Tahun baru lagi...Ganti kalender, ganti agenda..
Membuat resolusi (yang biasanya terlupakan sebelum pertengahan tahun, hehe), mendaftar hal-hal yang ingin dilakukan di tahun ini...
Yang pasti, semua ingin tahun yang lebih baik dalam segala hal..Mencapai yang belum tercapai di tahun sebelumnya...
Buat gue, tahun 2009 benar-benar mempunyai banyak ups and downs...Banyak struggle, banyak juga berkat yang gue terima. Bertambahnya seorang anggota baru dalam keluarga kecil kami, berkunjung ke tempat-tempat yang tidak terlupakan, bertemu orang-orang yang mengagumkan, dan masih boleh bersama-sama dengan keluarga, dan partner seumur hidup gue yang luar biasa...
I cherised 2009, and ready to welcome 2010...
Happy new year everybody, and best of luck to you all!
(Resolusinya simpel kok, tetap mengupdate blog ini dan meneruskan blog yang baru..hehehe)
Friday, January 08, 2010
Wednesday, December 23, 2009
Another Tragedy
Belum hilang kesedihan dan kekagetan sepeninggal si bandel Chester, eh...anjing golden paling senior di rumah gue, Pippo, melanjutkan tragedi beruntun yang menyedihkan ini..Sepertinya sih ada tanda-tanda keracunan makanan, karena gejala kematian mereka sama, ada muntah-muntahnya segala.
Sedih banget dalam satu hari ditinggal pergi dua sahabat yang udah menemani dalam suka dan duka..Yang selalu menyambut gue tiap pulang ke Bandung dengan gonggongan heboh dan gabrukan mereka..Yang selalu laper dan minta makan tiada henti...Yang suka pipis sembarangan di taneman nyokap dan menyebarkan bau pesing ke mana-mana...Yang selalu tidak putus asa menyelinap ke dalem rumah, meskipun sudah jelas itu adalah daerah terlarang buat mereka...Yang hebatnya, pernah mengusir pencuri yang sudah setengah jalan membongkar mobil di halaman depan...Yang pernah ngabur nggak ketauan rimbanya, dan ditemuin beberapa hari kemudian, lagi nongkrong di rumah orang...Yang suka gue ajakin curhat kalo jaman dulu gue nggak tau lagi harus ngomong sama siapa...Yang keturunannya udah bikin berpuluh-puluh kehidupan orang menjadi lebih berwarna...Yang terakhir kali gue pulang ke rumah, sempet-sempetnya ngerubungin Baby Yofel dan bikin panik semua orang...Yang udah menemani gue meniti tahun demi tahun kehidupan gue...
Bahkan, pemberian nama mereka pun nggak lepas dari pertumbuhan gue masa kuliah dulu...Pippo, gue kasih nama itu karena gue sangat tergila-gila dengan Filippo Inzaghi yang dulu masih main untuk Juventus...Sementara Chester, yang lahir beberapa tahun kemudian, namanya diambil dari vokalisnya Linkin Park, Chester Bennington...ABG banget yah..hehe...
Ya ampun...gue udah berasa kangen banget sama mereka, dan membayangkan pulang di akhir tahun ke rumah minus gonggongan heboh dan gabrukan itu, kok rasanya sedih banget ya? Mengutip kalimat adek gue: Guys, be good in dog's heaven!
Sedih banget dalam satu hari ditinggal pergi dua sahabat yang udah menemani dalam suka dan duka..Yang selalu menyambut gue tiap pulang ke Bandung dengan gonggongan heboh dan gabrukan mereka..Yang selalu laper dan minta makan tiada henti...Yang suka pipis sembarangan di taneman nyokap dan menyebarkan bau pesing ke mana-mana...Yang selalu tidak putus asa menyelinap ke dalem rumah, meskipun sudah jelas itu adalah daerah terlarang buat mereka...Yang hebatnya, pernah mengusir pencuri yang sudah setengah jalan membongkar mobil di halaman depan...Yang pernah ngabur nggak ketauan rimbanya, dan ditemuin beberapa hari kemudian, lagi nongkrong di rumah orang...Yang suka gue ajakin curhat kalo jaman dulu gue nggak tau lagi harus ngomong sama siapa...Yang keturunannya udah bikin berpuluh-puluh kehidupan orang menjadi lebih berwarna...Yang terakhir kali gue pulang ke rumah, sempet-sempetnya ngerubungin Baby Yofel dan bikin panik semua orang...Yang udah menemani gue meniti tahun demi tahun kehidupan gue...
Bahkan, pemberian nama mereka pun nggak lepas dari pertumbuhan gue masa kuliah dulu...Pippo, gue kasih nama itu karena gue sangat tergila-gila dengan Filippo Inzaghi yang dulu masih main untuk Juventus...Sementara Chester, yang lahir beberapa tahun kemudian, namanya diambil dari vokalisnya Linkin Park, Chester Bennington...ABG banget yah..hehe...
Ya ampun...gue udah berasa kangen banget sama mereka, dan membayangkan pulang di akhir tahun ke rumah minus gonggongan heboh dan gabrukan itu, kok rasanya sedih banget ya? Mengutip kalimat adek gue: Guys, be good in dog's heaven!
Tuesday, December 22, 2009
Chester, This One's For You
He was born in one crazy night, more than 6 years ago..Since the beginning, we knew that he's gonna make us crazy with his hyperactive personality.
From a small fatty little golden, he became one of the biggest dogs I've ever seen. People tended to get afraid of him, although he never meant to hurt anybody. He just wanted to play with you, but unfortunately he didn't realize that not everyone could stand his big body, including being crushed by his big feet!
Once, he ran away from our home, and trespassed to other people's house. He made quite a scene there =)
He's a nice friend to be with, a bit annoying, but you'll miss him if he's not around.. He's our own personal Marley...And he's gone now.. We're gonna miss him so much.
Goodbye, Chester. Thanks for those wonderful years...
From a small fatty little golden, he became one of the biggest dogs I've ever seen. People tended to get afraid of him, although he never meant to hurt anybody. He just wanted to play with you, but unfortunately he didn't realize that not everyone could stand his big body, including being crushed by his big feet!
Once, he ran away from our home, and trespassed to other people's house. He made quite a scene there =)
He's a nice friend to be with, a bit annoying, but you'll miss him if he's not around.. He's our own personal Marley...And he's gone now.. We're gonna miss him so much.
Goodbye, Chester. Thanks for those wonderful years...
