Kemaren ini gue dikasih tau kalo ada sepucuk surat buat gue yang masih nyasar ke rumah lama. Gue pikir, pasti surat dari bank, sekolah, atau brosur" nggak penting lainnya. Dan betapa kagetnya gue waktu tadi siang Hesti (mantan temen serumah gue)ngasih selembar amplop warna merah muda dengan nama gue yang diketik pake mesin tik manual. Entah kapan terakhir kalinya gue dapet surat dalam wujud yang sesungguhnya, karena biasanya urusan surat menyurat dengan temen" dan keluarga selalu gue lakuin melalui email.Tapi karena gue harus masuk kelas dan kuliah hari ini lumayan padat, surat itu pun sedikit terlupakan.
Gue baru sempet buka surat itu sesudah nyampe di rumah malem ini, dengan perasaan bete dan kecewa luar biasa karena ada sesuatu yang terjadi di luar rencana gue. Sambil duduk sendirian di depan TV, gue buka surat itu, yang ternyata isinya pun diketik dengan mesin tik manual, lengkap dengan tip ex dan beberapa coretan di sana sini.
Di bagian kop surat, tertera nama dan alamat Oma gue di Bandung, yang dicetak dengan bentuk tulisan kaligrafi. Tampak coretan tipis pensil yang mengganti nama Oma gue (yang udah meninggal tahun 2004 lalu) dengan nama Opa gue. Gue sedikit merinding. Udah lama gue nggak denger kabar dari Opa gue. Korespondensi terakhir yang kita lakuin adalah melalui email, itu pun lebih banyak cerita dari pihak gue, dan curhatan dari pihak Opa gue.Dan untuk sementara waktu, sosok Opa agak menghilang dari pikiran gue.
Pelan" gue baca surat itu, yang ternyata diketik dengan campuran bahasa Indonesia, Inggris dan Belanda. Beberapa kosakata yang nggak gue ngerti, akhirnya berusaha gue tebak sendiri. Dan tanpa gue sadar, setitik air dari mata gue tiba" menetes ke kertas itu. Gue bisa ngerasain betapa Opa gue sangat merindukan Oma gue, ketika dia merekomendasikan gue tempat" indah yang pernah mereka kunjungin bareng di Belanda, Belgia dan Jerman. Atau ketika dia mengingatkan gue sama darah Belanda yang masih ada dari pihak Oma, dan membandingkan kesamaan sifat gue dan Oma gue.
Dan terakhir, surat itu ditutup dengan beberapa kalimat bahasa Inggris, yang menyemangati gue untuk sukses dalam studi gue, untuk tetap semangat dalam menjalani hidup gue, dan untuk mencoba mengerti arti hidup : "You will understand life much better if you are able to manipulate your way of thinking, avoiding pain and frustration. And that's not thaught in ordinary schools throughout the world."
Suddenly, I feel much better. Bete gue langsung ilang, masalah gue nggak ada apa" nya. Gue masih punya sejuta hal yang bisa gue syukurin dalam hidup, dan salah satunya, datang dalam wujud sepucuk surat beramplop merah muda...
Wednesday, March 22, 2006
Friday, March 17, 2006
From Barcelona with Luv
And immediately I just fell in love with the city...Jalan"nya, bangunan dan gedung"nya, cafe"nya, taman dan air mancurnya, matahari dan suhu 18 derajatnya, orang" yang udah lalu lalang make tanktop, aroma udara dari laut, tapas yang dijual di mana", artis" yang berkeliaran dengan kostum aneh di La Ramblas...I love almost everything about this city...Gue bahkan bisa mentolerir cowok aneh yang satu kamar sama gue di hostel, kemampuan bahasa inggris orang" spanyol yang terbatas, harga makanan dan suvenir yang hampir semua mahal, dan copet yang banyak banget di mana"...
And suddenly, I missed my mom soooo much....Gue inget obsesinya sebagai seorang arsitek buat dateng ke kota ini, betapa ngefansnya dia sama Gaudi dan bangunan"nya, betapa dia ngotot kalo "Jalan di Barcelona itu salah satu yang terbaik di dunia lho", dan titipan"nya supaya gue foto" sebanyak mungkin sudut kota Barcelona...
Dan sambil merasakan sinar matahari yang hangat di atas kepala gue, menyusuri Passeig de Gracia dan lewat di depan Cassa Milla, gue berjanji dalam hati, "Someday, we're gonna walk together in this street, Mum..."
