Well...saying goodbye to Italy in Europe 2008 is one thing (setidaknya kekalahannya nggak semenyakitkan Belanda yang kena santet Rusia, hehehe..plus, yang ngalahin adalah tim favorit gue nomer dua..yahhhh not bad lahhhh)...But saying goodbye to my former puppies....is totally a different thing...
Sedihhh banget deh rasanya harus mengucapkan selamat berpisah satu demi satu sama anak-anak golden mungil yang semakin membesar...Kadang gue suka bertanya-tanya, apa bener, orang yang ngambil mereka bakal memperlakukan mereka dengan baik? Apa bener, mereka bakal bahagia di tempat barunya?
Tapi setelah gue pikir-pikir, selama ini udah berapa banyak coba, orang yang kita bahagiain dengan kehadiran golden" itu? Dan memang, gue jadi berasa punya keluarga baru, yang dihubungin dengan anjing-anjing itu...Kalau ketemu sama pemilik-pemilik mereka pun, gue selalu dikasih tau kabar terbaru... Ada yang baru ngelahirin 10 ekor, ada yang udah disekolahin, ada juga yang selalu semangat ngasih liat foto-foto terbaru...
Nasib golden-golden alumni rumah gue memang beda-beda...Ada yang udah dianggep anak sendiri, karena anak-anak di keluarga itu pada pergi merantau ke luar negeri semua...Ada juga yang beruntung dimiliki oleh salah satu menteri di negara ini (hayo, bingung kan link nya dari mana, hehe)...Dan ada yang malah ditawar-tawar sama pembeli karena bulu dan badannya yang sangat bagus (nggak terlalu memalukanlah, keturunannya, hahaha...). Tapi satu hal kesamaannya, mereka berada di tangan-tangan yang mencintai mereka, dan bahagia dengan kehadiran mereka...
Dan kalau udah mikirin hal-hal itu...gue jadi sedikit lega...Setidaknya, mereka berada di orang-orang yang tepat...ditambah lagi, gue jadi punya hubungan kekeluargaan yang menyenangkan dengan orang-orang itu...Dan lagi, ada yang bilang kan, kalau to love is mostly about letting go...Jadi, gue memutuskan untuk menghilangkan kesedihan gue, and in spite of saying goodbye, maybe i could just wish them the happiest lives...=)
ps: gue kok jadi kepikiran buat reuni keluarga besar golden yah? hehehe...tapi tempat mana pula yang bisa menampung sekitar 40 ekor anjing? =p
Wednesday, June 25, 2008
Wednesday, June 11, 2008
Masih tetep....
Piala Eropa memang nggak segereget Piala Dunia...Yang main timnya gitu" aja, jarang ada kejutan" berarti seperti tim" underdog dari Afrika atau Asia yang suka tiba-tiba berjaya di Piala Dunia...
Tapi tetep sih, bela-belain begadang juga, karena ketidakberuntungan zona waktu Indonesia yang memaksa para penonton untuk terkantuk" setelah semaleman berusaha melek terus..Untungnya gue lagi berada di masa-masa ngantor dari rumah, dengan kerjaan-kerjaan freelance yang menyenangkan, jadi bangun siang bukan merupakan sesuatu yang tabu buat gue =)
Dan biarpun sempat dikecewakan sama tim favorit gue (iya, masih inget sama kecintaan gue dengan tim Azzurri duonk...hehehe), yang kalah 3-0 di pertandingan pertamanya dari tim Oranje (iya, negara kecil tempat gue menuntut ilmu S2 gue...damn damn damnnnn)...gue tetap menikmati permainan mereka...dengan drama-dramanya, Gattuso yang super iseng, Luca Toni yang emosi tinggi, Buffon yang tetep cool, sampe Cannavaro yang menjadi pemandangan paling heartbreaking sepanjang pertandingan, karena hanya bisa termangu" dari bangku cadangan...Gue memang nggak berharap terlalu banyak sama tim Italia di Piala Eropa tahun ini...Pasalnya, nonton Italia dengan beban gelar juara dunia memang lebih nggak asyik dibanding Italia yang hanya memiliki predikat "tim drama, tim diving, tim offside", dan predikat sejenis yang sama konyolnya...
Penuh beban, apalagi dengan cederanya Cannavaro, pelatih yang belum teruji kecanggihannya (we missed you Papa Lippi!!!),dan pemain yang memang lebih tua dari rata-rata usia tim lainnya...menjadi hambatan tersendiri dari tim berseragam biru ini..Makanya gue expect for the least aja, meskipun tetep sedih juga sih, nggak nyangka dibantai segitunya di pertandingan pertama...hiks...
Tapi eniwei...ternyata rasa cinta itu masih ada (nggak kaya beberapa temen gue sesama pencinta Azzurri yang langsung ngeles, "Gue nggak dukung Itali kok di Piala Eropa...lemah!!!!" atau "Itali sih payah, gue ngejagoin Jerman sekarang ini"...Halah. Bisaaa...aja dehhhh).
Dan sempet terhibur juga sih karena jagoan nomer dua gue, Spanyol, berhasil menggilas Rusia 4-1 dengan cantiknya...Way to go!!!
*hmmm...seandainya ada Pippo...mungkin ceritanya bakal laen....* (eits! dilarang protes!!!) =p
Tapi tetep sih, bela-belain begadang juga, karena ketidakberuntungan zona waktu Indonesia yang memaksa para penonton untuk terkantuk" setelah semaleman berusaha melek terus..Untungnya gue lagi berada di masa-masa ngantor dari rumah, dengan kerjaan-kerjaan freelance yang menyenangkan, jadi bangun siang bukan merupakan sesuatu yang tabu buat gue =)
Dan biarpun sempat dikecewakan sama tim favorit gue (iya, masih inget sama kecintaan gue dengan tim Azzurri duonk...hehehe), yang kalah 3-0 di pertandingan pertamanya dari tim Oranje (iya, negara kecil tempat gue menuntut ilmu S2 gue...damn damn damnnnn)...gue tetap menikmati permainan mereka...dengan drama-dramanya, Gattuso yang super iseng, Luca Toni yang emosi tinggi, Buffon yang tetep cool, sampe Cannavaro yang menjadi pemandangan paling heartbreaking sepanjang pertandingan, karena hanya bisa termangu" dari bangku cadangan...Gue memang nggak berharap terlalu banyak sama tim Italia di Piala Eropa tahun ini...Pasalnya, nonton Italia dengan beban gelar juara dunia memang lebih nggak asyik dibanding Italia yang hanya memiliki predikat "tim drama, tim diving, tim offside", dan predikat sejenis yang sama konyolnya...