Wednesday, December 09, 2009
Overrated
Banyak hal yang menurut gue terlalu overrated, dinilai berlebihan dan bisa menciptakan hype yang luar biasa heboh, padahal setelah ditilik-tilik, kok ya sebenernya biasa-biasa aja dan nggak ada yang istimewa dari hal yang bersangkutan...
Salah satu yang paling mengganggu gue akhir-akhir ini adalah segala kehebohan menyangkut Twilight Saga. Gue masih bisa ngerti waktu Harry Potter menjadi suatu cult baru di awal tahun 2000. Kisahnya yang cerdas, penuh intrik dan misteri sampai kalimat penghabisan, karakter-karakternya yang lovable dan sangat-sangat manusiawi (well, gue seneng karena even Harry si tokoh utama pun digambarkan punya flaw juga), dan gaya penulisan yang hidup, lengkap dengan humor yang bisa bikin ketawa ngakak, atau tragedi yang bisa bikin pembaca nangis-nangis darah. Anyway, it's a complete great package, dan gue nggak heran kalau JK Rowling setelah ini akan males nulis buku lagi, mengingat dia sudah mencapai masterpiecenya lewat serial Harpot.
Tapi Twilight???? Gosh.
Jangan salah. Dulu gue sempat membaca buku pertamanya, berharap segala hype yang muncul memang berdasarkan sesuatu yang luar biasa. Tapi ternyata, I'm truly dissapointed. Heran gue apa yang bikin orang tergila-gila dengan kisah cinta standar (kalo nggak mau disebut picisan) antara seorang manusia dengan vampir super ganteng yang digambarkan sangat sempurna (yea, right). Ditambah lagi, cewek tokoh utamanya (yang bernama nggak kalah konyol: Isabella Swan!!!) sama sekali nggak bisa bikin gue bersimpati, karena dia sepertinya terlalu lemah, merasa dirinya nggak berarti, dan keseluruhan eksistensinya di dunia sepertinya hanya tergantung pada sesosok vampir bernama Edward (yang entah kenapa kok bisa tergila-gila sama cewek ini). Nggak pede, selalu terlibat masalah (yang pada akhirnya menyebabkan si vampir menyelamatkan dia), dan sama sekali nggak punya hal yang menarik untuk diceritakan (sialnya, novel ini justru memakai sudut pandang orang pertama, yang berarti kita dipaksa untuk mengikuti seluk beluk pikiran Bella yang amat sangat membosankan).
Oke. Gue pikir, itu buku pertama. Mungkin buku kedua bisa lebih menghibur dan menjelaskan pada gue kenapa serial ini bisa jadi hype. Give it a chance!!!
Tapi ternyata, gue kecewa lagi untuk kedua kalinya, kali ini malah lebih parah karena buku kedua yang bertitel New Moon ternyata amat sangat membosankan!!! Lebih dari separo buku (yang lumayan tebel lhooo) kita (lagi-lagi) dipaksa untuk mendengarkan keluh kesah Bella yang patah hati karena Edward sang vampir harus pergi meninggalkannya. Arghhhh!!!! Satu-satunya yang gue suka hanyalah sosok Jacob, manusia serigala yang (anehnya) suka sama Bella dan membuat Bella sedikit ragu untuk menentukan pilihan. Tapi, yahhhh klise lah. Tanpa harus membaca dua buku selanjutnya pun kita udah tahu kok, siapa yang akan dia pilih.
Akhirnya gue menyerah, nggak berminat untuk melanjutkan seri selanjutnya. Tapi gue masih berusaha ngasih kesempatan untuk nonton filmnya (yang lebih-lebih dinilai sangat bagus oleh banyak pihak, termasuk majalah Movie Monthly yang opininya rata-rata oke lah). Tapi...tetep nggak menjawab tuh pertanyaan gue tentang apa yang bikin orang tergila-gila dengan saga ini. Yang gue inget dari film Twilight hanyalah rambut Robert Pattinson!
Jadi...apa gue harus memberi satu kesempatan lagi untuk film New Moon?
Salah satu yang paling mengganggu gue akhir-akhir ini adalah segala kehebohan menyangkut Twilight Saga. Gue masih bisa ngerti waktu Harry Potter menjadi suatu cult baru di awal tahun 2000. Kisahnya yang cerdas, penuh intrik dan misteri sampai kalimat penghabisan, karakter-karakternya yang lovable dan sangat-sangat manusiawi (well, gue seneng karena even Harry si tokoh utama pun digambarkan punya flaw juga), dan gaya penulisan yang hidup, lengkap dengan humor yang bisa bikin ketawa ngakak, atau tragedi yang bisa bikin pembaca nangis-nangis darah. Anyway, it's a complete great package, dan gue nggak heran kalau JK Rowling setelah ini akan males nulis buku lagi, mengingat dia sudah mencapai masterpiecenya lewat serial Harpot.
Tapi Twilight???? Gosh.
Jangan salah. Dulu gue sempat membaca buku pertamanya, berharap segala hype yang muncul memang berdasarkan sesuatu yang luar biasa. Tapi ternyata, I'm truly dissapointed. Heran gue apa yang bikin orang tergila-gila dengan kisah cinta standar (kalo nggak mau disebut picisan) antara seorang manusia dengan vampir super ganteng yang digambarkan sangat sempurna (yea, right). Ditambah lagi, cewek tokoh utamanya (yang bernama nggak kalah konyol: Isabella Swan!!!) sama sekali nggak bisa bikin gue bersimpati, karena dia sepertinya terlalu lemah, merasa dirinya nggak berarti, dan keseluruhan eksistensinya di dunia sepertinya hanya tergantung pada sesosok vampir bernama Edward (yang entah kenapa kok bisa tergila-gila sama cewek ini). Nggak pede, selalu terlibat masalah (yang pada akhirnya menyebabkan si vampir menyelamatkan dia), dan sama sekali nggak punya hal yang menarik untuk diceritakan (sialnya, novel ini justru memakai sudut pandang orang pertama, yang berarti kita dipaksa untuk mengikuti seluk beluk pikiran Bella yang amat sangat membosankan).
Oke. Gue pikir, itu buku pertama. Mungkin buku kedua bisa lebih menghibur dan menjelaskan pada gue kenapa serial ini bisa jadi hype. Give it a chance!!!