Friday, March 03, 2006
Sugar-Honey-Ice-Tea!*
Yesterday, finally I've received all my grades for previous semester. It's not really bad, although I think I could have done better...Thanks to my laziness and deadline-minded! =)
Actually, there are lot of things that I've learnt since I've been in this course. The framework of thinking with more flexibility, doing qualitative papers with convincing argument instead of just rellying on numbers like I usually did in my bachelor study (for god sake, I was studdying industrial-engineering then...!), trying to work together with people from around the world...adjusting to any kind of people with different culture and background...and even trying hard to fit in with the Dutch-teaching-system...It's hard, but also fun in the same time...
Anyway, as I collected my papers in International Office yesterday, I've accidentally bumped into my friend's assignment. And without thinking, I read the note that was placed in the front page of her paper. It's my teacher's handwriting.
"If you want to graduate with distinction, you have to get 8 for the average grade. And you still can do it if you want to improve this paper".
And suddenly, I felt sick. It's been allowed to receit your paper if you get the score under 5.50. But for me, to give the second chance just to make a student graduated with distinction is not a really fair thing to do. Especially if you know exactly how close this teacher to that particular student.
How if there are other students who have exactly the same grade with her? Do they also deserve the second chance? And how about other students who have the score a little bit lower than her? Is it really unfair if they also ask for the opportunity to upgrade their score?
I have no idea why this thing really bothered me, because I'm not a kind of person who like to mess around with other people's businesses. Maybe because I hope for a more fair system here..But you never know..Maybe it's all the same everywhere, even here, when justice and fairness become one of the most crucial things..Or am I being too judgemental? Or maybe...deep down inside...I just hope that I will be given that second chance also...
*Sugar-Honey-Ice-Tea = SHIT! taken from Icha Rahmanti's Beauty Case...
Actually, there are lot of things that I've learnt since I've been in this course. The framework of thinking with more flexibility, doing qualitative papers with convincing argument instead of just rellying on numbers like I usually did in my bachelor study (for god sake, I was studdying industrial-engineering then...!), trying to work together with people from around the world...adjusting to any kind of people with different culture and background...and even trying hard to fit in with the Dutch-teaching-system...It's hard, but also fun in the same time...
Anyway, as I collected my papers in International Office yesterday, I've accidentally bumped into my friend's assignment. And without thinking, I read the note that was placed in the front page of her paper. It's my teacher's handwriting.
"If you want to graduate with distinction, you have to get 8 for the average grade. And you still can do it if you want to improve this paper".
And suddenly, I felt sick. It's been allowed to receit your paper if you get the score under 5.50. But for me, to give the second chance just to make a student graduated with distinction is not a really fair thing to do. Especially if you know exactly how close this teacher to that particular student.
How if there are other students who have exactly the same grade with her? Do they also deserve the second chance? And how about other students who have the score a little bit lower than her? Is it really unfair if they also ask for the opportunity to upgrade their score?
I have no idea why this thing really bothered me, because I'm not a kind of person who like to mess around with other people's businesses. Maybe because I hope for a more fair system here..But you never know..Maybe it's all the same everywhere, even here, when justice and fairness become one of the most crucial things..Or am I being too judgemental? Or maybe...deep down inside...I just hope that I will be given that second chance also...
*Sugar-Honey-Ice-Tea = SHIT! taken from Icha Rahmanti's Beauty Case...
Thursday, February 23, 2006
Part of My Dreams...
Gue, seperti juga setiap orang di dunia, punya banyak mimpi...Dari mulai yang standar dan mulia seperti lulus kuliah dengan nilai bagus, bisa ikut ngajar keliling Indonesia, membahagiakan orang tua, dan punya rumah di tepi pantai, sampai yang sedikit gila seperti jalan" keliling dunia, bisa ketemu sama orlando bloom dan punya peternakan anjing (huehueheuheu...it's true!)
Kemaren, salah satu mimpi gue yang masuk kategori "mengkhayal", sempet jadi kenyataan. Nonton liga champions di stadion ArenA...
Gara"nya juga kebetulan. Seorang temen gue tiba" nelfon dan ngabarin kalo dia punya satu tiket lebih karena temennya ada yang mendadak batal nonton. Dan gue, serasa dapet durian runtuh, langsung menyambut gembira ajakannya buat beli tiket nganggur itu.
Biarpun sebelumnya gue udah pernah ke stadion arena dan ikut tur keliling disana, rasanya tetep aja beda banget. Puluhan ribu orang menuhin stadion, lebih dari 90% nya adalah pendukung ajax yang membawa berbagai macam atribut, mulai dari bendera sampai spanduk super besar.