Penuh beban, apalagi dengan cederanya Cannavaro, pelatih yang belum teruji kecanggihannya (we missed you Papa Lippi!!!),dan pemain yang memang lebih tua dari rata-rata usia tim lainnya...menjadi hambatan tersendiri dari tim berseragam biru ini..Makanya gue expect for the least aja, meskipun tetep sedih juga sih, nggak nyangka dibantai segitunya di pertandingan pertama...hiks...
Tapi eniwei...ternyata rasa cinta itu masih ada (nggak kaya beberapa temen gue sesama pencinta Azzurri yang langsung ngeles, "Gue nggak dukung Itali kok di Piala Eropa...lemah!!!!" atau "Itali sih payah, gue ngejagoin Jerman sekarang ini"...Halah. Bisaaa...aja dehhhh).
Dan sempet terhibur juga sih karena jagoan nomer dua gue, Spanyol, berhasil menggilas Rusia 4-1 dengan cantiknya...Way to go!!!
*hmmm...seandainya ada Pippo...mungkin ceritanya bakal laen....* (eits! dilarang protes!!!) =p
Friday, May 23, 2008
Idol

Setelah hampir 5 bulan setia mengikuti momen demi momen American Idol season 7, akhirnya penantian gue terbayar sudah!!!
Congrats for David Cook, the greatest rocker American Idol ever had..Masih inget performances-nya yang fenomenal pas bawain Hello-nya Lionel Ritchie yang jadi ngerock, Billie Jean yang super keren, dan Always Be My Baby-nya Mariah Carey yang nggak bosen diputer lagi dan lagi...Huhu...Can't wait to have his first album..and cross my fingers for his concert in Asia someday!!! =)
ps: momen yang sangat menghibur terutama setelah Chelsea kalah menyakitkan di penalti dramatis melawan MU...Argh! Champions sucks!!!
pps: setelah American Idol...trus nonton Indonesian Idol, rasanya sakit ati dan sakit telinga...kapan yaaa...bisa berkualitas seperti Idol yang seharusnya? Hate the judges, the so called contestants, and the song choices...(Picked BCL song to prove that you can sing???? As if!!!!!)...
Thursday, May 15, 2008
Dilema Kertas dan Layar Lebar
Note: this had just appeared in Movie Monthly magazine June edition...lumayan, dapet DVD gratisan, hehe...
Saya adalah seorang penggemar film yang juga senang membaca, terutama buku-buku novel fiksi. Mungkin karena ada kesamaan antara menonton film dan membaca buku, makanya dua hobi ini tidak bisa lepas dari kehidupan saya. Menikmati plot yang disajikan, tertawa atau menangis akibat dialog yang ada, menebak-nebak jalannya cerita, sampai akhirnya dikejutkan oleh ending yang tak terduga. Itulah sensasi luar biasa yang saya peroleh ketika menonton sebuah film atau membaca novel fiksi berkualitas bagus.
Tapi bila sudah menyangkut buku yang diangkat ke layar lebar, kenikmatan tersebut berubah menjadi sebuah dilema besar bagi saya. Seperti yang kita semua tahu, baik membaca buku maupun menonton film tentu memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing yang kadang tak dapat tergantikan satu sama lain. Salah satunya adalah imajinasi. Tak bisa disangkal, membaca buku akan melatih imajinasi kita untuk berkembang ke mana-mana. Dari mulai wajah para tokohnya, setting cerita, sampai adegan-adegan di dalamnya, semua berkelebat secara seenaknya di dalam benak kita. Dan tidak ada yang melarang kalau Harry Potter di benak saya, misalnya, ternyata akan lebih ganteng daripada Harry Potter versi Anda. Keunikan inilah yang tidak bisa digantikan dalam sebuah film (sebagus apapun penggarapan film tersebut), karena kita semua akan dipaksa menerima Harry Potter dalam wujud Daniel Radcliffe, tanpa kecuali.
Ada cerita yang tetap enak setelah diangkat ke layar lebar, walaupun sebelumnya berasal dari sebuah novel yang sudah terkenal. Mungkin itu karena sang sutradara memang merupakan fans berat novel tersebut selama bertahun-tahun, sehingga jalan cerita maupun para pemeran yang dipilih untuk film tersebut sedikit banyak mewakili para pembaca pada umumnya. Lord Of The Rings misalnya, tidak banyak menuai protes, justru sebaliknya cukup dipuja-puja termasuk oleh fans novelnya. Tapi tak jarang, film yang diangkat ke layar lebar akan mengundang kekecewaan dan cemooh para penonton, baik yang sudah membaca bukunya, maupun yang justru tidak familiar dengan esensi ceritanya.
