Wednesday, August 23, 2006

Sneak Preview

Setiap hari Selasa malam, salah satu hal yang gue tunggu-tunggu adalah nonton Sneak Preview di bioskop. Film yang ditayangkan di Sneak Preview adalah film-film yang belum diputar untuk umum di bioskop sini, meski kadang nggak terlalu baru kalau dibandingkan dengan waktu pemutaran perdananya di Hollywood.

Biarpun film yang diputar kebanyakan bukan film-film box office atau mainstream Hollywood, tapi tetep aja, perasaan excited karna nggak tau "what should we expect" adalah hal yang menyenangkan dan bikin gue ketagihan nonton Sneak Preview. Seperti beli kucing dalam karung sebenernya, karena kita nggak bakal tau film apa yang bakal diputer sampai film itu bener-bener mulai main. Tapi berhubung gue punya kartu Pathe Unlimited (semacam kartu pra-bayar yang bisa memungkinkan gue nonton bioskop sepuasnya dengan membayar 17,50 euro per bulan), gue nggak terlalu ngerasa rugi, karna tujuan gue punya kartu itu justru menonton film sebanyak-banyaknya di bioskop.

Selain karena punya kartu Pathe Unlimited, gue baru mulai tertarik nonton Sneak Preview akhir-akhir ini, setelah gue nggak ada kelas lagi setiap hari Selasa (dulu, setiap hari Selasa gue selalu ada kelas sampe jam 9 malem..huhuhu). Beberapa kali kehabisan tiket, malah bikin gue makin penasaran untuk nonton Sneak Preview (secara ruangan yang dipake untuk pemutaran film juga nggak berkapasitas terlalu besar).

Pertama kali gue berhasil dapet tiket untuk nonton Sneak Preview, gue sempet kecewa berat, karena ternyata, di antara sekian banyak film yang akan diputar di bioskop minggu berikutnya, yang terpilih untuk diputar di Sneak Preview adalah film hantu! Dan gue, yang sebenernya adalah pecinta film dan rela nonton film apapun, terpaksa mengakui kalau satu-satunya film yang bikin gue alergi adalah film hantu, atau film setan, atau film horror (Gue belum nonton The Ring sampe sekarang karna masih trauma sama Jelangkung yang bikin gue nggak bisa tidur selama seminggu penuh!).

Di tengah film, emang banyak orang yang akhirnya keluar karna mungkin termasuk kelompok penakut seperti gue, atau justru kelompok yang terlalu pemberani dan menjadikan film hantu bahan tertawaan. Tapi, gue yang selalu mikir "pamali" untuk keluar bioskop di tengah film (betapapun jeleknya film yang diputar), akhirnya memaksakan diri untuk bertahan sampai penghabisan film Fragile itu, sambil dengan setengah hati melihat pemeran Ally McBeal, Calista Flockhart, kejer-kejeran sama hantu yang bergentayangan di rumah sakit tempat dia bekerja sebagai perawat (Mampus banget dehhh).

Tapi minggu berikutnya, gue nggak kapok. Tetep menjadi salah satu pengantri setia di loket bioskop untuk mendapatkan tiket Sneak Preview. Lumayan, kali ini filmnya berjudul Step Up, agak lucu, mengambil tema dansa dan pemainnya pun lumayan ganteng (biarpun ceritanya ABG banget dan agak-agak mirip sama Save The Last Dance-nya Julia Stiles).

Dan hari ini, penantian gue akhirnya terbayar. Film yang diputer, meskipun bukan film terkenal, bener-bener bikin seger gue yang akhir-akhir ini kebanyakan nonton film Hollywood. Brick, judul filmya, bersetting tentang konspirasi mafia drugs di daerah selatan California, yang hebatnya, sebagian besar terdiri dari anak sekolahan. Tapi jangan ngebayangin film ini berbau-bau action dan dipenuhi adegan-adegan ala film gangster , karena penyajiannya yang kental nuansa Noir bener-bener menyegarkan dan beda sama film remaja Hollywood kebanyakan. Apalagi buat yang udah kangen sama Joseph Gordon-Levitt, aktor imut yang dulu pernah bikin cewek ABG kesengsem berat di film 10 Things I Hate About You (yang lagi-lagi, menampilkan Julia Stiles), sekarang ternyata udah menjelma jadi aktor berlevel film independen.

