Pencitraan
Beberapa waktu lalu, gue sempat membaca status FB salah seorang eks kakak kelas di SMA yang sekarang sudah menjadi selebriti. Statusnya nggak akan gue copy paste disini karena sedikit mengandung kata-kata kasar, tapi intinya sih menurut dia, orang-orang yang suka ngata-ngatain orang lain melakukan pencitraan lewat twitter atau FB, tapi sendirinya masih memiliki akun dan eksis di dunia sosial media tersebut, nggak lain adalah orang-orang yang munafik. Karena setiap orang yang masih berkicau di dunia itu, sadar nggak sadar pasti melakukannya untuk pencitraan diri.
Well, biasanya gue nggak selalu setuju sama opini si eks kakak kelas yang dulu pernah menikah dengan seorang penulis perempuan kondang ini (okeh, penting banget gak sih petunjuk-petunjuk ala infotainment ini? hueuheuhe). Soalnya pandangannya sendiri suka sedikit terlalu ekstrim dan judgmental menurut gue.
Tapi statusnya kali ini sedikit bikin gue mikir sambil manggut-manggut. Bener juga sihhh...kalo kita ngetwit atau update status FB atau posting blog atau upload foto tumblr dll, tujuannya apa sih? Mungkin ada yang bilang, untuk kepuasan diri sendiri aja kok! Atau sekadar menjalin silaturahmi dengan orang-orang tercinta.
Apapun deh.
Tapi nggak bisa dipungkiri, dunia sosial media dan internet ini sudah membuat kita jadi public figure - suka nggak suka, sadar nggak sadar. Kalo nggak, buat apa donk ngetwit-pic outfit hari ini, atau update status lagi jalan-jalan ke mana, atau posting blog berisi opini-opini, sambil berharap cemas dan berbahagia ketika akhirnya ada komen-komen yang masuk.
Kalau memang nggak ada setitik puuuun aja sisi pencitraan yang ingin dikeluarkan, sebenernya nggak usah ikut-ikutan social media kan ya. Akun FB nggak perlu diupdate, cukup ngikutin perkembangan temen-temen aja. Punya twitter yang penting follow orang aja..dan punya blog, ya diset jadi private aja. Tapi mana asik sihhhh? =D Sebuah blog yang cukup terkenal di kalangan ibu-ibu pernah mengancam akan menyudahi saja blognya dan membuat settingan selanjutnya menjadi private karena banyaknya haters yang mengganggu hidupnya. Tapi pada akhirnya blog itu tetap terbuka untuk umum kok. Mungkin nature manusia itu salah satunya adalah memang untuk diperhatikan oleh sesamanya.
Siapapun pasti pernah tergoda menciptakan citranya lewat dunia sosial media. Entah dengan twit yang witty (twitty!), foto2 FB dan tumblr (atau instagram) yang keren, postingan yang wise and smart... Terkadang gue suka benci juga sama diri sendiri, karena kok mau nulis apa-apa di blog kayaknya ribet banget, dipikirin dulu, hmmm kalau nulis ini garing nggak ya? Ada yang tersinggung nggak ya? Tampak bodoh nggak ya?? (padahal yang baca blognya juga mungkin cuman segelintir hahaha).
Terkadang gue kangen dengan tulisan-tulisan jujur gue, yang terangkum dalam belasan diary (sebagian di antaranya dilengkapi kunci!!) jaman sd sampai kuliah dulu. Tulisan-tulisan cupu berupa curhatan pribadi, cerpen dan puisi untuk konsumsi sendiri. Rasanya begitu liberating. Melegakan setelah bisa menumpahkan semua perasaan dan unek-unek jaman dulu, tanpa kuatir ada yang menjudge, atau berkomentar sinis. Dari mulai sekadar ketemu kecengan sampai berantem dengan sahabat, semua detailnya diulas tuntas. Sangat berbeda dengan kultur publik yang berkembang sekarang ini. Apa-apa jadi konsumsi umum. Tingkat kemurnian segala sesuatu jadi berkurang jauh, karena terlalu banyak lapisan yang menutupinya.
Sampai sekarang, gue masih rajin menulis jurnal setiap hari, dan kegiatan berburu jurnal setiap akhir tahun masih tetap gue tunggu-tunggu. Tapi kebanyakan yang gue tulis hanya rekap sehari-hari, hal-hal penting yang perlu diingat. Direduksi jauh dibandingkan isi diary jaman dulu.
Dan somehow, gue kangen nulis. Nulis yang jujur, yang nggak pake pencitraan, yang memang dari hati, untuk konsumsi sendiri. Sekadar sebagai pengingat pribadi bahwa gue masih punya nurani. Menggoreskan bolpoin di atas kertas beneran, dan bukan sekadar mengetik di sela-sela jam kerja dengan terburu-buru.
Menjadi kritikus untuk diri sendiri. Isn't that great?
Tuesday, February 21, 2012
Wednesday, February 15, 2012
Restless
So this month marked my second anniversary in the office. And believe it or not, this is the longest job I have so far!
Untuk seorang yang "dikaruniai" sifat pembosan, bertahan di sebuah pekerjaan sampai 2 tahun itu sudah menjadi perjuangan tersendiri. Menghadapi pekerjaan yang sama (untungnya, bertemu dengan banyak orang baru), duduk di meja yang sama (untungnya, gedung kantor pindah setahun setelah gue kerja, suasananya pun lebih segeran), daaaan tentunya dealing dengan bos yang sama! =D Yang juga mengejutkan, ini adalah pekerjaan pertama di mana gue akhirnya merasakan yang namanya dipromosi, hahaha! Telat banget nggak sih?
Kalau dilihat dari segi pekerjaan yang dilakukan, mungkin itu adalah salah satu faktor utama yang membuat gue bertahan disini. Bidang pendidikan adalah interest gue sejak lama, dan rasanya seneng bisa mengaplikasikan passion yang memang sudah ada selama ini. Tapi kalau mau dievaluasi, masih ada segi-segi pekerjaan yang nggak gue suka (bukan tantangan loh ya, kalau tantangan justru biasanya bikin gue lebih semangat), seperti ngurusin paperwork yang memang adalah salah satu kelemahan gue, juga dealing sama urusan perijinan yang kadang jauhhh di luar konteks dunia pendidikan itu sendiri (duh, urusan sama imigrasi atau diknas soal perijinan orang Amerika yang mau ngajar atau research disini kayaknya menguji kesabaran semua orang tanpa kecuali deh).
Lalu, salah satu segi yang bisa dibilang menyenangkan sekaligus menyebalkan adalah bertemu dengan berbagai jenis orang Amerika. Banyak dari mereka yang berasal dari latar belakang yang akademis banget, lulusan ivy leagues atau bahkan profesor yang sudah melanglang buana kemana-mana. Gue seneeeeng banget ngobrol sama mereka, menggali ide-ide dari mereka dan mendengarkan cerita mereka yang kadang luar biasa menginspirasi gue. Memang ada sebagian yang menyebalkan pastinya, tapi bagi gue itu hanyalah salah satu tantangan pekerjaan gue, bagaimana menghadapi orang Amerika yang kadang sangat menyulitkan.
Tapi yang membuat gue resah gelisah gundah adalah, bergaul dengan orang-orang ini ternyata mengobarkan semangat gue untuk sekolah lagi. Ya wajar aja sih, hampir tiap hari gue berurusan sama orang-orang ini, yang super peduli dengan pendidikan, meski caranya berbeda-beda. Dan alangkah "gatal"nya gue, ngurusin sekolahan dan rencana masa depan orang-orang, sementara gue sendiri hanya bisa gigit jari. Ibaratnya dikasih es krim magnum aneka rasa, di saat kita lagi sakit gigi. Sebel kannnn?
Tapi untuk mulai sekolah lagi (and by this, I mean going abroad)...oh man, banyak banget yang harus dipikirin tentunya. Karena sekarang gue udah nggak hidup sendirian lagi. I have my own family. Dan nggak semudah itu tentunya untuk memboyong rombongan sirkus mengikuti rencana gue yang kadang terasa sungguh egois.
Gue semakin merasa terbakar ketika nyokap gue, di usianya yang ke sekian sekian, masiiihh aja aktif benerrr seminar ke sana sini, diundang jadi pembicaralah, apalah, yang terakhir ini bakalan berangkat ke Pulau Cyprus. Tuh kan??? Masa gue kalah sama beliau siiih??