Lebih seru lagi, gue nonton sama rombongan dari Italia, tapi alih" duduk di daerah suporter Intermilan, kita malah kebagian tempat di tengah para pendukung Ajax. Yang ada, hanya bisa menahan diri setiap kali para penyerang Inter melakukan serangan" berbahaya atau justru mengeluh dalam hati waktu pemain Ajax mulai memberi umpan" bagus. Itupun masih harus menerima nasib setiap kali ada suporter Ajax yang lempar" sesuatu ke arah kita, mungkin karena familiar dengan raut muka khas italia yang menguasai deretan gue.
Anyway, it was a good game. Biarpun hasilnya seri, tapi permainan Ajax nggak jelek" amat kaya biasanya. Inter yang pas babak satu masih melempem, bisa menyamakan kedudukan dari 2-0 jadi 2-2. Dan yang pasti, berada beberapa meter saja dari Luis Figo tentu beda rasanya dibanding hanya menonton di televisi...
Not every dream is impossible though...=)
Wednesday, February 15, 2006
Salju Yang Menjauh
Selama tinggal di negeri kincir yang berangin dingin dan menusuk ini, gue selalu harap" cemas menunggu salju turun.
Salju, butiran" es warna putih seperti kapas, yang jatuh dari langit sampai membentuk tumpukan lembut di tanah...Itu yang selalu gue bayangin, mungkin terlalu dipengaruhi sama film" Hollywood bersetting natal.
Hari demi hari, sampai suhu udah hampir mencapai minus, yang namanya salju tetep aja nggak turun". Bikin gue sempet berpikir, jangan" salju di negeri 4 musim cuman mitos belaka. Buktinya??? Mana???
Sampai akhirnya, natal udah lewat, dan harapan gue mulai menipis, yang namanya salju akhirnya turun juga. Semua impian masa kecil gue yang terpendam akhirnya keluar semua. Perang bola salju, lari"di bawah butiran tipis selembut kapas, dan bahkan buka mulut lebar" buat ngerasain dinginnya es di tenggorokan (sumpah, gue juga nggak bangga kalo harus inget ini, hehe).
Dan setelah itu, salju pun lenyap. Serasa mimpi, Den Haag kembali lagi seperti semula. Dingin, mendung dan berangin...Tanpa ada tanda" bakal turun butiran kapas dari langit. Apa gue emang cuman ditakdirin liat salju sekali aja ya?
Dan kini, hujan turun terus menerus, angin semakin menusuk, langit berwarna kelabu dan matahari tenggelam semakin lambat...Tanda" datangnya musim semi....Salju gue pun, semakin manjauh...
*Buat pencinta senja di Jakarta....Kalau ada salju lagi, gue kirim kesana yah...=)
Salju, butiran" es warna putih seperti kapas, yang jatuh dari langit sampai membentuk tumpukan lembut di tanah...Itu yang selalu gue bayangin, mungkin terlalu dipengaruhi sama film" Hollywood bersetting natal.
Hari demi hari, sampai suhu udah hampir mencapai minus, yang namanya salju tetep aja nggak turun". Bikin gue sempet berpikir, jangan" salju di negeri 4 musim cuman mitos belaka. Buktinya??? Mana???
Sampai akhirnya, natal udah lewat, dan harapan gue mulai menipis, yang namanya salju akhirnya turun juga. Semua impian masa kecil gue yang terpendam akhirnya keluar semua. Perang bola salju, lari"di bawah butiran tipis selembut kapas, dan bahkan buka mulut lebar" buat ngerasain dinginnya es di tenggorokan (sumpah, gue juga nggak bangga kalo harus inget ini, hehe).
Dan setelah itu, salju pun lenyap. Serasa mimpi, Den Haag kembali lagi seperti semula. Dingin, mendung dan berangin...Tanpa ada tanda" bakal turun butiran kapas dari langit. Apa gue emang cuman ditakdirin liat salju sekali aja ya?
Dan kini, hujan turun terus menerus, angin semakin menusuk, langit berwarna kelabu dan matahari tenggelam semakin lambat...Tanda" datangnya musim semi....Salju gue pun, semakin manjauh...
*Buat pencinta senja di Jakarta....Kalau ada salju lagi, gue kirim kesana yah...=)
Monday, February 13, 2006
And it's all coming back...