Novel Stardust karangan Neil Gaiman adalah salah satu bestseller yang memiliki alur cerita menarik, dengan pilihan kata unik, gaya bahasa sarkastik dan plot yang tidak biasa. Tapi saya cukup kecewa ketika menonton filmnya, dan mendapati kenyataan bahwa novel fiksi yang menarik itu ternyata telah menjelma menjadi tontonan dongeng ala kadarnya. Dari dalam negeri, kekecewaan itu juga pernah terjadi saat saya menyaksikan film Cintapuccino garapan Rudi Soedjarwo. Ketika membaca novel karangan Icha Rahmanti ini, kesan yang saya dapat cukup mendalam juga, karena ceritanya yang tidak seperti chicklit biasa. Realistis dan lumayan bikin mikir, terutama ending nya. Tapi apa mau dikata, ketika dipindah ke layar lebar, filmnya tidak lebih dari kisah cinta ABG yang ringan dan sedikit garing. Padahal, sang penulis novel katanya sudah dilibatkan ke dalam proses pembuatan film tersebut. Mungkin karena pertimbangan dari berbagai pihak, serta keterbatasan waktu, makanya ada bagian-bagian yang harus sedikit diubah, yang sayangnya, jadi mengubah tone cerita keseluruhan. Cukup fatal, sebenarnya…
Kini, dilema besar kembali menghampiri saya ketika melihat daftar nominasi Oscar tahun ini. Cukup banyak film-film bagus yang dijagokan ternyata merupakan adaptasi dari sebuah novel. Saya sudah membaca The Kite Runner, dan sedang bersiap-siap membaca Atonement yang novel versi aslinya diberikan oleh seorang teman. Tapi sekarang, saya jadi ragu sendiri, apakah bijaksana untuk membaca novelnya dulu, atau lebih baik menonton filmnya saja? Belum lagi There Will Be Blood yang diangkat dari buku berjudul Oil, serta No Country For Old Men yang bahkan novel versi terjemahannya sudah beredar di negara kita. Kalau membaca bukunya dulu, nanti kecewa dengan filmnya. Tapi kalau tidak nonton filmnya, kok rasanya sayang ya, karena sudah dinominasikan dalam berbagai penghargaan..
Mungkin dilema ini tidak perlu terjadi bila para filmmaker lokal maupun Hollywood lebih kaya dengan ide-ide orisinal dan tidak sekadar mengadaptasi novel fiksi yang sudah ditulis sebelumnya. Tapi, saya tidak yakin dilema ini segera berakhir, mengingat musim kering ide di Hollywood nampak masih akan lama berlangsung. Bagaimana dengan Indonesia? Agak lebih parah menurut saya, karena sekarang bahkan semua film yang telah ditayangkan di bioskop, langsung dituangkan dalam bentuk novel dan beredar di toko-toko buku. Tren baru? Kalau yang ini sih, memang sekadar mencari untung saja sepertinya. Hehehe…
Astrid Lim
Bandung
Saya adalah seorang penggemar film yang juga senang membaca, terutama buku-buku novel fiksi. Mungkin karena ada kesamaan antara menonton film dan membaca buku, makanya dua hobi ini tidak bisa lepas dari kehidupan saya. Menikmati plot yang disajikan, tertawa atau menangis akibat dialog yang ada, menebak-nebak jalannya cerita, sampai akhirnya dikejutkan oleh ending yang tak terduga. Itulah sensasi luar biasa yang saya peroleh ketika menonton sebuah film atau membaca novel fiksi berkualitas bagus.
Tapi bila sudah menyangkut buku yang diangkat ke layar lebar, kenikmatan tersebut berubah menjadi sebuah dilema besar bagi saya. Seperti yang kita semua tahu, baik membaca buku maupun menonton film tentu memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing yang kadang tak dapat tergantikan satu sama lain. Salah satunya adalah imajinasi. Tak bisa disangkal, membaca buku akan melatih imajinasi kita untuk berkembang ke mana-mana. Dari mulai wajah para tokohnya, setting cerita, sampai adegan-adegan di dalamnya, semua berkelebat secara seenaknya di dalam benak kita. Dan tidak ada yang melarang kalau Harry Potter di benak saya, misalnya, ternyata akan lebih ganteng daripada Harry Potter versi Anda. Keunikan inilah yang tidak bisa digantikan dalam sebuah film (sebagus apapun penggarapan film tersebut), karena kita semua akan dipaksa menerima Harry Potter dalam wujud Daniel Radcliffe, tanpa kecuali.
Ada cerita yang tetap enak setelah diangkat ke layar lebar, walaupun sebelumnya berasal dari sebuah novel yang sudah terkenal. Mungkin itu karena sang sutradara memang merupakan fans berat novel tersebut selama bertahun-tahun, sehingga jalan cerita maupun para pemeran yang dipilih untuk film tersebut sedikit banyak mewakili para pembaca pada umumnya. Lord Of The Rings misalnya, tidak banyak menuai protes, justru sebaliknya cukup dipuja-puja termasuk oleh fans novelnya. Tapi tak jarang, film yang diangkat ke layar lebar akan mengundang kekecewaan dan cemooh para penonton, baik yang sudah membaca bukunya, maupun yang justru tidak familiar dengan esensi ceritanya.
Novel Stardust karangan Neil Gaiman adalah salah satu bestseller yang memiliki alur cerita menarik, dengan pilihan kata unik, gaya bahasa sarkastik dan plot yang tidak biasa. Tapi saya cukup kecewa ketika menonton filmnya, dan mendapati kenyataan bahwa novel fiksi yang menarik itu ternyata telah menjelma menjadi tontonan dongeng ala kadarnya. Dari dalam negeri, kekecewaan itu juga pernah terjadi saat saya menyaksikan film Cintapuccino garapan Rudi Soedjarwo. Ketika membaca novel karangan Icha Rahmanti ini, kesan yang saya dapat cukup mendalam juga, karena ceritanya yang tidak seperti chicklit biasa. Realistis dan lumayan bikin mikir, terutama ending nya. Tapi apa mau dikata, ketika dipindah ke layar lebar, filmnya tidak lebih dari kisah cinta ABG yang ringan dan sedikit garing. Padahal, sang penulis novel katanya sudah dilibatkan ke dalam proses pembuatan film tersebut. Mungkin karena pertimbangan dari berbagai pihak, serta keterbatasan waktu, makanya ada bagian-bagian yang harus sedikit diubah, yang sayangnya, jadi mengubah tone cerita keseluruhan. Cukup fatal, sebenarnya…
Kini, dilema besar kembali menghampiri saya ketika melihat daftar nominasi Oscar tahun ini. Cukup banyak film-film bagus yang dijagokan ternyata merupakan adaptasi dari sebuah novel. Saya sudah membaca The Kite Runner, dan sedang bersiap-siap membaca Atonement yang novel versi aslinya diberikan oleh seorang teman. Tapi sekarang, saya jadi ragu sendiri, apakah bijaksana untuk membaca novelnya dulu, atau lebih baik menonton filmnya saja? Belum lagi There Will Be Blood yang diangkat dari buku berjudul Oil, serta No Country For Old Men yang bahkan novel versi terjemahannya sudah beredar di negara kita. Kalau membaca bukunya dulu, nanti kecewa dengan filmnya. Tapi kalau tidak nonton filmnya, kok rasanya sayang ya, karena sudah dinominasikan dalam berbagai penghargaan..