Gue sendiri nggak ngerti, kenapa di usia gue yang udah kepala tiga, teteeep aja keinginan melanglang buana, mencicipi petualangan dan menjejakkan kaki di dunia baru, jauh lebih kuat dibanding keinginan punya rumah, mobil bagus, atau berkarier dengan baik dan benar.
Mengutip Carrie Bradshaw:
“Some people are settling down, some people are settling and some people refuse to settle for anything less than butterflies.”
So...Am I my own worst enemy???
So this month marked my second anniversary in the office. And believe it or not, this is the longest job I have so far!
Untuk seorang yang "dikaruniai" sifat pembosan, bertahan di sebuah pekerjaan sampai 2 tahun itu sudah menjadi perjuangan tersendiri. Menghadapi pekerjaan yang sama (untungnya, bertemu dengan banyak orang baru), duduk di meja yang sama (untungnya, gedung kantor pindah setahun setelah gue kerja, suasananya pun lebih segeran), daaaan tentunya dealing dengan bos yang sama! =D Yang juga mengejutkan, ini adalah pekerjaan pertama di mana gue akhirnya merasakan yang namanya dipromosi, hahaha! Telat banget nggak sih?
Kalau dilihat dari segi pekerjaan yang dilakukan, mungkin itu adalah salah satu faktor utama yang membuat gue bertahan disini. Bidang pendidikan adalah interest gue sejak lama, dan rasanya seneng bisa mengaplikasikan passion yang memang sudah ada selama ini. Tapi kalau mau dievaluasi, masih ada segi-segi pekerjaan yang nggak gue suka (bukan tantangan loh ya, kalau tantangan justru biasanya bikin gue lebih semangat), seperti ngurusin paperwork yang memang adalah salah satu kelemahan gue, juga dealing sama urusan perijinan yang kadang jauhhh di luar konteks dunia pendidikan itu sendiri (duh, urusan sama imigrasi atau diknas soal perijinan orang Amerika yang mau ngajar atau research disini kayaknya menguji kesabaran semua orang tanpa kecuali deh).
Lalu, salah satu segi yang bisa dibilang menyenangkan sekaligus menyebalkan adalah bertemu dengan berbagai jenis orang Amerika. Banyak dari mereka yang berasal dari latar belakang yang akademis banget, lulusan ivy leagues atau bahkan profesor yang sudah melanglang buana kemana-mana. Gue seneeeeng banget ngobrol sama mereka, menggali ide-ide dari mereka dan mendengarkan cerita mereka yang kadang luar biasa menginspirasi gue. Memang ada sebagian yang menyebalkan pastinya, tapi bagi gue itu hanyalah salah satu tantangan pekerjaan gue, bagaimana menghadapi orang Amerika yang kadang sangat menyulitkan.
Tapi yang membuat gue resah gelisah gundah adalah, bergaul dengan orang-orang ini ternyata mengobarkan semangat gue untuk sekolah lagi. Ya wajar aja sih, hampir tiap hari gue berurusan sama orang-orang ini, yang super peduli dengan pendidikan, meski caranya berbeda-beda. Dan alangkah "gatal"nya gue, ngurusin sekolahan dan rencana masa depan orang-orang, sementara gue sendiri hanya bisa gigit jari. Ibaratnya dikasih es krim magnum aneka rasa, di saat kita lagi sakit gigi. Sebel kannnn?
Tapi untuk mulai sekolah lagi (and by this, I mean going abroad)...oh man, banyak banget yang harus dipikirin tentunya. Karena sekarang gue udah nggak hidup sendirian lagi. I have my own family. Dan nggak semudah itu tentunya untuk memboyong rombongan sirkus mengikuti rencana gue yang kadang terasa sungguh egois.
Gue semakin merasa terbakar ketika nyokap gue, di usianya yang ke sekian sekian, masiiihh aja aktif benerrr seminar ke sana sini, diundang jadi pembicaralah, apalah, yang terakhir ini bakalan berangkat ke Pulau Cyprus. Tuh kan??? Masa gue kalah sama beliau siiih??
Gue sendiri nggak ngerti, kenapa di usia gue yang udah kepala tiga, teteeep aja keinginan melanglang buana, mencicipi petualangan dan menjejakkan kaki di dunia baru, jauh lebih kuat dibanding keinginan punya rumah, mobil bagus, atau berkarier dengan baik dan benar.
Mengutip Carrie Bradshaw:
“Some people are settling down, some people are settling and some people refuse to settle for anything less than butterflies.”
So...Am I my own worst enemy???
Friday, January 20, 2012
Memorable Holiday - a MOLESKINE GIVAWAY!
Gara-gara kemarin sempet baca buku Dash and Lily's Book of Dares featuring a very cute red moleskine in the book, gue bener-bener kabita (aka ngiler berat!) pingin punya satuuuuu aja moleskine, kalau bisa warna merah. Hihihi, nawar =p
Dan pucuk dicinta ulam tiba, saat gue membaca postingan di blog JUNK THOUGHTS pagi ini..ada Moleskine Giveaway! Yihaaa...Karena syaratnya adalah memposting tentang most memorable holiday, dan sepertinya belum ada yang lebih memorable dari holiday di Bali yang pernah gue posting dulu, jadi gue posting ulang aja ya! Bukannya males lho, tapi sepertinya ini yang paling cocok buat diikutsertakan dalam giveaway moleskine tercinta =D
So...enjoy, and wish me luck!
It's a Mad, Mad, Mad Holiday
Pertengahan tahun 2008, gue dan keluarga besar dari pihak nyokap (yap, The Batak-ers) berlibur ke Bali. Ini kesempatan langka, karena untuk memberangkatkan sekitar 50-an anggota keluarga (termasuk segerombolan anak kecil yang over excited) ke tempat yang lumayan jauh termasuk kerjaan yang nggak gampang. Selama ini biasanya kita mentok sampai Bandung atau Puncak. Tapi tahun ini, mumpung ada kesempatan, termasuk tawaran hotel murah karena adanya koneksi dengan si empunya, akhirnya berangkatlah rombongan yang udah mirip rombongan sirkus ini ke Pulau Dewata.
Sebenernya gue juga sangat excited menunggu-nunggu liburan ini. Tapi sejak awal, adaaaa aja kesialan yang gue alamin. Pertama-tama adalah pesawat gue. Kita dibagi-bagi jadi beberapa rombongan, karena penuhnya pesawat di musim liburan sekolah. Dan gue kebetulan kebagian rombongan terakhir, naik Garuda yang seharusnya berangkat jam 9.30 pagi. Tapi apa mau dikata, di antara jarangnya pesawat Garuda yang terpaksa di-delay, entah kenapa justru pesawat gue lah yang harus mengalami kesialan itu. Nggak tanggung-tanggung, delaynya sampai 3 jam lebih. Akhirnya terpaksalah gue dan rombongan menghabiskan waktu di salah satu lounge berbekal pinjam meminjam kartu kredit.
Oke, gue pikir, nggak papa deh delay, yang penting gue mau seneng-seneng di Bali. Dan nyampe Bali, gue langsung melampiaskan kangen gue sama ponakan gue, Matthew, yang baru pertama kalinya menginjakkan kaki di Bali, dan main-main di pantai sama dia. Kebetulan banget, hotel kita langsung menghadap pantai yang lumayan sepi. Tapi di tengah hebohnya main terjang menerjang ombak, tiba-tiba gue meraba kantong celana pendek gue dan sadar, loh, HP gue di mana yaaaaa??? Perasaan tadi gue kantongin sebelum berangkat ke pantai. Paniklah gue, balik lagi ke kamar, ternyata nggak ada. Menyusuri jalanan tempat gue lewat, nihil. Dan dengan sia-sia mencari di seputaran pantai. Akhirnya, gue terpaksa merelakan HP gue (lagi!!!! setelah tragedi kecopetan di bis P6 beberapa tahun yang lalu) ditelan lautan...Lengkap dengan semua nomer-nomer kontak yang lagi-lagi nggak pernah gue back up. Huhuhu....
Perasaan gue langsung berbalik 180 derajat. Sepertinya liburan ini memang membawa sedikit demi sedikit kesialan buat gue.
Tapi toh, gue masih berusaha menikmati sisa liburan yang ada. Makan di Jimbaran, jalan di Legian, bahkan nonton Fire Dance di Uluwatu. Pokoknya turis banget deh...