ANDIEN - Akankah Mungkin
G Bm
Kuberikan seutuhnya
C D
Kasih sayang hanya padamu
G Bm
Ku bayangkan kemesraan
C D
Kan selalu menyertaiku
FM7 Am/D
Itupun tak cukup
FM7 D
Tuk buat kau bahagia
Reff: C Bm
Akankah mungkin kau menyadari
Am D
Sesungguhnya hati ini tlah kau miliki
C Bm
Akankah mungkin pernah terjadi
Am
Kau kembali padaku
C D
Dan berikan cinta untukku lagi
G Bm
Yang tak mungkinkah mengerti
C D
Kau selalu salahkan aku
G Bm
Yang ku pinta jangan engkau
C D
Samakan ku dengan yang dulu
FM7 Am/D
Apa yang terjadi
FM7 D
Kini kau telah pergi
Kembali ke: Reff
*Suddenly..all the memories are coming back...Thousands miles away...thousands days ago...But here I am now, with a totally different guy from him, singing happily as if this song means nothing for me...*
G Bm
Kuberikan seutuhnya
C D
Kasih sayang hanya padamu
G Bm
Ku bayangkan kemesraan
C D
Kan selalu menyertaiku
FM7 Am/D
Itupun tak cukup
FM7 D
Tuk buat kau bahagia
Reff: C Bm
Akankah mungkin kau menyadari
Am D
Sesungguhnya hati ini tlah kau miliki
C Bm
Akankah mungkin pernah terjadi
Am
Kau kembali padaku
C D
Dan berikan cinta untukku lagi
G Bm
Yang tak mungkinkah mengerti
C D
Kau selalu salahkan aku
G Bm
Yang ku pinta jangan engkau
C D
Samakan ku dengan yang dulu
FM7 Am/D
Apa yang terjadi
FM7 D
Kini kau telah pergi
Kembali ke: Reff
*Suddenly..all the memories are coming back...Thousands miles away...thousands days ago...But here I am now, with a totally different guy from him, singing happily as if this song means nothing for me...*
Friday, February 03, 2006
Rumah Yang Yahud
Dua kamar tidur,
Satu ruang tengah merangkap dapur,
Satu kamar mandi,
Sepetak kebun belakang kecil,
Sebuah jendela depan menyerupai etalase,
Sebentang sungai di bagian depan,
Dan dua orang perempuan di perantauan...
Berharap bisa menemukan rumah sementara,
Sambil menghitung hari sebelum bisa pulang
Ke rumah yang sesungguhnya...
*Baru pindahan nih...Semoga rumah yang baru bawa semangat belajar yang baru buat gue...=)Dan terima kasih untuk semua pihak yang udah bantu" pindahan ini...Dari mulai nyetir mobil box gede (padahal yang kita pesen hanya mobil van), ngangkut-ngangkut barang sampe bersih-bersih...Luv u all!!!!*
Satu ruang tengah merangkap dapur,
Satu kamar mandi,
Sepetak kebun belakang kecil,
Sebuah jendela depan menyerupai etalase,
Sebentang sungai di bagian depan,
Dan dua orang perempuan di perantauan...
Berharap bisa menemukan rumah sementara,
Sambil menghitung hari sebelum bisa pulang
Ke rumah yang sesungguhnya...
*Baru pindahan nih...Semoga rumah yang baru bawa semangat belajar yang baru buat gue...=)Dan terima kasih untuk semua pihak yang udah bantu" pindahan ini...Dari mulai nyetir mobil box gede (padahal yang kita pesen hanya mobil van), ngangkut-ngangkut barang sampe bersih-bersih...Luv u all!!!!*
Wednesday, January 25, 2006
Clueless
Mungkin nggak sih, membagi hati untuk dua orang yang berbeda?
Mungkin nggak sih, menaruh harapan namun tak mau disakiti?
Mungkin nggak sih, mengambil keputusan tanpa harus mengorbankan?
Mungkin nggak sih, mencintai tanpa harus memiliki?
Mungkin nggak sih, menaruh harapan namun tak mau disakiti?
Mungkin nggak sih, mengambil keputusan tanpa harus mengorbankan?
Mungkin nggak sih, mencintai tanpa harus memiliki?
Tuesday, January 17, 2006
Becoming a Legal Alien
Today I went to the Immigration Office and finally taking my ID Card..After a long and winding process..With lots of worrying, complaining, cursing the Dutch government system, wasting time and also money...At last..I become a legal alien in this freaking country!
But still..after 4 months dealing with the Dutch..there are things that I could not understand..or maybe..do not want to understand.
The way people in public services treated clients..The time wasted for waiting my burger's been done in McD (and they called it fast food...why?)..The high prices for almost everything..The after midnite programs in TV (naked girls, girls with no clothes, girls and even old women looking for dates...goshhh)..The no-rice-and-sambal in KFC (and I always bring my own rice and sambal if I go there...)..The so-called chilli sauce (with no chilli taste at all)..The long for finding bubur ayam after taking a walk on Sunday morning (and found patat instead...)..And the everlasting homesick...