Tapi ternyata, gue kecewa lagi untuk kedua kalinya, kali ini malah lebih parah karena buku kedua yang bertitel New Moon ternyata amat sangat membosankan!!! Lebih dari separo buku (yang lumayan tebel lhooo) kita (lagi-lagi) dipaksa untuk mendengarkan keluh kesah Bella yang patah hati karena Edward sang vampir harus pergi meninggalkannya. Arghhhh!!!! Satu-satunya yang gue suka hanyalah sosok Jacob, manusia serigala yang (anehnya) suka sama Bella dan membuat Bella sedikit ragu untuk menentukan pilihan. Tapi, yahhhh klise lah. Tanpa harus membaca dua buku selanjutnya pun kita udah tahu kok, siapa yang akan dia pilih.
Akhirnya gue menyerah, nggak berminat untuk melanjutkan seri selanjutnya. Tapi gue masih berusaha ngasih kesempatan untuk nonton filmnya (yang lebih-lebih dinilai sangat bagus oleh banyak pihak, termasuk majalah Movie Monthly yang opininya rata-rata oke lah). Tapi...tetep nggak menjawab tuh pertanyaan gue tentang apa yang bikin orang tergila-gila dengan saga ini. Yang gue inget dari film Twilight hanyalah rambut Robert Pattinson!
Jadi...apa gue harus memberi satu kesempatan lagi untuk film New Moon?
Monday, November 23, 2009
Almost Thirty
Dari mulai usia 22 tahun saat memulai blog ini di pertengahan 2003, sampai akhirnya hampir menginjak usia 30 tahun di penghujung 2009.
From twenty-something girl to almost-thirty, I cherished every moment in life, and tried to squeeze the stories into this simple blog of mine...
Happy 29th birthday, me!
From twenty-something girl to almost-thirty, I cherished every moment in life, and tried to squeeze the stories into this simple blog of mine...
Happy 29th birthday, me!
Thursday, November 19, 2009
On Being a Parent
I always love being an aunt. I have two gorgeous nephews, Matthew, almost 5 years old, and baby Christian, just 2 months old. Being an aunt means you could be the fun person for your nephews, without actually taking a full responsibility to raise them. You could bring them to fun places, buy them funky gifts, and play with them whenever you like it. And when they become more and more naughty, or cranky. you could just send them back to their parents! =)
But being a parent, was something that didn't really match my personality. I never had too much motherly instinct, and when I was a little girl, I didn't have a passion to be a mom or have many kids in the future..
So this is a very new experience for me..I don't know anything about being a parent. I couldn't even change a diaper or hold a baby in the right way! I always in panic mode when my son cries, and I even have a chill every time I call myself Mom. This is totally weird!
But who knows, I actually enjoying my new role as a Mom. Though I still don't have a courage to bath my son, and I couldn't sooth him every time he screams, I started to feel comfortable with this new chapter of my life. I never thought that I could bring myself up at 2 am, while I know that I'm not a morning person at all. Or, how I like to smell minyak telon on his body, when I know that I hated the smell so much before!
True, many criticisms are still on my way. Here are some examples:
Q: What do you give your son? Full ASI?
Me: No, I mix it with formula...
Q: Why?? ASI is the best for baby, you know. At least until 6 months, you should give your baby ASIX (aka ASI exclusive).
Me: I don't produce enough for him.
Q: How do you know? You should try first. He'll be more healthy, clever, and not easily get sick.
Me: But I tried and it's not enough.
Q: Have you tried eating daun katuk? Or kacang hijau? And drink much milk?
Me: I tried all..But its okay, I think formula is also fine for him..
Q: But it's a pity, you know...
Me: ...
Well, it's only one example of how I have to explain my way of raising my kid. Not mentioning the questions about why I hired a babysitter to help me, or why we used disposable diapers, or why I didn't shave my baby's hair when he's turn 40 days old, or why I brought my baby to Bandung although he was just 1 month old... And still many more!
At first, I was very distressed to have so many questions and criticisms pointed at me. Some of the people were being nice, just gave me ideas and suggestions. But others, argh!!! Just a bunch of annoying people with neverending questions.
But now, I try to just let them say whatever they want. This is my son, my kid, my flesh and blood. I think it's me and my guy's right to choose whatever we feel best for him. Every parent wants the best for their baby, right?
ps: and it's sooo very precious experience for me, to watch my guy holding our baby, playing with him and cherishing every moment they have. Especially, when I know that my guy was not a fatherly figure at all, and didn't like children! (although I still couldn't persuade him to change the diapers, yet! haha...)
But being a parent, was something that didn't really match my personality. I never had too much motherly instinct, and when I was a little girl, I didn't have a passion to be a mom or have many kids in the future..
So this is a very new experience for me..I don't know anything about being a parent. I couldn't even change a diaper or hold a baby in the right way! I always in panic mode when my son cries, and I even have a chill every time I call myself Mom. This is totally weird!
But who knows, I actually enjoying my new role as a Mom. Though I still don't have a courage to bath my son, and I couldn't sooth him every time he screams, I started to feel comfortable with this new chapter of my life. I never thought that I could bring myself up at 2 am, while I know that I'm not a morning person at all. Or, how I like to smell minyak telon on his body, when I know that I hated the smell so much before!
True, many criticisms are still on my way. Here are some examples:
Q: What do you give your son? Full ASI?
Me: No, I mix it with formula...
Q: Why?? ASI is the best for baby, you know. At least until 6 months, you should give your baby ASIX (aka ASI exclusive).
Me: I don't produce enough for him.
Q: How do you know? You should try first. He'll be more healthy, clever, and not easily get sick.
Me: But I tried and it's not enough.
Q: Have you tried eating daun katuk? Or kacang hijau? And drink much milk?
Me: I tried all..But its okay, I think formula is also fine for him..
Q: But it's a pity, you know...
Me: ...
Well, it's only one example of how I have to explain my way of raising my kid. Not mentioning the questions about why I hired a babysitter to help me, or why we used disposable diapers, or why I didn't shave my baby's hair when he's turn 40 days old, or why I brought my baby to Bandung although he was just 1 month old... And still many more!
At first, I was very distressed to have so many questions and criticisms pointed at me. Some of the people were being nice, just gave me ideas and suggestions. But others, argh!!! Just a bunch of annoying people with neverending questions.
But now, I try to just let them say whatever they want. This is my son, my kid, my flesh and blood. I think it's me and my guy's right to choose whatever we feel best for him. Every parent wants the best for their baby, right?
ps: and it's sooo very precious experience for me, to watch my guy holding our baby, playing with him and cherishing every moment they have. Especially, when I know that my guy was not a fatherly figure at all, and didn't like children! (although I still couldn't persuade him to change the diapers, yet! haha...)