Sampai akhirnya, sebuah kesialan lagi menghampiri gue. Waktu lagi berkunjung ke rumah salah satu teman lama keluarga gue di daerah Sanur, gue mengambil sebuah permen yang ditawarkan. Sebenernya permennya mungkin nggak kenapa-kenapa, tapi gigi gue aja yang memang bermasalah. Karena setelah kunyahan kesekian, permen yang sangat kenyal itu membawa serta tambalan gigi beserta pinggiran geraham gue yang langsung rompal. Gue langsung panik, membayangkan menjalani sisa liburan dengan gigi bolong dan perasaan senut-senut sepanjang hari. Sial.
Kalau menurut nyokap gue, kesialan itu datangnya tiga kali. Jadi seharusnya, setelah tiga kesialan berturut-turut ini, gue akan menjalani sisa liburan dengan tenang (di samping fakta nggak punya HP dan gigi linu-linu). Tapi justru keseruan yang paling edan masih disimpan untuk akhir liburan ini.
Setelah sebagian besar anggota keluarga pulang, gue dan adik gue memperpanjang liburan dan pindah dari Discovery Hotel di Kartika Plaza ke hotel yang lebih merakyat, Oasis Kuta. Lokasinya oke, harganya reasonable, dan desainnya yang minimalis juga lumayan bikin betah.Memang ada bau-bauan yang sedikit aneh di daerah balkon kamar kita (kamarnya langsung menghadap ke kolam renang besar yang terletak di bagian tengah hotel yang berbentuk huruf U), tapi kita berusaha untuk nggak peduli.
Sampai saat hari kedua kita nginep di sana, kita dibuat kaget dengan rombongan polisi yang tiba-tiba mengerumuni sekitar kamar kita. Usut punya usut, ternyata di balkon sebelah kamar kita, ditemukan janin yang udah berumur beberapa hari. Bayangin aja!!! Berasa ada di tontonan Buser atau acara-acara kriminal gitu. Dan gue sama adik gue langsung ngebayangin bau-bauan aneh yang udah kita cium keberadaannya sejak kemarin. Huaaaa!!!!! Gue nggak habis pikir, kenapa ada orang yang dengan gilanya meninggalkan janin di kamar hotel. Apa nggak ada tempat lain ya??? Sinting.
Dan itulah. Liburan gue diawali dengan kejadian menyebalkan, dan diakhiri dengan kejadian mengerikan. But overall I enjoyed my holiday, because what is a holiday without a little bit of madness, right? =)
Gara-gara kemarin sempet baca buku Dash and Lily's Book of Dares featuring a very cute red moleskine in the book, gue bener-bener kabita (aka ngiler berat!) pingin punya satuuuuu aja moleskine, kalau bisa warna merah. Hihihi, nawar =p
Dan pucuk dicinta ulam tiba, saat gue membaca postingan di blog JUNK THOUGHTS pagi ini..ada Moleskine Giveaway! Yihaaa...Karena syaratnya adalah memposting tentang most memorable holiday, dan sepertinya belum ada yang lebih memorable dari holiday di Bali yang pernah gue posting dulu, jadi gue posting ulang aja ya! Bukannya males lho, tapi sepertinya ini yang paling cocok buat diikutsertakan dalam giveaway moleskine tercinta =D
So...enjoy, and wish me luck!
It's a Mad, Mad, Mad Holiday
Sebenernya gue juga sangat excited menunggu-nunggu liburan ini. Tapi sejak awal, adaaaa aja kesialan yang gue alamin. Pertama-tama adalah pesawat gue. Kita dibagi-bagi jadi beberapa rombongan, karena penuhnya pesawat di musim liburan sekolah. Dan gue kebetulan kebagian rombongan terakhir, naik Garuda yang seharusnya berangkat jam 9.30 pagi. Tapi apa mau dikata, di antara jarangnya pesawat Garuda yang terpaksa di-delay, entah kenapa justru pesawat gue lah yang harus mengalami kesialan itu. Nggak tanggung-tanggung, delaynya sampai 3 jam lebih. Akhirnya terpaksalah gue dan rombongan menghabiskan waktu di salah satu lounge berbekal pinjam meminjam kartu kredit.
Oke, gue pikir, nggak papa deh delay, yang penting gue mau seneng-seneng di Bali. Dan nyampe Bali, gue langsung melampiaskan kangen gue sama ponakan gue, Matthew, yang baru pertama kalinya menginjakkan kaki di Bali, dan main-main di pantai sama dia. Kebetulan banget, hotel kita langsung menghadap pantai yang lumayan sepi. Tapi di tengah hebohnya main terjang menerjang ombak, tiba-tiba gue meraba kantong celana pendek gue dan sadar, loh, HP gue di mana yaaaaa??? Perasaan tadi gue kantongin sebelum berangkat ke pantai. Paniklah gue, balik lagi ke kamar, ternyata nggak ada. Menyusuri jalanan tempat gue lewat, nihil. Dan dengan sia-sia mencari di seputaran pantai. Akhirnya, gue terpaksa merelakan HP gue (lagi!!!! setelah tragedi kecopetan di bis P6 beberapa tahun yang lalu) ditelan lautan...Lengkap dengan semua nomer-nomer kontak yang lagi-lagi nggak pernah gue back up. Huhuhu....
Perasaan gue langsung berbalik 180 derajat. Sepertinya liburan ini memang membawa sedikit demi sedikit kesialan buat gue.
Tapi toh, gue masih berusaha menikmati sisa liburan yang ada. Makan di Jimbaran, jalan di Legian, bahkan nonton Fire Dance di Uluwatu. Pokoknya turis banget deh...
Sampai akhirnya, sebuah kesialan lagi menghampiri gue. Waktu lagi berkunjung ke rumah salah satu teman lama keluarga gue di daerah Sanur, gue mengambil sebuah permen yang ditawarkan. Sebenernya permennya mungkin nggak kenapa-kenapa, tapi gigi gue aja yang memang bermasalah. Karena setelah kunyahan kesekian, permen yang sangat kenyal itu membawa serta tambalan gigi beserta pinggiran geraham gue yang langsung rompal. Gue langsung panik, membayangkan menjalani sisa liburan dengan gigi bolong dan perasaan senut-senut sepanjang hari. Sial.
Kalau menurut nyokap gue, kesialan itu datangnya tiga kali. Jadi seharusnya, setelah tiga kesialan berturut-turut ini, gue akan menjalani sisa liburan dengan tenang (di samping fakta nggak punya HP dan gigi linu-linu). Tapi justru keseruan yang paling edan masih disimpan untuk akhir liburan ini.
Setelah sebagian besar anggota keluarga pulang, gue dan adik gue memperpanjang liburan dan pindah dari Discovery Hotel di Kartika Plaza ke hotel yang lebih merakyat, Oasis Kuta. Lokasinya oke, harganya reasonable, dan desainnya yang minimalis juga lumayan bikin betah.Memang ada bau-bauan yang sedikit aneh di daerah balkon kamar kita (kamarnya langsung menghadap ke kolam renang besar yang terletak di bagian tengah hotel yang berbentuk huruf U), tapi kita berusaha untuk nggak peduli.
Sampai saat hari kedua kita nginep di sana, kita dibuat kaget dengan rombongan polisi yang tiba-tiba mengerumuni sekitar kamar kita. Usut punya usut, ternyata di balkon sebelah kamar kita, ditemukan janin yang udah berumur beberapa hari. Bayangin aja!!! Berasa ada di tontonan Buser atau acara-acara kriminal gitu. Dan gue sama adik gue langsung ngebayangin bau-bauan aneh yang udah kita cium keberadaannya sejak kemarin. Huaaaa!!!!! Gue nggak habis pikir, kenapa ada orang yang dengan gilanya meninggalkan janin di kamar hotel. Apa nggak ada tempat lain ya??? Sinting.
Dan itulah. Liburan gue diawali dengan kejadian menyebalkan, dan diakhiri dengan kejadian mengerikan. But overall I enjoyed my holiday, because what is a holiday without a little bit of madness, right? =)
Thursday, January 19, 2012
Tentang Parenting (LAGI??)
Kayaknya topik ini sering banget deh ya diomongin, sampe pusing sendiri bawaannya, hehe...Tapi karena jadi orang tua itu status seumur hidup, pelajaran yang didapat pun sepertinya tidak berakhir.