Mungkin dilema ini tidak perlu terjadi bila para filmmaker lokal maupun Hollywood lebih kaya dengan ide-ide orisinal dan tidak sekadar mengadaptasi novel fiksi yang sudah ditulis sebelumnya. Tapi, saya tidak yakin dilema ini segera berakhir, mengingat musim kering ide di Hollywood nampak masih akan lama berlangsung. Bagaimana dengan Indonesia? Agak lebih parah menurut saya, karena sekarang bahkan semua film yang telah ditayangkan di bioskop, langsung dituangkan dalam bentuk novel dan beredar di toko-toko buku. Tren baru? Kalau yang ini sih, memang sekadar mencari untung saja sepertinya. Hehehe…
Astrid Lim
Bandung
Friday, April 25, 2008
Amazing Mum
No, I'm not talking about my mum now...(Although she IS indeed very amazing). I'm talking about Luna..my beloved golden retriever..
It all began from our carelessness..For several years now, my family has decided to make Luna, the only female dog in our house, become sterile, by giving her the injection every 6 month period. But...for this period, we'd totally forgotten. So the mating season for dogs has come and gone...And suddenly, Luna has become very big..especially her belly...Then we realized, we had made a mistake..
Luna is a seven year old dog, and has given labor four times before (each one not less than seven puppies!!). So according to the vet, she has to get some rest now..The mummy season has already passed..Now she has become a grandma for several grandpuppies...=)
So..we are very panicked when we knew she has become pregnant..-again!!- in her old age..The risk is, she can even get killed when giving labor to the puppies. But what can we do? Getting her an abortion?? Hah. So we just waited and counted the days..until finally one day, she became very restless and cranky...and started to find a spot for her to dig a hole..Ups! We recognized the symptoms too well...It's the time!!
So last night, me and my sister took turn to watch her, preparing milk and bread..And sometime around midnight, the first puppy came out to the world. Followed by another, and another, and another, until they became seven tiny puppies.
If you haven't seen a dog giving a labor before..well, maybe you can't understand why this is becoming very dramatic for us..The thing is, a dog (especially the big one) needs great amount of energy to push one little puppy out, then clean the puppy from the placenta (and eat the placenta!!! can you believe it???), and also cut the cord (and eat it too!!!!).. So..can you imagine the process being repeated for seven times?? For old dog like Luna, it's not going very easy, especially because she did everything by herself.. (Nope, no epidural, no obgyn doctors, and no husband to punch!)
So we watched Luna breathing heavily, getting weaker and weaker each time..And I just wanted to cry. We will never forget again to get the injection..This is the last time!! I can't imagine to lose my dog because of our recklessness...
And thank God, all the puppies were born healthy, and Luna also still survived..Although looked very weak and tired, she just couldn't neglect her mummy instinct..She cleaned everybody, and feed them milk..Gosh...do I have just one third of her mummy instinct??? =p
So..the next task is: for dog lovers out there...anybody for golden retriever puppies???? =)
It all began from our carelessness..For several years now, my family has decided to make Luna, the only female dog in our house, become sterile, by giving her the injection every 6 month period. But...for this period, we'd totally forgotten. So the mating season for dogs has come and gone...And suddenly, Luna has become very big..especially her belly...Then we realized, we had made a mistake..
Luna is a seven year old dog, and has given labor four times before (each one not less than seven puppies!!). So according to the vet, she has to get some rest now..The mummy season has already passed..Now she has become a grandma for several grandpuppies...=)
So..we are very panicked when we knew she has become pregnant..-again!!- in her old age..The risk is, she can even get killed when giving labor to the puppies. But what can we do? Getting her an abortion?? Hah. So we just waited and counted the days..until finally one day, she became very restless and cranky...and started to find a spot for her to dig a hole..Ups! We recognized the symptoms too well...It's the time!!
So last night, me and my sister took turn to watch her, preparing milk and bread..And sometime around midnight, the first puppy came out to the world. Followed by another, and another, and another, until they became seven tiny puppies.
If you haven't seen a dog giving a labor before..well, maybe you can't understand why this is becoming very dramatic for us..The thing is, a dog (especially the big one) needs great amount of energy to push one little puppy out, then clean the puppy from the placenta (and eat the placenta!!! can you believe it???), and also cut the cord (and eat it too!!!!).. So..can you imagine the process being repeated for seven times?? For old dog like Luna, it's not going very easy, especially because she did everything by herself.. (Nope, no epidural, no obgyn doctors, and no husband to punch!)
So we watched Luna breathing heavily, getting weaker and weaker each time..And I just wanted to cry. We will never forget again to get the injection..This is the last time!! I can't imagine to lose my dog because of our recklessness...
And thank God, all the puppies were born healthy, and Luna also still survived..Although looked very weak and tired, she just couldn't neglect her mummy instinct..She cleaned everybody, and feed them milk..Gosh...do I have just one third of her mummy instinct??? =p
So..the next task is: for dog lovers out there...anybody for golden retriever puppies???? =)
Wednesday, March 26, 2008
A Journey To The West
Gue sangat suka traveling..mau dalam negeri, luar negeri, gunung, pantai, kota, desa, semua gue jabanin kalau memang ada kesempatan..
