myself...

Monday, November 23, 2009

Almost Thirty

Dari mulai usia 22 tahun saat memulai blog ini di pertengahan 2003, sampai akhirnya hampir menginjak usia 30 tahun di penghujung 2009.

From twenty-something girl to almost-thirty, I cherished every moment in life, and tried to squeeze the stories into this simple blog of mine...

Happy 29th birthday, me!

Astrid at 11:28 PM

Thursday, November 19, 2009

On Being a Parent

I always love being an aunt. I have two gorgeous nephews, Matthew, almost 5 years old, and baby Christian, just 2 months old. Being an aunt means you could be the fun person for your nephews, without actually taking a full responsibility to raise them. You could bring them to fun places, buy them funky gifts, and play with them whenever you like it. And when they become more and more naughty, or cranky. you could just send them back to their parents! =)

But being a parent, was something that didn't really match my personality. I never had too much motherly instinct, and when I was a little girl, I didn't have a passion to be a mom or have many kids in the future..

So this is a very new experience for me..I don't know anything about being a parent. I couldn't even change a diaper or hold a baby in the right way! I always in panic mode when my son cries, and I even have a chill every time I call myself Mom. This is totally weird!

But who knows, I actually enjoying my new role as a Mom. Though I still don't have a courage to bath my son, and I couldn't sooth him every time he screams, I started to feel comfortable with this new chapter of my life. I never thought that I could bring myself up at 2 am, while I know that I'm not a morning person at all. Or, how I like to smell minyak telon on his body, when I know that I hated the smell so much before!

True, many criticisms are still on my way. Here are some examples:
Q: What do you give your son? Full ASI?
Me: No, I mix it with formula...
Q: Why?? ASI is the best for baby, you know. At least until 6 months, you should give your baby ASIX (aka ASI exclusive).
Me: I don't produce enough for him.
Q: How do you know? You should try first. He'll be more healthy, clever, and not easily get sick.
Me: But I tried and it's not enough.
Q: Have you tried eating daun katuk? Or kacang hijau? And drink much milk?
Me: I tried all..But its okay, I think formula is also fine for him..
Q: But it's a pity, you know...
Me: ...

Well, it's only one example of how I have to explain my way of raising my kid. Not mentioning the questions about why I hired a babysitter to help me, or why we used disposable diapers, or why I didn't shave my baby's hair when he's turn 40 days old, or why I brought my baby to Bandung although he was just 1 month old... And still many more!

At first, I was very distressed to have so many questions and criticisms pointed at me. Some of the people were being nice, just gave me ideas and suggestions. But others, argh!!! Just a bunch of annoying people with neverending questions.

But now, I try to just let them say whatever they want. This is my son, my kid, my flesh and blood. I think it's me and my guy's right to choose whatever we feel best for him. Every parent wants the best for their baby, right?

ps: and it's sooo very precious experience for me, to watch my guy holding our baby, playing with him and cherishing every moment they have. Especially, when I know that my guy was not a fatherly figure at all, and didn't like children! (although I still couldn't persuade him to change the diapers, yet! haha...)

Astrid at 9:03 AM

Sunday, October 18, 2009

A Miracle Was Born

Jumat, 2 Oktober 2009: Kontrol ke dokter, katanya: Minggu depan kontrol lagi ya, abis itu baru kita siap-siap siaga 1, due-nya sekitar tanggal 17 Oktober...

Sabtu, 3 Oktober 2009: Dua pernikahan dari dua pasang teman baik, udah mulai begah dan nggak ada baju yang cukup memuaskan...

Selasa, 6 Oktober 2009: Masih jalan-jalan, beresin kerjaan kantor, kontrak udah mau abis...

Rabu, 7 Oktober 2009: Berkunjung ke rumah tante gue di Cipete, mengatur rencana kepindahan sementara gue ke sana menjelang lahiran, supaya lebih dekat ke rumah sakit yang berlokasi di Brawijaya..

Kamis, 8 Oktober 2009:

6 am: Merasa bingung karena ada cairan bening merembes dari celana gue. Apa gue ngompol?? Sedikit panik, menelfon dokter tapi belum aktif nomernya, akhirnya menelfon nyokap. Nyokap langsung menyuruh gue berangkat ke rumah sakit. "Itu air ketuban kamu pecah..." Waks!