I'm not gonna talk about UHT, home made food, imunisasi dan sebangsanya ya, karena udah banyak banget bahasan tentang itu di blog para ibu lainnya yang lebih kompeten daripada gue =p And frankly speaking, gue termasuk yang cuek soal topik beginian. Gue masih ngasih susu pertumbuhan (bukan UHT), suka beliin Yofel makanan di restoran (dan sesekali nggak bisa terhindar dari MSG si musuh bersama), dan gue melengkapi Yofel dengan imunisasi, apapun yang disarankan dokter (meski masih suka telat, hehe).
Jadi, jadi, jadiiiiii....sebenernya tulisan ini dibuat karena gue kepikiran beberapa hal yang terjadi dalam lingkup hidup gue akhir-akhir ini.
Salah satunya, tante gue, yang baru-baru ini curhat sama nyokap gue tentang ketidakrelaannya melepaskan anak perempuannya yang paling besar untuk menikah dengan seorang lelaki dari Inggris. Kenapa nggak rela? Karena anak bungsunya pun sudah diboyong oleh suaminya, yang juga seorang British guy. Masa harus dua-duanya sih kawin sama bule? Gitulah kira-kira keluh kesah si tante sama nyokap gue. Tapi di lain pihak, tante gue ini juga sadar kalau anak-anaknya sudah dewasa. Apalagi, yang menyekolahkan mereka ke London sehingga akhirnya ketemu dengan para pria Inggris itu juga tante gue. Jadi dilema sebagai orang tua itu emang gak pernah berakhir ya. Seberapapun dewasanya anak kita nanti, tetep akan ada "my little kiddo" sense yang menguasai hati kita.
Hal yang mirip juga menimpa nyokap gue, saat adik gue mengakhiri hubungannya dengan cowok yang sudah dianggap anak sendiri sama nyokap gue. Sambil berlinangan air mata, nyokap bercerita sama gue tentang harapan-harapannya, apalagi usianya yang semakin tua dan cita-citanya ingin melihat adik gue bahagia. Tapi kenyataannya adik gue nggak bahagia, jadi harusnya nyokap lebih mudah menerima dong? Ternyata nggak sesimpel itu. Meski nyokap bilang sekarang sudah bukan jaman Siti Nurbaya, tetep saja sebagai orang tua ada perasaan "memiliki" anaknya, ingin memilihkan "yang terbaik" untuk anaknya. Dan who knows? Sometimes, parents know best. But still, children have their own thinking, living their own life.
Merinding juga membayangkan suatu saat nanti gue harus siap menghadapi hal yang sama. Merelakan. Melepaskan. Dan mendoakan. Bukan memiliki, apalagi mengatur hidup anak gue.
Ujian terkecil datang setelah libur tahun baru kemarin. Ketika nanny-nya Yofel cuti dan pulang kampung, sementara gue dan Rayo sudah harus masuk kerja. Akhirnya, kita memutuskan untuk menitipkan Yofel di Bogor. Without nanny. Without us. And it's damn difficult at first! (Sebelumnya, gue sudah beberapa kali meninggalkan Yofel karena harus dinas, rekor terlama adalah 2 minggu, tapi selalu ada nanny atau papanya). Takut juga Yofel kangen dan mencari-cari kita. Takut Yofel nggak mau makan. Takut oma opanya di Bogor stress. Dan nggak rela kalau mereka sampai melakukan hal-hal yang "kurang sesuai" dengan kebiasaan kita.
But turned out, everything's going well. Yofel emang susah makannya (but he's a picky eater anyway, doesn't matter who watched for him), kadang bertanya-tanya di mana mama, papa atau ncus. Tapi toh, he lives! And we live too =)
Jadi...dua puluh tahunan lagi, harusnya kita siap dong ya melepas dia? Merelakan dia memilih jalan hidupnya? (yea, rite!!!!)
Kayaknya topik ini sering banget deh ya diomongin, sampe pusing sendiri bawaannya, hehe...Tapi karena jadi orang tua itu status seumur hidup, pelajaran yang didapat pun sepertinya tidak berakhir.
I'm not gonna talk about UHT, home made food, imunisasi dan sebangsanya ya, karena udah banyak banget bahasan tentang itu di blog para ibu lainnya yang lebih kompeten daripada gue =p And frankly speaking, gue termasuk yang cuek soal topik beginian. Gue masih ngasih susu pertumbuhan (bukan UHT), suka beliin Yofel makanan di restoran (dan sesekali nggak bisa terhindar dari MSG si musuh bersama), dan gue melengkapi Yofel dengan imunisasi, apapun yang disarankan dokter (meski masih suka telat, hehe).
Jadi, jadi, jadiiiiii....sebenernya tulisan ini dibuat karena gue kepikiran beberapa hal yang terjadi dalam lingkup hidup gue akhir-akhir ini.
Salah satunya, tante gue, yang baru-baru ini curhat sama nyokap gue tentang ketidakrelaannya melepaskan anak perempuannya yang paling besar untuk menikah dengan seorang lelaki dari Inggris. Kenapa nggak rela? Karena anak bungsunya pun sudah diboyong oleh suaminya, yang juga seorang British guy. Masa harus dua-duanya sih kawin sama bule? Gitulah kira-kira keluh kesah si tante sama nyokap gue. Tapi di lain pihak, tante gue ini juga sadar kalau anak-anaknya sudah dewasa. Apalagi, yang menyekolahkan mereka ke London sehingga akhirnya ketemu dengan para pria Inggris itu juga tante gue. Jadi dilema sebagai orang tua itu emang gak pernah berakhir ya. Seberapapun dewasanya anak kita nanti, tetep akan ada "my little kiddo" sense yang menguasai hati kita.
Hal yang mirip juga menimpa nyokap gue, saat adik gue mengakhiri hubungannya dengan cowok yang sudah dianggap anak sendiri sama nyokap gue. Sambil berlinangan air mata, nyokap bercerita sama gue tentang harapan-harapannya, apalagi usianya yang semakin tua dan cita-citanya ingin melihat adik gue bahagia. Tapi kenyataannya adik gue nggak bahagia, jadi harusnya nyokap lebih mudah menerima dong? Ternyata nggak sesimpel itu. Meski nyokap bilang sekarang sudah bukan jaman Siti Nurbaya, tetep saja sebagai orang tua ada perasaan "memiliki" anaknya, ingin memilihkan "yang terbaik" untuk anaknya. Dan who knows? Sometimes, parents know best. But still, children have their own thinking, living their own life.
Merinding juga membayangkan suatu saat nanti gue harus siap menghadapi hal yang sama. Merelakan. Melepaskan. Dan mendoakan. Bukan memiliki, apalagi mengatur hidup anak gue.
Ujian terkecil datang setelah libur tahun baru kemarin. Ketika nanny-nya Yofel cuti dan pulang kampung, sementara gue dan Rayo sudah harus masuk kerja. Akhirnya, kita memutuskan untuk menitipkan Yofel di Bogor. Without nanny. Without us. And it's damn difficult at first! (Sebelumnya, gue sudah beberapa kali meninggalkan Yofel karena harus dinas, rekor terlama adalah 2 minggu, tapi selalu ada nanny atau papanya). Takut juga Yofel kangen dan mencari-cari kita. Takut Yofel nggak mau makan. Takut oma opanya di Bogor stress. Dan nggak rela kalau mereka sampai melakukan hal-hal yang "kurang sesuai" dengan kebiasaan kita.
But turned out, everything's going well. Yofel emang susah makannya (but he's a picky eater anyway, doesn't matter who watched for him), kadang bertanya-tanya di mana mama, papa atau ncus. Tapi toh, he lives! And we live too =)
Jadi...dua puluh tahunan lagi, harusnya kita siap dong ya melepas dia? Merelakan dia memilih jalan hidupnya? (yea, rite!!!!)
Tuesday, January 10, 2012
Thank You God
Awal tahun, sungguhlah saat yang tepat untuk bersyukur atas kebaikan Tuhan di tahun sebelumnya, sambil tentunya berharap yang baik-baik untuk hari-hari ke depan.
Tapi sejujurnya gue sedikit risih kalau ada orang yang sedikit-sedikit bersyukur pada Tuhan karena segala kejadian baik yang ada dalam hidupnya...kadang tanpa memikirkan apa yang menimpa orang lain.
Contoh.