Anyway, nonton Sneak Preview sepertinya bakal jadi salah satu hal yang bakal gue kangenin dari kehidupan gue di Belanda. Kecuali, tentunya, kalo modelan kaya gini udah ada juga di Indonesia. Atau jangan-jangan udah ada dan gue yang ketinggalan jaman? =) Then, I was really wasting your time reading this posting...

Saturday, August 19, 2006

Tentang Indonesia

Terakhir kali gue ikut upacara bendera untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia adalah tujuh tahun yang lalu, dengan seragam putih hitam dan atribut ospek, diiringi tatapan "haus darah" para senior di kampus Unpar.

Dan kemarin, karena diajak beberapa teman yang entah kenapa lagi kesambit semangat nasionalisme berlebihan, akhirnya gue kembali ke lapangan upacara bendera, kali ini di Wisma Duta KBRI, dengan suasana kelewat santai karena diselingi foto" bareng, dengan kostum warna merah, dan tanpa pembacaan teks Pancasila (I wonder why?).

Meskipun suasana upacaranya nggak seserius upacara bendera waktu jaman SD (yang dilakuin setiap Senin pagi!), gue cukup kaget juga karena ternyata gue masih hafal mati lirik lagu mengheningkan cipta (secara dulu gue anggota paduan suara di sekolah) dan pembukaan UUD 45 (Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan...).

Waks! Hasil doktrinasi bertahun-tahun dari mulai seragam putih merah sampai putih abu-abu ternyata nggak sia-sia. Gue nggak tau, apakah anak SD jaman sekarang masih wajib hafal mati butir-butir Pancasila dan pasal-pasal dalam UUD 45. Dan gue juga nggak tau, apakah PPKN yang dulunya bertitel PMP sekarang udah diganti dengan akronim lain, atau bahkan udah dihapuskan dari kurikulum sekolah. Tapi gue pikir, kebegoan kurikulum sekolah jaman dulu dengan segala "pemaksaan nasionalisme" nya itu adalah bagian dari diri gue, generasi gue, dan kenangan gue sama segala hal tentang tanah air.

Seorang teman pernah bilang, dia merasa sebagai bagian yang terbuang di Indonesia, dan gue masih inget ucapannya: "Gue lebih baik dijajah di negara orang, oleh bangsa lain, daripada dijajah di negeri sendiri, oleh bangsa sendiri".

Seorang teman lain pernah juga berargumen tentang kecintaan gue sama tanah air: "Kamu kangen sama Indonesia karena kamu termasuk salah satu orang beruntung yang punya segala fasilitas enak di sana. Kalo misalnya kamu dateng dari keluarga yang nggak beruntung misalnya, apa kamu masih pengen pulang? Apa Kopaja buat kamu tetep punya nilai romantis dan sentimentil?"

Dan gue jadi berpikir. Gue nggak tau, apa gara" pendidikan kebangsaan yang terlalu berlebihan di jaman gue, atau keberuntungan gue yang memiliki semua yang gue sayang di Indonesia, yang jelas, pulang ataupun enggak, gue tetep cinta tanah air gue, dengan segala kesemrawutan dan kekacauannya.

Thursday, August 10, 2006

Super Pippo

Inzaghi birthday strike gives Milan narrow lead
MILAN, Aug 9 (Reuters) - AC Milan striker Filippo Inzaghi celebrated his 33rd birthday with the goal that secured a 1-0 win over Red Star Belgrade in their Champions League third qualifying round, first leg match on Wednesday.

Despite Inzaghi's 22nd minute strike the six-times European champions still have a lot of work to do in the return match in two weeks' time in the Serbian capital.