Sunday, October 18, 2009
A Miracle Was Born
Jumat, 2 Oktober 2009: Kontrol ke dokter, katanya: Minggu depan kontrol lagi ya, abis itu baru kita siap-siap siaga 1, due-nya sekitar tanggal 17 Oktober...
Sabtu, 3 Oktober 2009: Dua pernikahan dari dua pasang teman baik, udah mulai begah dan nggak ada baju yang cukup memuaskan...
Selasa, 6 Oktober 2009: Masih jalan-jalan, beresin kerjaan kantor, kontrak udah mau abis...
Rabu, 7 Oktober 2009: Berkunjung ke rumah tante gue di Cipete, mengatur rencana kepindahan sementara gue ke sana menjelang lahiran, supaya lebih dekat ke rumah sakit yang berlokasi di Brawijaya..
Kamis, 8 Oktober 2009:
6 am: Merasa bingung karena ada cairan bening merembes dari celana gue. Apa gue ngompol?? Sedikit panik, menelfon dokter tapi belum aktif nomernya, akhirnya menelfon nyokap. Nyokap langsung menyuruh gue berangkat ke rumah sakit. "Itu air ketuban kamu pecah..." Waks!
6.20 am: Thank God, karna jalanan masih sepi, dalam waktu 20 menit kita udah sampai di rumah sakit. Semua kekhawatiran gue tentang jalanan macet atau nggak ada yang nganterin, sirna semua. Semuanya seperti sudah diatur sebaik mungkin...
6.30 am: Pemeriksaan di UGD, ternyata benar air ketuban gue pecah. Gue langsung dioper ke ruang bersalin. Ups. Padahal due gue masih sekitar minggu depan...Setelah diperiksa dalam, ternyata gue belum ada pembukaan sama sekali. Susternya bilang, kita tunggu sampai siang, kalau belum ada kemajuan, terpaksa diambil tindakan. Tindakan apa? tanya gue dengan cemas. Mungkin induksi, jawab si suster dengan tenang. Waks!
11 am: Pemeriksaan berikutnya menunjukkan tidak ada tanda-tanda kemajuan menyangkut pembukaan gue. Dan yang gue takutkan akhirnya terjadilah. Gue diinfus untuk diinduksi. Gue berusaha keras nggak mikirin semua gosip dan mitos tentang betapa sakitnya induksi. Yang lebih bikin gue cemas adalah omongan suster yang bilang kalau dalam waktu 24 jam, bayi gue harus dilahirkan, untuk menghindari habisnya air ketuban, yang bisa berakibat fatal untuk si bayi.
12 pm- 7pm: masa-masa mencemaskan diselingi kontraksi demi kontraksi dan pemeriksaan dalam yang tetap tidak menunjukkan tanda-tanda adanya pembukaan. Frustrasi gue semakin memuncak.
7.30 pm: bukaan satu!
10 pm: bukaan dua!
12 am: bukaan empat!
1 am: bukaan lima, dan frustrasi gue mencapai titik tertinggi. Apalagi waktu si suster (yang sudah berganti shift sampai 4 kali sejak gue pertama kali masuk rumah sakit) bilang, kita liat 3 jam lagi ya, kalau belum ada kemajuan, mungkin harus diambil tindakan. What? 3 jam? Tindakan apa lagi??? Saat itu gue sudah berniat untuk minta ke dokter (yang belum akan datang sebelum bukaan delapan), untuk dioperasi cesar aja. Nggak sanggup gue membayangkan harus bertahan 3 jam lagi, sementara gue udah nyaris 24 jam nggak tidur.
1.30 am: Suami dan nyokap gue akhirnya menelfon si dokter untuk menyampaikan permintaan gue. Selama mereka keluar ruangan, tiba-tiba kontraksi demi kontraksi datang bertubi-tubi. Gilaaa, rasanya nggak bisa digambarin dengan kata-kata. Gue nggak boleh mengejan, padahal ada dorongan yang luar biasa kuat untuk mengejan. Bener-bener bikin frustrasi.
1.35 am: Suster memeriksa dalam lagi, ternyata gue udah bukaan delapan, dokter pun datang dan selanjutnya hanya berupa bayangan-bayangan kabur di benak gue, terdiri dari serangkaian kontraksi dan perasaan mules, perintah-perintah dokter untuk mengejan, menarik napas, menahan napas, dan teriakan-teriakan penyemangat dari suster-suster, suami, dan nyokap gue yang semuanya menemani di dalam ruang bersalin. Sampai akhirnya,
2.10 am: Ayo!! Udah keliatan rambutnya tuh!
dan akhirnya, 2.11 am: Sesosok bayi dibaringkan di dada gue, diiringi rasa takjub luar biasa. A miracle was born.
Jadi, apakah melahirkan itu sakit? Apakah gue kapok punya anak lagi?
Gue nggak tau jawaban pastinya, tapi satu yang bisa gue omongin adalah: it's all worth it, to the tiniest part.
And let me introduce you to our miracle, Joshua Octavian Yofel Souisa.
Sabtu, 3 Oktober 2009: Dua pernikahan dari dua pasang teman baik, udah mulai begah dan nggak ada baju yang cukup memuaskan...
Selasa, 6 Oktober 2009: Masih jalan-jalan, beresin kerjaan kantor, kontrak udah mau abis...
Rabu, 7 Oktober 2009: Berkunjung ke rumah tante gue di Cipete, mengatur rencana kepindahan sementara gue ke sana menjelang lahiran, supaya lebih dekat ke rumah sakit yang berlokasi di Brawijaya..
Kamis, 8 Oktober 2009:
6 am: Merasa bingung karena ada cairan bening merembes dari celana gue. Apa gue ngompol?? Sedikit panik, menelfon dokter tapi belum aktif nomernya, akhirnya menelfon nyokap. Nyokap langsung menyuruh gue berangkat ke rumah sakit. "Itu air ketuban kamu pecah..." Waks!
6.20 am: Thank God, karna jalanan masih sepi, dalam waktu 20 menit kita udah sampai di rumah sakit. Semua kekhawatiran gue tentang jalanan macet atau nggak ada yang nganterin, sirna semua. Semuanya seperti sudah diatur sebaik mungkin...
6.30 am: Pemeriksaan di UGD, ternyata benar air ketuban gue pecah. Gue langsung dioper ke ruang bersalin. Ups. Padahal due gue masih sekitar minggu depan...Setelah diperiksa dalam, ternyata gue belum ada pembukaan sama sekali. Susternya bilang, kita tunggu sampai siang, kalau belum ada kemajuan, terpaksa diambil tindakan. Tindakan apa? tanya gue dengan cemas. Mungkin induksi, jawab si suster dengan tenang. Waks!