6.20 am: Thank God, karna jalanan masih sepi, dalam waktu 20 menit kita udah sampai di rumah sakit. Semua kekhawatiran gue tentang jalanan macet atau nggak ada yang nganterin, sirna semua. Semuanya seperti sudah diatur sebaik mungkin...

6.30 am: Pemeriksaan di UGD, ternyata benar air ketuban gue pecah. Gue langsung dioper ke ruang bersalin. Ups. Padahal due gue masih sekitar minggu depan...Setelah diperiksa dalam, ternyata gue belum ada pembukaan sama sekali. Susternya bilang, kita tunggu sampai siang, kalau belum ada kemajuan, terpaksa diambil tindakan. Tindakan apa? tanya gue dengan cemas. Mungkin induksi, jawab si suster dengan tenang. Waks!

11 am: Pemeriksaan berikutnya menunjukkan tidak ada tanda-tanda kemajuan menyangkut pembukaan gue. Dan yang gue takutkan akhirnya terjadilah. Gue diinfus untuk diinduksi. Gue berusaha keras nggak mikirin semua gosip dan mitos tentang betapa sakitnya induksi. Yang lebih bikin gue cemas adalah omongan suster yang bilang kalau dalam waktu 24 jam, bayi gue harus dilahirkan, untuk menghindari habisnya air ketuban, yang bisa berakibat fatal untuk si bayi.

12 pm- 7pm: masa-masa mencemaskan diselingi kontraksi demi kontraksi dan pemeriksaan dalam yang tetap tidak menunjukkan tanda-tanda adanya pembukaan. Frustrasi gue semakin memuncak.

7.30 pm: bukaan satu!

10 pm: bukaan dua!

12 am: bukaan empat!

1 am: bukaan lima, dan frustrasi gue mencapai titik tertinggi. Apalagi waktu si suster (yang sudah berganti shift sampai 4 kali sejak gue pertama kali masuk rumah sakit) bilang, kita liat 3 jam lagi ya, kalau belum ada kemajuan, mungkin harus diambil tindakan. What? 3 jam? Tindakan apa lagi??? Saat itu gue sudah berniat untuk minta ke dokter (yang belum akan datang sebelum bukaan delapan), untuk dioperasi cesar aja. Nggak sanggup gue membayangkan harus bertahan 3 jam lagi, sementara gue udah nyaris 24 jam nggak tidur.

1.30 am: Suami dan nyokap gue akhirnya menelfon si dokter untuk menyampaikan permintaan gue. Selama mereka keluar ruangan, tiba-tiba kontraksi demi kontraksi datang bertubi-tubi. Gilaaa, rasanya nggak bisa digambarin dengan kata-kata. Gue nggak boleh mengejan, padahal ada dorongan yang luar biasa kuat untuk mengejan. Bener-bener bikin frustrasi.

1.35 am: Suster memeriksa dalam lagi, ternyata gue udah bukaan delapan, dokter pun datang dan selanjutnya hanya berupa bayangan-bayangan kabur di benak gue, terdiri dari serangkaian kontraksi dan perasaan mules, perintah-perintah dokter untuk mengejan, menarik napas, menahan napas, dan teriakan-teriakan penyemangat dari suster-suster, suami, dan nyokap gue yang semuanya menemani di dalam ruang bersalin. Sampai akhirnya,

2.10 am: Ayo!! Udah keliatan rambutnya tuh!

dan akhirnya, 2.11 am: Sesosok bayi dibaringkan di dada gue, diiringi rasa takjub luar biasa. A miracle was born.

Jadi, apakah melahirkan itu sakit? Apakah gue kapok punya anak lagi?
Gue nggak tau jawaban pastinya, tapi satu yang bisa gue omongin adalah: it's all worth it, to the tiniest part.

And let me introduce you to our miracle, Joshua Octavian Yofel Souisa.

Astrid at 1:08 PM

Wednesday, October 07, 2009

Here Comes The Ugly Truth...