Milan, who originally finished runners-up in Serie A last season, found themselves in the Champions League qualifying round after being demoted to third place by an Italian sports tribunal that examined a match-rigging scandal.

UEFA cleared Milan to face Red Star due to a lack of legal grounds to exclude them but European soccer's governing body scolded the Italian club in a statement that spoke of the damage they had "already caused to European football".

Red Star gave the home side an early scare when Blagoj Georgiev was picked out unmarked inside the area but Milan's Brazilian goalkeeper Dida saved well.

Brazilian Kaka then went close for Milan before providing the pass that allowed Inzaghi to confidently strike home from inside the area to put Carlo Ancelotti's side ahead.

Milan had chances after the break but Red Star keeper Ivan Randjelovic was in top form as he twice foiled Alberto Gilardino and kept out an effort from Dutchman Clarence Seedorf to ensure the Serbians have everything to play for in the second leg.

Happy b-day Pippo...One of my favorite players, ever...=)

Tuesday, August 08, 2006

Agen Siluman dan Bisnis Sekolah: Ketika Pendidikan Diperdagangkan

Gue dateng ke Belanda lewat bantuan sebuah organisasi yang menamakan dirinya "agen representatif sekolah". Gue memilih sekolah gue yang sekarang setelah menghadiri pameran pendidikan yang diselenggarakan oleh NEC (Netherlands Education Centre), badan resmi pendidikan Belanda yang salah satu cabangnya ada di Jakarta.

Ada beberapa pilihan sekolah yang menarik hati gue saat itu, meskipun pilihan programnya tetap berkisar di bidang komunikasi dan media. Akhirnya, karena salah satu sekolah memiliki "agen representatif" di Jakarta, dan proses pendaftaran serta tetek bengeknya (termasuk mengurus akte kelahiran dan visa di kedutaan Belanda) lebih cepat dan ringkas, gue pun resmi menjatuhkan pilihan di sekolah gue yang sekarang. Tentu saja setelah menilik dan menimbang faktor lainnya, seperti jenis program yang ditawarkan, lamanya studi, dan biaya yang harus dikeluarkan.

Dan jujur aja, entah karena ekspektasi gue terlalu berlebihan, atau memang si sekolah dan "agen representatifnya" tidak memberikan informasi yang akurat dan lengkap, banyak hal yang ternyata berada di luar dugaan gue ketika gue menjalani hari-hari pertama di bangku kuliah. Sistem pendidikan Belanda yang ternyata sangat-sangat berbeda dengan Indonesia (ataupun sistem pendidikan internasional pada umumnya), adanya pemisahan antara University dan University of Profesional Education (atau yang umum disebut Hogeschool), dan banyak hal lain yang seharusnya sih, merupakan tugas si "agen representatif" tadi untuk memberi informasi pada calon student yang akan berangkat menuntut ilmu.

Banyak hal yang menyebalkan di dunia ini, tapi salah satu hal paling kejam menurut gue adalah menjadikan pendidikan sebagai bisnis, dan memperlakukan calon pelajar yang akan menuntut ilmu tak lebih sebagai konsumen. Kenapa? Karena pendidikan itu mempengaruhi masa depan seseorang. Kasus gue mungkin nggak terlalu parah, karena setidaknya gue masih bisa dapet ilmu selama gue studi di sini, meskipun mungkin kadarnya di bawah harapan yang udah gue pasang sebelumnya. Tapi, agen-agen representatif tadi merugikan banyak orang selain gue. Gue tahu seorang pelajar asal Indonesia yang mengeluh nggak bisa mengerti apapun di kelasnya karena bahasa Inggrisnya yang nggak memadai, atau pelajar Cina teman sekelas gue yang bahkan jadi tidak lulus karena reportnya yang nggak bisa dimengerti oleh sang dosen.