11 am: Pemeriksaan berikutnya menunjukkan tidak ada tanda-tanda kemajuan menyangkut pembukaan gue. Dan yang gue takutkan akhirnya terjadilah. Gue diinfus untuk diinduksi. Gue berusaha keras nggak mikirin semua gosip dan mitos tentang betapa sakitnya induksi. Yang lebih bikin gue cemas adalah omongan suster yang bilang kalau dalam waktu 24 jam, bayi gue harus dilahirkan, untuk menghindari habisnya air ketuban, yang bisa berakibat fatal untuk si bayi.
12 pm- 7pm: masa-masa mencemaskan diselingi kontraksi demi kontraksi dan pemeriksaan dalam yang tetap tidak menunjukkan tanda-tanda adanya pembukaan. Frustrasi gue semakin memuncak.
7.30 pm: bukaan satu!
10 pm: bukaan dua!
12 am: bukaan empat!
1 am: bukaan lima, dan frustrasi gue mencapai titik tertinggi. Apalagi waktu si suster (yang sudah berganti shift sampai 4 kali sejak gue pertama kali masuk rumah sakit) bilang, kita liat 3 jam lagi ya, kalau belum ada kemajuan, mungkin harus diambil tindakan. What? 3 jam? Tindakan apa lagi??? Saat itu gue sudah berniat untuk minta ke dokter (yang belum akan datang sebelum bukaan delapan), untuk dioperasi cesar aja. Nggak sanggup gue membayangkan harus bertahan 3 jam lagi, sementara gue udah nyaris 24 jam nggak tidur.
1.30 am: Suami dan nyokap gue akhirnya menelfon si dokter untuk menyampaikan permintaan gue. Selama mereka keluar ruangan, tiba-tiba kontraksi demi kontraksi datang bertubi-tubi. Gilaaa, rasanya nggak bisa digambarin dengan kata-kata. Gue nggak boleh mengejan, padahal ada dorongan yang luar biasa kuat untuk mengejan. Bener-bener bikin frustrasi.
1.35 am: Suster memeriksa dalam lagi, ternyata gue udah bukaan delapan, dokter pun datang dan selanjutnya hanya berupa bayangan-bayangan kabur di benak gue, terdiri dari serangkaian kontraksi dan perasaan mules, perintah-perintah dokter untuk mengejan, menarik napas, menahan napas, dan teriakan-teriakan penyemangat dari suster-suster, suami, dan nyokap gue yang semuanya menemani di dalam ruang bersalin. Sampai akhirnya,
2.10 am: Ayo!! Udah keliatan rambutnya tuh!
dan akhirnya, 2.11 am: Sesosok bayi dibaringkan di dada gue, diiringi rasa takjub luar biasa. A miracle was born.
Jadi, apakah melahirkan itu sakit? Apakah gue kapok punya anak lagi?
Gue nggak tau jawaban pastinya, tapi satu yang bisa gue omongin adalah: it's all worth it, to the tiniest part.
And let me introduce you to our miracle, Joshua Octavian Yofel Souisa.
Wednesday, October 07, 2009
Here Comes The Ugly Truth...
Bisa dibilang, kehamilan gue bukanlah termasuk kehamilan yang menyusahkan..Banyak mitos (ataupun fakta?) seputar kehamilan yang nggak sempat gue alamin sendiri..Gue nggak mengalami morning sickness (atau yang menurut sebagian orang, lebih tepat disebut all day sickness), gue nggak sempat ngidam macem-macem (yang sedikit membuat gue menyesal, karena sesekali sebenarnya pengen juga nyusahin suami, hahaha), dan gue juga (untungnya) nggak mengalami berbagai gangguan yang kerap gue baca di buku-buku kehamilan atau artikel di internet, seperti sembelit, varises, bahkan kenaikan berat badan yang berlebihan (sebenernya kalo yang ini relatif ya, apakah 15 kg berlebihan? hahaha)...
Yang membuat gue lega, sampai bulan kedelapan, meskipun perut, paha dan teman-temannya sudah membesar dan menampakkan tanda lemak berlebih, belum muncul yang namanya stretchmark, salah satu musuh terbesar para ibu hamil. Padahal gue nggak pakai krim macem-macem, hanya minyak yang gue beli di Jerman, rekomendasi salah seorang teman di sana. Itupun pakainya tidak teratur.
Jadi, gue pantes bersuka ria...Sampai suatu hari, memasuki minggu-minggu terakhir kehamilan, lohhh...kok muncul garis-garis merah di bagian samping perut gue ya? Gue mulai cemas, mencoba berpikir positif dengan mengasumsikan garis-garis itu hanyalah bekas pinggang celana yang kesempitan...Tapi hari demi hari, kok dia masih ada di sana yaaa? Samar-samar sih, tapi cukup mengganggu juga...Dan akhirnya, terpaksalah gue menerima kenyataan pahit, kalau si stretchmark yang terkenal itu sudah masuk ke kehidupan gue..Sedihnyaaa....
Dan berbagai kebenaran menyakitkan lainnya mulai menyusul seiring semakin tuanya usia kehamilan gue...Kaki yang membengkak, jerawat kecil-kecil di jidat..Hahaha, akhirnya gue benar-benar mengalami kekacauan-kekacauan ibu hamil...
Satu hal yang bisa menjadi masukan para ibu hamil di luar sana, janganlah terlalu banyak mendengar atau membaca sumber-sumber tentang kehamilan. Sure, menambah pengetahuan itu penting..Tapi menelan semuanya tanpa disaring, adalah a truly big mistake. Gue masih inget waktu di awal kehamilan dulu, kuping gue sampai panas setiap kali ketemu orang yang ribut berkomentar, "Hamilnya kok kecil sih?" "Perutnya kekecilan tuh, untuk usia kandungan 3 bulan...". Sementara komentar sebagian orang lainnya: "Gede banget lo!" "Gilaaa...belum pernah ngeliat lo segendut ini!"... Dan lain sebagainya.
Begitupun dengan banyak hal di luar sana yang diperuntukkan untuk ibu hamil: info seputar ASI eksklusif, Inisiasi Menyusu Dini, Prenatal Yoga, senam hamil, Hypnobirthing, water birth (melahirkan dalam air),bedah cesar, dan sebagainya. Pilah-pilih mana fakta yang memang sreg di hati, lakukan sesuai kata nurani, minta masukan orang-orang yang paling kita percaya. Kalau memang kondisi tidak memungkinkan untuk lahir normal, cesar bisa jadi pilihan. Kalau memang ASI kurang, tidak ada yang melarang susu formula, dan tidak perlu merasa bersalah (btw, gue sendiri adalah produk susu formula murni, dan sampai saat ini, gue nggak punya alergi, penyakit aneh, dan perkembangan otak gue juga baik-baik aja...So please don't judge something you don't really know about!)..
