendela kamar gue. Penasaran, gue buka jendela kamar, dan emang bener, ada suara-suara burung yang rame berceloteh.

Begitu keluar rumah, yang pertama gue rasain adalah hangatnya sinar matahari...Dan insting pertama gue adalah mau langsung buka jaket dan nekat jalan hanya dengan kaos lengan panjang. Untung gue masih waras, dan akhirnya memaksakan diri untuk terus pake jaket (hmm..mungkin...kalo situasi ini bertahan terus, gue bener" bisa mempensiunkan jaket tebel gue dalam minggu" ini...).

Begitu gue nyusurin sepanjang jalan depan rumah, yang gue perhatiin adalah pohon-pohon yang mulai menampakkan warnanya lewat kuncup" yang mulai mengembang. Hijau. Dan gue jadi inget pemandangan indah sepanjang jalan dari Den Haag ke Hilversum kemarin, yang gue liat dari balik jendela kereta. Hamparan bunga tulip beraneka warna, dari mulai ungu, merah muda, pink sampai kuning..You name it...Serasa ngeliat permadani warna warni terbentang luas...

Dan gue, yang lagi keranjingan baca Chronicles of Narnia, jadi berasa ada di Narnia, saat Aslan mulai mendekat...=) Spring, here he comes...

Thursday, April 13, 2006

True Color

Dari postingannya Tha, gue terjebak mengikuti another silly test...and the result is:

You're brown, a credible, stable color that's reminiscent of fine wood, rich leather, and wistful melancholy. Most likely, you're a logical, practical person ruled more by your head than your heart. With your inquisitive mind and insatiable curiosity, you're probably a great problem solver. And you always gather all of the facts before coming to a timely, informed decision. Easily intrigued, you're constantly finding new ways to challenge your mind, whether it's by reading the newspaper, playing a trivia game, or composing a piece of music. Brown is an impartial, neutral color, which means you tend to see the difference between fact and opinion easily and are open to many points of view. Trustworthy and steady, you really are a brown at heart.

And my opinion?
I'm not logical, I'm almost emotional..But I do like the neutral one, it does suit me..I hate close-minded people who tend to judge others point of views...

But anyway. it's just a test. Sometimes I even answer differently on the same test..Because people change...And the result depends on our mood when we do the test...

Monday, April 03, 2006

Guilty Pleasures

When I was a little girl, if I liked something, I tended to become addicted to it. But then, out of the blue, I will get bored and then just leave it behind me...That bad habit is still with me now, in my 25-years-old-body-and-soul...

I am crazy about Harry Potter..and I read the books without knowing the time..I remember I even read one of those when I was in my exam period in college, and I just couldn't stop! I know all characters, I even tried some of Harry Potter quizes and got 100% score in almost all of them...

I also had a BIG crush of Leonardo DiCaprio...I watched all of his movies (and still am!), I collected his pictures, and I even had clippings about him when I was in junior high school...(but trust me, I've stopped this habit since then..hahaha).

And how about the New Kids On The Block era? OH MY GOD! How I was sooo in love with Jordan Knight, begging my mom so I could watch their concert (my first concert ever), feeling so good because I was the first one who had NKOTB backpack in the elementary school, and how I know every lyric of their songs and every step by step of their dance...Damn embarrasing if I think about it now...

And now...when I think there's no stupid things that could make me feel addicted..I bumped into one of yahoo crazy service, when everybody could ask and answer each others questions (and collected points)..How I like to answer those crazy questions, and ask my own crazy question just to find out how others will respond to it...And again, without realizing it, I've become addicted to something stupid!

When will I get rid of these guilty pleasures? Or is it only a part of being a human? Does anybody out there have his own guilty pleasure and are willing to share it with me? So maybe...I could have less guilty feeling...=)

Wednesday, March 22, 2006

A Letter from Faraway Land

Kemaren ini gue dikasih tau kalo ada sepucuk surat buat gue yang masih nyasar ke rumah lama. Gue pikir, pasti surat dari bank, sekolah, atau brosur" nggak penting lainnya. Dan betapa kagetnya gue waktu tadi siang Hesti (mantan temen serumah gue)ngasih selembar amplop warna merah muda dengan nama gue yang diketik pake mesin tik manual. Entah kapan terakhir kalinya gue dapet surat dalam wujud yang sesungguhnya, karena biasanya urusan surat menyurat dengan temen" dan keluarga selalu gue lakuin melalui email.Tapi karena gue harus masuk kelas dan kuliah hari ini lumayan padat, surat itu pun sedikit terlupakan.
Gue baru sempet buka surat itu sesudah nyampe di rumah malem ini, dengan perasaan bete dan kecewa luar biasa karena ada sesuatu yang terjadi di luar rencana gue. Sambil duduk sendirian di depan TV, gue buka surat itu, yang ternyata isinya pun diketik dengan mesin tik manual, lengkap dengan tip ex dan beberapa coretan di sana sini.