Dan orang-orang seperti mereka, kebanyakan hanya mengandalkan agen-agen representatif untuk menjamin mereka masuk ke sekolah yang bersangkutan. Sementara mungkin kualitas mereka sendiri nggak memadai untuk menjadi siswa di sekolah itu. Apakah pelajar hanya dihargai setara dengan calon pembeli? Yang rela membayar berapapun asal bisa masuk ke sekolah yang diinginkan? Sementara itu, sebagian siswa yang lain justru "terperangkap" masuk ke salah satu sekolah karena agen representatif tadi nggak memberi informasi yang memadai, bahkan cenderung menyesatkan.

Mungkin ini hanya salah satu cara sekolah untuk menarik murid sebanyak-banyaknya. Dan gue yakin, untuk sekolah dengan kualifikasi tinggi yang nggak mengandalkan pemasukan dari jumlah murid, kondisi ini nggak mungkin terjadi. Tapi, masa sih orang-orang yang berkecimpung di dunia pendidikan itu nggak punya hati nurani? Masa sih, udah nggak ada lahan bisnis lain, sehingga bahkan pendidikan pun jadi diperdagangkan?

(Thanks buat Mbak Niken dari NEC untuk obrolan sorenya yang mencerahkan...)

Wednesday, August 02, 2006

Teringat Masa Itu...

Mocca - I remember (OST Catatan Akhir Sekolah)

I remember...The way you glanced at me, yes I remember
I remember...When we caught a shooting star, yes I remember
I remember.. All the things that we shared, and the promise we made, just you and I
I remember.. All the laughter we shared, all the wishes we made, upon the roof at dawn

Do you remember..?
When we were dancing in the rain in that december
And I remember..When my father thought you were a burglar
I remember.. All the things that we shared, and the promise we made, just you and I
I remember.. All the laughter we shared, all the wishes we made, upon the roof at dawn

I remember.. The way you read your books,
yes I remember
The way you tied your shoes,
yes I remember
The cake you loved the most,
yes I remember
The way you drank you coffee,
I remember
The way you glanced at me, yes I remember
When we caught a shooting star,
yes I remember
When we were dancing in the rain in that december
And the way you smile at me,
yes I remember


*Baru nonton VCD Catatan Akhir Sekolah (setelah berhasil men-submit thesis tadi sore, hehe), dan jadi mengenang masa SMA*

Seragam putih abu-abu, ketawa dan bercanda sepanjang waktu, bolos pelajaran Bahasa Indonesia dan malah nongkrong di pinggir lapangan bola, dulu-duluan keluar pas jam istirahat buat berjuang rebutan bala-bala (a.k.a bakwan) di kantin 9, ijin ke WC padahal janjian sama gebetan di pendopo, deg-degan dipanggil ke depan buat ngerjain soal matematika, dihukum push up karena telat dateng pelajaran olah raga, berusaha keras nahan air mata waktu abis berantem sama pacar, ngegodain cowok kelas satu yang masih cupu, latihan band mati-matian buat tampil di acara sekolahan, nyiptain kode-kode aneh buat kerja sama waktu ulangan, ngerjain guru baru yang tampangnya lucu, ketangkep make rok yang panjangnya di atas lutut, ngeri setiap kali praktikum kimia karena gosip hantu di laboratorium, bahkan ngelirik frater ganteng di kapel samping sekolah!

Masa SMA. Berjuta kenangan yang nggak mungkin terlupakan =)Kamu juga-kah?

Saturday, July 29, 2006

Musim Panas, Thesis, dan Dante

Setelah musim dingin selesai, gue pikir penderitaan paling berat hidup di Belanda sudah lewat, dengan angin dingin menusuk-nusuk dan suhu yang kadang bisa mencapai minus. Ternyata, perkiraan gue salah, karena musim panas tidak kalah sadisnya. Panas matahari yang keterlaluan teriknya, suhu yang bisa mencapai lebih dari 30 derajat, dan alergi menyebalkan yang mulai menyerang kulit gue. Arghhhh....!