Kemarin, di salah satu BB Grup, pembicaraan sedang berkisar tentang musim hujan, daerah-daerah yang diprediksi akan banjir, dan sejenisnya. Ada satu orang yang mem-forward berita tentang daerah di Jakarta yang katanya sih bakal jadi korban banjir lima tahunan yang terkenal itu. Lalu, karena merasa daerahnya tidak muncul di daftar itu, langsung deh beberapa orang memuji-muji nama Tuhan. "Puji Tuhan daerahku nggak ada", "Wahh..Tuhan luar biasa masih jaga kita ya", dll dsb.
Kalo lagi iseng sih gue bisa nyeletuk, "Trus di daerah-daerah yang kena banjir itu, Tuhan nggak ada gitu? Salah apa ya mereka sampe nggak dilindungi sama yang di atas?"
Contoh lagi.
Seorang teman cerita, dia sedang buru-buru mau ke kantor, karena sudah terlambat. Akhirnya dia nekat menerobos 3 in 1. Dan ternyata, seorang polisi yang jeli melihatnya, lalu langsung mengambil motornya. Tapi keberuntungan ada di pihaknya. "Tuhan baik banget deh, motor polisi itu nggak bisa distarter! Ajaib ya!"
Manusia itu kadang memang sangat egosentris ya. Yang ada di pikiran kita hanyalah kita, kita dan kita. Tak terkecuali gue, yang selaluuuu berkutat dengan masalah gue sendiri. Yang bersyukur sepenuh hati kalau lagi dapet rejeki, tapi mengeluh sekalinya mendapat sedikit tantangan.
Bersyukur itu perlu. Perlu banget. Tapi jangan lupakan juga esensi dari kebaikan Tuhan itu sendiri.
Happy 2012, hopefully I did not start this year with a too negative post ya =D
Awal tahun, sungguhlah saat yang tepat untuk bersyukur atas kebaikan Tuhan di tahun sebelumnya, sambil tentunya berharap yang baik-baik untuk hari-hari ke depan.
Tapi sejujurnya gue sedikit risih kalau ada orang yang sedikit-sedikit bersyukur pada Tuhan karena segala kejadian baik yang ada dalam hidupnya...kadang tanpa memikirkan apa yang menimpa orang lain.
Contoh.
Kemarin, di salah satu BB Grup, pembicaraan sedang berkisar tentang musim hujan, daerah-daerah yang diprediksi akan banjir, dan sejenisnya. Ada satu orang yang mem-forward berita tentang daerah di Jakarta yang katanya sih bakal jadi korban banjir lima tahunan yang terkenal itu. Lalu, karena merasa daerahnya tidak muncul di daftar itu, langsung deh beberapa orang memuji-muji nama Tuhan. "Puji Tuhan daerahku nggak ada", "Wahh..Tuhan luar biasa masih jaga kita ya", dll dsb.
Kalo lagi iseng sih gue bisa nyeletuk, "Trus di daerah-daerah yang kena banjir itu, Tuhan nggak ada gitu? Salah apa ya mereka sampe nggak dilindungi sama yang di atas?"
Contoh lagi.
Seorang teman cerita, dia sedang buru-buru mau ke kantor, karena sudah terlambat. Akhirnya dia nekat menerobos 3 in 1. Dan ternyata, seorang polisi yang jeli melihatnya, lalu langsung mengambil motornya. Tapi keberuntungan ada di pihaknya. "Tuhan baik banget deh, motor polisi itu nggak bisa distarter! Ajaib ya!"
Manusia itu kadang memang sangat egosentris ya. Yang ada di pikiran kita hanyalah kita, kita dan kita. Tak terkecuali gue, yang selaluuuu berkutat dengan masalah gue sendiri. Yang bersyukur sepenuh hati kalau lagi dapet rejeki, tapi mengeluh sekalinya mendapat sedikit tantangan.
Bersyukur itu perlu. Perlu banget. Tapi jangan lupakan juga esensi dari kebaikan Tuhan itu sendiri.
Happy 2012, hopefully I did not start this year with a too negative post ya =D
Wednesday, December 28, 2011
2011 Best Finds
We're saying goodbye to 2011 in a few days, so many memorable moments, laughter and tears, things that I will remember for the rest of my life.
Here are some of my best finds in 2011.
1. Kramersbooks and Afterwords Cafe
The coolest bookstore ever. It's located in Dupont Circle, Washington, DC, and I was lucky enough to visit the store when I went to DC this past summer. The bookstore has a certain cool vibe,with shelves full of books at the front area and a bar in the back. And thankfully, it's not as pretentious as Aksara! And the books are cheap too =) My perfect kind of place. I wish there's a place like this someday in Indonesia.
2. My birthday is on Thanksgiving day!
I've never celebrated thanksgiving before, but this year, for the first time in my office's history (and my history as well!), we celebrated thanksgiving. Complete with two huge turkeys, so many delicious traditional food, and the best home made pumpkin pie ever, made by my American colleague's girlfriend. And the best part? We had the celebration on my birthday! So it's considered my birthday celebration too! (without me even spending a dime, hee hee!)
3. Book Blogger Indonesia
I bumped into this crowd on the internet when I was in my lowest moment. Suddenly my spirit was lifted again, knowing these people who shared the same passion with me: books! Since I joined the group, I only had chance to meet with two of them, but it felt like I know all of them forever =)
4. Hummingbird
Bandung is still at the top of my list if I want to find a good place to eat. Frankly speaking, so many overpriced restaurants and cafes in Jakarta, making the good culinary experience turn into a not so good financial situation. So I'm so happy everytime I went to Bandung, there are new places, affordable but nice places, ready to be tried. Hummingbird is one of my favorites this year. A cute little restaurant, has a warm ambiance, and quite good food too. Try the roast chicken with rosemary and their peach tea. Yummy! =)
5. Discount time, baby!
One of the best inventions in internet era so far is the promo and discount site! Me and my colleagues are addicted buying the promos from sites like Deal Keren and Ada Diskon. It's so much fun! Not only the feeling that we had been saving money (a mexican buffet lunch for only IDR 40k, or fancy karaoke for IDR 15k per person, hurray!), but also the chance to try something we never did before. I found a good dentist from one of the promos, and I even tried to do a treatment here, for a very very cheap price. I love discount sites! Who doesn't??? =p
6. Meat is still my choice
I'm totally not against vegetarian. I admire them! But from what I experienced this year, vegetarian is not my way (yet). Especially since I found some places serving really nice carnivore-dish =D One of them is Moe's Place, a great place in Kemang, their specialty is ribs (my choice is baby-back pork ribs, it's heaveeeen!!!!). The quality is almost the same as Tony Romas, but with almost half the price. We celebrated our anniversary there (without even planning it), and we had a great surprise, 25% discount! When I asked until when they'll have the promo, the waiter answered "We haven't decided yet". So go there, hurry! =) Ow, and I also had the best steak of the year, in Outback (I tried the one in Ratu Plaza). Their Outback Special is ridiculously delicious, a very juicy sirloin (ask them to serve the medium one). It’s indescribable =)
7. Time.com
My most favorite site of the year! Their articles, especially the ones in "Top 10" category, saved me in the most boring day at the office or even the most stressful ones. I love how the editors write in a witty, smarty-ass way but still delightful to read. I envy their creativity. Read this Top 10 Everything of 2011 and you'll be taken into a great journey of the year =)
8. BCL
What? The singer? Are you kidding me? Certainly not. Luckily, I'm still sane =D And I found an old school amusement park in Bandung, called Bandung Carnival Land (or BCL!), thanks to my sister =)I took Yofel there and it's a great change from an overly expensive playground at the malls. The simple yet terrifying roller coaster, the as bright as carnival lights, and even the ancient haunted house with the "real" ghosts =) Crazy fun!
9. Sriti Hotel
This is a hotel we stayed at when we had Christmas holiday last week in Magelang. The hotel is surprisingly good, with clean and tidy rooms, nice pool, and warm Christmas-y feeling. It's not that expensive too, about IDR 350k per night for standard room (but a bit more expensive during holiday seasons),located in the center of the city. I will definitely recommend it for anyone who wants to crash in Magelang.
10. Bookish Me
2011 had offered me many great moments as a bookworm. I found several very great books this year. One of them is Special Topics in Calamity Physics. This is not a new book, but it's my best book of the year. Been a while since I read a book that can haunt me long after I finish it. Marisha Pessl had written a really nice debut novel about a girl who tries to find her identity, in the middle of a mysterious murder. The other book is Jellicoe Road, a coming-of-age novel by Melina Marchetta, very intense but enjoyable at the same time. Both novels have brilliant slash crazy epilogue, not to be missed for anything. Probably my favorite epilogues ever!!! I do look forward to reading more good books next year. Fingers crossed!!!