Jadi, gue nggak nolak waktu bos gue dari NGO Jerman tempat gue kerja part time selama ini, minta tolong gue buat ngatur kunjungan dia ke Aceh, sekaligus jadi translator selama di sana. Diiming-iming bayaran euro, tentu aja nggak ada alasan buat gue menolak tawaran itu.
Apalagi, pengalaman gue menginjakkan kaki di Pulau Sumatera emang bisa dibilang minim. Gue udah pernah menelusuri Papua, Sulawesi, Kalimantan, Bali dan Lombok..tapi wilayah barat Indonesia memang masih bisa dibilang belum terlalu terjamah oleh gue.
Jadi, berangkatlah gue dengan semangat tinggi. Kebetulan karena memang kerjaan kita dimulai dari Medan dan daerah sekitarnya, jadi kita menghabiskan beberapa hari pertama di wilayah itu, sekalian menengok sejenak kampung halaman nyokap gue..=)
Tapi semangat yang sudah gue pelihara dari jauh-jauh hari ternyata mulai luntur perlahan-lahan waktu kita bergerak ke arah Aceh. Tidak ada yang mempersiapkan gue untuk menempuh 10 jam perjalanan dari Medan menuju Takengon (sebuah kota kecil daerah pegunungan di Aceh Tengah)di dalam mobil yang supirnya sepertinya punya cita-cita ikut balapan F1. Bayangin, ngebut dengan kecepatan nyaris 100 km/jam di jalan yang berkelok-kelok, ditambah pula dengan aksi salip-salipan di jalan dua arah yang dipenuhi sosok raksasa semacam bis dan truk. Arghhh....Untung jantung gue masih dalam keadaan utuh waktu akhirnya kita tiba di Takengon.
Belum hilang sisa-sisa stress di perjalanan, gue dihadapin lagi sama kenyataan kalo hotel yang kita tinggalin, dengan harga per malam mendekati rate-nya Shangrila Jakarta, ternyata adalah hotel yang nggak pernah direnovasi selama lebih dari 20 tahun dia berdiri. A bit spooky, with big shabby room and bathroom with moody water (sometimes hot, sometimes cold, it really depends on i dont know what). Tapi karena nggak ada pilihan lain, ya sudahlaaahhhh....
Masalah lain timbul di sektor makanan. Gue traveling bersama 3 orang rekan kerja gue, satu orang Srilanka, satu cewek Jerman, dan satu lagi adalah bos gue yang orang Perancis (a very cute French, apparently). Setelah tanya sana-sini, ternyata diperoleh informasi kalau hanya ada 3 restoran layak makan di kota super mungil yang bersuhu dingin ini. Jadi, kebayang dong, selama 2 minggu kita stay di sana, berusaha kreatif dengan menu makanan yang itu-itu lagi...Not a very nice experience...Sampai akhirnya, di malam terakhir, semua orang sepakat untuk mencoba sesuatu yang baru. Pilihan nekat akhirnya dijatuhkan pada tenda pinggir jalan di dekat terminal bis..Gue sebenarnya agak nggak enak hati, takut bakal ada kejadian apa-apa..Tapi apalah artinya suara gue yang cuman satu orang ini, melawan tiga orang yang sudah teramat bosan dengan menu makanan yang itu-itu saja...Dan benarlah. Keesokan harinya, si cewek Jerman akhirnya kena diare dengan suksesnya..Hue..
Kerjaannya sendiri cukup menyenangkan, meskipun non-stop selama 2 minggu yang lumayan bikin kejang-kejang juga..NGO ini bergerak di bidang Fairtrade (I'll explain it later if I'm in the mood), jadi setiap hari jadwal kita dipenuhi oleh kunjungan ke petani-petani. Dan lagi-lagi, gue sama sekali nggak dipersiapkan dengan perjalanan menembus gunung untuk tiba di perkebunan kopi, menghadapi rumah penduduk yang kebanyakan masih setengah hancur (Takengon adalah salah satu daerah utama GAM saat masih terjadi konflik), apalagi bertemu dengan banyak anak yatim piatu yang orang tuanya sudah dibantai habis zaman GAM dulu. Perasaan gue campur aduk melihat mereka, yang sepertinya sangat-sangat berharap akan penghidupan yang lebih baik..Dan hati ini mau nggak mau terus membandingkan segala macam kekurangan di sana dengan kelebihan yang sehari-hari gue peroleh dengan mudah, tanpa pernah mensyukurinya (nongkrong di mal, nonton bioskop, atau setidaknya, punya pilihan tempat makan yang lebih dari 3 buah).Do we really live in the same country? Dan tentu aja masih ada cerita tentang pihak-pihak eksporter asing yang dengan semena-mena masuk ke kehidupan para petani, menawarkan janji ini-itu padahal akhirnya hanya merenggut lebih banyak dari apa yang mereka punya (but again, it's another different story).
Akhirnya, gue pun pulang berbekal dilema dalam hati gue. Sebagian sangat ingin menolong mereka, tapi di sisi lain gue tau, ada hal-hal yang memang nggak bisa kita ubah..sekuat apapun keinginan kita untuk melakukannya. Dan gue sedikit lega waktu akhirnya bisa pulang. Kembali ke rumah, ke tempat aman di mana nggak ada berita-berita mengerikan seperti penculikan dan perampokan yang kabarnya didalangi oleh mantan anggota GAM (ini bener-bener terjadi lho selama gue di sana, dan kita memang sempet diminta untuk nggak keluar malam sama sekali).Meskipun ada setitik keinginan untuk kembali ke sana. Suatu saat nanti. Mungkin..
Jadi, gue nggak nolak waktu bos gue dari NGO Jerman tempat gue kerja part time selama ini, minta tolong gue buat ngatur kunjungan dia ke Aceh, sekaligus jadi translator selama di sana. Diiming-iming bayaran euro, tentu aja nggak ada alasan buat gue menolak tawaran itu.