Belum lagi nasihat sok tau dan mitos-mitos menyesatkan, seperti nggak boleh minum air es, nggak boleh menyentuh makanan pedes, nggak boleh potong rambut, dan larangan aneh lainnya. Akhirnya jalan keluar gue simpel, gue hanya menurut sama apa yang dibilang dokter gue, setelah mengcross-checknya dengan fakta yang ada.
Dan akhirnya...what can I tell? I enjoyed this pregnancy, this unique situation where someone really grew inside my womb. I enjoyed every movement he made, every single moment spent with him inside me, every conversation, and every prayer... Am I scared? Hell yes, I am...I'm scared of the whole unknown world spreads in front of me..And a thousand what ifs that running in my head..
But dear God, I know You're there, and If I could go through these 9 whole months with You by my side, then I could go through anything!
Yang membuat gue lega, sampai bulan kedelapan, meskipun perut, paha dan teman-temannya sudah membesar dan menampakkan tanda lemak berlebih, belum muncul yang namanya stretchmark, salah satu musuh terbesar para ibu hamil. Padahal gue nggak pakai krim macem-macem, hanya minyak yang gue beli di Jerman, rekomendasi salah seorang teman di sana. Itupun pakainya tidak teratur.
Jadi, gue pantes bersuka ria...Sampai suatu hari, memasuki minggu-minggu terakhir kehamilan, lohhh...kok muncul garis-garis merah di bagian samping perut gue ya? Gue mulai cemas, mencoba berpikir positif dengan mengasumsikan garis-garis itu hanyalah bekas pinggang celana yang kesempitan...Tapi hari demi hari, kok dia masih ada di sana yaaa? Samar-samar sih, tapi cukup mengganggu juga...Dan akhirnya, terpaksalah gue menerima kenyataan pahit, kalau si stretchmark yang terkenal itu sudah masuk ke kehidupan gue..Sedihnyaaa....
Dan berbagai kebenaran menyakitkan lainnya mulai menyusul seiring semakin tuanya usia kehamilan gue...Kaki yang membengkak, jerawat kecil-kecil di jidat..Hahaha, akhirnya gue benar-benar mengalami kekacauan-kekacauan ibu hamil...
Satu hal yang bisa menjadi masukan para ibu hamil di luar sana, janganlah terlalu banyak mendengar atau membaca sumber-sumber tentang kehamilan. Sure, menambah pengetahuan itu penting..Tapi menelan semuanya tanpa disaring, adalah a truly big mistake. Gue masih inget waktu di awal kehamilan dulu, kuping gue sampai panas setiap kali ketemu orang yang ribut berkomentar, "Hamilnya kok kecil sih?" "Perutnya kekecilan tuh, untuk usia kandungan 3 bulan...". Sementara komentar sebagian orang lainnya: "Gede banget lo!" "Gilaaa...belum pernah ngeliat lo segendut ini!"... Dan lain sebagainya.
Begitupun dengan banyak hal di luar sana yang diperuntukkan untuk ibu hamil: info seputar ASI eksklusif, Inisiasi Menyusu Dini, Prenatal Yoga, senam hamil, Hypnobirthing, water birth (melahirkan dalam air),bedah cesar, dan sebagainya. Pilah-pilih mana fakta yang memang sreg di hati, lakukan sesuai kata nurani, minta masukan orang-orang yang paling kita percaya. Kalau memang kondisi tidak memungkinkan untuk lahir normal, cesar bisa jadi pilihan. Kalau memang ASI kurang, tidak ada yang melarang susu formula, dan tidak perlu merasa bersalah (btw, gue sendiri adalah produk susu formula murni, dan sampai saat ini, gue nggak punya alergi, penyakit aneh, dan perkembangan otak gue juga baik-baik aja...So please don't judge something you don't really know about!)..
Belum lagi nasihat sok tau dan mitos-mitos menyesatkan, seperti nggak boleh minum air es, nggak boleh menyentuh makanan pedes, nggak boleh potong rambut, dan larangan aneh lainnya. Akhirnya jalan keluar gue simpel, gue hanya menurut sama apa yang dibilang dokter gue, setelah mengcross-checknya dengan fakta yang ada.
Dan akhirnya...what can I tell? I enjoyed this pregnancy, this unique situation where someone really grew inside my womb. I enjoyed every movement he made, every single moment spent with him inside me, every conversation, and every prayer... Am I scared? Hell yes, I am...I'm scared of the whole unknown world spreads in front of me..And a thousand what ifs that running in my head..
But dear God, I know You're there, and If I could go through these 9 whole months with You by my side, then I could go through anything!
Thursday, September 24, 2009
Rumor Has It!
Kejadiannya sekitar 2 minggu yang lalu, waktu kakak ipar gue baru ngelahirin ponakan baru gue, Christian Gabriel Lim. Karena lama banget nungguin proses operasi Cesar di rumah sakit dan kakak ipar gue pulih dari bius-biusnya, gue iseng pinjem Blackberry bokap dan mengupdate status gue di Facebook menjadi "Cute baby Christian, welcome to the world!".
Setelah itu, gue nggak online-online lagi, karena terlalu excited menunggu si bayi dipajang bersama bayi-bayi lainnya, yang emang banyak banget lahir pada hari itu (yang adalah tanggal cantik, 9-9-09).
Nggak taunya, telfon mulai berdatangan ke HP gue, ada yang mengkonfirmasi berita kalau gue udah ngelahirin, ada yang nanya, katanya Oktober??? Bahkan sebuah telfon dari rekan kerja gue di Fairtrade menyampaikan, berita lahirannya gue ini sudah heboh sampai ke kantor pusat di Bonn, dan bos gue di sana malah menyuruh temen gue untuk segera beli bunga dan hadiah. WHAT?
Karena penasaran, gue kembali meminjam HP Nokia milik adik gue yang juga bisa connect dengan Facebook. Waks, ternyata banyak banget comment yang udah masuk ke status gue, sebagian besar memberi ucapan selamat atas kelahiran anak gue!!!