Bisa dibilang, kehamilan gue bukanlah termasuk kehamilan yang menyusahkan..Banyak mitos (ataupun fakta?) seputar kehamilan yang nggak sempat gue alamin sendiri..Gue nggak mengalami morning sickness (atau yang menurut sebagian orang, lebih tepat disebut all day sickness), gue nggak sempat ngidam macem-macem (yang sedikit membuat gue menyesal, karena sesekali sebenarnya pengen juga nyusahin suami, hahaha), dan gue juga (untungnya) nggak mengalami berbagai gangguan yang kerap gue baca di buku-buku kehamilan atau artikel di internet, seperti sembelit, varises, bahkan kenaikan berat badan yang berlebihan (sebenernya kalo yang ini relatif ya, apakah 15 kg berlebihan? hahaha)...

Yang membuat gue lega, sampai bulan kedelapan, meskipun perut, paha dan teman-temannya sudah membesar dan menampakkan tanda lemak berlebih, belum muncul yang namanya stretchmark, salah satu musuh terbesar para ibu hamil. Padahal gue nggak pakai krim macem-macem, hanya minyak yang gue beli di Jerman, rekomendasi salah seorang teman di sana. Itupun pakainya tidak teratur.

Jadi, gue pantes bersuka ria...Sampai suatu hari, memasuki minggu-minggu terakhir kehamilan, lohhh...kok muncul garis-garis merah di bagian samping perut gue ya? Gue mulai cemas, mencoba berpikir positif dengan mengasumsikan garis-garis itu hanyalah bekas pinggang celana yang kesempitan...Tapi hari demi hari, kok dia masih ada di sana yaaa? Samar-samar sih, tapi cukup mengganggu juga...Dan akhirnya, terpaksalah gue menerima kenyataan pahit, kalau si stretchmark yang terkenal itu sudah masuk ke kehidupan gue..Sedihnyaaa....

Dan berbagai kebenaran menyakitkan lainnya mulai menyusul seiring semakin tuanya usia kehamilan gue...Kaki yang membengkak, jerawat kecil-kecil di jidat..Hahaha, akhirnya gue benar-benar mengalami kekacauan-kekacauan ibu hamil...

Satu hal yang bisa menjadi masukan para ibu hamil di luar sana, janganlah terlalu banyak mendengar atau membaca sumber-sumber tentang kehamilan. Sure, menambah pengetahuan itu penting..Tapi menelan semuanya tanpa disaring, adalah a truly big mistake. Gue masih inget waktu di awal kehamilan dulu, kuping gue sampai panas setiap kali ketemu orang yang ribut berkomentar, "Hamilnya kok kecil sih?" "Perutnya kekecilan tuh, untuk usia kandungan 3 bulan...". Sementara komentar sebagian orang lainnya: "Gede banget lo!" "Gilaaa...belum pernah ngeliat lo segendut ini!"... Dan lain sebagainya.

Begitupun dengan banyak hal di luar sana yang diperuntukkan untuk ibu hamil: info seputar ASI eksklusif, Inisiasi Menyusu Dini, Prenatal Yoga, senam hamil, Hypnobirthing, water birth (melahirkan dalam air),bedah cesar, dan sebagainya. Pilah-pilih mana fakta yang memang sreg di hati, lakukan sesuai kata nurani, minta masukan orang-orang yang paling kita percaya. Kalau memang kondisi tidak memungkinkan untuk lahir normal, cesar bisa jadi pilihan. Kalau memang ASI kurang, tidak ada yang melarang susu formula, dan tidak perlu merasa bersalah (btw, gue sendiri adalah produk susu formula murni, dan sampai saat ini, gue nggak punya alergi, penyakit aneh, dan perkembangan otak gue juga baik-baik aja...So please don't judge something you don't really know about!)..

Belum lagi nasihat sok tau dan mitos-mitos menyesatkan, seperti nggak boleh minum air es, nggak boleh menyentuh makanan pedes, nggak boleh potong rambut, dan larangan aneh lainnya. Akhirnya jalan keluar gue simpel, gue hanya menurut sama apa yang dibilang dokter gue, setelah mengcross-checknya dengan fakta yang ada.

Dan akhirnya...what can I tell? I enjoyed this pregnancy, this unique situation where someone really grew inside my womb. I enjoyed every movement he made, every single moment spent with him inside me, every conversation, and every prayer... Am I scared? Hell yes, I am...I'm scared of the whole unknown world spreads in front of me..And a thousand what ifs that running in my head..