Ow, and another great bookish experience is when I was asked by The Urban Mama to represent them as a speaker for Aleph (Paulo Coelho) Book Discussion with Times Bookstore. Crazily nervous, but in the end, I loved the experience! =)
11. Dinosaurs Rule!
Yofel is in love with dinosaurs. Literally =) And the good news is, I found so many great things related to this ancient animal. Cool books, movies, t shirts, birthday cupcakes and even a big T Rex baloon we bought in ELC. And I found so many interesting facts about dinosaurs too, thanks to Yofel and his obsession =) At least he's not into guns and robot (yet!), but if he does reach that stage, I will let his Dad take over the stage =D
Anyway, it's been a great year, of course lots of stumbling too along with the climbs. But I am very grateful for this wonderful 2011, and looking forward to a great 2012 as well. Wishing everybody more adventures to come! Happy new year! =)
We're saying goodbye to 2011 in a few days, so many memorable moments, laughter and tears, things that I will remember for the rest of my life.
Here are some of my best finds in 2011.
1. Kramersbooks and Afterwords Cafe
2. My birthday is on Thanksgiving day!
I've never celebrated thanksgiving before, but this year, for the first time in my office's history (and my history as well!), we celebrated thanksgiving. Complete with two huge turkeys, so many delicious traditional food, and the best home made pumpkin pie ever, made by my American colleague's girlfriend. And the best part? We had the celebration on my birthday! So it's considered my birthday celebration too! (without me even spending a dime, hee hee!)
3. Book Blogger Indonesia
I bumped into this crowd on the internet when I was in my lowest moment. Suddenly my spirit was lifted again, knowing these people who shared the same passion with me: books! Since I joined the group, I only had chance to meet with two of them, but it felt like I know all of them forever =)
4. Hummingbird
Bandung is still at the top of my list if I want to find a good place to eat. Frankly speaking, so many overpriced restaurants and cafes in Jakarta, making the good culinary experience turn into a not so good financial situation. So I'm so happy everytime I went to Bandung, there are new places, affordable but nice places, ready to be tried. Hummingbird is one of my favorites this year. A cute little restaurant, has a warm ambiance, and quite good food too. Try the roast chicken with rosemary and their peach tea. Yummy! =)
5. Discount time, baby!
One of the best inventions in internet era so far is the promo and discount site! Me and my colleagues are addicted buying the promos from sites like Deal Keren and Ada Diskon. It's so much fun! Not only the feeling that we had been saving money (a mexican buffet lunch for only IDR 40k, or fancy karaoke for IDR 15k per person, hurray!), but also the chance to try something we never did before. I found a good dentist from one of the promos, and I even tried to do a treatment here, for a very very cheap price. I love discount sites! Who doesn't??? =p
6. Meat is still my choice
I'm totally not against vegetarian. I admire them! But from what I experienced this year, vegetarian is not my way (yet). Especially since I found some places serving really nice carnivore-dish =D One of them is Moe's Place, a great place in Kemang, their specialty is ribs (my choice is baby-back pork ribs, it's heaveeeen!!!!). The quality is almost the same as Tony Romas, but with almost half the price. We celebrated our anniversary there (without even planning it), and we had a great surprise, 25% discount! When I asked until when they'll have the promo, the waiter answered "We haven't decided yet". So go there, hurry! =) Ow, and I also had the best steak of the year, in Outback (I tried the one in Ratu Plaza). Their Outback Special is ridiculously delicious, a very juicy sirloin (ask them to serve the medium one). It’s indescribable =)
7. Time.com
My most favorite site of the year! Their articles, especially the ones in "Top 10" category, saved me in the most boring day at the office or even the most stressful ones. I love how the editors write in a witty, smarty-ass way but still delightful to read. I envy their creativity. Read this Top 10 Everything of 2011 and you'll be taken into a great journey of the year =)
8. BCL
What? The singer? Are you kidding me? Certainly not. Luckily, I'm still sane =D And I found an old school amusement park in Bandung, called Bandung Carnival Land (or BCL!), thanks to my sister =)I took Yofel there and it's a great change from an overly expensive playground at the malls. The simple yet terrifying roller coaster, the as bright as carnival lights, and even the ancient haunted house with the "real" ghosts =) Crazy fun!
9. Sriti Hotel
This is a hotel we stayed at when we had Christmas holiday last week in Magelang. The hotel is surprisingly good, with clean and tidy rooms, nice pool, and warm Christmas-y feeling. It's not that expensive too, about IDR 350k per night for standard room (but a bit more expensive during holiday seasons),located in the center of the city. I will definitely recommend it for anyone who wants to crash in Magelang.
10. Bookish Me
2011 had offered me many great moments as a bookworm. I found several very great books this year. One of them is Special Topics in Calamity Physics. This is not a new book, but it's my best book of the year. Been a while since I read a book that can haunt me long after I finish it. Marisha Pessl had written a really nice debut novel about a girl who tries to find her identity, in the middle of a mysterious murder. The other book is Jellicoe Road, a coming-of-age novel by Melina Marchetta, very intense but enjoyable at the same time. Both novels have brilliant slash crazy epilogue, not to be missed for anything. Probably my favorite epilogues ever!!! I do look forward to reading more good books next year. Fingers crossed!!!Ow, and another great bookish experience is when I was asked by The Urban Mama to represent them as a speaker for Aleph (Paulo Coelho) Book Discussion with Times Bookstore. Crazily nervous, but in the end, I loved the experience! =)
11. Dinosaurs Rule!
Yofel is in love with dinosaurs. Literally =) And the good news is, I found so many great things related to this ancient animal. Cool books, movies, t shirts, birthday cupcakes and even a big T Rex baloon we bought in ELC. And I found so many interesting facts about dinosaurs too, thanks to Yofel and his obsession =) At least he's not into guns and robot (yet!), but if he does reach that stage, I will let his Dad take over the stage =D
Anyway, it's been a great year, of course lots of stumbling too along with the climbs. But I am very grateful for this wonderful 2011, and looking forward to a great 2012 as well. Wishing everybody more adventures to come! Happy new year! =)
Tuesday, December 13, 2011
Skills I Want To Have
Kadang-kadang gue masih diminta menulis sebagai kontributor untuk majalah ELLE Indonesia. Dan terakhir, gue menulis satu artikel yang mengangkat profil perempuan yang berprofesi di bidang sex & relationship.
Salah satu perempuan yang gue interview adalah Natalia Indrasari, seorang marriage & family therapist yang berdomisili di Amerika Serikat. Iseng gue ajukan pertanyaan, "What do you think about happily ever after marriage? Does it even exist?"
Dan inilah jawabannya =)
"Happily ever after could be a reality and is realistic wish asalkan tahu 'pilar-pilar' apa yang dibutuhkan dan juga menjalaninya. Sebelum menikah, kita bisa mempelajari dan latihan mempraktekkan skill-skill yang dibutuhkan untuk hubungan perkawinan yang sehat (communication skill, problem solving skill, prioritizing skill, budgeting, dll). Sebaiknya ketika jatuh cinta, mata dan telinga harus dibuka lebar-lebar. Kalau pun ketahuan tidak cocoknya sebelum menikah, itu lebih baik daripada tahunya setelah menikah. Untuk pasangan yang sudah menikah, coba luangkan waktu untuk tidak hanya membicarakan masalah 'logistik' sehari-hari (anak, schedule, rutinitas), tapi coba biasakan untuk membicarakan misi dan visi keluarga, ke mana keluarga ini mau di bawa, dan apa peran dan harapan masing-masing anggota keluarganya. Sense of humor adalah salah satu skill yang baik dan bisa membuat pasangan lebih bahagia , biaskan untuk 'be playful' dengan pasangan, jangan selalu serius, namun ini harus dilakukan di saat yang tepat. Biasakan untuk mencoba kegiatan baru bersama pasangan (tanpa selalu menyertakan anak), mempelajari hal baru (tidak harus kemudian menjadi ahli) bisa meningkatkan kuatnya ikatan pasangan. Coba benar-benar cari tahu 'inner quality' apa yang membuat pasangan jatuh cinta pada kita dan pertahankan kualitas tersebut. Misalnya suami jatuh cinta karena kita dipandang sebagai wanita yang cerdas dan supel, coba pertahankan untuk tetap cerdas dan tetap supel. Coba perlakukan pasangan kita setidaknya sebaik kita memperlakukan teman kita. 'pick your battle' jangan semua masalah dijadikan ajang pertengkaran, pilih hal-hal yang benar-benar penting untuk kita, misalnya hal-hal yang berhubungan dengan prinsip, selebihnya kita harus bisa 'let go'. Belajar untuk 'fight fair', pasangan yang bahagia itu bukan pasangan yang tidak pernah bertengkar, namun pasangan yang walaupun bertengkar tidak kehilangan 'respect' satu sama lain, sama-sama bertujuan mencari pemecahan terbaik dan berani bertanggung jawab akan konsekuensi dari keputusannya."