Di bagian kop surat, tertera nama dan alamat Oma gue di Bandung, yang dicetak dengan bentuk tulisan kaligrafi. Tampak coretan tipis pensil yang mengganti nama Oma gue (yang udah meninggal tahun 2004 lalu) dengan nama Opa gue. Gue sedikit merinding. Udah lama gue nggak denger kabar dari Opa gue. Korespondensi terakhir yang kita lakuin adalah melalui email, itu pun lebih banyak cerita dari pihak gue, dan curhatan dari pihak Opa gue.Dan untuk sementara waktu, sosok Opa agak menghilang dari pikiran gue.

Pelan" gue baca surat itu, yang ternyata diketik dengan campuran bahasa Indonesia, Inggris dan Belanda. Beberapa kosakata yang nggak gue ngerti, akhirnya berusaha gue tebak sendiri. Dan tanpa gue sadar, setitik air dari mata gue tiba" menetes ke kertas itu. Gue bisa ngerasain betapa Opa gue sangat merindukan Oma gue, ketika dia merekomendasikan gue tempat" indah yang pernah mereka kunjungin bareng di Belanda, Belgia dan Jerman. Atau ketika dia mengingatkan gue sama darah Belanda yang masih ada dari pihak Oma, dan membandingkan kesamaan sifat gue dan Oma gue.

Dan terakhir, surat itu ditutup dengan beberapa kalimat bahasa Inggris, yang menyemangati gue untuk sukses dalam studi gue, untuk tetap semangat dalam menjalani hidup gue, dan untuk mencoba mengerti arti hidup : "You will understand life much better if you are able to manipulate your way of thinking, avoiding pain and frustration. And that's not thaught in ordinary schools throughout the world."

Suddenly, I feel much better. Bete gue langsung ilang, masalah gue nggak ada apa" nya. Gue masih punya sejuta hal yang bisa gue syukurin dalam hidup, dan salah satunya, datang dalam wujud sepucuk surat beramplop merah muda...

Friday, March 17, 2006

From Barcelona with Luv



Minggu lalu gue baru ikut program workshop dari sekolah di Madrid. Dan dengan semangatnya, gue langsung memperpanjang beberapa hari untuk jalan" ke Barcelona.

And immediately I just fell in love with the city...Jalan"nya, bangunan dan gedung"nya, cafe"nya, taman dan air mancurnya, matahari dan suhu 18 derajatnya, orang" yang udah lalu lalang make tanktop, aroma udara dari laut, tapas yang dijual di mana", artis" yang berkeliaran dengan kostum aneh di La Ramblas...I love almost everything about this city...Gue bahkan bisa mentolerir cowok aneh yang satu kamar sama gue di hostel, kemampuan bahasa inggris orang" spanyol yang terbatas, harga makanan dan suvenir yang hampir semua mahal, dan copet yang banyak banget di mana"...

And suddenly, I missed my mom soooo much....Gue inget obsesinya sebagai seorang arsitek buat dateng ke kota ini, betapa ngefansnya dia sama Gaudi dan bangunan"nya, betapa dia ngotot kalo "Jalan di Barcelona itu salah satu yang terbaik di dunia lho", dan titipan"nya supaya gue foto" sebanyak mungkin sudut kota Barcelona...

Dan sambil merasakan sinar matahari yang hangat di atas kepala gue, menyusuri Passeig de Gracia dan lewat di depan Cassa Milla, gue berjanji dalam hati, "Someday, we're gonna walk together in this street, Mum..."

Friday, March 03, 2006

Sugar-Honey-Ice-Tea!*

Yesterday, finally I've received all my grades for previous semester. It's not really bad, although I think I could have done better...Thanks to my laziness and deadline-minded! =)

Actually, there are lot of things that I've learnt since I've been in this course. The framework of thinking with more flexibility, doing qualitative papers with convincing argument instead of just rellying on numbers like I usually did in my bachelor study (for god sake, I was studdying industrial-engineering then...!), trying to work together with people from around the world...adjusting to any kind of people with different culture and background...and even trying hard to fit in with the Dutch-teaching-system...It's hard, but also fun in the same time...

Anyway, as I collected my papers in International Office yesterday, I've accidentally bumped into my friend's assignment. And without thinking, I read the note that was placed in the front page of her paper. It's my teacher's handwriting.

"If you want to graduate with distinction, you have to get 8 for the average grade. And you still can do it if you want to improve this paper".

And suddenly, I felt sick. It's been allowed to receit your paper if you get the score under 5.50. But for me, to give the second chance just to make a student graduated with distinction is not a really fair thing to do. Especially if you know exactly how close this teacher to that particular student.

How if there are other students who have exactly the same grade with her? Do they also deserve the second chance? And how about other students who have the score a little bit lower than her? Is it really unfair if they also ask for the opportunity to upgrade their score?

I have no idea why this thing really bothered me, because I'm not a kind of person who like to mess around with other people's businesses. Maybe because I hope for a more fair system here..But you never know..Maybe it's all the same everywhere, even here, when justice and fairness become one of the most crucial things..Or am I being too judgemental? Or maybe...deep down inside...I just hope that I will be given that second chance also...

*Sugar-Honey-Ice-Tea = SHIT! taken from Icha Rahmanti's Beauty Case...