Apalagi, pengalaman gue menginjakkan kaki di Pulau Sumatera emang bisa dibilang minim. Gue udah pernah menelusuri Papua, Sulawesi, Kalimantan, Bali dan Lombok..tapi wilayah barat Indonesia memang masih bisa dibilang belum terlalu terjamah oleh gue.
Jadi, berangkatlah gue dengan semangat tinggi. Kebetulan karena memang kerjaan kita dimulai dari Medan dan daerah sekitarnya, jadi kita menghabiskan beberapa hari pertama di wilayah itu, sekalian menengok sejenak kampung halaman nyokap gue..=)
Tapi semangat yang sudah gue pelihara dari jauh-jauh hari ternyata mulai luntur perlahan-lahan waktu kita bergerak ke arah Aceh. Tidak ada yang mempersiapkan gue untuk menempuh 10 jam perjalanan dari Medan menuju Takengon (sebuah kota kecil daerah pegunungan di Aceh Tengah)di dalam mobil yang supirnya sepertinya punya cita-cita ikut balapan F1. Bayangin, ngebut dengan kecepatan nyaris 100 km/jam di jalan yang berkelok-kelok, ditambah pula dengan aksi salip-salipan di jalan dua arah yang dipenuhi sosok raksasa semacam bis dan truk. Arghhh....Untung jantung gue masih dalam keadaan utuh waktu akhirnya kita tiba di Takengon.
Belum hilang sisa-sisa stress di perjalanan, gue dihadapin lagi sama kenyataan kalo hotel yang kita tinggalin, dengan harga per malam mendekati rate-nya Shangrila Jakarta, ternyata adalah hotel yang nggak pernah direnovasi selama lebih dari 20 tahun dia berdiri. A bit spooky, with big shabby room and bathroom with moody water (sometimes hot, sometimes cold, it really depends on i dont know what). Tapi karena nggak ada pilihan lain, ya sudahlaaahhhh....
Masalah lain timbul di sektor makanan. Gue traveling bersama 3 orang rekan kerja gue, satu orang Srilanka, satu cewek Jerman, dan satu lagi adalah bos gue yang orang Perancis (a very cute French, apparently). Setelah tanya sana-sini, ternyata diperoleh informasi kalau hanya ada 3 restoran layak makan di kota super mungil yang bersuhu dingin ini. Jadi, kebayang dong, selama 2 minggu kita stay di sana, berusaha kreatif dengan menu makanan yang itu-itu lagi...Not a very nice experience...Sampai akhirnya, di malam terakhir, semua orang sepakat untuk mencoba sesuatu yang baru. Pilihan nekat akhirnya dijatuhkan pada tenda pinggir jalan di dekat terminal bis..Gue sebenarnya agak nggak enak hati, takut bakal ada kejadian apa-apa..Tapi apalah artinya suara gue yang cuman satu orang ini, melawan tiga orang yang sudah teramat bosan dengan menu makanan yang itu-itu saja...Dan benarlah. Keesokan harinya, si cewek Jerman akhirnya kena diare dengan suksesnya..Hue..
Kerjaannya sendiri cukup menyenangkan, meskipun non-stop selama 2 minggu yang lumayan bikin kejang-kejang juga..NGO ini bergerak di bidang Fairtrade (I'll explain it later if I'm in the mood), jadi setiap hari jadwal kita dipenuhi oleh kunjungan ke petani-petani. Dan lagi-lagi, gue sama sekali nggak dipersiapkan dengan perjalanan menembus gunung untuk tiba di perkebunan kopi, menghadapi rumah penduduk yang kebanyakan masih setengah hancur (Takengon adalah salah satu daerah utama GAM saat masih terjadi konflik), apalagi bertemu dengan banyak anak yatim piatu yang orang tuanya sudah dibantai habis zaman GAM dulu. Perasaan gue campur aduk melihat mereka, yang sepertinya sangat-sangat berharap akan penghidupan yang lebih baik..Dan hati ini mau nggak mau terus membandingkan segala macam kekurangan di sana dengan kelebihan yang sehari-hari gue peroleh dengan mudah, tanpa pernah mensyukurinya (nongkrong di mal, nonton bioskop, atau setidaknya, punya pilihan tempat makan yang lebih dari 3 buah).Do we really live in the same country? Dan tentu aja masih ada cerita tentang pihak-pihak eksporter asing yang dengan semena-mena masuk ke kehidupan para petani, menawarkan janji ini-itu padahal akhirnya hanya merenggut lebih banyak dari apa yang mereka punya (but again, it's another different story).
Akhirnya, gue pun pulang berbekal dilema dalam hati gue. Sebagian sangat ingin menolong mereka, tapi di sisi lain gue tau, ada hal-hal yang memang nggak bisa kita ubah..sekuat apapun keinginan kita untuk melakukannya. Dan gue sedikit lega waktu akhirnya bisa pulang. Kembali ke rumah, ke tempat aman di mana nggak ada berita-berita mengerikan seperti penculikan dan perampokan yang kabarnya didalangi oleh mantan anggota GAM (ini bener-bener terjadi lho selama gue di sana, dan kita memang sempet diminta untuk nggak keluar malam sama sekali).Meskipun ada setitik keinginan untuk kembali ke sana. Suatu saat nanti. Mungkin..
Tuesday, March 04, 2008
Late Twenties
Berada di usia akhir duapuluhan adalah pengalaman yang sangat memusingkan. Di satu sisi, masih ada sisa-sisa idealisme dan kengototan dari masa lalu yang rasanya sayang untuk ditinggalkan. Tapi, di sisi lain, energi untuk terus memperjuangkan mimpi-mimpi itu semakin lama semakin berkurang, digantikan oleh semakin dekatnya realitas serta tuntutan sekitar yang sepertinya bertambah berat.