But anyway...I try not to think too much about those things..Because there are such things that I wont trade with anything else..The warme chocolade melk met slagroom..The cold and white snow..The late night laugh and gossip..The exciting new places..The baileys-heineken marathon..The cool and nice city..The friends for better or worse..And the experience of my lifetime...
I keep thank God for giving me this chance..=)
But still..after 4 months dealing with the Dutch..there are things that I could not understand..or maybe..do not want to understand.
The way people in public services treated clients..The time wasted for waiting my burger's been done in McD (and they called it fast food...why?)..The high prices for almost everything..The after midnite programs in TV (naked girls, girls with no clothes, girls and even old women looking for dates...goshhh)..The no-rice-and-sambal in KFC (and I always bring my own rice and sambal if I go there...)..The so-called chilli sauce (with no chilli taste at all)..The long for finding bubur ayam after taking a walk on Sunday morning (and found patat instead...)..And the everlasting homesick...
But anyway...I try not to think too much about those things..Because there are such things that I wont trade with anything else..The warme chocolade melk met slagroom..The cold and white snow..The late night laugh and gossip..The exciting new places..The baileys-heineken marathon..The cool and nice city..The friends for better or worse..And the experience of my lifetime...
I keep thank God for giving me this chance..=)
Monday, January 09, 2006
And then they were leaving....
Sabtu kemaren gue nganterin keluarga gue ke schipol. Dan biarpun gue udah ngira kalo gue bakalan ngerasa sedih, ternyata gue bener" nggak siap pas harus saying goodbye sama mereka.
Dan thanks to Malaysian Airlines dan Schipol dengan peraturan baru mereka di mana setiap penumpang harus bawa bagasi yang seimbang (dan gak boleh lebih dari 30 kilo masing", biarpun yang bakal berangkat misalnya 2 orang, tetep harus dibagi rata : 30 dan 30, gak bisa 25 dan 35...), akhirnya suasana menjelang keberangkatan mereka malah diwarnain sama perasaan gondok dan kerusuhan bongkar" barang....Bener" menyebalkan...
Yang ada, gue hanya bisa ngelepas kepergian mereka dengan nahan air mata (damn! kenapa gue harus sedih? toh bakal ketemu mereka lagi), peluk cium yang terburu", dan nahan keinginan yang amat sangat buat ikut pulang sama mereka. Ke Indonesia! Hehehe...
Cemen emang, tapi ternyata dampak kedatangan mereka yang 2 minggu itu bikin gue nyadar kalo gue bener" butuh orang" terdekat gue untuk selalu ada buat gue, nerima gue dengan segala kekacauan gue, ngertiin setiap kegilaan gue, dengerin semua cerita" gue, bikin gue ngerasa familiar dengan kehadiran mereka...Dan sekarang rasanya parno aja kalo harus sendirian, bergelut lagi dengan tugas dan presentasi, mikirin makan apa ya nanti malem, dan ngebayangin kalo di belahan dunia yang lain itu, ada orang" tersayang gue yang (semoga sih) lagi mikirin gue juga...
Is it really better to find something and than lose it than never find it at all?
Dan thanks to Malaysian Airlines dan Schipol dengan peraturan baru mereka di mana setiap penumpang harus bawa bagasi yang seimbang (dan gak boleh lebih dari 30 kilo masing", biarpun yang bakal berangkat misalnya 2 orang, tetep harus dibagi rata : 30 dan 30, gak bisa 25 dan 35...), akhirnya suasana menjelang keberangkatan mereka malah diwarnain sama perasaan gondok dan kerusuhan bongkar" barang....Bener" menyebalkan...
Yang ada, gue hanya bisa ngelepas kepergian mereka dengan nahan air mata (damn! kenapa gue harus sedih? toh bakal ketemu mereka lagi), peluk cium yang terburu", dan nahan keinginan yang amat sangat buat ikut pulang sama mereka. Ke Indonesia! Hehehe...
Cemen emang, tapi ternyata dampak kedatangan mereka yang 2 minggu itu bikin gue nyadar kalo gue bener" butuh orang" terdekat gue untuk selalu ada buat gue, nerima gue dengan segala kekacauan gue, ngertiin setiap kegilaan gue, dengerin semua cerita" gue, bikin gue ngerasa familiar dengan kehadiran mereka...Dan sekarang rasanya parno aja kalo harus sendirian, bergelut lagi dengan tugas dan presentasi, mikirin makan apa ya nanti malem, dan ngebayangin kalo di belahan dunia yang lain itu, ada orang" tersayang gue yang (semoga sih) lagi mikirin gue juga...
Is it really better to find something and than lose it than never find it at all?
Subscribe to:
Posts (Atom)