But dear God, I know You're there, and If I could go through these 9 whole months with You by my side, then I could go through anything!

Astrid at 4:12 PM

Thursday, September 24, 2009

Rumor Has It!

Kejadiannya sekitar 2 minggu yang lalu, waktu kakak ipar gue baru ngelahirin ponakan baru gue, Christian Gabriel Lim. Karena lama banget nungguin proses operasi Cesar di rumah sakit dan kakak ipar gue pulih dari bius-biusnya, gue iseng pinjem Blackberry bokap dan mengupdate status gue di Facebook menjadi "Cute baby Christian, welcome to the world!".

Setelah itu, gue nggak online-online lagi, karena terlalu excited menunggu si bayi dipajang bersama bayi-bayi lainnya, yang emang banyak banget lahir pada hari itu (yang adalah tanggal cantik, 9-9-09).

Nggak taunya, telfon mulai berdatangan ke HP gue, ada yang mengkonfirmasi berita kalau gue udah ngelahirin, ada yang nanya, katanya Oktober??? Bahkan sebuah telfon dari rekan kerja gue di Fairtrade menyampaikan, berita lahirannya gue ini sudah heboh sampai ke kantor pusat di Bonn, dan bos gue di sana malah menyuruh temen gue untuk segera beli bunga dan hadiah. WHAT?

Karena penasaran, gue kembali meminjam HP Nokia milik adik gue yang juga bisa connect dengan Facebook. Waks, ternyata banyak banget comment yang udah masuk ke status gue, sebagian besar memberi ucapan selamat atas kelahiran anak gue!!!

Segitunya ya ternyata pengaruh status Facebook dalam hidup kita...Ckckck...No wonder banyak banget gosip yang berawal dari Facebook (atau yang sekarang lebih santer lagi: Twitter!). Yang mengesalkannya lagi, banyak juga dari temen-temen gue yang berkomentar itu nggak bertanya-tanya dulu tentang status gue, tapi langsung main ngucapin slamat aja...Membuat berita semakin simpang siur.

Akhirnya dengan setengah hati, gue terpaksa meralat status gue dengan tambahan keterangan My Nephew setelah nama Christian.

Untuk perkembangan kehamilan gue sendiri, saat ini baru masuk minggu ke 36, udah berasa begah, udah mulai cemas karena masih bingung antara mau cari babysitter, pembantu, atau mudik ke Bandung (unfortunately my guy was really against this last option!!!)...Belanja barang-barang yang sepertinya nggak ada habis-habisnya...Minggu lalu gue baru balik dari Bandung, setelah memutuskan untuk berbelanja sebagian besar kebutuhan baby di Lavie, toko bayi murah meriah komplit yang berlokasi di Jl.Imam Bonjol...

Merasa senang bisa beli begitu banyak barang dengan harga yang masuk akal, plus dapet hadiah stroller pula dari nyokap, hihihi... Sisa barang lainnya gue beli di Mothercare dan counter Pigeon di Taman Anggrek. Dan sekarang, instead of becoming member of Bodyshop, Metro atau Sogo, gue malah mengoleksi kartu-kartu member Pigeon, Mothercare dan sejenisnya..hehehe..Ibu-Ibu banget siiihhh...

Anyway, I will definitely send my friends SMS, or update my FB status in a very CLEAR way, if my baby arrive. Cheers!

Astrid at 6:11 PM

Thursday, September 03, 2009

In A Split Second

Kemarin diawali dengan biasa-biasa aja...Beres-beres rumah, makan siang di sebuah kantin di lantai bawah, lalu mulai membalas email dan merampungkan kerjaan.

Sampai sekitar beberapa menit menjelang pukul 15.00, segalanya langsung berubah. Pertama, hanya terasa sedikit guncangan pelan di sofa tempat gue duduk. Hmm..apa ini? Belum sepmat gue mencerna perasaan aneh yang gue alami, tiba-tiba guncangan berubah semakin kencang, diiringi bunyi-bunyi mengkhawatirkan yang datang dari arah dinding dan langit-langit. Kretek-kretek, begitu bunyinya, seperti ada sesuatu yang mau runtuh.