Thank you Natalia, sudah mengingatkan gue tentang janji yang gue ucapkan 3 tahun yang lalu. Sometimes time flies so fast, and I forgot what's my reason when I decided to spend my life with my guy. Apalagi setelah ada anak, rasanya waktu gue jauhhh lebih banyak dihabiskan dengan anak gue.
So many ups and downs. So many obstacles, from little things like the way he eats and the way he talks, to the most challenging issues like raising a kid and managing our finance. Marriage is indeed a battlefield! But it's worth to fight for.
Happy 3rd anniversary Bung, cheers to our next adventures to come! =)
Kadang-kadang gue masih diminta menulis sebagai kontributor untuk majalah ELLE Indonesia. Dan terakhir, gue menulis satu artikel yang mengangkat profil perempuan yang berprofesi di bidang sex & relationship.
Salah satu perempuan yang gue interview adalah Natalia Indrasari, seorang marriage & family therapist yang berdomisili di Amerika Serikat. Iseng gue ajukan pertanyaan, "What do you think about happily ever after marriage? Does it even exist?"
Dan inilah jawabannya =)
"Happily ever after could be a reality and is realistic wish asalkan tahu 'pilar-pilar' apa yang dibutuhkan dan juga menjalaninya. Sebelum menikah, kita bisa mempelajari dan latihan mempraktekkan skill-skill yang dibutuhkan untuk hubungan perkawinan yang sehat (communication skill, problem solving skill, prioritizing skill, budgeting, dll). Sebaiknya ketika jatuh cinta, mata dan telinga harus dibuka lebar-lebar. Kalau pun ketahuan tidak cocoknya sebelum menikah, itu lebih baik daripada tahunya setelah menikah. Untuk pasangan yang sudah menikah, coba luangkan waktu untuk tidak hanya membicarakan masalah 'logistik' sehari-hari (anak, schedule, rutinitas), tapi coba biasakan untuk membicarakan misi dan visi keluarga, ke mana keluarga ini mau di bawa, dan apa peran dan harapan masing-masing anggota keluarganya. Sense of humor adalah salah satu skill yang baik dan bisa membuat pasangan lebih bahagia , biaskan untuk 'be playful' dengan pasangan, jangan selalu serius, namun ini harus dilakukan di saat yang tepat. Biasakan untuk mencoba kegiatan baru bersama pasangan (tanpa selalu menyertakan anak), mempelajari hal baru (tidak harus kemudian menjadi ahli) bisa meningkatkan kuatnya ikatan pasangan. Coba benar-benar cari tahu 'inner quality' apa yang membuat pasangan jatuh cinta pada kita dan pertahankan kualitas tersebut. Misalnya suami jatuh cinta karena kita dipandang sebagai wanita yang cerdas dan supel, coba pertahankan untuk tetap cerdas dan tetap supel. Coba perlakukan pasangan kita setidaknya sebaik kita memperlakukan teman kita. 'pick your battle' jangan semua masalah dijadikan ajang pertengkaran, pilih hal-hal yang benar-benar penting untuk kita, misalnya hal-hal yang berhubungan dengan prinsip, selebihnya kita harus bisa 'let go'. Belajar untuk 'fight fair', pasangan yang bahagia itu bukan pasangan yang tidak pernah bertengkar, namun pasangan yang walaupun bertengkar tidak kehilangan 'respect' satu sama lain, sama-sama bertujuan mencari pemecahan terbaik dan berani bertanggung jawab akan konsekuensi dari keputusannya."
Thank you Natalia, sudah mengingatkan gue tentang janji yang gue ucapkan 3 tahun yang lalu. Sometimes time flies so fast, and I forgot what's my reason when I decided to spend my life with my guy. Apalagi setelah ada anak, rasanya waktu gue jauhhh lebih banyak dihabiskan dengan anak gue.
So many ups and downs. So many obstacles, from little things like the way he eats and the way he talks, to the most challenging issues like raising a kid and managing our finance. Marriage is indeed a battlefield! But it's worth to fight for.
Happy 3rd anniversary Bung, cheers to our next adventures to come! =)
Friday, November 25, 2011
Being 31...
...means you have less time to pursue the rest of your dreams
...means you have more regrets, tears and disappointment in life
...means you start to worry about wrinkles, gaining weight and cellulite
...means you face more problems, including domestic problems, kids problems, relationship problems, etc
...means you miss your childhood days more and more...
But being 31...
...also means that you add more experience, golden moments, and valuable lessons into life
...and it also means that God has granted one more year into your life, a fine reason to celebrate!
And being 31 doesn't mean...
...that you have less energy to reach out for your dreams
...or that you won't be given any second chance in life
...or that it's too late to do anything interesting.
All in all, I'm so grateful being 31. And being who I am today =)
Thank you God for everything.
...means you have less time to pursue the rest of your dreams
...means you have more regrets, tears and disappointment in life
...means you start to worry about wrinkles, gaining weight and cellulite
...means you face more problems, including domestic problems, kids problems, relationship problems, etc
...means you miss your childhood days more and more...
But being 31...
...also means that you add more experience, golden moments, and valuable lessons into life
...and it also means that God has granted one more year into your life, a fine reason to celebrate!
And being 31 doesn't mean...
...that you have less energy to reach out for your dreams
...or that you won't be given any second chance in life
...or that it's too late to do anything interesting.
All in all, I'm so grateful being 31. And being who I am today =)
Thank you God for everything.
Friday, November 18, 2011
Reality Bites
Salah satu hal paling sulit dalam pekerjaan gue sekarang adalah mengakui kalau ada beberapa hal yang memang belum bisa diubah dari negara kita ini. Dan hal-hal itu, meski memang bisa terjadi di belahan dunia manapun, sayangnya justru terjadi di Indonesia...dan menimpa orang asing, yang kebetulan menjadi tanggung jawab gue selama mereka tinggal di Indonesia.
I'm talking about sexual harassment.
Miris banget waktu mendengar kalau salah seorang volunteer yang mengajar di Kupang, rumahnya dimasuki oleh seorang laki-laki (tetangga!!!)saat dia sedang mandi, untung saja refleks si cewek ini cukup cepat, dan dia sempat membanting pintu tepat di muka si laki-laki sinting (yang saat itu sudah buka celana!!!)
Belum hilang kekagetan, ada kasus lain lagi di Palembang. Kali ini, masih menimpa volunteer perempuan, yang diikuti oleh seorang laki-laki pengendara motor saat sedang berjalan menuju rumahnya, dan disentuh dengan tidak senonoh oleh makhluk menyedihkan itu.
Yang bikin tambah gemes adalah, ternyata tidak hanya sebagai "korban", tapi bule-bule ini juga merupakan sasaran empuk untuk dituduh menjadi "pelaku pelecehan seksual". Gilanya, peristiwa ini malah menimpa volunteer perempuan yang tiba-tiba dituduh oleh sekelompok anak pesantren di lingkungan rumahnya, kalau dia telah menggoda dan memprovokasi mereka dengan mengenakan bikini di depan anak-anak itu! Sinting banget. Apalagi setelah ditelusuri dan dilakukan sejumlah meeting dengan orang-orang yang terkait, ternyata anak-anak itu terbukti berbohong, entah karena iseng, atau sakit hati pernah ditolak? Who knows.
Kenapa ya, masih harus ada jenis orang seperti ini, yang mencoreng nama Indonesia di dunia luar? Bagaimana bangsa ini mau cerdas sih, kalau orang-orang yang ingin membantu mencerdaskan anak-anak kita malah diperlakukan seperti ini?