Apalagi kalau bertemu dengan teman-teman seumur yang kadang sudah berada pada tingkat pencapaian yang cukup tinggi, sementara kita sendiri masih dibingungkan dengan apa tujuan hidup kita, loncat dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya, berusaha mencicipi sebanyak mungkin bumbu kehidupan, dengan konsekuensi tidak ada jabatan khusus yang bisa dibanggakan dari pekerjaan kita, gaji yang yah..gitu-gitu aja, tabungan yang selalu menipis, bahkan belum ada rencana-rencana jangka panjang termasuk investasi dalam bentuk apapun. Menyedihkan sebenarnya.
Dan kita mulai berharap supaya orang-orang nggak terus bertanya-tanya tentang rencana kita ke depan, kapan menikah, kapan mau mencari pekerjaan yang benar-benar menjanjikan, atau, kalau memang sudah menikah dan berkeluarga, kapan punya anak, di mana akan tinggal, dan lain sebagainya.
Dan di samping segala keluhan tentang berada di usia akhir duapuluhan ini, sebersit ketakutan tetap ada, dalam menghadapi "kotak umur" selanjutnya..awal tigapuluhan. Sambil bertanya-tanya, apakah ini masih layak disebut quarter life crisis, biarpun sebenarnya rentang seperempat kehidupan itu sudah semakin berada di titik ujung...
Apalagi kalau bertemu dengan teman-teman seumur yang kadang sudah berada pada tingkat pencapaian yang cukup tinggi, sementara kita sendiri masih dibingungkan dengan apa tujuan hidup kita, loncat dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya, berusaha mencicipi sebanyak mungkin bumbu kehidupan, dengan konsekuensi tidak ada jabatan khusus yang bisa dibanggakan dari pekerjaan kita, gaji yang yah..gitu-gitu aja, tabungan yang selalu menipis, bahkan belum ada rencana-rencana jangka panjang termasuk investasi dalam bentuk apapun. Menyedihkan sebenarnya.
Dan kita mulai berharap supaya orang-orang nggak terus bertanya-tanya tentang rencana kita ke depan, kapan menikah, kapan mau mencari pekerjaan yang benar-benar menjanjikan, atau, kalau memang sudah menikah dan berkeluarga, kapan punya anak, di mana akan tinggal, dan lain sebagainya.
Dan di samping segala keluhan tentang berada di usia akhir duapuluhan ini, sebersit ketakutan tetap ada, dalam menghadapi "kotak umur" selanjutnya..awal tigapuluhan. Sambil bertanya-tanya, apakah ini masih layak disebut quarter life crisis, biarpun sebenarnya rentang seperempat kehidupan itu sudah semakin berada di titik ujung...
Friday, February 15, 2008
A Very Splendid Book

Oke, oke..gue emang termasuk telat baca buku ini..Masalahnya, lumayan lama juga nunggu versi murahnya keluar..Di toko buku, bahkan versi paperback bahasa inggrisnya pun tetep dijual dengan harga mahal..Sedangkan untuk beli yang terjemahan, kayanya gue nggak rela. Setidaknya, jangan deh untuk buku karangan Khaled Hosseini...
Makanya, waktu gue lagi berkunjung ke Omunium (God bless this bookshop!) dan menemukan buku A Thousand Splendid Suns yang masih dalam kondisi bagus seharga hanya Rp 65 ribu, gue langsung ngerasa, finally, udah saatnya gue baca buku ini..=)
Dan Khaled Hosseini tetep menunjukkan tajinya. Nggak menurun sedikitpun dibanding buku pertamanya, The Kite Runner yang juga udah dibikin versi film bioskopnya, A Thousand Splendid Suns tetap konsisten dengan alur yang dramatis, memilukan tapi nggak cengeng, pilihan kata yang puitis, dan karakter-karakter yang sangat human.
Masih berkisar seputar kehidupan masyarakat Afghanistan saat menghadapi perang bertubi-tubi selama 3 dasawarsa, mulai saat melawan komunisme yang dibawa oleh Soviet, sampai akhirnya melawan sesama saudara setanah airnya sendiri, emosi kita dibawa naik turun sepanjang perjalanan tersebut, berharap akan akhir yang lebih baik, tapi lagi-lagi kecewa ketika ternyata kesedihan itu masih berlanjut terus dan terus. Dan jangan khawatir dengan plot yang penuh propaganda politik maupun agama, karena yang ditonjolkan di sini justru karakter-karakter yang sangat-sangat menyentuh hati kita dengan segala kekurangan dan kelebihannya di dalam perjuangan mencari kehidupan yang lebih baik...
Dan setelah membaca buku ini, gue sangat-sangat bersyukur bisa hidup di Indonesia di waktu sekarang ini, di mana perempuan masih boleh berjuang untuk memperoleh penghidupan yang terbaik, di mana kebebasan bukanlah merupakan sesuatu yang mahal, dan mempunyai impian setinggi mungkin tidak dilarang...Tapi gue tahu, banyak orang di luar sana yang masih belum bisa merasakan semua ini...bahkan mungkin, orang-orang yang nggak jauh dari gue..yang berkeliaran di perempatan jalan atau tidur di emperan saat malam tiba...
Khaled Hosseini, adalah satu dari sedikit favorit gue yang masih belum mengalami grafik menurun dalam kariernya..Setelah dikecewakan oleh Dan Brown dengan plotnya yang lama-lama menjadi basi, atau Mitch Albom yang sempat membuat gue tergila-gila dengan Tuesdays With Morrie tapi ternyata ke belakang menjadi cukup membosankan, membaca buku Khaled menjadi suatu selingan yang menyenangkan.Apalagi, hanya dengan Rp 65 ribu saja! =)
Wednesday, February 06, 2008
Freaking Dengue
Entah gimana caranya, tahun 2008 ternyata nggak diawali dengan begitu baik buat gue...Terutama dengan menyelinapnya virus demam berdarah yang ditulari lewat nyamuk menyebalkan yang entah kapan berhasil menggigit gue....
Dan hasilnya, terkaparlah gue selama 1 minggu penuh di rumah sakit, hanya ditemani oleh serial Heroes season 2 yang ternyata sangat mengecewakan, dan bekas-bekas suntikan hasil infus plus ambil darah yang bikin gue seperti junkie..