Shit! Gempa!!!

Gue langsung membuka pintu, keluar ke arah gang yang juga sudah dipenuhi para penghuni lantai 12 yang semuanya tampak panik. Ini memang satu hal yang sangat gue takutkan selama hidup di apartemen. Apalagi kejadiannya pas saat gue lagi sendirian di rumah. Oh no...

Akhirnya gue langsung menghambur ke arah tetangga yang tinggal di unit depan gue, seorang ibu muda dengan dua anaknya yang masih kecil. Ibu ini sudah menetap lumayan lama di apartemen tempat gue tinggal sekarang, jadi sudah mengalami lebih dari dua kali gempa. Gue langsung mengikuti petunjuknya untuk merapat ke dinding, sambil menunggu gempa mereda.

Sialnya, bukannya mereda, guncangan yang ada malah semakin keras, rasanya seperti lagi berdiri di sebuah cabang pohon yang tertiup angin.Goyang-goyang ke kiri dan ke kanan. Refleks, gue langsung memanjatkan doa sambil menggenggam erat tangan si Ibu tetangga. Di sela kepanikan, gue sempat melihat tetangga sebelah gue, seorang cewek kuliahan yang masih belia, sibuk menelepon ibunya sambil melompat-lompat panik, setengah menangis. Dari sudut mata, gue juga sempat menyaksikan rombongan unit apartemen di ujung gang yang terdiri dari anak-anak kecil dan para babysitternya, berlari ke arah tangga darurat.

Saat itu, dalam sekian detik yang mengerikan, gue merasa amat sangat rapuh dan tidak berdaya. Sekelumit bayangan tentang kematian sempat menyusup masuk ke dalam benak. Shit! Gue nggak mau mati dulu! Bayi gue belum lahir, dan gue belum bilang selamat tinggal sama semua orang yang gue sayang!

Untung akhirnya si gempa mereda juga. Gue langsung bergabung bersama puluhan penghuni lainnya turun lewat tangga darurat. And you know what? Big earthquake, being preggie, and living in 12th floor, are not good combinations at all!!! Gue beruntung bisa sampai di lobby dalam keadaan nggak kurang suatu apa, meskipun kaki rasanya lemes banget, berasa kayak lap basah.

Nyampe bawah, pemandangannya bener-bener bervariasi banget. Bapak-bapak yang cuman bercelana pendek, ibu-ibu yang pada nyeker, anak-anak bayi yang nangis-nangis, sampai sekelompok anak kecil yang sepertinya dibangunkan dengan paksa dari tidur siangnya, dan masih tampak shock dengan mata yang sembab. Dalam hati gue bersyukur juga, setidaknya gue nggak lagi mandi, atau tidur siang, waktu gempa terjadi.

Yang agak lucu, aib-aib para penghuni juga langsung ketahuan semua. Banyak dari mereka yang menggendong berbagai jenis anjing kecil peliharaan mereka, padahal di peraturan apartemen jelas-jelas ditegaskan kalau penghuni nggak boleh memelihara hewan, kecuali ikan. Tapi suasana apartemen sore itu jadi meriah dengan berseliwerannya anjing-anjing mungil yang tampak bingung, yang selama ini disembunyikan dengan suksesnya di tiap-tiap unit.

Akhirnya, gue hanya bisa merenungkan kejadian ini. Gempa 7,3 SR yang pusatnya di sebelah barat daya Tasikmalaya. Korban yang berjatuhan. Menelepon keluarga dan orang-orang yang disayangi. Satu hal yang serasa menohok hati gue adalah, we'll never know when our time has come. Kadang, ucapan selamat tinggal hanya menjadi sebuah kemewahan.

Ucapan belasungkawa untuk setiap korban dan keluarga yang ditinggalkan.

Astrid at 12:44 PM

Tuesday, August 11, 2009

Blackberry

Sekitar dua minggu yang lalu, gue menghabiskan akhir pekan sama mantan teman-teman sekantor saat bekerja di majalah hedon dulu. Tidak ada satu pun dari kita yang masih bekerja di kantor yang sama, tapi kita tetap menyempatkan waktu untuk ketemu secara reguler, entah untuk makan siang, makan malam atau sekadar hangout.