Well, it's true that this could happen anywhere in the world. Gue pernah diikuti oleh seorang laki-laki kulit hitam di Washington DC yang keukeuh ngajak gue pergi sama dia dan jadi pacarnya. Gue juga pernah dikerjain sekelompok anak laki-laki keturunan Maroko waktu gue tinggal di Belanda. Di negara semaju apapun, penduduk yang primitif itu memang masih ada.
Tapi alangkah gondoknya saat gue harus mengakui kalau Indonesia, yang penuh dengan orang-orang ramah, baik hati, berpikiran terbuka dan gemar menolong, ternyata masih harus dinodai oleh banyaknya orang sinting, kurang kerjaan dan nggak punya otak, yang menganggap perempuan (apalagi bule!) adalah sasaran empuk hawa nafsu mereka.
Oh well, maafkan posting penuh kemarahan ini ya. I still love this country. It's the crazy people that I can't stand.
Salah satu hal paling sulit dalam pekerjaan gue sekarang adalah mengakui kalau ada beberapa hal yang memang belum bisa diubah dari negara kita ini. Dan hal-hal itu, meski memang bisa terjadi di belahan dunia manapun, sayangnya justru terjadi di Indonesia...dan menimpa orang asing, yang kebetulan menjadi tanggung jawab gue selama mereka tinggal di Indonesia.
I'm talking about sexual harassment.
Miris banget waktu mendengar kalau salah seorang volunteer yang mengajar di Kupang, rumahnya dimasuki oleh seorang laki-laki (tetangga!!!)saat dia sedang mandi, untung saja refleks si cewek ini cukup cepat, dan dia sempat membanting pintu tepat di muka si laki-laki sinting (yang saat itu sudah buka celana!!!)
Belum hilang kekagetan, ada kasus lain lagi di Palembang. Kali ini, masih menimpa volunteer perempuan, yang diikuti oleh seorang laki-laki pengendara motor saat sedang berjalan menuju rumahnya, dan disentuh dengan tidak senonoh oleh makhluk menyedihkan itu.
Yang bikin tambah gemes adalah, ternyata tidak hanya sebagai "korban", tapi bule-bule ini juga merupakan sasaran empuk untuk dituduh menjadi "pelaku pelecehan seksual". Gilanya, peristiwa ini malah menimpa volunteer perempuan yang tiba-tiba dituduh oleh sekelompok anak pesantren di lingkungan rumahnya, kalau dia telah menggoda dan memprovokasi mereka dengan mengenakan bikini di depan anak-anak itu! Sinting banget. Apalagi setelah ditelusuri dan dilakukan sejumlah meeting dengan orang-orang yang terkait, ternyata anak-anak itu terbukti berbohong, entah karena iseng, atau sakit hati pernah ditolak? Who knows.
Kenapa ya, masih harus ada jenis orang seperti ini, yang mencoreng nama Indonesia di dunia luar? Bagaimana bangsa ini mau cerdas sih, kalau orang-orang yang ingin membantu mencerdaskan anak-anak kita malah diperlakukan seperti ini?
Well, it's true that this could happen anywhere in the world. Gue pernah diikuti oleh seorang laki-laki kulit hitam di Washington DC yang keukeuh ngajak gue pergi sama dia dan jadi pacarnya. Gue juga pernah dikerjain sekelompok anak laki-laki keturunan Maroko waktu gue tinggal di Belanda. Di negara semaju apapun, penduduk yang primitif itu memang masih ada.
Tapi alangkah gondoknya saat gue harus mengakui kalau Indonesia, yang penuh dengan orang-orang ramah, baik hati, berpikiran terbuka dan gemar menolong, ternyata masih harus dinodai oleh banyaknya orang sinting, kurang kerjaan dan nggak punya otak, yang menganggap perempuan (apalagi bule!) adalah sasaran empuk hawa nafsu mereka.
Oh well, maafkan posting penuh kemarahan ini ya. I still love this country. It's the crazy people that I can't stand.
Thursday, October 13, 2011
Expect the Unexpected
Sooo..if there's someone asking me what do I learn since I became a mom, probably I would answer: I learn to expect the unexpected. Of course every parent will have high expectations on their children. Healthy, happy, smart and successful. That's totally normal. But sometimes, we just have to accept things as what they are.
I wanted to breastfeed Yofel until he's 2 years old, but unfortunately, I couldn't do it. So many things happened, so many choices had to be made, and eventually we gave him formula. Was it the end of the world? Maybe for some time, it felt like it was. But when I look back at that time now, I can smile and think ,"Well, we have survived, he's healthy and happy and I love him more everyday!"
I wanted Yofel to stay on his car seat everytime we went with car. But for several reasons, we had to give up our car when Yofel was less than 1 year old, and we started to travel by taxi, or by joining someone's car. So we had to say goodbye to the car seat, and well..accept the fact that it doesn't mean the end of the world either =D
I was also dreaming that Yofel will be very easy with eating his food. He will eat everything, from Indonesian food to Middle East one if necessary. He will be very adaptive even if we have to travel to Alaska. But the fact is totally different than my dream! Yofel is a very very very picky eater, not only he doesn't want to eat Mediteranian food (oh well, I can live with this, hehe), he can't even chew his food properly! He's choking and vomiting every time we gave him real solid food. Fried rice? Baked potato? Some fancy quiche? Out of questions.
Sometimes I just want to give up. Sometimes everything seems so difficult. Sometimes I don't have enough patience to deal with all of this. And I could only look at the kids on the next table in the restaurant with full envy. They eat everything!!! Sometimes even in the high chair!! Oh my goodness. God I want that happens on my table so much!!!
But then again, I think I've learned the lessons. I remember when I waited anxiously for Yofel's teeth to show up. And not until he's over 9 months old that miracle happened =D And what about when he kept on crawling until he's one year old? And how happy I was when suddenly, out of the blue,he looked at me with his smiling face, stood up on his two feet, and walked. Just like that!
So I think God does make everything beautiful in His time. I learn to expect the unexpected, and accept the unacceptable. And yet I am very grateful for the lessons Yofel gave me throughout these years.
Happy birthday, my curly boy. These past two years were the most wonderful time in my life =) I love you.
Sooo..if there's someone asking me what do I learn since I became a mom, probably I would answer: I learn to expect the unexpected. Of course every parent will have high expectations on their children. Healthy, happy, smart and successful. That's totally normal. But sometimes, we just have to accept things as what they are.
I wanted to breastfeed Yofel until he's 2 years old, but unfortunately, I couldn't do it. So many things happened, so many choices had to be made, and eventually we gave him formula. Was it the end of the world? Maybe for some time, it felt like it was. But when I look back at that time now, I can smile and think ,"Well, we have survived, he's healthy and happy and I love him more everyday!"
I wanted Yofel to stay on his car seat everytime we went with car. But for several reasons, we had to give up our car when Yofel was less than 1 year old, and we started to travel by taxi, or by joining someone's car. So we had to say goodbye to the car seat, and well..accept the fact that it doesn't mean the end of the world either =D
I was also dreaming that Yofel will be very easy with eating his food. He will eat everything, from Indonesian food to Middle East one if necessary. He will be very adaptive even if we have to travel to Alaska. But the fact is totally different than my dream! Yofel is a very very very picky eater, not only he doesn't want to eat Mediteranian food (oh well, I can live with this, hehe), he can't even chew his food properly! He's choking and vomiting every time we gave him real solid food. Fried rice? Baked potato? Some fancy quiche? Out of questions.
Sometimes I just want to give up. Sometimes everything seems so difficult. Sometimes I don't have enough patience to deal with all of this. And I could only look at the kids on the next table in the restaurant with full envy. They eat everything!!! Sometimes even in the high chair!! Oh my goodness. God I want that happens on my table so much!!!
But then again, I think I've learned the lessons. I remember when I waited anxiously for Yofel's teeth to show up. And not until he's over 9 months old that miracle happened =D And what about when he kept on crawling until he's one year old? And how happy I was when suddenly, out of the blue,he looked at me with his smiling face, stood up on his two feet, and walked. Just like that!
So I think God does make everything beautiful in His time. I learn to expect the unexpected, and accept the unacceptable. And yet I am very grateful for the lessons Yofel gave me throughout these years.
Happy birthday, my curly boy. These past two years were the most wonderful time in my life =) I love you.
Subscribe to:
Posts (Atom)