Dan efek sampingnya, gue jadi super males ke mana-mana, dan lebih memilih untuk diem di dalem rumah yang memang lumayan adem, dan sepertinya lebih bersahabat dengan cuaca di musim panas dibanding tempat lainnya.

Jadi....mestinya nggak ada alesan buat gue untuk terus menunda thesis, yang deadlinenya tinggal 4 hari lagi. Gue hampir selalu ada di rumah, nggak tergoda untuk jalan ke centrum, makan di Wing Kee, bahkan pergi ke pantai. Gue di rumah. Di depan komputer. Seharusnya.

Tapi...Godaan memang ada di mana-mana, bahkan di rumah sendiri. Dan kali ini, datang dalam bentuk novel berjudul The Dante Club. Buku super seru yang kisahnya berkisar tentang pembunuhan berantai yang menjiplak puisi Inferno karangan Dante, pujangga Italia yang menulis perjalanannya ke neraka dan melihat hukuman para pendosa. Dengan setting di tahun 1800-an, dan gaya bercerita yang detil, buku ini sedikit mengingatkan gue dengan film Se7en-nya Brad Pitt yang diramu dengan setting lebih modern.

Dan entah kenapa, malam tadi, salah satu channel di TV malah memutar film Se7en yang sudah bertahun-tahun nggak pernah gue tonton. Thesis gue pun, tertunda lagi... (Untung, yang masih ketinggalan hanyalah Appendix dan pritilan-pritilannya, setidaknya gue nggak terlalu merasa bersalah..hehehe).

Tapi baca buku The Dante Club dan nonton film Se7en jadi bikin gue berpikir, apa rasanya ya, menghakimi dosa orang dengan membuat dosa baru? Bukan hal yang asing sebetulnya, bahkan di kehidupan kita sekarang ini. Perang atas nama negara, teror dengan latar belakang agama, dan entah alasan apa lagi, seakan-akan menghalalkan satu dosa manusia yang sangat mendasar: membunuh. Serem kalo dipikir-pikir, betapa manusia makin hari makin bertindak sebagai Tuhan untuk sesamanya.

Dan memang,untuk sekarang, mungkin lebih baik gue kembali ke thesis gue =)

Monday, July 24, 2006

20-Something

Just went through my old personal emails, and bumped into this one. Dedicated to all my twenty-something friends, where ever you guys are...Keep the spirit high!!

Being Twenty-something - they call it the "Quarter-life Crisis". It is when you stop going along with the crowd and start realising that there are many things about yourself that you didn't know and may not like.

You start feeling insecure and wonder where you will be in a year or two, but then get scared because you barely know where you are now.
You start realising that people are selfish and that, maybe, those friends that you thought you were so close to aren't exactly the greatest people you have ever met, and the people you have lost touch with are some of the most important ones. What you don't recognise is that they are realising that too, and aren't really cold, catty, mean or insincere, but that they are as confused as you.

You look at your job ... and it is not even close to what you thought you would be doing, or maybe you are looking for a job and realising that you are going to have to start at the bottom and that scares you.

Your opinions have gotten stronger. You see what others are doing and find yourself judging more than usual because suddenly you realise that you have certain boundaries in your life and are constantly adding things to your list of what is acceptable and what isn't.

One minute, you are insecure and then the next, secure. You laugh and cry with the greatest force of your life. You feel alone and scared and confused. Suddenly, change is the enemy and you try and cling on to the past with dear life, but soon realise that the past is drifting further and further away, and there is nothing to do but stay where you are or move forward.

You get your heart broken and wonder how someone you loved could do such damage to you. Or you lie in bed and wonder why you can't meet anyone decent enough that you want to get to know better. Or maybe you love someone but love someone else too and cannot figure out why you are doing this because you know that you aren't a bad person. One night stands and random hook ups start to look cheap. Getting wasted and acting like an idiot don't seem as fun.

You go through the same emotions and questions over and over, and talk with your friends about the same topics because you cannot seem to make a decision. You worry about loans, money, the future and making a life for yourself... and while winning the race would be great, right now you'd just like to be a contender!