Segitunya ya ternyata pengaruh status Facebook dalam hidup kita...Ckckck...No wonder banyak banget gosip yang berawal dari Facebook (atau yang sekarang lebih santer lagi: Twitter!). Yang mengesalkannya lagi, banyak juga dari temen-temen gue yang berkomentar itu nggak bertanya-tanya dulu tentang status gue, tapi langsung main ngucapin slamat aja...Membuat berita semakin simpang siur.
Akhirnya dengan setengah hati, gue terpaksa meralat status gue dengan tambahan keterangan My Nephew setelah nama Christian.
Untuk perkembangan kehamilan gue sendiri, saat ini baru masuk minggu ke 36, udah berasa begah, udah mulai cemas karena masih bingung antara mau cari babysitter, pembantu, atau mudik ke Bandung (unfortunately my guy was really against this last option!!!)...Belanja barang-barang yang sepertinya nggak ada habis-habisnya...Minggu lalu gue baru balik dari Bandung, setelah memutuskan untuk berbelanja sebagian besar kebutuhan baby di Lavie, toko bayi murah meriah komplit yang berlokasi di Jl.Imam Bonjol...
Merasa senang bisa beli begitu banyak barang dengan harga yang masuk akal, plus dapet hadiah stroller pula dari nyokap, hihihi... Sisa barang lainnya gue beli di Mothercare dan counter Pigeon di Taman Anggrek. Dan sekarang, instead of becoming member of Bodyshop, Metro atau Sogo, gue malah mengoleksi kartu-kartu member Pigeon, Mothercare dan sejenisnya..hehehe..Ibu-Ibu banget siiihhh...
Anyway, I will definitely send my friends SMS, or update my FB status in a very CLEAR way, if my baby arrive. Cheers!
Setelah itu, gue nggak online-online lagi, karena terlalu excited menunggu si bayi dipajang bersama bayi-bayi lainnya, yang emang banyak banget lahir pada hari itu (yang adalah tanggal cantik, 9-9-09).
Nggak taunya, telfon mulai berdatangan ke HP gue, ada yang mengkonfirmasi berita kalau gue udah ngelahirin, ada yang nanya, katanya Oktober??? Bahkan sebuah telfon dari rekan kerja gue di Fairtrade menyampaikan, berita lahirannya gue ini sudah heboh sampai ke kantor pusat di Bonn, dan bos gue di sana malah menyuruh temen gue untuk segera beli bunga dan hadiah. WHAT?
Karena penasaran, gue kembali meminjam HP Nokia milik adik gue yang juga bisa connect dengan Facebook. Waks, ternyata banyak banget comment yang udah masuk ke status gue, sebagian besar memberi ucapan selamat atas kelahiran anak gue!!!
Segitunya ya ternyata pengaruh status Facebook dalam hidup kita...Ckckck...No wonder banyak banget gosip yang berawal dari Facebook (atau yang sekarang lebih santer lagi: Twitter!). Yang mengesalkannya lagi, banyak juga dari temen-temen gue yang berkomentar itu nggak bertanya-tanya dulu tentang status gue, tapi langsung main ngucapin slamat aja...Membuat berita semakin simpang siur.
Akhirnya dengan setengah hati, gue terpaksa meralat status gue dengan tambahan keterangan My Nephew setelah nama Christian.
Untuk perkembangan kehamilan gue sendiri, saat ini baru masuk minggu ke 36, udah berasa begah, udah mulai cemas karena masih bingung antara mau cari babysitter, pembantu, atau mudik ke Bandung (unfortunately my guy was really against this last option!!!)...Belanja barang-barang yang sepertinya nggak ada habis-habisnya...Minggu lalu gue baru balik dari Bandung, setelah memutuskan untuk berbelanja sebagian besar kebutuhan baby di Lavie, toko bayi murah meriah komplit yang berlokasi di Jl.Imam Bonjol...
Merasa senang bisa beli begitu banyak barang dengan harga yang masuk akal, plus dapet hadiah stroller pula dari nyokap, hihihi... Sisa barang lainnya gue beli di Mothercare dan counter Pigeon di Taman Anggrek. Dan sekarang, instead of becoming member of Bodyshop, Metro atau Sogo, gue malah mengoleksi kartu-kartu member Pigeon, Mothercare dan sejenisnya..hehehe..Ibu-Ibu banget siiihhh...
Anyway, I will definitely send my friends SMS, or update my FB status in a very CLEAR way, if my baby arrive. Cheers!
Thursday, September 03, 2009
In A Split Second
Kemarin diawali dengan biasa-biasa aja...Beres-beres rumah, makan siang di sebuah kantin di lantai bawah, lalu mulai membalas email dan merampungkan kerjaan.
Sampai sekitar beberapa menit menjelang pukul 15.00, segalanya langsung berubah. Pertama, hanya terasa sedikit guncangan pelan di sofa tempat gue duduk. Hmm..apa ini? Belum sepmat gue mencerna perasaan aneh yang gue alami, tiba-tiba guncangan berubah semakin kencang, diiringi bunyi-bunyi mengkhawatirkan yang datang dari arah dinding dan langit-langit. Kretek-kretek, begitu bunyinya, seperti ada sesuatu yang mau runtuh.
Shit! Gempa!!!
Gue langsung membuka pintu, keluar ke arah gang yang juga sudah dipenuhi para penghuni lantai 12 yang semuanya tampak panik. Ini memang satu hal yang sangat gue takutkan selama hidup di apartemen. Apalagi kejadiannya pas saat gue lagi sendirian di rumah. Oh no...
Akhirnya gue langsung menghambur ke arah tetangga yang tinggal di unit depan gue, seorang ibu muda dengan dua anaknya yang masih kecil. Ibu ini sudah menetap lumayan lama di apartemen tempat gue tinggal sekarang, jadi sudah mengalami lebih dari dua kali gempa. Gue langsung mengikuti petunjuknya untuk merapat ke dinding, sambil menunggu gempa mereda.
Sialnya, bukannya mereda, guncangan yang ada malah semakin keras, rasanya seperti lagi berdiri di sebuah cabang pohon yang tertiup angin.Goyang-goyang ke kiri dan ke kanan. Refleks, gue langsung memanjatkan doa sambil menggenggam erat tangan si Ibu tetangga. Di sela kepanikan, gue sempat melihat tetangga sebelah gue, seorang cewek kuliahan yang masih belia, sibuk menelepon ibunya sambil melompat-lompat panik, setengah menangis. Dari sudut mata, gue juga sempat menyaksikan rombongan unit apartemen di ujung gang yang terdiri dari anak-anak kecil dan para babysitternya, berlari ke arah tangga darurat.