Satu orang sekarang bekerja sebagai Managing Editor di sebuah majalah fashion franchise dari Perancis, seorang lagi bekerja di salah satu majalah pernikahan terbesar di Indonesia sebagai Feature Editor, dan satu sisanya sekarang berkutat di bidang Public Relations, mengurus klien-klien cukup raksasa seperti Sony. Hanya gue lah yang melenceng sedikit lebih jauh dari dunia hedon, karena sekarang berkecimpung di organisasi non-profit dan bekerja mengurus para petani.

Saat menyantap makan siang di sebuah restoran dalam Mal Pondok Indah, gue menatap teman-teman gue. Inikah gambaran perempuan Jakarta masa kini? Apakah orang yang melihat kita berempat sedang tertawa-tawa sambil memasukkan potongan-potongan bebek panggang ke dalam mulut akan berpikiran bahwa kita adalah tipikal perempuan yang menghabiskan wiken selalu di dalam mal, yang bener-bener peduli dengan apa yang ditulis di majalah-majalah lifestyle, yang topik pembicaraannya berkisar antara tren fashion, gosip artis atau barang-barang teknologi terbaru?

I hope not. Karna despite the celebrity gossips that we actually talked about (well, one of my friends had just spent a saturday night with Manohara and her family, and how come a thing like that not being a hot topic in our conversation? hehe), kita masih membicarakan hal-hal yang tidak selamanya shallow.

Dan seperti kata salah seorang teman gue itu, "Lucu ya, nggak ada satupun dari kita yang punya handphone canggih.". Gue jadi tergoda membandingkan telepon seluler kita masing-masing, yang ternyata terdiri dari tipe-tipe jadul Nokia dan Sony Ericsson. Nggak ada satu pun Blackberry atau smart phone sejenisnya yang nongol di meja kita. Dan gue kembali berpikir, apakah kita masih masuk hitungan perempuan karir tipikal Jakarta?

Lucu juga ya memang, karena Blackberry yang fungsi utamanya adalah untuk memudahkan segala aktivitas komunikasi kita, terutama yang berkaitan dengan bisnis, sekarang malah dipakai lebih banyak untuk eksis di dunia pergaulan. Terutama untuk mengupdate status di halaman Facebook. Kadang gue suka ketawa-ketawa sendiri kalau membaca status Facebook beberapa teman, yang sepertinya bisa berganti setiap 30 menit sekali.

Dari mulai menu makan siang:"Baru makan ayam goreng, sayur lodeh dan tempe. Enakkkk...", sampai curhat colongan di siang bolong: "Sibuk banget di kantorrr" (tapi sempet"nya update status Facebook!), bahkan ada yang berkenan untuk memberi tahu seisi dunia setiap kali berganti posisi: "Di gedung BRI", lalu 10 menit kemudian "jalan ke Senci", dan tentu tidak lupa mengupdatenya lagi kalau sudah tiba di tempat tujuan. Benar-benar layaknya artis yang siap dikejar-kejar paparazzi ke manapun dia pergi.

Gue juga suka geleng-geleng sendiri setiap kali melihat anak ABG sudah pegang Blackberry, atau justru ibu-ibu arisan yang sibuk membandingkan tipe Blackberry masing-masing, tanpa pernah tau kegunaannya selain dipakai menelepon dan SMS. Ckckck...Dan tentu aja gue sempet ketawa-ketawa waktu banyak yang baru sadar kalau Blackberry ternyata bahkan belum punya service centre resmi di Indonesia. Boro-boro tau tentang IMEI atau kenapa tiba-tiba PIN nya dinonaktifkan!

Untungnya sampai saat ini, gue belum tertarik untuk punya handphone secanggih itu. Buat gue, cukuplah telfon dipakai untuk menelfon dan sms. Atau menggunakannya untuk fasilitas M-Banking. Tapi untuk hidup 24 jam di dunia online? Sepertinya untuk saat ini belum butuh.

Mengutip kata seorang teman gue dari Kanada: "I don't need that amount of communication in my fingertips, yet!"

Astrid at 3:59 PM

ARCHIVES
maystar designsmaystar designsmaystar designs