What you may not realise is that everyone reading this relates to it. We are in our best of times and our worst of times, trying as hard as we can to figure this whole thing out.

I'm at my twenty something... And it's hard... Really,, it is!!!

Tuesday, July 18, 2006

Kangen

Somehow I really missed my home these days. Silly of course, because it's only two months until the day I'll go back to Indonesia.

But what can I say? I missed my house and the crazy dogs, I missed my Mom yelling at me because I don't want to clean my room, I missed talking to my sister, sharing Marlboro Light Menthol and a can of Bir Bintang, I missed the comfortable soffa in the living room, my favorite place to spend the whole season of 24 series DVD, I missed driving around in the city, stopping by in every distro and just sitting in Selasar Dago, I missed all my friends, from the one I share the most of my stories with(Congratulations for you engagement girl, I really wished I could be there...), to the one who was my loyal companion of DVD and CD searching in Dalem Kaum (Hey...when will you arrive in UK? I wish we could at least meet before I get back home..).

And all the songs in my playlist did not help me with this homesick thing, they made it even worse...Linger-Cranberries, Somebody-Depeche Mode, Dari Hati-Club 80s, Bimbang-Melly Goeslaw...and so on...and so on...I even re-read the book Cintapuccino, only to experience one more time the feeling I had when I first read the book in Bandung (especially because the setting of the story was Bandung after all...).

*Sigh....*

But for now, back to reality first...To my unfinished thesis, my wonderful friends here, the long summer days, and of course, all unforgettable experiences...=)Chomp-chomp!

Sunday, July 16, 2006

Teori Kebetulan

Dari dulu gue nggak pernah terlalu serius mikirin kebetulan-kebetulan yang mampir dalam hidup gue. Buat gue, semua yang harus terjadi ya memang harus terjadi, meski kadang ada hal-hal tertentu yang keterlaluan anehnya, seperti misalnya dua kali berturut-turut dalam sehari bertemu teman yang sudah lama nggak kelihatan , atau mendengar lagu kesayangan di radio yang berbeda dalam jangka waktu berdekatan.

Dan hari ini, kebetulan itu kembali terjadi. Ketika gue baru ngobrol online dengan seseorang dan membahas suatu hal yang bikin gue merasa sangat down, malamnya gue chatting dengan seorang teman lain yang ternyata, mengalami hal yang sama dalam waktu bersamaan pula.

Teman gue mulai berteori, katanya nggak ada hal yang terjadi hanya karena kebetulan. Semua ada maksudnya. Termasuk obrolan kita di saat mengalami kejadian serupa. Dan gue jadi berpikir, mungkin Tuhan memang sengaja mempertemukan gue dengan dia di dunia maya malam tadi, untuk saling menghibur satu sama lain, untuk sekedar mendengarkan impian masing-masing yang harus dikubur mulai saat itu.

Dan ingatan gue mundur jauh, ke hari-hari di mana gue masih sering merasa down akibat orang yang sama. Setiap kali, selalu ada orang yang menemani gue. Entah punya masalah yang sama, atau sekedar numpang lewat dalam hidup gue yang sedang berwarna biru. Tuhan memang baik. Dan gue mulai percaya, kebetulan itu mungkin memang nggak ada. Yang ada hanyalah hal-hal yang memang patut disyukuri karena selalu punya maksud tertentu dalam hidup kita.

Thursday, July 13, 2006

Azzurri, Cinta yang tak Berbalas

Piala dunia usai sudah. Harap-harap cemas, perasaan excited karena tim favorit mau bertanding, dan rasa kesal yang amat sangat melihat pemain kesayangan dikartu kuning dengan semena-mena oleh wasit.