Saat itu, dalam sekian detik yang mengerikan, gue merasa amat sangat rapuh dan tidak berdaya. Sekelumit bayangan tentang kematian sempat menyusup masuk ke dalam benak. Shit! Gue nggak mau mati dulu! Bayi gue belum lahir, dan gue belum bilang selamat tinggal sama semua orang yang gue sayang!
Untung akhirnya si gempa mereda juga. Gue langsung bergabung bersama puluhan penghuni lainnya turun lewat tangga darurat. And you know what? Big earthquake, being preggie, and living in 12th floor, are not good combinations at all!!! Gue beruntung bisa sampai di lobby dalam keadaan nggak kurang suatu apa, meskipun kaki rasanya lemes banget, berasa kayak lap basah.
Nyampe bawah, pemandangannya bener-bener bervariasi banget. Bapak-bapak yang cuman bercelana pendek, ibu-ibu yang pada nyeker, anak-anak bayi yang nangis-nangis, sampai sekelompok anak kecil yang sepertinya dibangunkan dengan paksa dari tidur siangnya, dan masih tampak shock dengan mata yang sembab. Dalam hati gue bersyukur juga, setidaknya gue nggak lagi mandi, atau tidur siang, waktu gempa terjadi.
Yang agak lucu, aib-aib para penghuni juga langsung ketahuan semua. Banyak dari mereka yang menggendong berbagai jenis anjing kecil peliharaan mereka, padahal di peraturan apartemen jelas-jelas ditegaskan kalau penghuni nggak boleh memelihara hewan, kecuali ikan. Tapi suasana apartemen sore itu jadi meriah dengan berseliwerannya anjing-anjing mungil yang tampak bingung, yang selama ini disembunyikan dengan suksesnya di tiap-tiap unit.
Akhirnya, gue hanya bisa merenungkan kejadian ini. Gempa 7,3 SR yang pusatnya di sebelah barat daya Tasikmalaya. Korban yang berjatuhan. Menelepon keluarga dan orang-orang yang disayangi. Satu hal yang serasa menohok hati gue adalah, we'll never know when our time has come. Kadang, ucapan selamat tinggal hanya menjadi sebuah kemewahan.
Ucapan belasungkawa untuk setiap korban dan keluarga yang ditinggalkan.
Sampai sekitar beberapa menit menjelang pukul 15.00, segalanya langsung berubah. Pertama, hanya terasa sedikit guncangan pelan di sofa tempat gue duduk. Hmm..apa ini? Belum sepmat gue mencerna perasaan aneh yang gue alami, tiba-tiba guncangan berubah semakin kencang, diiringi bunyi-bunyi mengkhawatirkan yang datang dari arah dinding dan langit-langit. Kretek-kretek, begitu bunyinya, seperti ada sesuatu yang mau runtuh.
Shit! Gempa!!!
Gue langsung membuka pintu, keluar ke arah gang yang juga sudah dipenuhi para penghuni lantai 12 yang semuanya tampak panik. Ini memang satu hal yang sangat gue takutkan selama hidup di apartemen. Apalagi kejadiannya pas saat gue lagi sendirian di rumah. Oh no...
Akhirnya gue langsung menghambur ke arah tetangga yang tinggal di unit depan gue, seorang ibu muda dengan dua anaknya yang masih kecil. Ibu ini sudah menetap lumayan lama di apartemen tempat gue tinggal sekarang, jadi sudah mengalami lebih dari dua kali gempa. Gue langsung mengikuti petunjuknya untuk merapat ke dinding, sambil menunggu gempa mereda.
Sialnya, bukannya mereda, guncangan yang ada malah semakin keras, rasanya seperti lagi berdiri di sebuah cabang pohon yang tertiup angin.Goyang-goyang ke kiri dan ke kanan. Refleks, gue langsung memanjatkan doa sambil menggenggam erat tangan si Ibu tetangga. Di sela kepanikan, gue sempat melihat tetangga sebelah gue, seorang cewek kuliahan yang masih belia, sibuk menelepon ibunya sambil melompat-lompat panik, setengah menangis. Dari sudut mata, gue juga sempat menyaksikan rombongan unit apartemen di ujung gang yang terdiri dari anak-anak kecil dan para babysitternya, berlari ke arah tangga darurat.
Saat itu, dalam sekian detik yang mengerikan, gue merasa amat sangat rapuh dan tidak berdaya. Sekelumit bayangan tentang kematian sempat menyusup masuk ke dalam benak. Shit! Gue nggak mau mati dulu! Bayi gue belum lahir, dan gue belum bilang selamat tinggal sama semua orang yang gue sayang!
Untung akhirnya si gempa mereda juga. Gue langsung bergabung bersama puluhan penghuni lainnya turun lewat tangga darurat. And you know what? Big earthquake, being preggie, and living in 12th floor, are not good combinations at all!!! Gue beruntung bisa sampai di lobby dalam keadaan nggak kurang suatu apa, meskipun kaki rasanya lemes banget, berasa kayak lap basah.
Nyampe bawah, pemandangannya bener-bener bervariasi banget. Bapak-bapak yang cuman bercelana pendek, ibu-ibu yang pada nyeker, anak-anak bayi yang nangis-nangis, sampai sekelompok anak kecil yang sepertinya dibangunkan dengan paksa dari tidur siangnya, dan masih tampak shock dengan mata yang sembab. Dalam hati gue bersyukur juga, setidaknya gue nggak lagi mandi, atau tidur siang, waktu gempa terjadi.
Yang agak lucu, aib-aib para penghuni juga langsung ketahuan semua. Banyak dari mereka yang menggendong berbagai jenis anjing kecil peliharaan mereka, padahal di peraturan apartemen jelas-jelas ditegaskan kalau penghuni nggak boleh memelihara hewan, kecuali ikan. Tapi suasana apartemen sore itu jadi meriah dengan berseliwerannya anjing-anjing mungil yang tampak bingung, yang selama ini disembunyikan dengan suksesnya di tiap-tiap unit.
Akhirnya, gue hanya bisa merenungkan kejadian ini. Gempa 7,3 SR yang pusatnya di sebelah barat daya Tasikmalaya. Korban yang berjatuhan. Menelepon keluarga dan orang-orang yang disayangi. Satu hal yang serasa menohok hati gue adalah, we'll never know when our time has come. Kadang, ucapan selamat tinggal hanya menjadi sebuah kemewahan.
Ucapan belasungkawa untuk setiap korban dan keluarga yang ditinggalkan.
Subscribe to:
Posts (Atom)