Ditambah lagi dengan 1 minggu penuh di rumah, jadi lengkaplah sudah gue menghabiskan lebih dari separo bulan pertama di tahun 2008 dengan terisolasi dari dunia luar...
Tapi sisi baiknya, gue berhasil melewati hari-hari terakhir di kantor gue dengan menghindari kantor itu sendiri! Hehehe...jadilah gue masuk kantor setelah sembuh, hanya untuk membereskan meja berantakan gue dan mengamankan barang-barang sisa perjuangan mengumpulkan goody bags untuk dibawa pulang...Dan meskipun sangat sedih berpisah dengan teman-teman yang sudah setia berjuang bersama selama ini..senang juga nggak usah stress dan pusing lagi dengan segala urusan kantor yang menyebalkan.. (meskipun, believe it or not, gaji terakhir gue dipotong sampai hampir 700 rb, sebagai hukuman gue nggak masuk kantor dan terkapar sakit..argh!!!)
Anyway...mitos jus jambu atau minum angkak mungkin ada benernya...karena cukup membantu juga lho ternyata...
Dan hasilnya, terkaparlah gue selama 1 minggu penuh di rumah sakit, hanya ditemani oleh serial Heroes season 2 yang ternyata sangat mengecewakan, dan bekas-bekas suntikan hasil infus plus ambil darah yang bikin gue seperti junkie..
Ditambah lagi dengan 1 minggu penuh di rumah, jadi lengkaplah sudah gue menghabiskan lebih dari separo bulan pertama di tahun 2008 dengan terisolasi dari dunia luar...
Tapi sisi baiknya, gue berhasil melewati hari-hari terakhir di kantor gue dengan menghindari kantor itu sendiri! Hehehe...jadilah gue masuk kantor setelah sembuh, hanya untuk membereskan meja berantakan gue dan mengamankan barang-barang sisa perjuangan mengumpulkan goody bags untuk dibawa pulang...Dan meskipun sangat sedih berpisah dengan teman-teman yang sudah setia berjuang bersama selama ini..senang juga nggak usah stress dan pusing lagi dengan segala urusan kantor yang menyebalkan.. (meskipun, believe it or not, gaji terakhir gue dipotong sampai hampir 700 rb, sebagai hukuman gue nggak masuk kantor dan terkapar sakit..argh!!!)
Anyway...mitos jus jambu atau minum angkak mungkin ada benernya...karena cukup membantu juga lho ternyata...
Saturday, January 05, 2008
Yang Tak Mungkin Kembali
Tahun baru lagi, 2008 kali ini..
Beberapa waktu yang lalu, seorang teman bertanya, "Apa aja perubahan yang sudah terjadi sama kamu selama 5 tahun terakhir ini?"
Dan pertanyaannya membuat gue sedikit mendaftar poin plus dan minus hidup gue dalam 5 tahun terakhir..
Banyak resolusi yang masih belum kesampaian pastinya, kebanyakan yang kecil-kecil tapi cukup mengganggu,seperti ngurangin gosip, bangun lebih pagi, rajin olah raga, sampai belajar masak.. =p
Tapi tentu saja di samping kegagalan-kegagalan itu (ditambah beberapa kegagalan yang lebih besar dan pengambilan keputusan yang kurang memuaskan hasilnya), ada juga banyak perubahan positif dalam hidup gue, terutama yang menyangkut sekolah dan pekerjaan..
Satu hal yang gue sadarin adalah waktu nggak akan pernah kembali untuk kita..sengotot apapun kita memohon dan meminta...Akan tetap banyak "what if" yang selalu kita pertanyakan, "if only" yang selalu kita andaikan...Tapi kesimpulannya sama..waktu akan terus berjalan, membawa perubahan (atau bahkan mungkin hanya menemani kita jalan di tempat), suka ataupun tidak, baik ataupun buruk..
Buat gue, setiap pengalaman yang membawa perubahan (meskipun kadang melibatkan keputusan yang salah atau kegagalan yang memalukan), pasti ada maknanya..dan lebih baik berubah, sekecil apapun itu, daripada hanya menyesali diri dan membiarkan waktu berlalu begitu saja.Karena dia,tidak mungkin kembali..
Selamat menyambut tahun yang baru =)
Beberapa waktu yang lalu, seorang teman bertanya, "Apa aja perubahan yang sudah terjadi sama kamu selama 5 tahun terakhir ini?"
Dan pertanyaannya membuat gue sedikit mendaftar poin plus dan minus hidup gue dalam 5 tahun terakhir..
Banyak resolusi yang masih belum kesampaian pastinya, kebanyakan yang kecil-kecil tapi cukup mengganggu,seperti ngurangin gosip, bangun lebih pagi, rajin olah raga, sampai belajar masak.. =p
Tapi tentu saja di samping kegagalan-kegagalan itu (ditambah beberapa kegagalan yang lebih besar dan pengambilan keputusan yang kurang memuaskan hasilnya), ada juga banyak perubahan positif dalam hidup gue, terutama yang menyangkut sekolah dan pekerjaan..
Satu hal yang gue sadarin adalah waktu nggak akan pernah kembali untuk kita..sengotot apapun kita memohon dan meminta...Akan tetap banyak "what if" yang selalu kita pertanyakan, "if only" yang selalu kita andaikan...Tapi kesimpulannya sama..waktu akan terus berjalan, membawa perubahan (atau bahkan mungkin hanya menemani kita jalan di tempat), suka ataupun tidak, baik ataupun buruk..
Buat gue, setiap pengalaman yang membawa perubahan (meskipun kadang melibatkan keputusan yang salah atau kegagalan yang memalukan), pasti ada maknanya..dan lebih baik berubah, sekecil apapun itu, daripada hanya menyesali diri dan membiarkan waktu berlalu begitu saja.Karena dia,tidak mungkin kembali..
Selamat menyambut tahun yang baru =)
Subscribe to:
Posts (Atom)