Banyak kenangan piala dunia tahun ini buat gue. Yang paling luar biasa dan nggak diduga-duga, tentu aja kemenangan tim azzurri sebagai juara dunia. Seumur-umur gue mengidolakan tim italia sebagai favorit, belum pernah sekalipun mereka meraih kemenangan. Paling banter masuk final. Itu pun biasanya diakhiri dengan tragis dan ironis, menyisakan air mata buat gue.

Jadi, betapa sangat bahagianya gue yang dari awal sudah menerima celaan-celaan seputar prospek tim italia di piala dunia tahun ini, ketika akhirnya italia berhasil masuk ke putaran final, setelah memenangkan pertandingan luar biasa seru melawan jerman sang tuan rumah.

Saking berlebihannya, seorang temen gue yang asli dari italia berkomentar, sepertinya gue malah lebih bersemangat daripada dia. Gue jadi agak malu sendiri sama kelakuan gue.

Dan kebahagiaan itu semakin berlipat ganda berhubung gue sdah memesan tiket kereta ke Berlin sejak beberapa bulan yang lalu, demi bisa menonton final piala dunia lewat widescreen di tengah kota Berlin. Nggak nyangka, ternyata fans Azzurri membludak di sana, lengkap dengan berbagai atribut gilanya. Gue langsung merasa ada di tengah teman senasib sepenanggungan. Bahkan sempat beberapa kali diminta foto bareng sama gerombolan fans gila itu, mungkin karena mereka heran melihat gue ikut bersemangat, komplit dengan modal atribut gratisan dari pihak sponsor.

Dan begitulah. Finalnya sendiri nggak semenarik yang dibayangkan sebelumnya, apalagi kalau dibandingkan dengan pertandingan semifinal antara italia melawan jerman. Italia kembali main bertahan, dengan passing-passing atas yang sering berakhir dengan terbuangnya bola ke tangan Perancis atau bahkan keluar lapangan. Menyebalkan sekaligus bikin gregetan. Dan menjelang akhir babak perpanjangan waktu, terjadilah insiden itu, yang membuat orang-orang semakin panas. Entah terprovokasi apa, Zidane menanduk dada Matterazi, disusul dengan dikeluarkannya kartu merah untuk Zidane. Gila. Semakin mirip sinetron.

Drama berlanjut kembali saat adu penalti dilakukan. Trezeguet, pemain Perancis yang saat final Euro 2000 berhasil menjadi pahlawan kemenangan melawan Italia, kini malah menjadi penyebab kekalahan Perancis karena tidak berhasil menyarangkan bolanya ke gawang Italia yang dijaga oleh Buffon. Tragis, dan dramatis. Karma, kalau kata orang-orang.Kebetulan yang menguntungkan, kalau menurut gue.

Dan begitulah. Italia akhirnya menjadi juara, diiringi sorak tidak puas dari pendukung Perancis (terlebih setelah insiden dikeluarkannya Zidane dari lapangan), dan gemuruh kemenangan dari fans Azzurri. Gue larut dalam perayaan kemenangan pendukung Italia. Akhirnya, penantian gue terbalas sudah. Meski Inzaghi tidak juga main sampai detik terakhir...tapi kekecewaan gue cukup terbayar.

Tapi, melihat gerombolan Italia menyanyikan lagu kemenangan dalam bahasa nenek moyang mereka, lengkap dengan bendera merah-putih-hijau yang berkibar-kibar, dan sebagian malah dililitkan ke tubuh mereka, membuat gue merasa terasing. Cinta gue sama Azzurri adalah cinta tak berbalas. Sampai kapanpun, gue nggak bisa disamakan dengan pendukung asli Italia. Gue bukan orang Italia, secinta apapun gue pada Azzurri.

Dan tiba-tiba, gue merasa rindu. Rindu dengan hadirnya tim sepakbola negara gue di ajang internasional seperti ini. Rindu menyanyikan lagu kemenangan dengan bahasa Indonesia. Rindu melihat bendera merah putih yang berkibar, tanpa embel-embel hijau atau biru.Rindu mendapat cinta yang berbalas, dari sebuah tim bertajuk PSSI. Mungkinkah?